
Perjalanan Indonesia-Amsterdam yang mereka lewati sangat melelahkan, karena waktu yang mereka tempuh hampir 15 jam tanpa henti. Keberangkatan mereka pada pukul 7 pagi di Indonesia, namun di Belanda saat ini pukul 4 sore karena perbedaan waktu Indonesia lebih cepat 6 jam dari Belanda.
Ketika mereka sudah sampai di Bandara Internasional Amsterdam Schiphol, Mereka langsung di jemput oleh driver Hotel milik Uncle Jonathan untuk beristirahat dahulu. Mereka menikmati perjalanan lalu lintas yang cukup macet, tapi tidak semacet di Indonesia.
Mungkin banyak para pegawai yang baru saja pulang bekerja, atau para mahasiswa dan pelajar yang juga pulang study. Meski perjalanan mereka sedikit lebih lama, namun mereka terlihat lega karena sudah selamat sampai Belanda. Terlebih lagi keluarga Uncle Jonathan, mereka bahagia sudah kembali ke tanah kelahirannya.
Hampir 1.5 jam mereka melewati perjalanan menuju Hotel milik Uncle Jonathan yang merupakan milik Papa Beni juga, akhirnya sampai di depan Hotel yang cukup mewah dan luas.
Mereka turun tepat di depan Hotel milik Uncle Jonathan, dan Papa Beni. Saking bahagianya, Asyafa tersenyum lebar saat melihat Hotel yang begitu besar dan mewah.
"Waaaaah.. besar sekali Hotel Uncle Jonathan, sungguh aku tidak sabar untuk masuk ke dalamnya." Ucap Asyafa dengan rasa kagumnya, melihat penampakan Hotel nan megah dan indah. Selama di Indonesia, Asyafa jarang sekali menghabiskan waktu bersama keluarga di Hotel mewah, makanya dia sangat kagum ketika melihat Hotel itu.
Uncle Jonathan tersenyum melihat tingkah Asyafa yang lucu, dan menggemaskan. Jika bukan istri dari keponakannya, sudah pasti dia ingin sekali memiliki menantu seperti Asyafa untuk anaknya William. Namun itu tidak akan mungkin terjadi, karena uncle Jonathan orang yang selalu membebaskan anaknya untuk memilih calon istrinya sendiri.
"Mari kita masuk Asyafa, Rayhan." Ajak Jonathan ramah, seraya menggandeng istrinya mesra.
"Iya Uncle Jo." Jawab Rayhan yang di angguki Asyafa, lalu mereka mengikutinya dari belakang.
"William, apakah kamu mau chekin atau go home?" Tanya Jonathan kepada anaknya, yang sedang memainkan ponselnya sedari tadi.
"Iya Ded, aku chekin saja." Jawab Willian singkat, tanpa melepaskan pandangannya dari layar ponselnya.
"Tapi kau nanti sendiri, tidak apa 'kan?" Tanya Jonathan lagi.
"Tidak apa Ded, memang kenapa jika aku sendiri, Dad? Aku tidak akan ganggu kalian yang akan berbulan madu untuk kesekian kalinya." Jawab Willian dengan sindiran, yang sontak saja membuat Dadie Jonathan dan Momie Stepani tertawa lepas. Seketika Asyafa dan Rayhan juga ikut tertawa dengan ucapan saudara sepupunya itu.
William yang terlihat tampan, dan gagah, sangat jarang sekali bercanda. Dia sangat dingin dalam berhubungan dengan yang namanya wanita, tapi bukan berarti dia tidak suka wanita. Namun semenjak dia mengenal Asyafa kemarin, dia mau berbicara santai meski sangat jarang.
"Makanya cari istri dong Wil, biar bisa seperti kami." Ledek Jonathan tiba-tiba.
__ADS_1
"Jika aku cari istri, ada engga yang mirip seperti istri sepupuku ini, Dad? Sorry Ray, hanya mirip bukan berarti istrimu. He.. he.. he..." Canda William terkekeh, seraya berjalan melewati mereka. Rayhan dan Asyafa tersenyum canggung dengan ucapan Willian, sedangkan Jonathan dan Stepani terlihat shok dengan ucapan anak kesayangannya itu.
"Maaf Ray, Sya. Sepertinya William hanya bergurau saja, tidak sungguh-sungguh mengatakan itu." Ucap Jonathan merasa tidak enak hati, pasalnya anaknya yang dia kenal tidak pernah sekalipun membawa seorang wanita ke mensionnya.
"Iya.. Uncle Jo, saya tahu." Sahut Rayhan tersenyum simpul.
Merekapun akhirnya menemui Resepsionis, untuk menunjukkan kamar yang sudah di pesan jauh-jauh hari. Khusus untuk pengantin baru Rayhan dan Asyafa, dan untuk pengantin lama Jonathan dan Stepani. Sedangkan William baru chekin memesan kamar secara dadakan.
"Silahkan Tuan dan Nyonya, mengikuti Pelayan Hotel kami. Mereka akan menunjukkan kamar kalian dan melayani permintaan kalian dengan baik." Ucap wanita Resepsionis itu sopan dan ramah.
"Oke.. terima kasih, Nona." Ucap Jonathan yang di ikuti oleh istri dan anaknya serta Rayhan dan Asyafa.
"Mari Tuan, dan Nyonya." Ucap para Pelayan itu, yang terdiri dari 2 wanita dan 3 pria.
Lalu mereka mengangguk, dan mengikuti langkah para Pelayan Hotel dengan santai.
"Silahkan Tuan dan Nyonya, ini kamar no 27 atas nama saudara Jonathan dan Stepani. Lalu ini kamar 28 atas nama saudara Rayhan dan Asyafa, dan kamar 29 untuk saudara William. Ini kartu akses untuk masuknya, terima kasih." Ucap salah satu Pelayan Pria, menjelaskan secara rinci kamar mereka.
"Terima kasih banyak." Jawab mereka bergantian seraya mengambil kartu akses kamar mereka yang berdekatan itu. Lalu para Pelayan Hotelpun mengangguk sopan.
Jonathan dan Stepani tersenyum, karena para pegawainya sopan dan ramah dalam bekerja. Mereka para pelayan Hotel sungguh tidak mengenal, dan mengetahui, jika yang sedang mereka ajak bicara adalah pemilik Hotel tersebut. Meskipun mereka sering menginap di Hotel itu, namun mereka tidak ingin para karyawan mengetahui siapa status mereka.
"Kami ingin di massage, boleh?" Tanya Stepani antusias.
"Boleh, Nyonya." Jawab satu Pelayan wanita tersebut.
"Ray, Sya, apakah kalian juga mau di massage?" Tawar Stepani.
"Mau, Aunty." Jawab Asyafa senang.
"Kamu mau juga, sayang? Tanya Asyafa kepada suaminya.
"Boleh, badan aku pada pegal semua, cinta."
Para Pelayan wanita bergegas menghampiri mereka yang ingin di masage.
__ADS_1
"Tapi maaf, saya sama Pelayan Pria saja di massagenya." Ucap Rayhan sopan.
"Iya Tuan, saya yang akan massage Tuan." Jawab salah satu Pelayan Pria itu. Lalu Jonathanpun ingin di massage oleh Pelayan Pria juga.
Mereka memasuki ruang kamarnya masing-masing, dengan di ikuti 2 Pelayan yang akan melayani kebutuhan mereka. Sedangkan William masuk sendiri, karena dia tidak membutuhkan Pelayan Hotel tersebut. Satu Pelayan Pria lalu meninggalkan mereka seraya berkata.
"Saya permisi Tuan, dan Nyonya, selamat menikmati istirahat anda, semoga anda senang dan nyaman. Terima kasih." Ucap Pelayan itu sopan.
"Iya.. Terima kasih kembali." Jawab Stepani seraya mengangguk kecil dan di ikuti yang lainnya.
Asyafa dan Rayhan langsung menduduki sofabad besar yang ada di ruangan tersebut, lalu mereka menyandarkan tubuh mereka di sofa tersebut.
"Aachh.. nyamannya, cinta." Ucap Rayhan seraya merangkul istrinya mesra.
"Sayang, malu iich sama mereka." Omel Asyafa mengurai tangan suaminya.
"He.. he.. he... lupa, cinta." Ucap Rayhan terkekeh, lalu melepaskan rangkulannya.
Para Pelayan hanya tersenyum malu-malu, dengan menunduk diam.
"Sebelum di massage, saya mandi dulu yah Mba." Ucap Asyafa, seraya meninggalkan mereka di sana.
"Cinta.. mandi bareng, Kakak ikut. Permisi yah mas, mba."
Akhirnya merekapun mandi bersama tanpa berlama-lama karena merasa tidak enak dengan Pelayan Hotel yang akan memasage mereka.
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........
__ADS_1