TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Hasil Sidang


__ADS_3

Charles sangat senang dan bahagia, apa yang dia inginkan akhirnya ada di genggamannya. Rencananya kali ini mulus, tanpa hambatan.


Mama Merry bahagia dengan hasil yang di bacakan oleh Pengacara Pribadinya sesuai apa yang dia inginkan, namun hatinya sedih jika mengingat isi wasiat suaminya yang sebenarnya. Tapi, dia melakukan semua ini karena dirinya merasa benci terhadap Bernad yang sudah melenyapkan nyawa suaminya, begitulah apa yang di pikirkan Mama Merry sekarang ini.


Mama Merry dan Charles hendak meninggalkan kediaman Papa Thomas, namun seketika Bernad mencegah Mama Merry.


"Mom... tinggalah di sini saja. Apa Mom tidak rindu dengan rumah ini? Kamar di sini bersama Papa dulu? Suasana di sini bersama kami?" Cegah Bernad, seraya menahan lengan Mama Merry.


"Apa? Kau meminta Mom untuk tinggal di sini lagi? Jangan bermimpi kau, Adik." Ucap Charles bernada ejekan, seraya menepis tangan Bernad yang sudah menahan Mama Merry.


"Kak.. aku sedang berbicara dengan Mom, Kakak jangan campuri urusan kami." Ucap Bernad tidak suka, dengan Charles yang selalu menjadi penghalang dirinya dengan Mama Merry.


"Well.. mari kita dengar pendapat Mom, apakah sudi tinggal di sini atau tidak?" Ujar Charles dengan nada angkuh, seraya tersenyum miring.


Mama Merry bergeming dengan perdebatan kedua anaknya yang sangat dia sayangi, namun ego Mama Merry sangat tinggi untuk mengakuinya. Sesungguhnya hatinya sangat sakit, jika melihat mereka selalu bertengkar dan bermusuhan. Mama Merry masih teringat dengan ucapan Charles, jika semua ini karena istrinya Nurlaila yang pembawa sial.


"Mom.. Mengapa diam saja? Apa pendapat Mom, dengan ajakan Adik?" Tanya Charles seraya merangkul pundak Mama Merry.


"Mama tidak ingin tinggal di rumah ini, selama masih ada pembawa sial yang tinggal di rumah ini." Ucap Mama Merry meluncur begitu saja, seketika membuat hati Bernad dan istrinya tersentak tidak percaya. Namun lain hal dengan Charles, yang tersenyum mengembang.


"Mom.. sadarkah dengan ucapanmu? Apa maksudnya yang kau katakan, Mom? Kami pembawa sial? Setan mana yang sudah merasuki pikiran dan hatimu, Mom?" Berondong pertanyaan di lontarkan oleh Bernad, dia tidak habis pikir jika Mama Merry tega mengatakan perihal itu kepadanya.


"Mama sadar dengan semua ucapan itu, semenjak kamu menikahi dia... Mama tidak merestuinya dan tidak menyukainya. Dia... hanya pembawa sial untuk kami. Dan.... kamu juga ikut sial karena dia... " Ujar Mama Merry menuding Nurlaila, seraya menunjukan jari telunjuknya di udara ke arah Nurlaila.


Nurlaila seketika bergeming, mendengar penuturan Mama mertuanya itu. Dia terkejut, hatinya sakit, dan tanpa terasa air matanya langsung keluar begitu saja. Mama mertuanya yang selama ini dia hormati, dia perjuangkan untuk mendapatkan restunya, dia sayangi sebagai pengganti Ibu kandungnya yang sudah tiada, teganya menuduh dirinya sebagai pembawa sial.

__ADS_1


Bernadpun bergeming, seakan di lempar dengan ribuan batu yang menghantam tubuhnya. Ucapan dan tuduhan Mamanya, seakan membuat luka yang teramat dalam di hatinya, terlebih lagi dia memikirkan istrinya yang sekarang sudah menangis dalam diam. Bernad langsung menenangkan istrinya dengan membawa istrinya ke dalam pelukannya, lalu menangis bersama dalam diam.


"Ciiieeeh.. sok melow, sok drama." Hardik Charles mencibir tidak suka.


"Cukup..." Teriak Bernad yang menghentikan ocehan Charles.


"Beraninya kau..." Ucap Charles terhenti, yang tidak terima dengan teriakan Bernad.


"Sudah Charles, ayo kita pulang." Ajak Mama Merry menghentikan pertikaian anaknya.


"Ayo Mom." Jawab Charles, seraya menggandeng Mama Merry.


"Tunggu Mom." Pinta Bernad lirih.


"Kau, mau apa lagi?" Tanya Charles ketus, namun di tahan oleh Mama Merry.


"Mom.. jika kami pergi dari rumah ini, apakah Mom mau kembali tinggal di rumah ini?" Tanya Bernad, seraya menghapus air matanya kasar.


"Ya... iyalah, kau ini pura-pura bodoh atau memang bodoh hah.. ?" Hardik Charles. menanggapi pertanyaan yang di tujukan kepada Mama Merry.


"Aku tidak bertanya padamu, Kak!" Seru Bernad kesal dengan Charles, lalu dia mengalihkan tatapan penuh tanda tanya kepada Mamanya.


"Apa jawabanmu. Mom?" Tanya Bernad, meyakinkan hatinya sekali lagi.


"Heeem.. " Mama Merry hanya bergumam lalu mengangguk pelan.

__ADS_1


"Jika begitu, kembalilah ke rumah ini Mom. Aku dan keluarga kecilku akan pindah dari sini, jika ini yang bisa membuat Mama kembali ke rumah ini. Kami akan meninggalkan rumah ini mulai besok, terima kasih dan maaf jika selama ini kami mengecewakanmu, Mom." Jelas Bernad lirih, seraya menarik istrinya pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


*******


Stepan tidur meringkuk di dalam penjara, dia menyesali perbuatannya selama ini salah. Dia menjadi orang kepercayaan Tuan Charles, dengan menanggung segala dosa-dosa dia dan Boss Charles. Namun dia tidak bisa membela dirinya, karena ada keluarga yang harus dia lindungi. Besok hari adalah keputusan sidang, apapun hukumannya, Stepan akan terima dengan lapang dada. Malam ini adalah, malam di mana Stepan tidur dengan gusar dan matanya selalu terjaga.


Keesokan hari, akhirnya tiba keputusan sidang. Disana sudah hadir keluarga Andre Luis, untuk menyaksikan berjalannya sidang. Keluarga Andre Luis sangat membenci Stepan, selama ini dia mengenal baik Stepan yang memang sering di ajak berkunjung ke rumah keluarganya. Mereka ingin Stepan mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya.


Bernad dan istrinyapun turut hadir dalam persidangan Stepan, untuk mengetahui hukuman apa yang akan di terima Stepan. Sebelumnya Bernad sudah menghubungi Mama Merry, untuk hadir di acara sidang Stepan. Namun tidak ada jawaban, dan ponselnya mendadak mati.


Ketua Hakim sudah membuka jalannya sidang, jaksa penuntut meminta hukuman seumur hidup atau hukuman mati. Namun Pengacara pembela terdakwa, meminta untuk meringankan hukumannya. Dengan menimbang-nimbang hasil sidang, maka Ketua Hakim akhirnya mengetuk palu dan menyatakan, hukuman tahanan seumur hidup yang diberikan kepada Tuan Stepan Hilton.


Keluarga Andrea Luis dan kelurga Bernad Dorman, puas dengan hasil sidang yang di putuskan oleh Ketua Hakim tersebut. Mereka meninggalkan ruang sidang dengan hati tenang dan damai. Sebelum pergi, Bernad menghampiri keluarga Andrea Luis.


"Selamat siang Tuan dan Nyonya, perkenalkan nama saya Bernad Dorman, dan ini istri saya Nurlaila. Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya putra anda yang bernama Andre Luis, yang merupakan pegawai kami di Perusahaan PT. DORMAN GLOBAL." Ucap Bernad ramah seraya berjabat tangan dengan mereka, yang di ikuti oleh istrinya.


"Selamat siang juga Tuan dan Nyonya, kami sebagai orang tua Andre sangat berterima kasih atas kepedulian anda. Kami mengucapkan banyak terima kasih, atas santunan yang begitu besar untuk kami. Tuan dan Nyonya sangat baik, dan semoga selalu di beri kebaikan dan kebahagiaan untuk kalian." Ucap Nyonya paruh baya itu ramah, seraya meneteskan air mata dalam doanya. lalu menerima uluran tangan mereka dan di ikuti oleh suaminya dengan tersenyum hangat.


"Sama-sama Nyonya dan Tuan." Ucap Bernad seraya mengurai jabatan tangan mereka, lalu membalas senyuman mereka.


Akhirnya mereka berpisah dengan mengendarai mobil masing-masing.


Happy Reading


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........


__ADS_2