
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Wina hanya menggelengkan kepalanya heran, dia tidak tahu jika Asisten Yoga sedang menahan jantungnya, yang berdebar kencang karena ulahnya.
Jika saja Wina tahu apa yang sedang dirasakan oleh Asisten Yoga, sudah dipastikan dirinya akan bersorak kegirangan, karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Om makan yah, aaaa...." Satu suapan, masuk kedalam mulut Asisten Yoga.
"Aaamm.. enak.." Ucap Asisten Yoga, saat mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Sungguh? Kalau enak, habiskan yah, Om Yoga." Tanya Wina antusias, seraya tersenyum tipis.
"Heemm.." Gumamnya pelan dengan senyum manisnya.
"Lagi Om, aaaa..." Ucap Wina, penuh semangat.
"Aamm.. " Asisten Yoga membuka mulutnya, lalu melahapnya makanan yang disuapi oleh Wina dengan senang.
Makanan itupun akhirnya bersih tanpa sisa, berpindah dari piring kedalam perut Asisten Yoga. Dengan wajah berbinar, Wina tersenyum melihat Asisten Yoga, menghabiskan makanannya yang dia suapi dengan penuh cinta.
"Ini Om yoga minumnya, eeeh.. sebentar.." Ucap Wina terhenti, saat melihat sisa makanan yang menempel dibibir Asisten Yoga. Lalu Wina meraih tisu untuk mengusapnya.
"Kenapa?" Tanya Asisten Yoga heran.
"I... ini.. Om Yoga, he.. he.. he.." Ucap Wina, saat menempelkan tisu dibibir manisnya Asisten Yoga, dan menunjukkannya sisa makanan itu seraya terkekeh.
Sontak saja, Asisten Yoga menahan jantungnya yang terus berdebar hebat. Entah mengapa sikap Wina beberapa bulan terakhir ini, terlihat berbeda dimata Yoga. Perhatiannya, cara bicaranya, sikap manisnya dan bahkan sekarang ini, Wina sedang menjaganya saat sakit seperti ini.
Asisten Yoga tidak menampik semua perhatian Wina, mungkin bagi Wina dirinya hanya dia anggap sebagai seorang Kakak saja, pikir Asisten Yoga. Karena dirinya adalah, anak tunggal yang membutuhkan sosok seorang Kakak ataupun Adik.
Asisten Yoga sudah sangat mengenal Wina, dari semenjak dirinya mulai bekerja sebagai Asisten Pribadi Tuan Bari Darma. Saat itu Wina masih menginjak kelas satu SMP, wajahnya yang imut, dan menggemaskan, sering kali menjadi bahan ledekan Asisten Yoga. Apa lagi Wina itu anaknya cerewet, lucu, dan sedikit galak, maka Asisten Yoga makin sering menggodanya saat itu.
Bahkan sampai detik inipun, Asisten Yoga masih menganggap Wina adalah, bocah kecil yang lucu, imut dan menggemaskan. Tapi mengapa perasaannya sekarang mudah berubah-ubah, pikiran dan hatinya sedikit tidak sinkron.
__ADS_1
"Om.." Panggil Wina lembut.
"Iya.. Wina?" Sahut Asisten Yoga juga lembut.
"Ini minumnya, dari tadi Om Yoga melamun terus, tangan aku sampai pegal harus pegangin gelas ini." Keluh Wina seraya memberikan gelas itu ketangan Asisten Yoga.
"Maaf yah, sayang." Ucap Asisten Yoga tanpa sadar, memanggil Wina dengan sebutan sayang.
Sontak saja Wina terkejut senang, saat Asisten Yoga memanggil dirinya dengan sebutan sayang. Dia berpikir bahwa Asisten Yogapun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
"O.. om Yoga, tadi panggil Wina, dengan sebutan sayang, bukan?" Tanya Wina penasaran, karena dia takut salah mendengar.
"E.. engga, kamu salah dengar, Wina." Ucap Asisten Yoga berdusta, seraya mengedarkan tatapan matanya kearah lain.
"Masa sih Om? Kuping aku masih jelas mendengar, Om Yoga panggil aku dengan sebutan, sayang." Bantah Wina dengan pendengarannya.
"Aach.. sudah, Wina.. Om mau istirahat tidur dulu yah. Kepala Om masih pusing, dan badan Om masih demam." Ucap Asisten Yoga mengalihkan pembicaraan, karena dirinya takut kalau sampai Wina tahu, hatinya dia sedang tidak baik-baik saja.
Winapun langsung menyentuh kembali kening Asisten Yoga dengan lembut, kemudian Winapun mengangguk kecil.
"Terima kasih, Wina.. maaf merepotkan." Ucap Asisten Yoga tulus, namun dirinya merasa bersalah karena sudah membuat Wina menjadi repot.
"Sama-sama Om Yoga, engga merepotkan sama sekalih Om, Wina tulus menjaga Om Yoga." Ucapnya jujur, karena dia melakukannya tulus karena cinta.
Asisten Yoga berusaha untuk bersikap tenang, namun jantungnya terus berdebar-debar, saat berdekatan dengan Wina dikamarnya seperti sekarang ini. Matanya terpejam, namun otaknya berkeliaran berpantasi liar.
Semakin lama, Wina berada didekatnya dengan jarak yang begitu dekat, Asisten Yoga semakin tidak bisa tidur. Wina duduk disamping dirinya dengan tatapan yang begitu lekat, membuat darah Asisten Yoga berdesir, dan tubuhnya membeku seketika.
"Om, kenapa gelisah gitu? Om belum bisa tidur yah? Sebentar, aku ke dapur dulu yah, Om." Ujar Wina merasa ada yang aneh dengan Om Yoga, seraya pamit ke dapur.
"Heeem.." Asisten Yoga bergumam pelan, tanpa membuka matanya yang masih terpejam.
Winapun di dapur mengambil sebuah mangkuk kecil, lalu mengisinya dengan air hangat. Setelah itu, dia mencari waslap untuk mengompres kening Asisten Yoga, agar demamnya cepat turun. Meskipun Asisten Yoga sudah minum Obat Paracetamol, tapi diapun mencoba cara alternatif lainnya.
__ADS_1
Winapun datang kembali kekamar Asisten Yoga, dengan membawa perlengkapan mengompresnya. Wina melihat Asisten Yoga sudah terpejam matanya, lalu diapun langsung mengompres keningnya, dengan waslap air hangat yang sudah diperas.
"Om Yoga, lekas sembuh yah. Wina tidak mau melihat Om sakit. Dari pada Om Yoga yang sakit, lebih baik Wina saja yang sakit." Ucap Wina pelan disamping Asisten Yoga, yang baru saja dia kompres keningnya.
Wina mencoba menyentuh tangan Asisten Yoga perlahan, karena dia tidak ingin mengganggu istirahat tidurnya Asisten Yoga.
Setelah Wina menggenggam jari tangan Asisten Yoga, diapun mengecup genggamannya itu kebibir mungilnya dengan lembut. Setelah itu Winapun berucap.
"Om Yoga, maafin Wina yah sudah menyukai Om Yoga, bahkan sekarang bukan sekedar menyukai tapi juga mencintai Om Yoga. Maafin Wina yah Om Yoga, sayang."
Kemudian Winapun melepaskan genggaman tangan Asisten Yoga dengan perlahan, karena dirinya tidak ingin membangunkan Asisten Yoga. Lalu sebelum dia pergi meninggalkan Asisten Yoga, Wina mengecup pipinya lembut.
Saat Wina akan berdiri, tiba-tiba lengan Wina dicekal oleh Asisten Yoga, dengan sangat kuat. Seketika Wina bergeming menatap lengannya, lalu menatap kearah Asisten Yoga, yang ternyata sudah membuka matanya.
"O.. om Yoga belum tidur?" Tanya Wina gugup.
"Heeem.." Asisten Yoga bergumam pelan, lalu tersenyum mengembang.
"J.. jadi.. Om Y.. yoga s.. sudah mendengar semua ucapan Wina tadi." Ucap Wina gugup, seraya menggigit bibir bawahnya malu.
Asisten Yoga langsung duduk dan melepaskan waslap yang menempel di keningnya perlahan, lalu menarik tangan Wina untuk masuk kedalam pelukkannya.
"Terima kasih sudah menyukai dan mencintai Om Yoga, sayang." Ucap Asisten Yoga mesra ditelinga Wina, hingga membuat tubuh Wina membatu dan darahnya berdesir.
"Heem.." Hanya gumaman yang bisa Wina ucapkan.
"Kenapa hanya pipi Om yang dicium? Kalau Om mau yang ini, boleh engga?" Tanya Asisten Yoga menggoda, seraya menempelkan jari telunjuknya didepan bibir Wina.
"O.. om Yo.. mmmmpppptt" Ucapan Wina terhenti, saat bibirnya Asisten Yoga sudah membungkam bibir Wina dengan lembut, mata Winapun langsung terpejam menikmati ciuman hangat dan manis dari bibir Asisten Yoga. Dirinya langsung terkejut mendapat serangan tiba-tiba, dari Asisten Yoga. Namun Wina tidak bisa membalas ciuman Asisten Yoga, karena ini adalah ciuman pertamanya yang benar-benar dia tidak mengerti caranya berciuman yang sebenarnya.
Asisten Yoga langsung melepaskan pangutannya, lalu diapun terkekeh melihat wajah Wina yang sudah bersemu merah seperti strawbery.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....