
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Setelah beberapa saat mereka terdiam, Andi akhirnya mengurai pelukkannya dari pinggang Alya. Kemudian Andi membalikkan tubuh Alya, dengan kedua tangannya memegangi bahu Alya. Tanpa berucap sepatah katapun, Andi langsung membawa Alya kedalam pelukkannya.
Alya tidak menolak atas perlakuan Andi sahabatnya, baginya cinta dirinya kepada Andi sudah dikubur dalam-dalam. Meski dia tidak bisa pungkiri, cinta itu masih ada untuknya. Namun sekarang apa yang sedang dia saksikan, pertengkaran adu mulut antara Damar dan Naura semakin memperjelas, jika mereka sudah saling mengenal sebelumnya.
Didalam isi kepala Alya saat ini adalah. "Ada apa sebenarnya antara Damar dan Naura? Mengapa mereka bisa adu mulut, hanya karena masalah kecil? Jika memang belum pernah kenal sebelumnya, kenapa perasaan aku mengatakan mereka seperti sudah kenal jauh sebelum ini?"
"Ndi.. kenapa kamu melakukan ini? Nanti kalau pacar kamu tahu, bagaimana?" Tanya Alya saat sudah mengurai pelukkan Andi.
"Biar saja Al? Kalau dia tahu, berarti aku jadi single lagi Al, he.. he.. he.." Sahut Andi terkekeh.
"Sepertinya kamu sangat siap menjadi single! Memangnya kamu tidak mencintai Naura?" Tanya Alya hati-hati.
"Awalnya tidak Al, karena dirinya hanya pelarianku saja, dan ternyata aku juga sama hanya pelarian bagi Naura saja." Ungkap Andi benar adanya dengan mata yang sudah berembun.
"Jadi kalian pacaran karena sama-sama pelarian saja? Menghindari dari masalah, dan membuang rasa sakit hati, dengan mencoba mencari cinta dari orang lain, meski tidak ada rasa cinta." Ujar Alya jelas.
"Iya Al." Sahut Andi cepat.
"Pelarian dari Asyafa?" Tanya Alya.
"Heeemm.." Andi hanya bergumam lirih.
"Tqpi sekarang kamu mencintainya, bukan?" Tanya Alya penasaran.
"Iya.. aku hampir mencintainya, karena seiringnya waktu hari-hariku selalu bersamanya. Bahkan dia sangat pandai, dalam mengambil hati kedua orang tuaku."
"Kamu tahu, Naura pelarian dari siapa?" Tanya Alya kepo.
"Naura pelarian dari mantan pacarnya, yang sudah meninggalkannya karena satu kesalahpahaman." Ujar Andi apa adanya yang dia tahu.
"Maksudnya? Aku belum paham." Tanya Alya masih abu-abu.
"Naura dijebak oleh teman cowoknya yang menyukainya, namun dia tidak ingin mengatakannya siapa cowok itu, yang pasti teman kuliahnya." Jawab Andi jujur.
"Kenapa bisa di jebak? Memangnya apa yang dilakukan teman cowoknya itu?" Tanya Alya semakin penasaran.
__ADS_1
"Cowok itu memberikan obat tidur dalam minuman Naura, lalu Naura difoto bersama cowok itu seakan-akan sedang tidur bersamanya. Setelah kejadian itu, cowok tersebut selalu mengancamnya akan menyebarkan photo dirinya kepada pacarnya, bahkan kepada teman-temannya di kampus. Maka dari itu Naura seakan-akan menghianatinya, dan mencampakkan pacarnya." Ujar Andi panjang lebar.
"Jahat banget temannya itu, kenapa dia memaksakan cinta wanita yang disukainya, dengan cara kotor seperti itu?" Tanya Alya, tidak habis pikir dengan pria tersebut.
"Cinta itu buta Al, jika cowok sudah sangat cinta kepada wanitanya, segala cara akan dia lakukan, meski dengan cara kotor sekalipun. Namun tidak berlaku untuk aku Al, buktinya aku tetap menerima Asyafa menjadi istri orang lain. Kamu tahu sendiri perjuanganku, bukan?" Ujar Andi dengan pemahamannya.
"Iya juga Ndi, apa yang kamu katakan ada benarnya. Tapi bagaimana caranya Naura terbebas dari cowok itu?" Tanya Alya masih penasaran, karena Naura bisa pacaran sama Andi.
"Naura akhirnya menerima cinta cowok itu, namun itu hanya cara Naura agar bisa mengambil bukti photo itu, lalu menghapusnya. Setelah itu Naura meminta putus dengannya, karena dia tidak mencintainya." Jawab Andi dengan jelas.
"Ooh.. jadi seperti itu ceritanya, kasihan juga Naura yah Ndi." Ucap Alya prihatin dengan apa yang dialami Naura.
"Bagaimana ceritanya, kalau kamu bisa kenal dengan Naura?" Tanya Alya, ingin tahu wanita yang bisa menaklukan hati Andi dengan mudah.
"Ceritanya sih simple Al, koper aku sama koper dia tertukar saat di Bandara. Dompet sama ponsel aku, ada didalam koper tersebut. Aku hubungi nomor ponselku, lalu dia angkat, dan dari situ awal perkenalan kami Al." Jawab Andi jujur, tanpa ada kebohongan disana.
"Cerita kalian sweet banget, Ndi." Ucap Alya kagum.
"Mungkin, kalau aku tahu perasaan kamu dari dulu Al, kamu sudah pasti jadi istri aku sekarang." Ujar Andi dengan gamblang.
"Sudahlah Ndi, mungkin kita tidak berjodoh." Ucap Alya tenang.
"Sekarang kamu mau kemana? Mau balik atau disini saja, sampai mereka menemukan kita?" Tanya Andi, seraya menyingkirkan anak rambut Alya yang menutupi wajah cantiknya.
"Eeehhh..." Ucap Alya kaget, sontak saja wajah Alya langsung bersemu merah, saat Andi memberikan perhatian kecil seperti itu. Walau bagaimanapun Alya pernah menyukainya selama 4 tahun, sudah dipastikan perasaan itu masih ada, meski dia sudah menguburnya dalam-dalam.
"Maaf Al, aku engga bermaksud membuat kamu kaget." Sesal Andi, dengan tindakannya yang lancang, sudah menyetuh mahkota Alya sahabatnya.
"E.. engga apa-apa, Ndi." Ucap Alya gugup.
*******
Damar dan Naura baru menyadari, jika pasangannya sudah tidak ada bersama mereka. Karena perdebatan kecil mereka, yang tidak seberapa itu.
"Eeehh.. pacar aku Andi kemana? Kenapa dia pergi? Ini semua gara-gara kamu, pacar aku jadi pergi." Omel Naura kesal, karena Damar, dia jadi di tinggal pergi oleh pacarnya.
"Alya juga tidak ada, apa jangan-jangan mereka? Aach.. tidak mungkin, mereka 'kan sahabatan dari dulu, dan Alyapun sudah jujur sama aku, jika dia sudah memutuskan memilih aku." Hatinya bermonolog dengan wajah cemas. Nampak terlihat kecemasan di wajah Damar, setiap orang yang melihatnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Wajah kamu cemas banget! Palingan juga Alya cuma ke toilet, coba saja hubungi ponselnya." Usul Naura masuk akal.
Damarpun menghubungi Alya, namun ternyata tas dan ponselnya tertinggal dikursi, samping camilan yang tadi di beli Damar.
"Yah ponselnya tertinggal, bagaimana saya bisa tahu Alya dimana? Mana filmnya sudah mulai lagi." Ujar Damar kesal sendiri.
Naura yang melihat Damar kecewa, gegara ponsel Alya yang tertinggal dikursi. Akhirnya dirinya memutuskan untuk menghubungi Andi.
"Tuut.. tuut... tuut.." Suara telpon tersambung.
"Hallo.."
"Hallo.. honey, kamu sekarang ada dimana?
"S.. saya ada di depan toilet." Ucap Andi gugup, karena berdusta.
"Honey, lihat Alya tidak? Damar kebingungan nih pacarnya menghilang, ponsel dan tasnya tertinggal dikursi."
"A.. ada tuh, Alya baru keluar dari toilet." Dusta Andi terpaksa.
"Bilangin sama Alya, cepat kesini, filmnya sudah mulai beberapa menit yang lalu."
"Iya."
"Kamu juga honey, cepat kesini."
"Iya."
"By... by.."
"Tuuut.." Saluran telpon terputus bersamaan.
Damar yang mendengar pembicaraan Andi dan Naura, ternyata Alya ada bersama Andi ditoilet, Damar mulai terbakar api cemburu.
"Mengapa mereka bisa bersamaan ke toilet? Apa mereka ada main di belakangku?" Bathin Damar bermonolog gusar.
--BERSAMBUNG-
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....