
"Iya nak', saya Ibu Nurlaila.. ! Kamu sungguh tampan sekalih nak, coba Ibu punya dua Putri, pasti Ibu ingin kamu jadi menantu Ibu. hihi...hihi.... " Celoteh Ibu Nurlaila kagum, seraya menerima uluran tangan Damar. seketika, Asyafa menoleh kearah Ibunya.
"Senang bisa berkenalan dengan Tante." Balas Damar seraya tersenyum.
"Aiish... Ibu, kalau sudah tahu siapa sebenarnya pria ini, sudah pasti akan membuang jauh-jauh pikiran mempunyai menantu seperti dia. " bathin Asyafa mengomel.
"Saya, Tuan Bernad Dorman, kolega Papamu nak'." Ucapnya seraya menerima uluran tangan Damar.
"Saya senang bisa berkenalan dengan Om Bernad, semoga kedepannya kita bisa berbisnis bersama ya Om'." Ujar Damar mencoba akrab.
Asyafa menatap Damar tidak suka, sorot matanya seakan terlihat kebencian disana, mengingat malam itu, pria di depannya hendak melakukan tindakan asusila. Kalau saja tidak ada Rayhan, entah apa yang terjadi dengan dirinya sekarang, dia takut untuk membayangkan, Asyafa seketika bergidig ngeri."
"Iiiich..... !"
Ibu Nurlaila heran dengan sikap anaknya, lalu dia menyenggol bahu anaknya itu." Sayang, itu tangan Nak Damar hendak berkenalan denganmu, kenapa kamu malah bengong begitu?" Tanya Ibu Nurlaila heran.
" Iya... nama gue Asyafa Dorman." Ucapnya singkat seraya menerima uluran tangan Damar cepat, ingin dilepas tetapi Damar memegangnya kuat lantas terkekeh, sedang Asyafa menghentakan kakinya dan berdecak sebal.
Damar terus menggoda gadis itu, agar sedikit bersabar dengan tindakannya tidak langsung melepaskan jabatan tangannya. "Maaf yach nona Asyafa, sepertinya kamu sedikit menggemaskan, dan sedikit galak. hehe.... hehe... !" Ledek Damar terkekeh. Ibu dan Ayah juga Siska yang melihat kejahilan Damar pun ikut bergelak tawa.
"Ha... ha.... !"
"Lepasin tangan gue! Mau loe apa sih?" Hardik Asyafa, seraya menarik tangannya kasar. Ibu Nurlaila sontak kaget dengan kemarahan anaknya.
"Kamu kenapa Nak? Sampai marah begitu? Nak Damar hanya berkenalan, dan sedikit menggoda saja, bukan begitu Nak Damar? " Tanya Ibu Nurlaila membenarkan ucapannya.
Damar yang merasa tidak enak, langsung mengatakan, "Iya Tante, saya hanya bercanda. kalau saya berbuat salah, saya minta maaf Nona." Damar tersenyum menggoda.
"Tuh 'kan apa Ibu bilang, Nak Damar hanya bercanda saja." Ujar Ibu Nurlaila lagi meyakinkan. Sedang Ayah Bernad hanya menggelengkan kepalanya, seraya terkekeh melihat tingkah laku anaknya itu.
"T.. tapi Bu, dia itu orang yang sudah mencoba me... " Kata-katanya menguap begitu saja, Seketika Asyafa berhenti berbicara, wajahnya mulai sedikit pucat.
"Mencoba apa Nak'? Kenapa tidak di lanjutkan? Memangnya kamu sudah kenal sebelumnya sama nak Damar?" Tanya Ibu Nurlaila penasaran.
Melihat situasi yang kurang baik, dari pada semakin sengit, Siska mulai mengalihkan keadaan." Sudah-sudah, sebaiknya kita teruskan menikmati makanan ini Sya, Damar." Pinta Siska mengalihkan pertikaian mereka.
__ADS_1
"Om dan Tantepun, silahkan lanjutkan makannya." Pinta Siska, seraya mengambil puding untuk dirinya.
Asyafa terdiam, lalu menikmati makanannya dalam diam, sedang Damar yang berada di depannya makan dalam diam, tetapi terus mencuri pandang kearah Asyafa, yang membuat Asyafa salah tingkah, karena tatapan mata Damar yang tersirat, seakan penuh makna.
Untuk menghilangkan rasa canggung, Asyafa mulai berani memaki. " Hei.. loe, ngapain dari tadi liatin gue kayak gitu? belum pernah di colok pake sambel pedas ya loe?" Omel Asyafa sewot, seraya memutar bola matanya jengah. Sontak saja Ibu dan Ayah menghentikan kegiatan makannya, dan Siskapun melakukan hal yang sama.
"Ada apa lagi sih Nak'? Jaga sikap kamu Nak, tidak baik loh, ngomelin orang yang baru kenal." Ujar Ibu menasehati anaknya.
"Maaf yah Nak Damar, anak Ibu memang begitu kalau baru kenal, galak... ! ha.. ha.." Jelas Ibu Nurlaila, seraya tertawa lepas.
Damar ikut tertawa atas ucapan ibu Nurlaila yang mengatakan anaknya itu galak. "Tapi cantik Tante." Ucap Damar menggoda, lalu mengerlingkan matanya kearah Asyafa, sontak semua tergelak tawa, terkecuali Asyafa yang merengut.
"Padahal udah mau menikah, tapi masih seperti kekanak-kanakan." Ledek Ibu Nurlaila, seraya mencubit pipi Asyafa gemas. Asyafapun meringis, seraya memegangi pipinya sendiri.
"Aiis.... Ibu, ini sakit tahu!" Ucap Asyafa mendrama. Ibu, dan semuanya terkekeh melihat tingkah Asyafa yang lucu.
Akhirnya merekapun menyelesaikan makan malamnya, lantas mereka segera bergegas meninggalkan ruangan VIP di Restoran itu. Diluar mulai nampak sepi pengunjung, jam menunjukan pukul 08 malam. Merekapun hendak pulang kerumah masing-masing, dan berakhir di area parkir.
Nampak Pak Supir, berjalan gontai menghampiri mereka. "Maaf Tuan, Nyonya, dan Nona, sepertinya ban mobilnya kempes. Saya harus mengganti ban dulu." Ucap Pak Dadang supir keluarga Tuan Bernad.
"Ya sudah Pak, ganti dulu ban yang kempes, kami akan menunggu." Ujar Tuan Bernad, seraya berjalan melihat kondisi mobilnya.
Ketika mobil Damar hendak meninggalkan area parkir, dia melihat keluarga Tuan Bernad, masih berada di luar mobil, lalu diapun berinisiatif turun dari mobilnya, dan hendak menanyakan mengapa mereka belum pulang.
"Permisi, Tuan Bernad Dorman! Mengapa Tuan masih berada disini? Apa yang terjadi? " Tanya Damar penuh selidik, seraya melirik Asyafa yang sedari tadi diam.
"Ini Nak Damar, ban mobilnya kempes! Pak Dadang hendak mengganti bannya, tapi ada dua ban yang kempes, sedang kami hanya punya satu ban cadangan." Jawab Tuan Bernad, menerangkan dengan rinci.
"Ya sudah, numpang mobil saya saja! Ini sudah semakin malam, nanti saya antarkan Tuan pulang sampai rumah." Ujar Damar menawarkan, seraya tersenyum.
Tuan bernad, dan Ibu Nurlailapun tidak berpikir lagi, langsung mengiyakan ajakan Damar, sedangkan Asyafa hanya terdiam merengut terpaksa.
"Pak Dadang, kami hendak pulang duluan, bagaimana dengan Pak Dadang?" Tanya Tuan Bernad.
"Iya sudah Tuan kalau begitu, nanti saya pulang belakangan, mungkin saya akan mencari orang bengkel yang masih buka, untuk kesini Tuan." Jawab Pak Dadang menuturkan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, kami duluan yah Pak Dadang." Pamit Tuan Bernad.
"Iya Tuan, hati-hati di jalan." Ucap Pak Dadang mendoakan, seraya dianggukan oleh tuan Bernad.
Merekapun berjalan ke arah mobil Damar, lalu Damar membukakan pintu penumpang di belakang, untuk Tuan Bernad, dan Ibu Nurlaila. Kemudian Damar membukakan pintu mobil dikursi penumpang sebelah setir untuk Asyafa, tetapi dia terdiam nampak ragu untuk masuk.
"Silahkan Nona, ayo naik agar tidak semakin malam kita sampai di rumah." Ujar Damar memerintah, seraya menyentuh tangan Asyafa untuk membantu naik ke dalam mobilnya, karena jok mobil Jeepnya agak sedikit tinggi. sontak Asyafa tak bergeming, dia langsung menepis lengan Damar.
"Gw bisa sendiri, engga usah sok perhatian." Ucap Asyafa ketus, seraya naik keatas jok mobil. Namun dia sedikit kesusahan hampir tergelincir, beruntung Damar langsung menyangganya. Seketika wajah Asyafa merah merona, menahan malu atas kecerobohannya.
Damar hanya tersenyum menyeringai, dia bertanya, "apakah ada yang terluka?" Tetapi Asyafa hanya menggelengkan kepalanya. lalu dia membantu Asyafa, untuk naik ke atas jok mobil dengan perlahan. Damarpun langsung menaiki mobilnya di kursi setir, dan dia mulai menyalakan kembali mesin mobilnya. Lalu meminta alamat rumahnya kepada Tuan Bernad, lalu dia mulai membuka Google Map.
Damar memakai seatbelt nya, lalu melihat Ayafa kesusahan memakai seatbeltnya, dia hendak mencoba membantunya, dengan tanpa mengikis jarak keduanya, secara refleks tangan Asyafa melayang diudara mendarat dipipi tampan Damar. "Plaak... !" Wajah Damar terjiplak telapak tangan Asyafa, lalu tangan Damar spontan menyentuh pipinya yang sedikit panas.
"Maaf Nona, apa yang Nona lakukan? Saya hanya sekedar ingin membantu memasangkan seatbelt, sepertinya Nona sedikit kesusahan." Tanya Damar yang sedikit kesal.
Tuan Bernad, dan Ibu Nurlailapun tercengang, mendapati Putrinya itu sudah menampar Damar. "Apa yang kamu lakukan Nak? Kenapa kamu menampar Nak Damar? Dia itu hanya membantumu, kamu harus menjaga sikapmu Nak, minta maaf sama Nak Damar." Omel Ibu Nurlaila.
Asyafa bergeming atas omelan Ibunya, lalu Damar mengatakan tidak apa-apa, ini hanya salah paham. Kemudian Damar mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, jalanan agak macet, dikarenakan hari weekand, dan ada hambatan lalu lintas, mobil tronton mogok menghalangi jalan. Damar mencoba mencari jalan alternatif, akhirnya dia bisa terbebas dari kemacetan, namun jalanan agak sedikit sepi.
"Nak Damar ini lewat jalan mana yah? Saya belum pernah lewat sini." Tanya Tuan Bernad, seraya memperhatikan jalan yang sepi tersebut.
"Saya mengambil jalan alternatif Om, ini terlihat di Google Map!" Ucapnya Damar, seraya menunjukkan ponselnya.
Jalanan agak sedikit sepi, jarang sekalih mobil yang melintas, ada dua pengendara motor ugal-ugalan, dia hendak menyerempet mobil Damar, sontak Damar hilang kendali setir. Tuan Bernad, Ibu nurlaila dan Asyafapun mulai panik, dan akhirnya Damar menghentikan laju mobilnya.
Kedua pengendara motorpun berhenti, dan turun seperti preman, lalu mereka mengetuk kaca mobil Damar. Seketika seisi mobil Damar berteriak ketakutan memintta tolong, namun karena jalan begitu sepi, maka tidak ada seorangpun yang menolong.
"Hei... keluar kalian! " Bentak salah satu orang yang sedang mengetuk-ngetuk kaca mobil Damar. Akhirnya Damarpun mohon izin keluar mobil, namun di larang oleh Ibu Nurlail. Tetapi kalau Damar tidak keluar, dia takut orang-orang tersebut akan mencelakai semuanya. Akhirnya merekapun mengizinkan Damar keluar mobil.
"Nona, setelah saya keluar, kamu langsung pencet tombol kunci ini yah, agar kalian aman, saya akan menghadapi mereka." Pinta Damar, seraya menutup pintu mobilnya, dan Asyafa hanya mengangguk, dan langsung memencet tombol kuncinya.
Perkelahianpun tak terelakan, Damar mulai menghajar empat pria itu satu persatu, karena lawan tak seimbang Damarpun mulai kelelahan, tapi dia masih bisa mengatasi perkelahian tersebut, tanpa terpikirkan olehnya. "Sreet... aawh.... " Darah keluar dari perut Damar, salah satu dari mereka membawa sebilah pisau, yang dia goreskan keperut Damar, lalu mereka kabur, dan meninggalkan Damar yang terluka.
Asyafa, Ibu Nurlaila dan Ayah Bernadpun keluar mobil dan langsung membawa Damar menuju Rumah Sakit....
__ADS_1
Happy Reading
--BERSAMBUNG--