TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Pernikahan Maurin dan Willyam


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Pagi hari, keluarga Jonathan sudah disibukkan dengan berbagi tugas persiapan Pernikahan Willyam, dan Maurin. Pernikahan yang mendadak ini membuat Stefany dan Jonathan kesal, dan geram dengan anak semata wayangnya itu. Bagaima tidak kesal, baru semalam pulang hampir tengah malam, membangunkan mereka, lalu dikejutkan dengan berita ingin menikah besok juga. "


"Dia pikir menikah itu, seperti membeli kacang goreng? Sungguh konyol kau Willyam." Gumam Stefany merutuki anaknya, namun tetap mengabari semua saudara keluarga besarnya, dan teman-teman sosialitanya.


Begitu juga dengan Jonathan, karena pernikahan dadakan ini membuatnya pusing, harus mengambil cuti dadakan dari kerjaannya, meski dia seorang CEO, tapi dia harus profesional dalam bekerja. Waktunya cuti yah cuti, dan waktunya bekerja yah bekerja.


Banyak rencana yang harus di cancel secara sepihak, karena setiap klien berbeda-beda. Ada yang menerima meski diwakilkan dengan Asisten Pribadinya, ada juga yang hanya ingin bertemu dengan CEO langsung, dan ada yang memilih di cancel lain waktu dan sebagainya.


Tidak jauh berbeda dengan keluarga Jodhy Alfonso, merekapun sibuk mengatur acara Pernikahan anak kesayangannya itu. Sedang dia adalah orang tua tunggal, yang sudah di tinggal istrinya beberapa tahun silam.


Pernikahan dadakan mereka ini, hampir membuat Jodhy geleng-geleng kepala, dan pusing dibuatnya. Betapa tidak pusing, anak gadisnya seperti menganggap pernikahan itu main-main. Namun dengan penjelasan Maurin yang pintar, akhirnya Jodhy mengikuti kemauan anaknya itu.


Maurin ikut membantu Papanya, untuk mengabari saudara, dan para tetangga dekatnya, menghadiri acara Pemberkatan Maurin, dan Willyam, yang sangat dadakan tersebut. Banyak saudara, dan tetangga yang heran, dan bertanya-tanya tentang pernikahan mereka.


"Kenapa menikah dadakan?"


"Apakah Maurin sudah MBE?"


"Apa pernikahan ini, kalian anggap main-main?"


Semua pertanyaan itu, menghampiri telinga Maurin. Namun Maurin menjawab mereka dengan tenang, dan santai, hingga akhirnya mereka menerima keputusan Maurin.


Tidak berselang lama, para saudara, dan tetangga dekatpun, membantu mempersiapkan segala kebutuhan acara Pernikahan mereka. Mulai dari gaun pengantin, catring makanan, dan MUA.


Meski mereka hanya melaksanakan Pemberkatan Pernikahan di Gereja, tapi tetap saja banyak segala sesuatunya yang harus dipersiapkan.


Willyam menghubungi Maurin sebelum acara Pemberkatan nanti malam, untuk memilih gaun pengantin di Butik Momie Stefany. Maurin sangat senang mendengarnya, lalu diapun langsung bertandang ke Butik calon Momie mertuanya itu, yang diantar oleh supir pribadinya.


Maurin sudah tampil cantik dengan riasan wajahnya oleh MUA, rambutnya disanggul dengan rapih, dan diselipkan bunga cantik. Sungguh hari ini penampilan Maurin sangat luar biasa cantiknya.


Sesampainya disana, Maurin tersenyum mengembang melihat sosok calon suaminya yang sedang menunggu di pintu masuk. Dengan berjalan anggun Maurin disambut mesra oleh Willyam, kemudian ditarik punggung tangannya, lalu dikecup mesra.


"Wellcome my beauty!" Sapa Willyam, dengan penuh cinta yang romantis memberikan setangkai bunga mawar.


"Thanks my Hubby." Sahut Maurin, tersipu malu, saat menerima setangkai bunga mawar tersebut.


Dengan senyum yang seakan tidak pernah luntur, Willyam menggandeng Maurin untuk menemui Pelayan Butik ditempat itu. Pelayan Butik langsung menyapa mereka berdua dengan ramah, dan sopan.


"Selamat sore, maaf, ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


"Selamat sore juga, saya ingin mencari gaun pengantin untuk calon istri saya." Sahut Willyam ramah.


"Iya.. Tuan, dan Nona, mari saya tunjukkan." Ujarnya, seraya berjalan ketempat gaun itu berada. Lalu Willyam, dan Maurin, mengekori Pelayan Butik itu.


"Silahkan di pilih dulu saja Tuan, dan Nona." Pinta Pelayan itu ramah.


"Terima kasih, saya dan calon istri saya akan melihat-lihat dulu, baru mencobanya." Ujar Willyam ramah, dan Maurin hanya mengangguk kecil.


"Iya Tuan dan Nona, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Pelayan itu.


"Honey, kamu bisa pilih warna, dan model gaun pengantin yang kamu suka di sini." Ucap Willyam, seraya menunjuk beberapa gaun Pengantin itu yang di pajang.


"Eeem.. aku sepertinya suka yang ini, hubby." Ucap Maurin riang, saat menunjuk gaun yang di inginkannya.


"Ya honey, kamu boleh mencobanya." Slorohnya senang.


"Okey." Sahut Maurin singkat.


Maurin langsung mencoba baju Pengantin tersebut, dengan meminta bantuan Pelayan Butik. Setelah selesai memakainya, Maurin keluar dari ruang ganti, dan menunjukkan gaun yang di pakainya.


"Hubby, menurut kamu bagaimana gaun ini?" Tanya Maurin terlihat senang, seraya tersenyum indah, masih memegang setangkai bunga mawar pemberian Willyam di tangannya.



"Ya sudah, aku pakai ini saja Hubby, kalau kamu juga menyukainya."Ucap Maurin bahagia, lalu dianggukkan oleh Willyam.


"Hubby, kamu tidak memilih jas Pengantin untukmu?" Tanya Maurin, yang melihat Willyam masih belum menggunakan jas Pengantinnya.


"Sebentar, aku akan mencarinya, dan langsung memakainya." Sahut Willyam, seraya memilih jas Pengantin yang sesuai dengan warna celananya.


Setelah Willyam mendapatkan jas tersebut, dia langsung memakainya di depan Maurin.


"Menurutmu bagaimana penampilanku, honey?" Tanya Willyam dengan wajah coolnya.



"Bagus Hubby, jas itu cocok ditubuhmu." Sahut Maurin jujur.


Kemudian merekapun langsung mendatangi tempat kasir Butik tersebut, dan ingin membayarnya. Meski ini Butik Momienya, tapi Willyam tetap akan membayar apa saja yang dia ambil.


"Maaf Nyonya, semuanya untuk gaun ini, dan jas ini, totalnya berapa?" Tanya Willyam ramah.

__ADS_1


"Maaf Tuan, pesan Nyonya Stefany, gaun dan jas Pengantin untuk Tuan, dan Nona, adalah hadiah Pernikahan dari Nyonya Stefany." Jelas Pelayan kasir itu jujur.


"Oooh.. baiklah, kalau begitu terima kasih, Nyonya." Ucap Willyam pasrah., yang dianggukkan oleh Maurin.


"Iya Tuan, dan Nona sama-sama." Sahut Pelayan tersebut.


Malam ini semua sudah berkumpul tamu undangan saudara, kerabat, tetangga, dan kolega bisnis orang tua pengantin. Mereka sudah menempati tempat duduknya masing-masing di dalam Gereja.


Bapak Pendeta sudah menunggu diatas Altar, dan Pembawa Acara (MC) memanggil kedua mempelai untuk naik keatas Altar Pernikahan.



Willyam berjalan dengan gontai, diapit oleh Momie Stefany, dan Dadie Jonathan, dengan tersenyum mengembang, menyapa para tamu undangan yang hadir.


Kemudian calon mempelai wanita berjalan dengan anggun, dan cantik, memegang sebuket bunga mawar merah yang indah. Maurin digandeng oleh Papa Jodhy Alfonso, tersenyum dengan ramah menyapa para tamu undangan yang hadir juga.


Keduanya bertemu di atas Altar Pernikahan untuk menjadikan mereka sebagai sepasang suami istri. Setelah Bapak Pendeta membimbing kedua mempelai untuk bersaksi di hadapan Tuhan, kitab, dan manusia, maka mereka dinyatakan SAH menjadi sepasang suami istri.


Para tamu undangan yang hadir, langsung bertepuk tangan dan bersorak riang.


"Prok.. prok.. Horre.. yeah... SAH."


Kemudian mereka memberikan selamat, kepada kedua Mempelai Pengantin, dan kedua orang tuanya.


"Selamat atas pernikahan kalian."


"Selamat atas pernikahan putri, dan putra kalian."


Kedua mempelai Pengantin, dan orang tuanyapun senang menerima ucapan dari para tamu, yang merupakan saudara, dan teman-temannya sendiri.


"Lempar... lempar... lempar..." Teriak para tamu, untuk melemparkan buket bunga yang berada ditangan Maurin.


Maurin dan Willyampun langsung berbalik badan, dan melempar buket bunga itu kebelakang tubuhnya.


"Horre.. aku dapat." Teriak salah satu tamu undangan, yang sengaja menunggu untuk medapatkan buket bunga Pengantin itu.


--BERSAMBUNG--


...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........


...Jangan lupa mampir ke karyaku yang baru yah teman-teman. Terima kasih, mohon dukungannya....

__ADS_1



__ADS_2