
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Yoga terkekeh, saat ingin menggoda Wina lebih dalam lagi, ciuman dan jilatan dari lidah Yoga, membuat Wina merasakan sekujur tubuhnya mere **mang dan mende **sah tidak berdaya.
"Maaf, sayang.. Om, tidak bisa melakukan lebih jauh lagi. Om, bisa dihukum mati oleh Papa kamu, jika sampai menodaimu. Om, akan melakukan ini, jika kelak kita akan menikah." Ujar Asisten Yoga, saat berbisik mesra ditelinga Wina.
Sontak saja Wina langsung bergeming, menatap sayu wajah Asisten Yoga yang terlihat sedang menggodanya. Wina tidak percaya, begitu mudahnya dia menerima serangan Asisten Yoga tanpa perlawanan. Untung Asisten Yoga bukan Pria breng **sek, yang memanfaatkan kesempatan. Cinta Asisten Yoga sungguh tulus kepada Wina, dan dia tidak ingin menodai cinta sucinya.
Asisten Yoga merasa dirinya takut kebablasan, akhirnya dia berdiri dari tempat tidurnya, kemudian berjalan meninggalkan Wina yang masih terdiam ditempatnya. Untuk meredamkan pisang tanduknya yang sudah bereaksi sedari tadi, Asisten Yogapun masuk ke kamar mandi, lalu menyiramnya dengan air dingin.
Wina terkekeh dan menggelengkan kepalanya tidak percaya, saat mengingat ciuman panasnya dengan Asisten Yoga. Ciuman mereka sangat manis, hingga membuat mereka terhanyut dalam cumbuan napsu yang teramat sangat. Untung Asisten Yoga kesadarannya masih terjaga, coba kalau sampai tidak terjaga, bisa-bisa kebablasan, pikirnya.
"Eeeeheeemmm." Asisten Yoga berdehem di depan Wina yang masih melamun, padahal sudah beberapa menit yang lalu, Asisten Yoga sudah keluar dari kamar mandinya.
"Eeehh.. Om Yoga habis mandi yah? Om 'kan lagi demam, kenapa mandi?" Tanya Wina yang melihat Asisten Yoga bertelanjang dada, dengan handuk kecil yang melilit dipinggangnya.
Dengan susah payah Wina menelan salivanya kasar, saat menatap tanpa berkedip tubuh Asisten Yoga yang atletis. Dada bidang, dengan perut seperti roti sobek, berbentuk kotak-kotak.
"Om, harus mandi sayang, kalau tidak mandi, bisa-bisa pisang tanduk Om, minta masuk pada sarangnya. He.. he.. he.." Ujar Asisten Yoga jujur, seraya terkekeh, kemudian meraih baju santai, dan celana pendek di dalam lemarinya.
"Aiishh... Om Yoga mesum." Decak Wina sebal, seraya memalingkan wajahnya kesamping. Wina tidak berani melihat Asisten Yoga, yang benar-benar akan berganti pakaian didepannya.
Asisten Yoga langsung menggelengkan kepalanya heran, dengan Wina yang benar-benar polos. Kaum wanita itu tidak akan mengerti, dengan derita kaum Pria. Bahwasanya jika pisang tanduk Pria sudah berdiri kokoh, dia harus mencari sarang untuk melepaskannya. Jika tidak ada sarangnya, mau tidak mau air dinginlah pelariannya. [Maaf yah 🙏🙏🙏 ini sih hanya pendapat Autor saja.✌✌✌]
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak ingin pulang? Sudah sore, nanti Papa dan Mama kamu khawatir. Apa mau Om antar pulang?" Tanya Asisten Yoga perhatian, setelah dirinya mengenakan pakaian lengkap didepan Wina tanpa canggung.
"Apa Om Yoga sudah selesai, berganti pakaiannya?" Wina malah balik bertanya.
"Sudah sayang, lagian nanti juga akan terbiasa kalau sudah menikah, he.. he.. he.." Ucap Asisten Yoga, dengan santai tanpa dosa, seraya terkekeh.
Winapun kemudian menghadap kearah Asisten Yoga berada, diapun langsung tersenyum kecut.
"Kalau sudah menikah yah jelas lain dong Om, itu sudah halal. Kalau ini 'kan kita belum terikat pernikahan, jadi dosa namanya." Hardik Wina dengan konsekuensinya.
"He.. he.. he.. sudah tahu dosa kenapa tadi mau dicium? Hampir saja kebablasan." Kekeh Asisten Yoga, seraya meledek kekasihnya itu.
"I.. itu sih Om, yang mulai duluan." Tuduh Wina, dengan wajah menahan malu.
"Iya.. iya.. Wina yang salah, sekarang Om Yoga puas?" Wina mengaku salah pada akhirnya.
"Ha.. ha.. ha.. Engga sayang, kita sama-sama salah. Yang penting kita masih terjaga, tidak sampai kebablasan. Apa kamu mau menikah dengan Om?" Ujar Asisten Yoga, sama-sama mengakui kesalahan masing-masing. Lalu diapun menanyakan keseriusan dirinya, untuk menikahi kekasihnya itu.
"Apa? Apa Wina engga salah dengar, Om? Apa Om, serius ingin menikahi Wina? Kita 'kan baru saja saling mengetahui satu sama lainnya, jika kita saling mencintai." Tanya Wina dengan wajah yang begitu shock, saat mendengar Asisten Yoga mengajaknya menikah.
"Engga, sayang! Om, mau tanya sama kamu, sayang. Sudah berapa lama, kamu menyukai Om? Sudah berapa lama, kamu mencintai Om? Dan sudah berapa lama, kamu menginginkan Om membalas cinta kamu?" Tanya Asisten Yoga tegas, dengan sikap dan ucapannya.
Wina menggelengkan kepalanya pelan, karena kalau boleh jujur dengan hatinya, Wina sudah menyukai Asisten Yoga semenjak pertama kali bertemu, yaitu saat dia masih duduk dibangku SMP kelas satu.
__ADS_1
Menurut Wina rasa sukanya itu, hanya sekedar kagum kepada seseorang yang seperti idola saat itu. Tapi, semakin lama dari tahun ketahun, rasa sukanya menjadi rasa cinta yang teramat sangat, hingga Wina sudah tidak bisa lagi membendung rasa cintanya.
"Kalau memang Om serius sama Wina, Om boleh minta Wina sama Papa dan Mama, besok." Tantang Wina dengan wajah serius.
"Baiklah, besok Om akan pinta Wina menjadi istri Sugar Babynya Om, kepada Nyonya Hilda dan Tuan Bari." Ucap Asisten Yoga tegas.
"Iya Om Yoga sayang. Tapi kenapa Wina menjadi istri Sugar Babynya, Om?" Tanya Wina tidak mengerti, dengan ucapan Asisten Yoga.
"He.. he.. he.. usia kita 'kan sangat jauh berbeda sayang. Bahkan Om ini lebih cocok jadi Adiknya Papa kamu, dibandingkan dengan menjadi menantunya." Kekeh Asisten Yoga mengingat usianya yang terpaut jauh.
"Ha.. ha.. ha.. iya juga yah Om Yoga. Tapi, Wina melihat Om masih tetap sama, seperti awal kita berjumpa 6 tahun yang lalu. Wajah Om tidak banyak yang berubah, malah semakin hari semakin tampan, dan semakin awet muda." Tawa Wina pecah, namun tetap memuji kekasihnya itu.
"Bisa saja Sugar Babyku ini, kalau memuji, he.. he.. he..." Ucap Asisten Yoga terkekeh.
"Om.. sebaiknya, Wina pulang sekarang." Pamit Wina, disaat melirik jam tangannya sudah hampir pukul 5 sore. Wina langsung membereskan wadah makanannya, dan memasukkannya kedalam tasnya.
"Iya sayang, apa mau diantar?" Tawar Asisten Yoga, seraya menemani Wina berjalan beriringan keluar kamarnya.
"Tidak usah Om sayang, Wina bawa mobil tadi saat kesini. Sekarang Om istirahat yang cukup, cepat sembuh dan minum obat Paracetamolnya lagi, kalau demam Om kambuh lagi. Tapi, mudah-mudahan engga kambuh lagi demamnya yah, Om sayang." Tolak Wina dengan halus, seraya mencium punggung tangan Asisten Yoga lembut.
"Iya sudah, hati-hati Wina, sayang." Ucap Asisten Yoga tulus, seraya mengulurkan tangan kanannya yang akan dicium Wina, lalu diapun mengecup puncak kepala Wina lembut.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....