TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Fakta Seorang Damar


__ADS_3

Damar bergeming dengan pertanyaan yang di lontarkan papanya begitu saja didepan orang tua gadis yang disukainya.


"Hei... kenapa kamu diam saja Nak! benar bukan kamu menyukainya?" Papahnya terus menanyakan perihal itu lagi.


Damar mulai geram, tidak enak hati dengan situasi yang telah menyudutkan dirinya. Diapun akhirnya membuka suara seraya berkata, "Tidak pah, Asyafa sudah punya calon suami. " Terlihat air muka masam, dengan senyum yang di paksakan. Namun Damar pura-pura biasa saja, seakan tidak terjadi apa-apa dengan hatinya.


Tuan Bernad dan Nyonya Nurlaila sedikit tersentak, mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Tuan Ardi. Dan merasa lega dengan jawaban Damar, namun mereka heran mengapa Damar bisa tahu soal Asyafa yang sudah mempunyai calon suami. Nyonya Nurlaila dan Tuan Bernad saling menoleh, tersirat sebuah pertanyaan.


Akhirnya Tuan Bernadpun menimpali percakapan kedua orang itu, seraya berucap. "Memang benar Asyafa sudah mempunyai calon suami, dia adalah Rayhan putra dari Kolega kita juga. Yang saya heran, dari mana Nak Damar tahu kalau Asyafa sudah mau menikah?" Tanya Tuan Bernad heran.


Damar kebingungan sendiri harus dari mana dia menjawab pertanyaan Tuan Bernad, lalu dia menjawab asal saja sekenanya, dia berucap. "Saya tahu dari Asyafa sendiri Om." Damar memaksakan tersenyum.


Setelah percakapan mereka panjang lebar, membahas soal Bisnis kerjasama yang akan diperluas keberbagai cabang di luar Kota. Akhirnya mereka makan malam bersama di ruang makan khusus menjamu Rekan Bisnis.


Nyonya Nurlaila dan Nyonya Ningsih semakin akrab dengan pertemuan ini, mereka akan lebih sering bertemu untuk menemani bisnis suaminya jika memungkinkan harus turut. Karena Nyonya Ningsin memang wanita Sosialita dan Pembisnis, berbeda dengan Nyonya Nurlaila yang lebih memilih menjadi Ibu Rumah Tangga.


Makan malam yang sangat mewah dan penuh dengan hidangan lezat serta cemilan dan desserts serta minuman jus buah yang segar. Mereka menikmati momen makan malam tersebut dengan gelak tawa bahagia, berbeda dengan Damar yang nampak murung.


Melihat Damar yang sedikit murung dan kurang bersemangat, Nyonya Ningsih menatap heran, seraya berkata. "Kamu kenapa sayang, dari tadi mama perhatikan sepertinya kamu nampak murung?" Tanya Mama Ningsih heran."Bukankah kamu yang ingin mengundang Tuan Bernad sekeluarga, untuk makan malam dirumah?."


Damar sedikit gusar dengan pertanyaan yang lagi-lagi menyudutkan dirinya, akhirnya diapun mengeluarkan suaranya seraya berkata. "Tidak apa-apa mah, aku hanya masih lelah dengan mata kuliah di kampus, dan pekerjaan dikantor yang selama ini aku kerjakan dari rumah." Jawab Damar mencari alasan, meski hatinya bertolak belakang dengan ucapannya.


"Ooh.. hanya karena itu, bukan karena ada yang lain?" Tanya mama Ningsih, sedikit meledek Damar.


Damar menunduk lemah, sebenarnya dia malas meladeni ocehan Mama sama Papanya yang sedari tadi sok akrab. Nyatanya setiap hari tidak pernah ada waktu untuknya, apalagi jika mereka sedang keluar Kota. Mengapa malam ini seperti berubah 180 derajat, Damar mengernyitkan dahinya heran.


"Aiish.. anak Mama ditanya malah menunduk saja! pasti tebakan Mama benar dong, kamu murung karena lagi mikirin seseorang bukan?" Tanya Mama Ningsih sedikit memaksakan. Sebenarnya Mama Ningsih sudah menaruh curiga, sewaktu Damar tadi sangat antusias bertanya tentang Asyafa kepada Tuan Bernad dan Nyonya Nurlaila.


"Engga... Mah! Engga mikirin apa-apa, selain tugas kuliah dan pekerjaan kantor." Jawab Damar malas seraya menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Iya.. sudah kalau begitu, kamu istirahat saja sekarang!" pinta Mama Ningsih


"Iya mah!" jawab Damar mengangguk kecil. "Pah.. Om.. Tante... saya kekamar mau istirahat dulu, maaf saya mohon izin undur diri." Pamit Damar.


Akhirnya malam semakin larut, jam sudah menunjukkan angka 10 malam. Mereka meninggalkan kediaman Tuan Ardi Prayoga, setelah berpamitan sebelumnya. Ucapan Terima kasih terlontar dari keluarga Tuan Ardi, atas mereka yang mau berkunjung ke Mensionnya. Begitupun Tuan Bernad dan Nyonya Nurlaila mengucapkan rasa Terima kasihnya, atas sambutan dan jamuan yang di berikan.


Flash Back Off


Damar tersentak dari lamunannya, setelah mendengar suara ketukan pintu kamarnya. "Masuk saja tidak di kunci." Pinta Damar.


"Maaf Den Damar, kata Tuan dan Nyonya malam ini tidak pulang, ada pekerjaan diluar kota mungkin dua sampai tiga hari baru bisa kembali." Jelas Pelayan rumah Damar. "Tadi mereka mencoba menghubungi ponsel Aden, tapi tidak bisa di telepon katanya." Ujar Pelayan itu lagi.


"Iya.. pak! terima kasih." Ucap Damar lirih.


"Sama-sama aden, saya mohon undur diri." Ucap Pelayan itu menundukan kepalanya.


Damarpun mencebik, seakan mentertawakan dirinya sendiri yang merana haus akan kasih sayang dan cinta dari orang tua dan kekasih. "Mengapa aku harus hidup seperti ini, lebih baik aku jadi orang miskin namun berlimpah kasih sayang, dari pada jadi orang kaya raya namun haus kasih sayang." Maki damar meneriaki dirinya sendiri.


Damar mulai memejamkan matanya, dia tertidur dalam tangisnya. Sungguh hatinya sangat pilu, inilah fakta dari seorang Damar yang nampak luar biasa diluar, namun nampak rapuh dari dalam.


*******


Malam ini Rayhan sungguh merasa bahagia, pernikahannya sudah di depan mata. Bulan depan sudah tinggal menghitung hari, hatinya merasa senang ketika mengingat momen makan romantis di rumah Asyafa. Dia merasa malam ini sulit untuk memejamkan mata, dan akhirnya diapun mrnghubungi Asyafa lewat ponselnya.


Tuut... tuut... ! Rayhan calling.


"Hallo... ada apa Kak! sudah malam masih belum tidur?"


"Kakak terlalu bahagia, mengingat malam ini kamu sudah mau menikah dengan Kakak."

__ADS_1


"Iya.. Kak! tapi ini sudah sangat larut, cepat Kakak tidur."


"Kamu sendiri brlum tidur sayang!"


"Aku sudah tertidur, namun terbangun setelah mendengar pekikan ponselku."


"Berarti Kakal ganggu tidur kamu dong sayang."


"Iya... sudah engga apalah, sekarang Kakak bobo yah! mimpi indah."


"Iya.. sayang, terima kasih! sepertinya setelah mendengar suaramu Kakak mulai mengantuk."


"Alhamdullilah, Asalamualaikum.."


"Waalaikumsalam... tuut.. ! ponsel ditutup.


Keesokan paginya, Rayhan bangun dengan segar bugar padahal hampir jam dua malam dia baru tertidur. Rayhan lantas mandi berendam dengan air hangat, merampungkam mandinya 20 menit kemudian. Setelah beres semua, dia mengenakan pakaian casual namun tetap terlihat gagah dan tampan.


Dimeja makan, Mama Jovanka dan Papa Beni sudah lebih awal menyiapkan sarapan pagi. Namun Papa Beni hanya sekedar menemani tentunya.


Rayhan datang dengan wajah ceria dan memancarkan kebahagiaan, melihat hal itu Papa Beni seakan ingin menanyakan sesuatu. "Sepertinya ada yang lain, dari wajah anak Papa ini! sangat segar dan ceria dude? Padahal semalam baru pulang hampir tengah malam, lalu sekarang sudah bangun dan akan pergi lagi. Memangnya kamu tidak lelah dude?"


Rayhan tersenyum mengembang, apalagi Papa Beni seperti sudah tahu saja apa yang terjadi semalam. Lalu Rayhanpun hanya mengidigkan bahu tanda acuh ingin meledek papanya.


"Aiish.. anak ini ditanya malah pura-pura begitu sayang? Adu Papa Beni pada istrinya Jovanka, dan Mama Jovanka langsung menatap anaknya Rayhan dengan tatapan menyelidik. "Apakah semalam kamu habis pergi bersama Asyafa son?."


"Ha.. ha.. kalian itu benar-benar kompak yah, ingin tahu saja apa yang dilakukan anaknya!." Rayhan merasa lucu dengan tingkah Mama dan Papanya.


Happy Reading

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


__ADS_2