
🥰Happy Reading🥰🥰
Mama Ningsih dan Siska saling memandang, dengan keterkejutannya mereka. Pasalnya, mereka tidak mengenal siapa itu Naura.
"Naura itu siapa, sayang?" Tanya Mama Ningsih penasaran, dan Siskapun sama penasarannya.
"Naura itu pacar Damar, Mam." Ucap Damar jujur.
"Sejak kapan, kamu berpacaran sama Naura?" Tanya Mama Ningsih menimpali.
"Sudah lama Mam, dari semester 3, Sekarang 'kan semester 5 jadi sudah satu tahunan aku pacaran sama dia Mam." Sahut Damar jujur.
"Ooh begitu, jadi kamu sekarang semester berapa, sayang?" Tanya Mama ingin tahu waktu Damar yang sekarang sedang diingatnya.
"Semester 5 dong Mam, memangnya Mama lupa yah?" Tanya Damar balik.
"E.. engga sayang." Ucap Mama gugup, seraya meneteskan air mata. Berarti benar adanya, ingatan Damar itu mundur dua tahun yang lalu.
"Mama kenapa menangis? Memangnya siapa yang membuat Mama sedih? Damar baik-baik saja, Mam." Tanya Damar perhatian.
"E.. engga sayang, kamu cepat sembuh yah Nak." Ucap Mama Ningsih, mendoakan kesembuhan anaknya.
"Iya.. Mam, tapi, kenapa Kak Siska ada disini? Bukannya Kak Siska, study di Belanda yah?" Tanya Damar heran, setahu dirinya Kak Siska itu sedang kuliah di Belanda.
"Sudah selesai kuliahnya, sayang." Sahut Mama Ningsih, benar adanya.
"Bukan 'kah masih satu tahun lagi seharusnya lulus kuliah S1 Kak Siska?" Tanya Damar, yang dia ingat.
"Iya Dik, Kakak sudah lulus kuliah, dan Kakakpun sudah menikah satu tahun yang lalu." Sahut Siska jujur, tanpa ada yang ditutupi.
"Menikah? Kapan? Kenapa aku engga tahu, kalau Kak Siska sudah menikah?" Tanya Damar heran.
Siskapun berjalan kearah Damar, lalu menunjukkan foto pernikahannya kepada Damar. "Ini foto waktu Kakak menikah sama suami Kakak, namanya Indra Wibowo. Lalu ini foto kamu, sama Mama dan Papa juga ikut berfoto, bersama Kakak dan suami Kakak. Memangnya kamu engga ingat foto ini, Dik?" Tanya Siska mencari tahu daya ingat adiknya.
Damar hanya menggelengkan kepalanya pelan, namun terus memandangi foto dirinya yang berada ditengah-tengah pernikahan Kakaknya itu.
Damar berusaha mengingat-ingat dirinya saat berada didalam foto itu, tetapi semakin memaksakan mengingatnya, kepalanya semakin terasa sakit. "Aaaawwwhh." Pekik Damar, seraya memegangi kepalanya kembali.
__ADS_1
"Adik.. adik.. sadarlah Adik.. jangan seperti ini, maafkan Kakak, Adik." Ucap Siska menyesal, telah memaksakan ingatan Damar agar kembali.
"Sayang, benar kata Kakakmu, sudah jangan memaksakan untuk mengingatnya lagi." Ucap Mama Ningsih menenangkan Damar, seraya merengkuhnya lalu mengusap punggung anaknya lembut.
Damarpun akhirnya berhenti memegangi kepalanya, dan lebih tenang tidak berteriak sakit lagi. Sepertinya suara Mama Ningsih bisa sedikit menenangkan pikiran Damar.
*******
Dikediaman Alya Mentari, Mama memperhatikan Alya yang nampak murung, seperti tidak bersemangat. Mama Mentaripun akhirnya menghampiri anak gadis kesayangannya itu dengan seribu tanda tanya.
"Sayang, ada apa dengan kamu? Mama perhatikan sepulang kamu dari Bandung, wajah kamu terlihat murung. Apa ada sesuatu yang terjadi, sayang? Coba cerita sama Mama." Tanya Mama Mentari perhatian.
"E.. engga Mam, hanya lagi ada masalah sedikit." Sahut Alya seperlunya.
"Ooh begitu, Mama boleh tahu engga masalahnya apa? He.. he.. he.." Tanya Mama Mentari kepo, seraya terkekeh.
"Aiish.. Mama ini kepo sekalih, he.. he.. he.." Ledek Alya terkekeh.
"Iya, engga apa-apa dong." Ucap Mama Mentari santai.
"D.. damar Mam!"
"D.. damar Amnesia Mam!"
"Apa? Apa maksudmu, sayang?"
"Iya, Mam.. Damar hilang ingatan! Damar tidak ingat dengan Alya. Damar hanya ingat masa lalunya. Jadi dia tidak kenal sama Alya tadi siang Mam."
"Mama masih tidak mengerti, sayang. Hilang ingatan tapi hanya kamu saja, terus masa lalunya masih ingat. Bagaimana ceritanya? Mama masih belum paham."
"Begini Mam, Damar itu mengalami Amnesia Anterograde, yaitu Amnesia yang menyebabkan penderitanya hanya mengingat masa lalu, jadi masa yang baru saja dia jalani sebelum kecelakaan dia tidak mengingatnya.
"Haaah? Jika Damar tidak ingat sama kamu, berarti dia juga tidak ingat sama Mama dan Papa?"
"Mungkin juga Mam, karena menurut informasi yang aku baca, tentang Amnesia Anterograde, Pasien yang mengalaminya tidak akan mengenali, semua memori hal yang baru saja terjadi. Kalau Damar tidak mengenali Alya, bisa jadi tidak mengenali Mama dan Papa juga.
"Lalu, kalau Damar tidak ingat dengan kita, bagaimana hubungan kalian selanjutnya?"
__ADS_1
"Tidak tahu Mam, bahkan Dokter menyarankan agar aku jangan ketemu dulu sama Damar, karena demi kesehatan Damar agar cepat pulih terlebih dahulu. Karena Amnesia jenis ini, bisa bersifat sementara, atau bahkan permanen."
"Ya Allah, yang sabar yah sayang, kita doakan saja, semoga ingatan Damar calon suami kamu cepat kembali."
"Iya Mam.. semoga saja, Aamiin ya robbal allamin."
"Sekarang kita tidak bisa menemui Damar sebagai orang lama, berarti kita harus masuk menjadi orang baru, sayang." Usul Mama Mentari brillian.
"Boleh juga tuh Mam, idenya. Nanti kita bicarakan sama Mama Ningsih dan Kak Siska."
"Okay sayang, sip! Kita tidak boleh menyerah untuk memperjuangakan cintamu, kepada Damar, sayang."
"Baik Mam, besok kita akan coba jenguk Damar kembali."
Alyapun akhirnya sudah tidak murung lagi, wajahnya sudah kembali ceria. Ada satu harapan yang masih bisa dia coba, untuk besok bertemu dengan Damar.
"Semoga kamu mau menerima aku menjadi teman barumu, hubby. Semoga besok, rencanaku dan Mama berhasil untuk mengembalikan ingatanmu, hubby. Jangan lama-lama melupakanku, hubby. Aku bisa beku, karena menahan rindu terlalu lama kepadamu, hubby. I miss you, hubby." Bathin Alya berucap.
Tanpa sadar air mata mengalir begitu saja, dari pelupuk mata indah Alya. Dalam diam dia menatap dirinya dalam cermin, betapa cintanya sedang diuji saat ini.
Alyapun pergi tidur untuk beristirahat, karena seharian ini matanya selalu saja menangis jika teringat Damar calon suaminya.
Keesokan harinya, Mama Mentari langsung menghubungi calon besannya, membahas soal mereka yang akan menjenguk Damar. Tapi dengan rencana akan berpura-pura tidak mengenalnya, dan Mama Ningsihpun menyetujuinya.
Alya, Mama mentari, dan juga Papa Hendra, hari ini mereka menjenguk Damar bersamaan. Pasalnya hari ini adalah hari minggu, hari dimana mereka libur bekerja dan kuliah.
Papa Hendrapun sudah mengerti, persoalan calon menantunya yang terkena Amnesia. Maka dari itu Papa Hendrapun akan ikut berakting, dengan rencana istri dan anaknya.
Sesampainya mereka di Rumah Sakit, Mama Mentari, Alya, dan Papa Hendra, langsung disambut hangat oleh Mama Ningsih, Siska dan para suami mereka.
"Hallo Jeng Mentari apa khabar? Ayo kemari saya kenalkan dengan anak saya, yang bernama Damar Prayoga." Sapa Mama Ningsih ramah, seraya memperkenalkan anaknya.
"Alhamdullilah Jeng Ningsih, oh ini anaknya Jeng Ningsih? Tampan sekalih yah! Namanya siapa Nak tampan?" Tanya Mama Mentari, berakting tidak mengenalnya.
"Tante Mentari dan Om Hendra, saya sudah mengenal kalian. Masa kalian lupa sama saya?" Ucap Damar jujur, dengan tersenyum ramah.
Sontak saja mereka semua saling melirik tidak percaya, dengan apa yang barusan mereka dengar.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....