
Di mobil dalam perjalanan menuju pulang ke rumahnya, Asyafa terlebih dahulu menghubungi Ibunya, jika malam ini mereka akan menginap di sana.
Sesampainya di kediaman Tuan Bernad, keduanya langsung menemui Ibu Nurlaila di dapur. Sebelumnya mereka menanyakan keberadaan Ibunya kepada Mbo Ijah, yang ternyata sedang memasak makanan spesial.
"Assalamu'alaikum.. Ibu sayang." Salam Asyafa dan Rayhan bersamaan, seraya mencium punggung tangan Ibunya Takzim.
"Wa'alaikumsalam.... anak Ibu dan mantu Ibu sayang." Jawab salam Ibu, seraya menyambut uluran tangan anak dan menantunya.
"Kalian baru sampai atau dari tadi datangnya?" Tanya Ibu Nurlaila, seraya menarik bangku yang ada di meja makan.
"Kami baru sampai Bu." Jawab Asyafa yang diangguki oleh suaminya juga.
"Duduklah sayang, kalian pasti lapar, bukan?" Tanya Ibu seraya mengajak mereka duduk.
"Iya.. Ibu tahu saja, he.. he.. " Ucap Asyafa terkekeh dan di ikuti oleh Rayhan juga.
"Iya, kalian tunggu sebentar yah, masakannya hampir selesai semua, sebentar Ibu ambilkan ke dapur dulu." Ucap Ibu seraya berjalan ke dapur.
"Aku bantu Bu." Ucap Asyafa seraya mengekori Ibunya menuju dapur.
"Ayo sayang." Ajak Ibu senang.
Di dapur Ibu dan Asyafa menyiapkan mangkuk dan piring dengan mengisi masakan yang baru saja matang, ada rendang daging sapi, kentang balado juga sayur sop, Lalu sambal hijau, lalapan timun dan daun singkong.
"Mbo Ijah, tolong bantu saya bawa makanan ini ke meja makan yah, terima kasih." Ucap Ibu Nurlaila seraya menyerahkan piring yang berisi makanan.
"Baik Nyonya." Ucap Mbo Ijah cepat, lalu mengambil makanan itu dan membawanya ke meja makan.
"Waaah... wangi sekali, Ibu masak apa Mbo? Sepertinya Enak? Aku jadi tambah lapar." Tanya Rayhan yang tidak tahan, dengan aroma wangi masakan mertuanya itu.
"Nyonya memasak banyak makanan, Aden. Di jamin pasti Aden suka dengan masakannya." Jawab Mbo Ijah dengan senang dan bangga memuji masakan Nyonyanya itu.
Ibu Nurlaila dan Asyafa membawa mangkuk berisi makanan juga, lalu menaruhnya di atas meja.
"Sudah lengkap semua, ayo kita makan sayang." Ajak Ibu Nurlaila seraya menarik bangku untuknya duduk.
"Mbo, mari ikut makan bersama kami." Tawar Ibu Nurlaila kepada ART nya itu.
"Terima kasih, Nyonya, saya belum begitu lapar, saya ingin mencuci perlengkapan masak tadi yang masih kotor, Nyonya. Saya izin ke belakang. " Ucap Mbo Ijah sopan.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih Mbo, sudah membantu." Ucap Ibu Nurlaila ramah.
"Sama-sama, Nyonya." Ucap Mbo Ijah dan langsung meninggalkan mereka.
"Ibu masak apa ini? Banyak sekali." Tanya Rayhan penasaran.
__ADS_1
"Ibu masak rendang daging sapi, kentang balado, sayur sop dan lalapannya juga sambal, sayang" Jawab Ibu Nurlaila menjelaskan, seraya menyiapkan piring untuk makan mereka.
"Ooh.. rendang daging sapi? Kalau itu saya pernah makan bersama istri Rayhan Bu, enak sekali rasanya." Jelas Rayhan.
"Mantu Ibu suka rendang?" Tanya Ibu Nurlaila heran, pasalnya itu makanan khas dari Indonesia yang berasal dari Padang.
"Suka Bu, waktu itu aku ajak makan nasi Padang." Jawab Asyafa seraya menyendokkan nasi untuk suaminya itu.
"Segini cukup engga, Kak?" Tanya Asyafa seraya menunjukkan isi piring yang berisi nasi, rendang, sayur dan sambal.
"Cukup, cinta" Jawab Rayhan.
Mereka akhirnya menikmati makan siang yang hampir sore mereka, dengan suasana dan obrolan yang menyenangkan. Mereka membahas rencana bulan madu ke Belanda besok. Ibu Nurlaila sangat senang mendengarnya, dan menyetujui rencana mereka ke sana.
"Tambah lagi makannya, sayang. Jangan sungkan dan malu." Tawar Ibu Nurlaila.
"Iya.. Bu, kami sudah kenyang sekali." Jawab Rayhan sopan.
"Kalian menginap malam ini?" Tanya Ibu Nurlaila, seraya membereskan piring kotor bekas makannya.
"Iya.. Bu, kami akan menginap malam ini." Jawab Rayhan senang.
"Biar aku bantu, Bu." Tawar Asyafa, seraya mengangkat piring kotor miliknya dan suaminya, yang akan di bawanya ke dapur untuk di bersihkan.
"Ya sudah, Ibu ke Papiliun belakang yah, sayang." Ucap Ibu Nurlaila.
"Baiklah, cinta. Kamu bisa 'kan cuci piringnya sendiri." Ledek Rayhan menggoda.
"Aiish.. bisa dong, ini mah kecil, sayang." Jawab Asyafa sombong, seraya meninggalkan suaminya ke dapur.
"He.. he.. he.. " Rayhan tertawa senang.
Selesai mencuci piring kotor dan merapihkan meja makan, Asyafa bergabung dengan Ibu dan suaminya di Papiliun belakang rumahnya, untuk menikmati suasana sore hari dengan berduduk santai dan menikmati belaian angin sepoi-sepoi.
Mereka menikmati suasana hangat dengan obrolan ringan, di temani camilan buatan Mbo Ijah yaitu pisang goreng dan roti bakar.
Malam hari, hampir pukul 7 malam, Ayah Bernad baru saja pulang dari kantor, Ibu Nurlaila menyambut suaminya dengan mencium punggung tangannya dengan takzim, dan di ikuti oleh anak dan menantunya.
Ibu Nurlaila mengambil tas kerja suaminya dan jas kantornya, serta membuka sepatu suaminya dengan sopan.
"Kalian sudah dari kapan di sini?" Tanya Ayah Bernad senang, seraya mengendorkan dasi yang melekat di lehernya dan duduk bersandar di sofa kesayangannya.
"Dari tadi siang, Ayah." Jawab Asyafa yang di ikuti oleh Rayhan kompak.
"Ooh.. menginap yah?" Tanya Ayah Bernad.
__ADS_1
"Iya.. Ayah." Jawab mereka kompak.
"Sayang, bersih-bersih dulu sana, sudah lengket gini." Ujar Ibu Nurlaila seraya membantu mencopot dasi suaminya itu.
"Ibu dan Ayah so sweet yah, cinta?" Puji Rayhan seraya mengerlingkan matanya ke arah istrinya.
"Iya.. sayang, memang mereka seperti itu." Jelas Asyafa menanggapi banyolan suaminya.
Ibu dan Ayah yang mendengar pujian Rayhan dan Asyafa membuat mereka mengulum senyum, lalu meninggalkan mereka berdua.
Rayhan menghubungi Uncle Jonathan, untuk memesan tiket Pesawat On Line secara bersamaan, agar mereka bisa berangkat ke Belanda dengan pesawat yang sama. Setelah beberapa menit melakukan pemesanan dan pembayaran tiket Pesawat, akhirnya Rayhan mendapatkan pemberitahuan keberangkatan mereka ke Belanda, besok pagi pukul 7 harus sudah lepas landas.
Mereka berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam selesai, Ayah Bernad senang mendengar berita anak dan menantunya yang akan bulan madu ke Belanda.
"Ayah turut bahagia mendengarnya, jika kalian ke sana, jangan lupa mampir ke rumah O.. oma kamu sayang, A.. ayah titip salam rindu untuk mereka." Pinta Ayah Bernad dengan ekspresi sedih dan berkaca-kaca.
"Iya.. Ayah, tapi mengapa wajah Ayah begitu sedih dan itu mengapa Ayah menangis?" Tanya Asyafa bingung dengan sikap Ayahnya, begitu juga dengan Rayhan yang nampak aneh melihat Ayah mertuanya seperti itu.
"Sabar, sayang.. sudah lupakanlah, masalah itu sudah sangat lama, dan jangan kamu ingat-ingat lagi." Ucap Ibu Nurlaila menenangkan suaminya yang sudah menangis.
"Sebenarnya ada apa Ibu, Ayah? Tanya Asyafa dan Rayhan penasaran.
"Sebenarnya..."
Flash Back.. !
Di Belanda 12 Tahun yang lalu, Ayah Bernad bekerja dengan giat di Perusahaan Papa dan Mamanya yang bergerak di bidang Elektronik, dan Industri. Dia tinggal di kota Amsterdam, tepatnya di propinsi North Holland. Perusahaannya bernama PT. DORMAN GLOBAL Corporation Elektronik Industries.
Ayah Bernad sangat jujur dalam bekerja sehingga pengeluaran atau biaya sedikit saja, yang mencakup kepentingan Perusahaan, dia selalu melaporkan kepada pihak Perusahaan dengan masuk ke dalam anggaran belanja Perusahaan.
Namun suatu hari, disaat Ayah Bernad sedang mengechek anggaran Biaya Perusahaan Papa dan Mamanya yang berada di kantor cabang, dia menemukan ada masalah dalam biaya anggaran pengeluaran di Perusahaan tersebut.
"Apa-apaan ini, mengapa biaya yang di keluarkan begitu besar? Mana bukti kwitansi pembayarannya? Dan untuk pembelian apa saja? Di sini tidak ada penjelasannya." Tanya Ayah Bernad kepada pihak Manager keuangan, dengan nada marah dan emosi. Lalu melemparkan berkas itu, ke meja Alex Manager Keuangan tersebut dengan kasar.
"M.. maaf Tuan Bernad, saya hanya menjalankan perintah Tuan Charles saja." Jawab Alex selaku Manager Keuangan di Perusahaannya.
"Apa? Kak Charles, maksudmu?" Tanya Bernad, yang sedikit shok mendengar ucapan Manager itu.
"Iya.. Tuan." Jawabnya singkat. karena dia takut kena sasaran kemarahan Tuan Bernad.
"Kak Charles... kamu benar-benar dari dulu sampai sekarang tidak bisa berubah." Ucapnya dalam hati.
Pasalnya Charles adalah Kakak dari Ayah Bernad, namun dia berbanding terbalik sifatnya dengan Ayah Bernad.
Happy Reading
__ADS_1
-BERSAMBUNG--
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih......