TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Ikhlas Menerima


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Mama Mentari melihat Alya sedang melakukan Video Call dengan Andi, kemudian Mama Mentaripun ikut bergabung dengan Alya berbicara lewat Video Call tersebut.


"Hallo Nak Andi, apa khabar? Sudah lama kamu tidak main kerumah Tante yah, kamu lagi di gunung gede Pangrango itu, indah banget pemandangannya." Sapa Mama Mentari ramah, seraya mengomentari suasana di tempat Andi.


"Hallo juga Tante Mentari, khabar Andi baik dan sehat Tante. Pinginnya sih kerumah Tante, tapi saya tidak enak sama Alya takut ganggu. Disini pemandangannya memang bagus banget Tante, Pegunungan Pangrango memang keren." Ungkap Andi dengan gamblang.



"Kapan-kapan Tante jadi pingin kesana, Tante suka dengan Panorama gunung Pangrangonya. "Ujar Tante Mentari, seraya mengagumi pemandangan yang berada tepat dibelakang Andi.


"Iya Tante, boleh nanti kapan-kapan kesini, kalau Tante mau, nanti Andi antar kesini." Tawar Andi tulus seraya tersenyum mengembang.


"He.. he.. he.. iya Nak Andi, kalau suami Tante ijinin." Kekeh Mama Mentari, sungkan dengan tawaran Andi.


"He.. he.. he.. iya Tante, engga apa-apa." Ucap Andi memakluminya.


"Ooh.. ya sudah Tante sudahi dulu yah, happy holiday Nak Andi." Ucap Mama Mentari, mengakhiri obrolan Video Callnya.


"By.. by.. Tante." Ucap Andi seraya melambaikan tangannya dan tersenyum manis di layar ponselnya.


"Al.. kenapa diam saja? Kamu nyesel yah, engga jadi kesini? Sumpah Al, di sini keren banget, hawanya dingin banget. Kalau ada kamu, mungkin suasananya bakalan lain rasanya. Hawa dingin di sini bisa jadi hangat, engga dingin begini." Ujar Andi dengan wajah sendu, dan mata yang sudah berkaca-kaca.


Alya hanya tersenyum canggung terlihat dari layar ponsel Andi, Alya menggelengkan kepalanya pelan, dan sontak saja air matanya meluncur bebas di pipi mulusnya. "Hikkkzz... hikkzz.. hikkkzzz..."


"Al... jangan menangis, masa mau di lamar sama Damar malah menangis? Cantiknya jadi berkurang, Alya yang aku kenal 'kan engga cengeng kayak gini." Ledek Andi, dengan dirinya yang sudah meneteskan air mata kesedihan, karena air matanya sudah tidak terbendung lagi.


"Heeemmm...." Alya hanya bergumam pelan, seraya menghapus air matanya dengan tisu yang tepat berada diatas nakas.


"Selamat yah Al, semoga semuanya lancar, aku ikhlas menerima kamu bahagia bersama Damar. Hari ini aku baru melihat, kamu benar-benar sangat cantik dimataku. Damar sungguh sangat beruntung bisa mendapatkan hati dan cintamu, Al." Ucap Andi tulus, meski hatinya terasa sakit saat mengucapkannya.


"Terima kasih Ndi, loe juga jangan cengeng Ndi, kamu jelek kalau nangis gitu. He.. he.. he.." Ledek Alya seraya terkekeh.


"He.. he.. he.. iya Al, aku memang cengeng, aku memang jelek. Maaf yah Al, aku terlambat mencintaimu, maaf Al, aku bukan sahabat yang baik untuk kamu, dan aku minta maaf untuk waktu 4 tahunmu yang menyiksa dirimu." Kekeh Andi, seraya meminta maaf atas waktu yang sudah dilewati.

__ADS_1


"Hikkkz.. hiikkzz.. iya Ndi, sama-sama Ndi, aku juga minta maaf, jika aku lebih memilih Damar untuk menjadi suamiku. Aku minta maaf, sudah merepotkanmu selama ini. Aku minta maaf, tidak memberikan kesempatan kamu untuk membuka hatiku lagi. Semoga kamu mendapatkan, wanita yang lebih segalanya dari aku."Tangis Alya pecah, seraya meminta maaf juga dengan tulus.


"Sudah Al berhenti menangis, kalau kamu dekat disini, sudah aku peluk sekuat-kuatnya untuk menahanmu, untuk menghentikan tangisanmu. He.. he.. he.." Ujar Andi seraya terkekeh.


"He.. he.. he.." Akhirnya Alyapun ikut terkekeh dalam tangisnya, melihat Andi yang nampak baik-baik saja.


"Damar datang jam berapa, Al?"


"Sebentar lagi Ndi, soalnya tadi sebelum dia berangkat kesini, sudah WA sama aku."


"Ya sudah, salam saja buat Damar yah Al, semoga kalian bahagia. Jangan lupa undang aku dalam acara nikah kalian."


"Iya Ndi, terima kasih." Ucap Alya dengan senyum merekahnya.


Alya dan Andipun akhirnya menghentikan panggilan Video callnya.


"Maafkan aku Ndi, maafkan aku tidak bisa membalas cintamu. Aku sudah terlalu sangat mencintai Damar, aku sudah tidak bisa membuka hatiku untuk orang lain. Semoga kamu cepat melupakanku, semoga kamu mendapatkan wanita terbaik untuk cintamu, Andi." Gumam Alya pelan.


"Aamiin.." Ucap Mama Mentari, yang mendengar gumaman Alya anak gadisnya meskipun pelan.


"Iya sayang, tidak apa-apa. Andi anak yang baik, Mama melihat anak itu selalu bersikap baik dari dulu. Dan sekarang Andipun sepertinya, bisa menerima keputusanmu untuk memilih Damar menjadi pendamping hidupmu." Ucap Mama, seraya menghapus sisa air mata, yang membekas di pipi Alya anak gadisnya.


"Mama, dari tadi disini?"


"Engga, Mama baru saja sampai sini, saat kamu mengakhiri perbincangan kamu dengan Andi lewat VC tadi."


"Oohh.. kirain Mama dari tadi, he.. he.. he.."


"Aiishh.. kenapa? Malu yah, takut ketahuan Mama, kalian sedang bermelow-melow."


"Engga Mama, mana ada malu sih aku sama Mama, orang Mama sudah tahu semuanya."


"He.. he.. he... iya, sekarang cuci muka kamu sayang, Mama mau Make Up kamu sedikit."


"Iya Mam."

__ADS_1


Alyapun akhirnya mencuci mukanya di wastafel sebentar, lalu mengeringkannya memakai handuk kecil.


Mama Mentari sudah siap mendandani putrinya, agar lebih terlihat cantik dan segar. Menutupi mata sembabnya, akibat lama menangis dengan Make Up tipis saja. Lalu bibir Alya dipoles dengan lipstik berwarna pink, sesuai dengan warna alami bibir Alya.


"Tara..." Ucap Mama, saat Alya diputar tubuhnya untuk melihat gambar dirinya di cermin.


"Haaah.." Alya melongo tidak percaya, Mama Mentari bisa mendandani wajahnya secantik ini.


"Kenapa sayang? Kenapa kamu sampai melongo seperti itu? Kamu shock dengan wajah kamu sendiri?"


"Iya Mam, ternyata Mama pintar di semua bidang yah! Pintar memasak, pintar merawat tanaman, pintar bekerja, pintar Make Up pula. Sepertinya, aku harus belajar banyak sama Mama sehabis ini." Kagum Alya dengan Mamanya yang serba bisa.


"Iya dong sayang, jadi wanita harus serba bisa segalanya. Biar rumah tangga, aman sentosa dan bahagia."


"Tok.. tok.. tok.." Bunyi pintu di ketuk.


"Nyonya, Nona, keluarga Aden Damar sudah datang, Tuan Hendra meminta untuk cepat menemui mereka." Ucap Mba Diah ARTnya, dari balik pintu kamar Alya.


"Iya Mba Diah, kami akan segera menemui mereka." Ucap Mama Mentari, dari dalam kamarnya.


"Ayo sayang, kita temui calon suamimu dan keluarganya."


"Iya Mama, aku sangat gugup."


"Wajar sayang, namanya juga acara moment penting di hidup kamu, pasti akan merasakan gugup." Ucap Mama Mentari seraya mengusap punggung tangan anaknya lembut.


"Iya Mama, terima kasih." Ucapan Mama Mentari membuat Alya sedikit lebih tenang.


Alya dan Mama Mentari berjalan menemui keluarga Damar, saat mereka bertemu, semua mata tertuju kepada wajah Alya.


"Alya? Kamu sangat cantik! Aku sangat beruntung mendapatkan dirimu." Ucap Damar dalam hatinya.


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2