TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Kembali Ke Indonesia


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Hari ini Asyafa, dan Rayhan akan kembali ke Indonesia, bulan madu mereka telah berakhir. Mereka sudah melakukan Chekout dari Hotel, lalu mampir ke Mension Uncle Jonathan.


Sebelum mereka berangkat ke Bandara, mereka berpamitan terlebih dahulu, dengan keluarga Uncle Jonathan.


"Uncle dan Aunty, kita pamit pulang yah. Mohon maaf sudah merepotkan kalian, terima kasih atas fasililtas istimewa penginapan untuk kami di Hotel dari Uncle dan Aunty." Ucap Rayhan dan Asyafa bergantian.


"Hati-hati yah kalian diperjalanan, sampaikan salam kami untuk orang tua kalian. Fasilitas itu memang pantas kalian dapatkan, karena itu hadiah pernikahan dari kami." Ujar Uncle Jonathan tulus, lalu dianggukan oleh Stefani.


"Iya.. Uncle dan Aunty, terima kasih sekali lagi. salam kalian pasti akan kami sampaikan." Ucap Asyafa dan Rayhan senang.


"Sama-sama, sayang." Sahut Aunty dan uncle bersamaan.


"Hai.. pengantin baru, selamat menempuh hidup baru yah, sekarang kalian sudah menjadi sepasang suami istri, ini chindramata untuk kalian. Jangan dilihat dari nilai harganya yah, tapi lihat dari ketulusan kami yang memberinya." Ucap Rayhan, dan Asyafa bergantian, seraya berjabat tangan.


"Terima kasih banyak yah Ray, Sya." Sahut Willyam dan Maurin bergantian, seraya berjabat tangan.


"Maaf Ray, Sya, kami tidak bisa mengantar kalian ke Bandara. Nanti kalian di antar sama Willyam dan Maurin saja, katanya mereka mau chekin di Hotel setelah mengantar kalian." Sesal Jonathan seraya meledek anak, dan menantunya. Stefanypun sama mengangguk kecil, mereka tersenyum menyeringai kearah Willyam dan Maurin.


"Aiiish... Dadie sama Momie itu sepertinya ngambek pingin ikutan kita Honey, makanya mereka ngomongnya begitu. He.. he.. he..." Slorohnya Willyam terkekeh, meluncur begitu saja, membuat semua orang disana seketika tertawa.


"Ha.. ha.. ha.."


"Iya Uncle dan Aunty engga apa-apa, kalian pasti banyak pekerjaan di kantor." Ujar Rayhan mengerti, seraya menarik kopernya untuk dimasukkan kedalam bagasi mobil.


"Mari Aunty dan Uncle, kami berangkat dahulu yah." Ucap Rayhan dan Asyafa bergantian seraya cipika-cipiki dan berpelukkan dengan mereka.


"Iya sayang, hati-hati yah." Ucap Jonathan dan Stefany bersamaan.


"Dadie, Momie, kami juga berangkat yah. Hanya tiga hari, aku cuti dari kantor, he.. he.. he.." Ujar Willyam terkekeh, mencium dan memeluk Dadie dan Momienya bergantian.


"Iya sayang, hati-hati yah, be happy kalian." Sahut Momie Stefany tulus, lalu di anggukkan oleh Dadie Jonathan. Sebenarnya Jonathan dan Stefany ingin ikut dengan anak-anaknya, namun banyak pekerjaan kantor yang tidak bisa ditinggalkan.


Akhirnya mereka berempat meninggalkan kediaman Mension Uncle Jonathan, Willyam yang membawa mobil langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan masih sangat sepi, mengingat hari ini masih sangat pagi. Hampir pukul 7 pagi, mereka sudah sampai di Bandara Schiphol.


Asyafa dan Rayhan berpamitan dengan Willyam dan Maurin, mereka saling cipika-cipiki dan berpelukkan.


"Terima kasih yah Willyam dan Maurin, jangan lupa saling bertukar kabar, dan berkunjung ke Indonesia kapan-kapan." Ucap Asyafa, yang di anggukkan oleh Rayhan.


"Okey, kapan-kapan pasti kita akan kesana. Siapa tahu saja kami nanti berbulan madu di sana, aku ingin ke pantai kuta Bali." Seloroh Willyam, seraya membayangkan pantai kuta Bali dipikirannya.

__ADS_1


"Waah.. good Will." Sahut Asyafa senang.


"Aku saja belum sempat ke kuta Bali Will, bisa jadi hari libur berikutnya yah cinta, kita ke Bali." Ujar Rayhan, seraya mengajak istrinya ke Bali.


"Okay sayang." Sahut Asyafa senang.


"Enak banget, mereka dekat sama Bali yah hubby. Coba saja kita dekat dengan Bali, bisa tiap bulan kita ke sana. He.. he.. he.." Ucap Maurin berandai-andai seraya terkekeh.


"Iya.. honey." Sahut Willyam seraya merangkul istrinya mesra.


"By.. Willyam dan Maurin." Ucap Asyafa dan Rayhan bersamaan.


"By.. by.." Sahut Willyam dan Maurin juga.


Setelah mereka melakukan chekin, merekapun langsung berjalan mengambil koper, lalu masuk kedalam pesawat dengan menunjukkan tiket dan dokumen mereka.


Perjalanan Amsterdam-Belanda mereka lewati dengan senyuman bahagia, setiap momen dimana saja mereka berada selalu terlihat mesra. Bahkan di dalam Pesawat sekalipun, mereka nampak merasa senang, tidak lelah sama sekali. Padahal perjalanan itu sangat melelahkan, dan membosankan. Namanya juga pengantin baru, wajar saja selalu mesra dimanapun mereka berada.


Akhirnya Pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan sempurna di lapangan Bandara Soekarno Hatta. Hampir 15 jam, mereka habiskan waktu perjalanan di Pesawat.


Pak Dadang sudah menunggu mereka di depan Lobby Bandara, tidak berselang lama Asyafa, dan Rayhan, keluar dari Bandara dengan menarik kopernya.


"Wa'alaikumsalam, Pak Dadang. Kabar kami Alhamdulillah baik, dan sehat Pak. Terima kasih Pak, tidak usah diambil kopernya, biar kami saja yang simpan di bakasi." Jawab Salam Asyafa dan Rayhan bergantian, seraya menolak pertolongan Pak Dadang sopan.


"Engga apa-apa Non, Aden, kalian 'kan cape habis perjalanan jauh." Bantah Pak Dadang beralasan.


"Baiklah kalau begitu yang punya istri saya saja pak, ini kopernya." Sahut Rayhan ramah.


"Iya.. Aden." Ucap Pak Dadang seraya mengambil koper itu dari tangan Rayhan.


Setelah koper masuk semua kedalam garasi. merekapun masuk kedalam mobil, langsung menuju kediaman Ayah Bernad.


Sesampainya di rumah Ayah Bernad, Asyafa dan Rayhan sudah ditunggu oleh Ibu Nurlaila.


"Assalamu'alaikum.. Ibu, Mbo Ijah." Sapa Asyafa, dan Rayhan, seraya mencium kedua punggung tangan mereka bergantian.


"Wa'alaikumsalam sayang, kalian sehat-sehat 'kan sayang?" Menjawab salam mereka, dan menanyakan keadaannya.


"Iya Non dan Aden, sehat-sehat 'kan semuanya." Tanya Mbo Ijah membeo.


"Iya Ibu, Mbo Ijah. Kami semua sehat, dan baik-baik saja." Jawab Asyafa dan Rayhan mengangguk kecil, seraya teesenyum merekah.

__ADS_1


"Alhamdullilah kalau begitu, ayo kita masuk sayang." Ucap Ibu dan Mbo Ijah bergantian, lalu Mbo ijah membantu membawa barang-barang bawaan mereka bersama pak Dadang.


"Terima kasih Mbo Ijah, dan Pak Dadang, maaf selalu merepotkan kalian." Ucap Asyafa dan Rayhan bergantian.


"Engga apa-apa Aden dan Nona, semua itu sudah menjadi tugas kami." Sahut Mbo Ijah dan Pak Dadang bergantian.


"Pak, Mbo, ini oleh-oleh buat kalian." Panggil Asyafa seraya memberikan oleh-oleh tersebut.


"Terima kasih banyak, Aden dan Nona." Ucap Pak Dadang dan Mbo Ijah bergantian.


"Sama-sama Pak Dadang dan Mbo Ijah, dan ini tolong titip buat Pak Kodir, dan Pak Udin juga." Sahut Asyafa dan Rayhan berbarengan, lalu Asyafa meminta tolong kepada mereka, untuk memberikan oleh-oleh untuk Pak Satpam, dan tukang kebun juga.


"Baik, Non." Sahut Pak Dadang singkat, seraya mengambil dua bungkusan dari tangan Asyafa.


"Sayang, kalian pasti lapar, bukan? Ayo kita sarapan." Ajak Ibu Nurlaila kepada anak dan menantunya.


"Iya Ibu." Sahut mereka kompak, dan Ibupun mengangguk kecil.


"Ibu, Ayah sudah berangkat bekerja?" Tanya Asyafa, mereka saat ini sedang berkumpul di meja makan, menyantap masakan Ibu Nurlaila. Lalu Ibu mengangguk kecil, seraya mengulum senyum.


Setelah sarapan mereka berkumpul di ruang keluarga, bercerita pengalaman mereka selama di Belanda dan jalan-jalan ke berbagai tempat wisata, dan menceritakan pernikahan Willyam, dan Maurin, yang ternyata mereka teman SD Asyafa.


"Dunia begitu sempit yah sayang? Siapa sangka jika teman SD anak Ibu, ternyata sepupu menantu Ibu." Selorohnya benar adanya.


"Iya Bu." Sahut keduanya.


"Maaf Nyonya, Aden dan Nona. di luar ada tamu. Katanya mau ketemu Aden Rayhan dan Nona Asyafa." Ujar Mbo Ijah sopan.


"Siapa Mbo?" Tanya Ibu Nurlaila.


"Keluarga Tuan Ardi Prayoga katanya, Nyonya." Sahut Mbo Ijah.


"Aneh, dari mana mereka tahu kita sudah sampai disini?" Tanya Asyafa heran dengan keluarga itu yang sudah ada di depan rumahnya.


--BERSAMBUNG--


...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........


...Jangan lupa mampir ke karyaku yang baru yah teman-teman. Terima kasih, mohon dukungannya....


__ADS_1


__ADS_2