
Mama Merry tidak mau bertemu dengan Bernad dan istrinya, hingga dia berteriak histeris lagi mengusir mereka dari ruangan UGD Rumah Sakit.
"Pergi.. Mama bilang kalian pergi." Teriak Mama Merry memekik kencang.
Namun Bernad tidak juga beranjak dari ruangan itu, dia hanya meminta istri dan anaknya untuk pergi ke luar menunggu di ruang tunggu saja. Nurlaila dan Asyafa langsung mengikuti perintah suaminya.
"Sayang, Ibu dan Asyafa akan menunggu sampai masalah ini selesai. Semoga Ayah mendapatkan solusi yang terbaik, dan menyelesaikan kesalafahaman Mama terhadap Ayah." Ujar Nurlaila memberi semangat untuk suaminya itu.
"Iya, sayang... terima kasih." Ucap Bernad, seraya melepaskan genggaman tangan istrinya.
"Ciiieh... nazis." Umpat Charles, di saat melihat suami istri itu sedang berinteraksi dengan mesranya.
Bernad mencoba untuk menghampiri Mama Merry, meski nantinya akan di usir kembali. Namun Bernad berusaha bicara baik-baik, dan akhirnya Mama Merrypun sedikit luluh.
"Ya sudah, pembelaan apa yang akan kamu katakan pada Mama?" Tanya Mama Merry tanpa melihat ke arah Bernad sedikitpun.
"Baiklah Mom, saya ingin bicara baik-baik Mom... bukan seperti ini. Saya tahu Mom hanya salah faham, dengan kematian Papa. Mom.. jangan berpikir kalau saya yang membuat Papa meninggal, tapi semua ini karena ada telpon dari seseorang yang belum saya tahu. Saya akan mencari tahu lewat CCTV, di kantor ruangan Papa." Jelas Bernad, seraya mencoba menyentuh kedua tangan Mama Merry namun dia urungkan kembali.
"Ciieh.. sudah salah masih mencari pembelaan." Ucap Charles mencibir rendah Adiknya itu.
"Apa yang kau ucapkan, Kak? Mengapa Kakak semakin menjatuhkan aku di hadapan Mama? Apa aku salah, jika meluruskan kesalahfahaman ini." Tanya Bernad untuk melakukan pembelaan.
"Berhenti.. ! Lebih baik kalian berdua keluar dari ruangan ini, hik.. hik.. hik..." Usir Mama Merry berteriak kesal, seraya menangis kembali.
"Ini semua gara-gara kamu, Dik." Tuduh Charles, seraya menunjuk-nunjuk jarinya ke arah Bernad.
Bernad berlalu meninggalkan ruangan itu dengan mata berkaca-kaca, menahan tangis yang sedikit lagi meluncur bebas di pipi tampannya itu. Tanpa memperdulikan tudingan Kakaknya, yang seakan menghardik dirinya bersalah.
Melihat sikap adiknya yang seolah tidak perduli dengan ucapannya, Charles mengumpat dalam hatinya.
"Dasar sial... !"
"Mom.. apa aku juga harus keluar meninggalkanmu?" Tanya Charles seraya mendekati Mama Merry.
"Iya.. kamu juga keluar, biar istri mu dan anakmu yang menemani Mama." Jawab Mama tanpa ragu.
"Sofia menantuku, dan Billy cucuku kemarilah sayang." Panggil Mama Merry, seraya menggerakan jari tangannya di udara untuk meminta mereka menghampirinya.
"Iya.. Mom." Jawab Sofia sopan.
Sofia dan Billy berjalan menghampiri Mama Merry untuk mendekati ranjang berukuran satu orang itu, lalu duduk di samping Mertuanya itu.
"Baiklah kalau begitu, jika ada apa-apa hubungi aku, Mom." Pinta Charles tulus.
__ADS_1
Akhirnya Charles mengikuti keinginan Mamanya, untuk keluar meninggalkan ruangan itu dengan berjalan gontai.
Charles teringat dengan perkataan Bernad, yang akan memeriksa CCTV di kantor Papa Thomas. Lantas dia langsung menghubungi orang kepercayaannya, untuk menghapus rekaman CCTV saat kejadian Papanya serangan jantung. Rekaman itu sengaja di buat seolah-olah rusak, dan tidak berfungsi.
"Sudah Tuan, perintahmu sudah saya bereskan." Ucap orang suruhan Charles, di sebrang telepon.
"Bagus... saya akan segera mentransfer bonus untukmu." Jawab Charles senang, seraya tersenyum menyeringai dengan segala sifat liciknya.
"Terima kasih, Tuan." Jawab Pria itu, seraya menutup sambungan teleponnya.
"Sama-sama." Ucap Charles seraya mengakhiri telponnya.
*******
Bernad keluar ruangan Mama Merry dengan wajah ditekuk sedih dan menunduk lemas dengan air mata yang mulai menetes dipipinya.
"Bagaimana, sayang? Apakah Ayah sudah bicara dengan Mama?" Tanya Nurlaila, seraya berjalan menghampiri suaminya.
"Sudah, namun Mama hanya diam tidak merespon ucapanku, hik.. hik.. hik.." Jawab Bernad lirih dengan wajah kecewa yang teramat dalam, seraya menangis di pundak istrinya.
"Sudah sayang, jangan menangis. Mengapa sepertinya Mama berubah secepat ini yah, sayang? Bukan seperti Mama yang biasanya baik, perhatian dan penyayang." Tanya Nurlaila, merasa aneh dengan perubahan sikap mertuanya yang mendadak dingin dan benci, seraya mengusap punggung suaminya lembut.
"Iya.. Ayah sudah tidak menangis. Mungkin karena Mama Merry masih berpikir, jika Ayah yang sudah menyebabkan kematian Papa Thomas, sayang." Jawab Bernad, berpikir positif tanpa curiga apa-apa.
Akhirnya Bernad dan keluarga kecilnya meninggalkan Rumah Sakit dengan menggunakan mobil miliknya. Perjalanan sampai kediaman Papa Thomas, hanya membutuhkan waktu 30 menit saja.
"Sayang, kamu dan Asyafa masuk ke rumah. Ayah akan pergi ke kantor Papa Thomas untuk mencari bukti, bahwa Ayah tidak ada hubungannya dengan kematian Papa Thomas." Ujar Ayah Bernad menjelaskan kepada istrinya, seraya mengecup kening istrinya lembut.
Asyafa yang duduk di jok belakang, lantas turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Iya.. sayang, semoga Ayah bisa menemukan bukti secepatnya. Hati-hati jangan ngebut bawa mobilnya." Ucap Nurlaila seraya membuka pintu mobil, lalu turun dan melambaikan tangannya setelah Bernad meninggalkan halaman rumahnya.
Ayah Bernad mengangguk kecil dan tersenyum getir, dia sungguh-sungguh sedih dengan apa yang sekarang terjadi. Sudah kehilangan Papa, dan sekarang Mama membencinya.
Bernadpun akhirnya sampai di kantor Perusahaan Papa Thomas, waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. Banyak Karyawan kantor yang sudah pulang, karena jam kerjanya sudah berakhir. Namun ada pula yang masih stay untuk over time, mungkin banyak pekerjaan yang masih belum tuntas atau apalah banyak kemungkinan terjadi.
Bernad langsung berjalan menuju sebuah ruangan Monitor, yang berisi semua vidio yang berasal dari CCTV yang di pasang di setiap ruang penting kantor. Di dalam ruang monitor tersebut di jaga oleh 1 orang operator, untuk memantau semua kegiatan yang berhubungan dengan Produksi dan Office.
"Ting.." Bunyi bell pintu di tekan akhirnya terbuka dengan lebar.
"Selamat malam Tuan Bernad, ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah satu karyawan, yang masih stay bekerja sampai saat ini.
"Malam.. saya ada perlu dengan Operator CCTV dikantor ini. Maukah anda mengantar saya untuk menemuinya?" Tanya Bernad ramah dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Mari saya antar Tuan." Ucap Karyawan itu yang bernama Joan, dengan ramah dan sopan, seraya berjalan keruangan Monitor.
Akhirnya Tuan Bernad berjalan mengekori Joan. Ruang Monitor selalu di jaga dengan ketat, oleh Operator yang sekaligus sekurity di Perusahaan itu.
Operator monitor CCTV itu langsung terkejut, dengan kedatangan Tuan Bernad yang mendadak. Lalu mereka bangkit dari tempat duduknya dan membungkuk sedikit tanda hormat kepada anak pemilik Perusahaan Papa Thomas.
"Selamat malam Tuan Bernad, mengapa malam-malam begini Tuan kesini?" Tanya Sonny salah satu Operator tersebut.
"Malam.. saya ada perlu dengan anda untuk membantu saya mengchek CCTV." Ucap Tuan Bernad ramah seraya melihat gambar vidio di monitor yang sedang berjalan.
"Silahkan Tuan, duduk disini." Ucap Sonny sopan seraya menarik kursi untuk Tuan Bernad duduk.
"Terima kasih, tolong chek rekaman Vidio kemarin sekitar pukul 7 sampai 8 malam, di ruang kantor Papa Thomas." Ujar Tuan Bernad meminta dengan sopan dan ramah.
"Baik Tuan." Ucap Sonny singkat.
Akhirnya Sonny memeriksa, dan memutar Vidio yang berada di ruang kantor Tuan Thomas, pada waktu yang diminta Tuan Bernad. Namun tidak ditemukan waktu yang diminta tersebut.
"Maaf Tuan, waktu yang anda minta sepertinya tidak terekam alias blank, disini jelas pada waktu pukul 6 sampai 9 malam Vidio seakan tidak merekam, lalu pukul 9.10 malam Vidio baru merekam lagi." Jelas Sonny jujur, seraya tangannya menggeser tombol monitor dengan lincahnya.
"Maksud kamu, tidak ada aktifitas Vidio pada jam tersebut, seolah CCTV tidak sedang On melainkan Off?" Tanya Tuan Bernad heran.
"Iya.. Tuan, saya juga tidak mengerti, mengapa bisa terjadi seperti itu. Setahu saya CCTV di sini selalu On tidak pernah Off." Ucap Sonny menerangkan apa yang selama ini dia tahu.
"Kalau begitu, ada yang sabotase CCTV ini?" Tanya Tuan Bernad curiga.
"Kalau itu saya tidak mengerti Tuan, tapi kalau memang benar ada yang sabotase CCTV ini, berarti ada orang dalam yang terlibat Tuan." Ujar Sonny menuturkan.
"Maksud kamu salah satu karyawan di sini ada yang terlibat, begitu?" Tanya Bernad gamang.
"Mungkin saja Tuan.... tapi selama ini ruangan monitor tidak pernah ada yang masuk, kecuali saya Operator di sini. Meskipun ruangan ini kosong, tapi ada Tuan Joan di luar untuk gantian berjaga." Ujar Sonny menjelaskan secara lengkap.
"Baiklah kalau begitu, tolong panggilkan Joan ke sini." Pinta Tuan Bernad sopan.
"Iya, Tuan." Ucap Sonny singkat seraya menemui Tuan Joan, namun yang di cari sudah pulang.
"Maaf Tuan, sepertinya Tuan Joan sudah pulang." Ucap Sonny sopan.
"Apa... Joan sudah pulang?"
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........