
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Hari ini di kediaman Tuan Ardi, semua sedang bersiap-siap untuk datang kerumah kediaman sahabatnya, yaitu Tuan Hendra. Mereka akan melakukan lamaran malam ini, untuk anak-anak mereka.
Damar sangat senang menyambut hari bahagia, karena hari ini dia akan melamar kekasihnya yang sangat dia cintai.
"Adikku sayang, kamu sedang apa?" Tanya Siska, seraya memasuki kamar Damar yang pintu kamarnya sedikit terbuka.
"Eeeh.. Kak Siska, Kak Indra, Kalian sudah datang. Aku sedang bersiap-siap dong Kak, apakah aku sudah tampan, Kak?" Tanya Damar serius, dengan penampilannya.
Siska dan Indra tersenyum mendengar pertanyaan Adiknya itu, lalu menggelengkan kepalanya kecil. "Heeemm..." mereka hanya bergumam pelan.
"Kenapa kalian hanya tersenyum dan bergumam tidak jelas? Kakak macam apa kalian, Adiknya bertanya serius, tidak ada jawaban." Kesal Damar mengerutkan keningnya.
"Ha.. ha.. ha.. begitu saja kamu marah, Dik! Kamu itu Adikku yang paling tampan, jadi tidak usah diragukan lagi." Tawa Siska pecah, seraya menyapit hidung Damar gemas. Begitupun Indra Kakak iparnya yang ikut menertawakan Damar.
"Aiish.. kalian suami istri kompak menertawakanku. Ini hidungku sampai merah oleh kamu Kak, untung saja asli, coba kalau kayak phinokio, bisa patah kau capit seperti ini." Decak Damar sebal, seraya mengelus hidungnya yang sedikit merah ulah Kakak tercintanya.
"He.. he.. he.. maaf Dik, habis Kakak gemas dengan sifat polosmu itu yang seperti kanak-kanak." Kekeh Siska seraya duduk diatas kasur bigsizenya Damar.
"Heeemmm.." Damar hanya bergumam kecil.
"Apa kamu sudah kembali ingatannya, Dik?" Tanya Siska lebih jelas, karena dirinya hanya tahu dari Mama dan Papa saja.
"Sudah Kak, semuanya aku ingat. Cincin yang akan aku pakaikan malam ini juga, sudah ada ditanganku Kak." Sahut Damar jujur, seraya menunjukkan cincin lamarannya sebagai tanda tersebut.
"Alhamdulillah, kalau begitu." Ucap Siska pada akhirnya.
Mama Ningsih mendatangi kamar Damar, lalu tersenyum simpul. "Ternyata kalian disini, ayo sekarang kita akan segera berangkat." Ajak Mama Ningsih antusias.
"Baik Mam." Sahut Damar cepat, yang diangguki oleh Siska dan suaminya.
Merekapun keluar dari kamar Damar bersamaan, kemudian menuju mobil mereka masing-masing.
Damar ikut bersama mobil kedua orang tuanya, sedang Siska bersama suaminya Indra dan orang tua Indra. Saudara dan kerabat keluarga besar Papa Ardi juga, ada sebagian yang ikut mengantar mereka untuk melamar calon menantu keluarga Ardi Prayoga.
*******
Saat ini keluarga Tuan Hendra, sudah ramai oleh saudara dan tetangga dekat mereka, yang membantu persiapan acara lamaran Alya dan Damar.
Alya menghubungi Asyafa untuk menghadiri acara lamarannya.
"Tuut.. tuut.. tuut.." Suara telpon tersambung.
"Assalamualikum, hallo Alya ada apa? Bagaimana naik gunungnya, lancar 'kan?"
"Gue engga jadi naik gunung Sya, hari ini gue lamaran. Loe bisa datang kerumah gue, engga?"
__ADS_1
"Uuweek... uweeeekk.."
"Sya... sya... loe lagi mual-mual yah?"
[- - -]
Setelah beberapa menit kemudian, Asyafa kembali meraih ponselnya, karena dirinya habis mengeluarkan isi perutnya tadi.
"Hallo Alya, maaf yah gue habis muntah barusan."
"Loe masih mabok terus yah, Sya?"
"Iya Al, makanya gue engga bisa ikut pergi kegunung, lagi hamil terus mabok mulu lagi."
"Kayaknya susah yah Sya, menjadi Ibu hamil?"
"Engga juga Al, nikmat tahu, he.. he.. he.."
"Masa sih Sya? Gue jadi engga sabar kepingin hamil juga kayak loe."
"He.. he.. he... nikah dulu Al, baru hamil."
"Iya dong Sya, tapi kayaknya loe engga bisa kerumah gue yah? Loe lagi mabok gitu, mana tega gue."
"Iya Al, gue minta maaf Al, tapi kalau loe nikah, gue pasti datang insya Allah."
"Iya Tante Alya, salam dari dedek kembar."
"Apa, Sya? Loe hamil anak kembar?"
"Iya Al, baru kemarin gue USG di Rumah Sakit, lalu Dokter bilang kita akan punya anak kembar, tapi belum tahu laki-laki atau perempuan."
"Alhamdullilah Sya, memangnya loe punya keturunan kembar?"
"Punya Al, dari Tantenya suami gue, Bulek Dewi anaknya kembar cewek, cantik-cantik."
"Oooh.. begitu yah! Ya sudah Sya, selamat istirahat, jangan cape-cape, ingat bayi kembar loe. Sehat-sehat terus yah, jangan lupa doain gue supaya lancar."
"Siap Boss! Sudah pasti itu mah, buat sahabat gue, doa terbaik untuk kelancaran lamarannya sampai ke Pelaminan."
"Terima kasih Sya, loe emang the best."
"Sama-sama Al."
"Assalamualaikum...."
"Wa'alaikumsalam.."
"Tuut.." Merekapun menutup ponselnya bersamaan.
__ADS_1
"Sayang, ayo kamu lekas mandi dan nanti mama dandani kamu yang cantik." Ujar Mama Mentari agar cepat mandi dan bersiap untuk menyambut kedatangan keluarga besan.
"Siap Mamaku yang cantik." Sahut Alya bersemangat.
Alyapun langsung melesat kekamar mandinya, hanya 20 menit saja, Alya sudah menyelesaikan sesi mandinya. Alya memakai gaun, yang sudah disiapkan oleh Mama Mentari.
"Sayang, kamu sudah selesai mandinya?" Tanya Mama yang baru saja menyembul, masuk dari balik pintu kamar Alya yang memang tidak terkunci.
"Sudah Mama, bagimana menurut Mama?" Ucap Alya, seraya menunjukkan gaun yang dipakainya dan meminta pendapatnya.
"Bagus sayang, dan cantik dipakai gadis Mama yang memang sudah cantik dari lahir. Hanya tinggal Mama poles sedikit dengan Make Up, penampilan anak Mama akan menjadi yang terbaik malam ini." Ungkap Mama bangga dengan memeluk anaknya erat, seraya menitikkan air mata bahagianya.
"Terima kasih Mama, tapi kenapa Mama menangis?" Tanya Alya heran, saat mendengar isak tangis dari bibir Mama Mentari saat memeluknya.
"Ini tangisan bahagia sayang, karena anak Mama satu-satunya akan segera menikah, dan menjadi istri orang." Ujar Mama jujur, seraya mengurai pelukkannya dari tubuh anak gadisnya.
Alyapun tersenyum saat mendengar ucapan dari Mama Mentari, dirinya bahagia mempunyai kedua orang tua yang selalu menjaga dirinya, dan mementingkan kebahagiaannya.
"Ding." Bunyi pesan WA diponsel Alya.
"Pesan dari Andi? Kenapa dia?" Tanya Alya dalam hatinya. Kemudian Alyapun membuka pesan itu.
["Al... kenapa loe engga jadi ikut ke gunung Pangrango?"]
["Gue kemarin ada insiden kecil, Ndi."]
["Insiden apa maksud loe, Al? Gue kurang paham."]
["Gue dan Damar kemarin kecelakaan, tapi dibalik itu ada hikmah Ndi, ingatan Damar kembali dan malam ini Damar akan melamar gue."]
["Apa? Kecelakaan? Loe sekarang bagaimana keadaannya, Al?"]
["Gue baik-baik saja, sudah tidak apa-apa, Ndi."]
["Loe, benar-benar akan menerima lamaran Damar, Al?"]
["Iya, Ndi. Maafin gue, engga seharusnya gue cerita soal ini sama loe, Ndi."]
Andi langsung melakukan VC, saat Alya terakhir membalas pesan WAnya.
"Haii.. kenapa loe jadi Video Call, Ndi?"
"Loe, cantik banget Alya..!"
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....
__ADS_1