TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Pilihan Alya Mentari


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Dikediaman Alya Mentari, Para Asisten Rumah Tangga sudah sibuk membantu Mamanya Alya, untuk mempersiapkan sajian makanan nanti malam, karena hari ini akan ada pertemuan dua keluarga. Perjodohan yang di lakukan kedua orang tua Alya bukanlah semata-mata hubungan bisnis, namun karena mereka adalah teman lama semasa Kuliah dulu.


Papa Alya bernama Tuan Hendra Baskara, dia adalah seorang Pengusaha yang bergerak di bisnis Properti dan Perumahan. Tuan Hendra membangun bisnis ini sejak Alya duduk dibangku SD, saat itulah awal kedua keluarga menjalin hubungan bisnis setelah lama tidak berjumpa.


Tuan Hendra Baskara dan Tuan Ardi Prayoga sama-sama membangun bisnisnya dari 0, maka mereka tahu benar pejuangannya kala itu, hingga bisa sukses seperti saat ini. Namun Ardi Prayoga lebih beruntung, karena dia mencalonkan diri menjadi pejabat setempat, dan ternyata dia terpilih hingga detik ini masih menyadang jabatan sebagai pejabat di kota Bogor.


Sedangkan Mama Alya bernama Mentari, dia adalah seorang Ibu rumah tangga biasa, yang kesehariannya menjaga anak, dan mengurus rumah. Nyonya Mentari sangatlah cantik, wajahnya yang oriental membuat suaminya Hendra Baskara sangat mencintainya. Wajah cantik Alyapun menurun dari wajah mama Mentari.


Alya yang sedang mengeringkan rambutnya sehabis mandi tadi, terkejut saat tiba-tiba Mamanya langsung menghampirinya tanpa dia ketahui. Mungkin suara hair dryer yang berisik, hingga tidak terdengar langkah kaki Mamanya saat masuk ke kamarnya yang memang tidak terkunci.


"Eeh.. Mama, ngagetin saja." Ucap Alya, seraya mematikan alat hair dryernya.


"Ha.. ha.. ha... habis kamu di panggilin engga nyahut terus." Tawa Mama beralasan.


"Maaf Mam, engga kedengaran suara Mama manggil, habis hair dryer ini suaranya berisik banget." Sahut Alya, seraya mematut bayangannya di cermin.


"Anak Mama cantik banget." Ucapnya, seraya memandangi wajah anaknya dari pantulan di cermin.


"Anak siapa dulu dong? 'Kan anak Mama yang cantik." Sahutnya tersenyum mengembang.


"Ha.. ha... ha.." Tawa keduanya pecah.


"Alya sayang?" Panggil Mama Mentari.


"Heeemm... iya Mam, ada apa?" Tanya Alya.


"Hari ini kamu tidak boleh kemana-mana yah, kamu jangan kecewakan niat baik Papa dan Mama, sayang." Pesan Mama Mentari untuk putri semata wayangnya itu.


"Iya, Mam." Sahut Alya singkat.


"Baiklah, sekarang Mama mau ke dapur dulu, mau lanjutkan beres-beres persiapan untuk nanti malam." Ujar Mama Mentari seraya meninggalkan Alya sendiri.


"Iya.. Mam."


Alya terus mematut dirinya di depan cermin, dan membayangkan kejadian kemarin, saat dia ingin berkata jujur tentang perasaannya kepada Andi. Namun apa dikata nasi sudah menjadi bubur, ketika Alya akan menemui Andi, siapa sangka dia memergokinya, sedang berciuman mesra dengan pacarnya tepat di depan matanya.


Hancur sudah harapannya untuk menyatakan cinta yang selama ini dia jaga, luluh sudah pertahanan yang dia bangun selama ini. Bukan salah Andi juga yang berciuman mesra di depannya, semua itu Andi lakukan karena memang dia saling mencintai dengan wanita yang bersamanya.


"Kamu memang bodoh Alya, bodoh.. !" Maki Alya yang ditunjukkan untuk dirinya sendiri.


"Kau harus sadar Alya, sadar.... ! Cintamu itu, bertepuk sebelah tangan." Gerutunya pelan, masih menatap dirinya di depan cermin, tanpa sadar air mata mengalir deras dipipinya. "Hikk.. hikk. hikk.."


Cukup lama Alya menangis, hingga membuat matanya sedikit bengkak, lalu diapun memoles wajahnya tipis-tipis dengan Makeup untuk menutupi mata sembabnya, seraya termenung.


"Drtt.. drrt.." Bunyi ponsel Alya bergetar, membuyarkan lamunannya. Diliriknya sekilas, tertulis nama Asyafa my besty di layar ponselnya.

__ADS_1


"Hallo Sya,"


"Hallo Alya, hari ini benar jadi acaranya?"


"Iya, Sya."


"Loe seriusan?"


"Iya, Sya."


"Loe sudah ngomong jujur sama Andi?"


"Deg.. hening."


"Hallo Alya?"


"Hallo.."


"Tuuut..." Ponsel dimatikan sepihak oleh Alya.


"Kenapa dengan Alya? Kenapa dia mendadak berubah? Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?" Bathin Asyafa bertanya-tanya, seraya menatap layar ponselnya yang mulai meredup.


Sedangkan disebrang sana, Alya menangis kembali setelah mematikan sambungan ponselnya.


"Hiikk.. hikkk.. hikk.. maaafin gue Sya... maafin gue..."


*******


Hampir dua jam, Andi belum juga membalas Pesan WA nya. Sedangkan Asyafa, dan Rayhan dalam perjalanan ke rumah Alya. Saat hampir sampai di rumah Alya, ponsel Asyafa berbunyi. Ternyata Andi yang menelpon.


"Hallo.."


"Hallo Sya, ada apa menelepon? Gue engga paham dengan isi pesan WA loe. Maaf gue baru buka ponsel gue, jadi baru sekarang gue bisa telepon loe."


"Ntar lagi telepon balik, gue sudah sampai di rumah Alya, by.. by.."


"By.."


"Tuut.." Ponsel dimatikan oleh Asyafa.


Andi mengerutkan dahinya heran, dia tidak mengerti dengan pesan WA dari sahabatnya itu, dibacanya lagi pesan WA tersebut.


("Andi loe sudah ketemu sama Alya? Loe sudah mendengar curahan isi hati Alya? Kenapa loe menolaknya, hingga Alya memutuskan untuk menerima perjodohannya.") Begitulah isi pesan WA dari Asyafa.


"Apa mungkin Alya menyukai gue? Kalau gue cerna lagi isi pesan Asyafa, sepertinya Alya suka sama gue, terus gue menolaknya dan Alya jadi menerima dijodohkan? Aaahh.. pusing... ! Gue engga ngerti pesan loe, Sya." Bathin Andi bertanya-tanya, seraya mengacak rambutnya frustasi.


*******

__ADS_1


"Assalamu'alikum, selamat malam Tante, Om, Alya my besty." Salam Asyafa yang di ikuti oleh suaminya, seraya berjabat tangan.


"Waa'alaikumsalam, malam juga Nak Asyafa dan Nak Rayhan." Sahut Nyonya Mentari lalu di ikuti yang lainnya, seraya menyambut jabatan tangan mereka.


"Ayo silahkan duduk Nak Asyafa dan Nak Rayhan." Tawar Nyonya Mentari ramah.


"Terima kasih Tante." Ucap Asyafa yang diiukuti oleh Rayhan.


"Mbo Iyem, tolong buatkan minuman lima gelas jus jeruk buat kami yah dan camilan yqng tadi kita buat." Pinta Mama Mentari sopan.


"Baik Nyonya." Sahut Mbo Iyem, seraya menuju ke dapur.


"Alya, loe cantik banget, sumpah sampai pangling gue tadi, kirain bukan my besty." Ungkap Asyafa jujur.


"Ha.. ha.. ha.. tumben loe puji gue, biasanya saja ngejatuhin gue."Alya tergelak dengan pujian Asyafa.


"Huuh.. dasar loe, kalau ngomong seenak jidat loe, he.. he.. he.." Ucap Asyafa terkekeh, lalu Alyapun ikut terkekeh.


Sementara Rayhan sedang berbincang dengan Nyonya Mentari, dan Tuan Hendra. Asyafa langsung menarik Alya menjauh dari mereka.


"Alya.. gue mau ngomong sebentar!"


"Mau ngomong apa, Sya?"


"Loe ditolak sama Andi?"


"Deg.." Jantung Alya terkejut.


"Ee..engga."


"Kalau engga, kenapa loe terima perjodohan ini?"


"Gue sudah ambil keputusan untuk menerima perjodohan ini, Sya."


"Kenapa loe tiba-tiba berubah pikiran, padahal Andi engga nolak loe?"


"G.. gue su.." Kata-katanya terhenti, saat Mama Mentari memanggilnya.


"Alya sayang, kemari Nak, keluarga calon suami kamu sudah datang." Panggil Mama Mentari seraya menghampiri mereka.


"Iya.. Mam." Sahut Alya lirih.


Alya dan Asyafa keruang keluarga untuk menemui calon suaminya Alya, betapa terkejutnya mereka.


"D.. damar.. ! Seru Asyafa dan Alya bersamaan.


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih......


__ADS_2