TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Bunga


__ADS_3

Rayhan terkekeh melihat gadis itu, sudah terhimpit dan bergeming. Tangan Rayhan terulur, seraya mengacak rambut gadis itu gemas.


Asyafa akhirnya bisa bernapas lega, pikirannya sudah melambung entah kemana. Alih-alih ingin marah, tapi malah diam seribu bahasa. Dia merutuki dirinya.


"Sayang, panggilkan Ibu kamu dong, aku mau pamit." Pinta Rayhan.


"Iya, sebentar Pak." Jawabnya.


"Kalau dirumah, panggil saya kakak atau mas bila sudi sayang lebih boleh!" Perintah Rayhan.


"Malas... !" Jawabnya jutek.


"Aish... baru dikasih lampu hijau sama Ibu, sudah berani ini orang." Bathinnya.


Asyafa mencari keberadaan Ibunya yang ternyata tidak ada didalam rumah, dia bertanya kepada Mbo Ijah perihal keberadaan Ibunya, yang ternyata ada di taman depan rumah.


"Pak Dosen, Ibu ada di taman depan. Kalau mau pamit, ayo aku antar menemuinya." Ajak Asyafa.


"Iya, baiklah." Jawab Rayhan, seraya berpamitan kepada Mbo Ijah pelayan rumah itu yang kemudian diangguki oleh mbo ijah.


Merekapun, akhirnya menemui Ibu Nurlaila yang sedang menyiram bunga, ditaman depan rumah yang lumayan luas tertata rapi, bersih dan nyaman. Tidak lupa pula berkat mang Udin, tukang kebun yang selalu rajin memotong rumput dan membersihkan kebun bunganya.


"Ehem.. Ibu asik sekali, sampai tidak menyadari kami disini." Sindir Asyafa.


"Eeeh.. sayang, Nak Rayhan. Iya Ibu sampai lupa sama kalian, kalau sudah berada di depan bunga-bunga kesayangan Ibu, semua sudah terlupakan saking asyiknya melihat pemandangan di taman ini." Ibu Nurlaila berceloteh sambil tertawa kecil.


"Bunga-bunganya indah yah Bu! Ada warna-warni, ada merah, pink, kuning, putih dan juga ini berwarna ungu. Semuanya cantik." Kagum Rayhan.


"Iya.. Nak Rayhan suka bunga juga?" Tanya Ibu Nurlaila.


"Suka sekali Bu. Di Belanda sewaktu saya masih kecil dulu, jika sepulang sekolah, saya suka menemani Mama di Toko kios bunga, tempat Mama berjualan bunga. Saya suka membantu Mama, merangkai bunga menjadi buket bunga yang indah." Cerita Rayhan.


"Ooh iya, Nak Rayhan, tadi siang sudah cerita tentang semua itu yah, Ibu sampai lupa. He.. he..." Ibu Nurlaila terkekeh.


"Waah... sepertinya Ibu sama Pak Dosen mempunyai hoby yang sama yah. Sama-sama penyuka bunga." Gadis itu memotong obrolan mereka.


"Aish.. anak Ibu pengertian sekali yah, Nak Rayhan. Ini namanya jodoh sayang, Ibu suka bunga dan calon mantu Ibu juga suka bunga. Ucap Ibu tertawa senang.


"Tapi aku tidak suka bunga, ibu." Sela Asyafa lirih seraya mengerucutkan bibirnya.


"Ya sudah tidak apa-apa sayang. Kalau kamu tidak suka, tidak masalah sama Ibu, Nak." Membelai rambut Asyafa lembut.


Rayhan hanya terdiam, tidak ikut campur masalah gadis itu, perihal ketidak sukaannya terhadap bunga. Mungkin dimasa lalu ada tragedi yang menyebabkan gadis itu tidak menyukai bunga. Anggapan Rayhan, padahal dia ingin sekalih memetik bunga cantik itu untuk calon istrinya. Tapi dia urungkan.

__ADS_1


"Ibu saya mau pulang yah! Hari sudah sangat sore." Pamit Rayhan seraya mencium punggung tangan Ibu Nurlaila.


"Iya, Nak Rayhan. Hati-hati dijalan, salam buat kedua orang tua kamu yah." Pesan Ibu Nurlaila.


"Oh iya, Bu! Besok malam, saya dan orang tua saya hendak melamar Asyafa, apa 'kah boleh waktunya dipercepat? Jadi tidak ada perkenalan lagi, 'kan sudah kenal Bu." Pinta Rahan seraya tersenyum manis.


"T.. tapi aku belum siap Pak Dosen." Tolak Asyafa, yang air mata nya sudah menggenang di pelupuk matanya.


Kemudian, Ibu Nurlaila mendekati anaknya dan memeluknya penuh damai, seraya berkata kepada anaknya dengan lembut.


"Engga ada salahnya di coba dulu Nak, sepertinya Nak Rayhan bersungguh-sungguh!. Sudah jangan menangis, jelek anak gadis menangis."


"Aku maunya berteman dahulu dengan Pak Dosen Bu, bukan langsung menikah terus jadi suami aku." Pinta gadis itu lirih.


"Iya nanti bisa dibicarakan lagi nak." Ucap Ibunya menenangkan.


Rayhan bergeming, seakan marah pada dirinya, dan merutuki dirinya yang terlihat bodoh. Yang mudah sekali mengambil keputusan untuk secepatnya menikahi gadis itu, sedangkan dia belum tahu gadis itu mau atau tidak menikah dengannya.


"Apa yang kulakukan? Bodah.. bodoh." Rayhan merutuki dirinya.


"Nak Rayhan, ada apa nak? Maaf tadi, anak Ibu tidak bermaksud menolak tapi... langsung terhenti ketika Rayhan berucap.


"Tidak apa-apa, Bu."


"Nak Rayhan marah?" Tanya Ibu Nurlaila memastikan.


"Bagaimana anak Ibu, Nak Rayhan mau memenuhi keinginanmu." Tanya Ibunya.


"Iya, Bu! Terima kasih Pak Dosen, Bapak sudah mau mengerti saya." Ucapnya gadis itu malu.


"Katanya teman, kenapa masih panggil Bapak hah..?" Tanya Rayhan sambil menyentil hidung gadis itu yang mancung.


Asyafa tertawa lepas, sambil memegangi hidungnya yang sudah disentil Dosen Rayhan.


"Iya, Kakak. Terima kasih!" Ucapnya malu.


"Nah gitu donk! 'kan manis. Hi.. hi.." Ucapnya tersenyum terlihat gigi putih rata Rayhan, dan gadis itupun tersipu malu.


"Sekarang kakak mau pulang yah sayang." Pamit Rayhan terkekeh, sambil menjulurkan tangannya mengacak rambut Asyafa pelan.


"Iya, Kak! Hati-hati di jalan." Ucap Asyafa sambil merapihkan rambutnya, yang sedikit berantakan ulah Rayhan.


"Kamu tidak mau mencium tanganku sayang?" Ledek Rayhan, yang langsung disambar oleh Asyafa punggung tangannya dan menciumnya ragu.

__ADS_1


"Anak pintar! Makin gemes Kakak." Mencubit pipi Aayafa pelan.


"Aiish.. baru dikasih hati, sudah minta jantung ini orang." Bathin Asyafa.


"Tapi, kenapa aku sedikit menyukainya yah? Yang dia lakukan terlihat manis." Gumamnya pelan.


Rayhan pun meninggalkan kediaman Asyafa, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hatinya senang bisa mengenal calon Ibu mertuanya, dan mencoba menyelami hati gadis itu. Tidak butuh waktu lama, 45 menit akhirnya Rayhan sampai di rumahnya.


Pak satpam membukakan pintu pagar otomatis, setelah mendengar bunyi klakson mobil Rayhan.


"Sore Aden Rayhan, baru pulang Den?" Tanya Pak Satpam.


"Iya, Pak." Jawabnya.


"Mama dan Papa sudah pulang Pak?" Tanya Rayhan.


"Kalau Nyonya sudah Den. Tapi kalau Tuan belum Den." Jawab Pak Satpam.


"Ooh gitu Pak! Iya sudah terima kasih Pak." Ucapnya.


"Sama-sama Den." Jawab Pak Satpam.


Rayhan mulai memarkirkan mobilnya digarasi, yang berjejer bersampingan dengan 2 mobil mewah yang lainnya. dan 2 buah moge ( motor gede) yang bertengker gagah, juga 3 buah sepedah lipat yang berbaris rapi.


Rumah yang bisa di bilang seperti istana, pagar menjulang tinggi, halaman rumah yang luas. Ada 2 orang Satpam dan pos penjaga, rumah berlantai 4 yang dipenuhi dengan lukisan mahal dan ukiran kuno, juga ornamen indah. Guci-guci bersejarah, serta perlengkapan isi rumah yang bernilai harganya. Tidak lupa pula kolam renang di belakang rumah, dan papiliun serta taman gajebo untuk berkumpul keluarga.


"Assa'lamualaikum, Mom.. mom... where are u mom?" Rayhan masih mencari keberadaan Mamanya.


"Anu.. Den. Nyonya lagi di kamarnya." Jawab salah satu pelayan wanita rumahnya.


"Oooh.. iya Mbak! Terima kasih."


Sesampainya di depan kamar, Rayhan ragu untuk mengetuk, tetapi tetap dilakukannya.


Tok.. tok... tok..! " Pintu di gedor pelan.


"Mom, what are u doing? Mai i come in?" Tanya Rayhan.


"Please come in my son!" Jawab Mamanya.


"Mom. I love you." Seraya memeluk Mamanya erat.


"I love u too my son." Diciumnya pipi Rayhan bertubi-tubi.

__ADS_1


Happy Reading


--BERSAMBUNG--


__ADS_2