
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Damar terus membuka ponselnya, lalu mencari nomor kontak kekasihnya Naura, namun disana tidak tersimpan nomor ponsel Naura. Lalu dia mengechek pesan terakhir di aplikasi pintarnya yaitu pesan WAnya, dan ternyata lagi-lagi gadis itu yang dia lihat.
Pesan WAnya, Vidio Callnya, dan panggilan Teleponnya semua hanya bersama gadis itu yang bernama Alya Mentari calon istriku.
"Mengapa isi ponselku berisi tentang gadis itu? Apa benar kata Kak Siska tadi, jika sebenarnya aku ini akan menikah dengan gadis itu? Mengapa nama kontakku, Alya Mentari calon istriku? Jika memang demikian, mengapa aku tidak mengingatnya?" Gumam Damar terus bermonolog.
Akhirnya Damarpun menghampiri Mama Ningsih, untuk meminta penjelasan.
"Mama, aku mau tanya sesuatu dong?" Tanya Damar dengan lembut, seraya duduk disamping Mama Ningsih, yang sedang memainkan ponselnya.
"Heeemm... ada apa sayang? Kamu mau tanya apa?" Tanya balik Mama Ningsih, seraya menyimpan ponselnya diatas nakas.
"Kenapa isi ponselku semua ada gadis itu, anaknya Om Hendra dan Tante Mentari?" Tanya Damar heran dengan semua yang terjadi.
"Sayang, Mama tanya kamu sekarang, kamu tahu engga kalau sekarang usia kamu berapa? Dan sekarang tahun berapa?" Tanya Mama Ningsih balik, yang membuat Damar langsung mengernyitkan dahinya bingung.
"Mama, apakah aku seperti anak kecil? Yang tidak tahu usia dan tahun sekarang?" Tanya Damar lagi sedikit kesal.
"Jawab saja sayang, nanti kalau kamu sudah jawab, pasti kamu akan tahu apa yang sedang kamu cari." Ucap Mama Ningsih sungguh tenang.
"Baiklah Mam, usiaku 20 tahun, dan sekarang tahun 2020." Sahut Damar yakin, menurut ingatannya.
"Kamu yakin, sayang? Usia kamu 20 tahun dan sekarang tahun 2020?" Tanya Mama Ningsih, seraya menatap anaknya dengan wajah sendu.
"Yakin, Mam." Sahut Damar dengan mantap.
"Kalau kamu yakin, coba kamu lihat tanggalan di kalender itu?" Tanya Mama Ningsih, seraya menunjuk tempat kalender itu berada.
Damarpun akhirnya menghampiri tempat kalender itu berada, lalu diapun melihat tahun saat ini. Betapa terkejutnya Damar, saat mengetahui bahwa tahun saat ini adalah 2 tahun lebih cepat, dengan tahun yang dia ingat.
"Kalau tahun saat ini lebih cepat 2 tahun, berarti usiaku saat ini 22 tahun, berarti kalau aku 2 tahun sudah terlewati, berarti kuliahku sudah lulus. Bearti selama dua tahun ini aku jalani tapi aku melupakannya." Hati Damar terus bermonolog, seketika tubuhnya bergeming, matanya berkabut, air mata sudah menggenang dipelupuk matanya.
Mama langsung menghampiri anaknya, yang sedang berdiri terpaku memandangi kalender didepannya. Lalu diapun mengusap punggung anaknya lembut, dan memeluknya erat, air mata langsung membasahi baju Mama Ningsih, yang sedari tadi Damar tahan.
"Sekarang kamu sudah mengerti 'kan, kenapa mama meminta kamu untuk melihat kalender ini?" Tanya Mama Ningsih lirih, seraya menepuk-nepuk pundak Damar pelan.
__ADS_1
"Iya, Mam." Ucap Damar pelan, seraya mengangguk kecil.
"Sekarang kamu coba ingat pelan-pelan, waktu dua tahun yang kamu lupakan. Tapi jangan dipaksakan, jika kepalamu mulai terasa pusing. Insya Allah sediki-sedikit ingatan kamu akan kembali." Ujar Mama Ningsih, memberi saran.
"Iya, Mam." Sahut Damar lirih, seraya mengurai pelukkan Mama Ningsih.
Mama Ningsihpun tersenyum mengembang, kemudian mengangguk pelan, lalu mengusap air mata yang membasahi pipi anaknya itu.
"Mama engga menyangka, anak Mama yang terkenal playboy, arogant, dan bengis ternyata hatinya melow." Ledek Mama Ningsih, tersenyum simpul.
"He.. he.. he.." Damar terkekeh mendengar ledekan Mama Ningsih.
"Sayang, sekarang apa yang akan kamu lakukan, setelah mengetahui kebenarannya?" Tanya Mama Ningsih, seraya mengajak anaknya duduk santai.
"Aku akan mencoba cari tahu pacar aku dulu Mam, aku akan kerumah Naura." Sahut Damar.
"Tapi sayang, Mama saja tidak kenal dengan pacarmu itu, bagaimana kamu akan menemuinya?" Tanya Mama Ningsih heran, dengan anaknya yang ingin mencari tahu kabar mantan pacarnya itu.
"Aku tahu rumahnya Mam, nanti aku datangi rumahnya saja." Ucap Damar senang.
Damarpun mengangguk pelan lalu tersenyum mengembang. "Nanti malam aku akan kerumahnya, Mam." Ucap Damar mantap.
"Iya sayang, tapi Mama akan antar kamu yah?" Tanya Mama Ningsih mengikuti kemauan anaknya.
"Boleh Mam, itu lebih baik." Ucap Damar, sedang Mama hanya tersenyum canggung.
Beberapa jam kemudian, Damar sudah bersiap dengan stelan stylenya. Kemeja polos berwarna putih, dengan celana bahan sutra berwarna senada dengan kemeja putihnya. Paras wajahnya yang tampan, rahang yang kokoh, hidung mancung, tubuh tinggi tegap dengan postur ideal menambah pesona seorang Damar.
"Waduuh.. anak Mama sudah ganteng banget, sudah siap yah sayang? Ayo kita segera berangkat." Ucap Mama kagum, seraya mengajak jalan cepat.
"Okay, Mamaku yang cantik." Ucap Damar, seraya menggandeng Mamanya.
"Waah.. kalian mau kemana? Kenapa sudah rapih dan keren banget? Papa engga diajak nih?" Tanya Papa penasaran.
"Engga Pap, biar Mama saja yang anter. Nanti kalau Papa ikut juga, dikirain mau ngelamar, he.. he.. he..." Ucap Damar bercanda, seraya terkekeh.
"Ha.. ha.. ha.." Papa Ardi ikut tertawa.
__ADS_1
"Kami berangkat dulu yah, Pap." Pamit Damar, seraya mencium punggung tangan Papa Ardi.
"Iya, hati-hati kalian dijalan, yah." Ucap Papa Ardi, seraya melambaikan tangannya kearah mereka.
Mama Ningsih, dan Damar bergegas pergi meninggalkan kediamannya, menuju rumah Naura yang merupakan kekasihnya seingat Damar. Mobilnya dibawa oleh supir pribadinya, sedangkan mereka berduduk santai dikursi belakang.
"Pak, ikuti kata saya saja yah. "Ucap Damar seraya mengarahkan jalan.
"Baik Aden." Ucap Supir itu manut, seraya memegang bundaran setir dengan lihai.
Perjalanan merekapun akhirnya sampai didepan gerbang rumah Naura, Pak Supir langsung turun minta dibukakan pintu gerbang rumah Naura.
"Permisi Pak, kami ingin bertemu Nona Naura, apakah Nona Naura ada dirumah?" Tanya supir, itu sopan.
"Nona Naura ada, sebentar saya akan bukakan." Ucap Sekurity itu ramah, seraya membukakan pagar otomatisnya.
Pintu pagarpun terbuka, Pak Supir langsung memasukkan mobilnya kedalam halaman rumah Naura.
Damar dan Mama Ningsih langsung turun, kemudian berjalan menuju pintu utama rumah Naura, lalu menekan bell rumahnya.
Mereka disambut oleh ARTnya, setelah berbasa-basi, lalu Naura dan kedua orang tuanyapun keluar menghampiri mereka.
Betapa terkejutnya Naura, saat melihat Damar dan seorang wanita paruh baya tiba-tiba datang kerumahnya.
"Selamat malam Om, Tante, Naura." Ucap Damar, seraya mencium kedua punggung tangan orang tua Naura. Sedang Naura menyambut uluran tangan Damar, lalu mencium punggung tangan Damar dan Mama Ningsih takzim. Lalu Mama Ningsih, berjabat tangan dengan kedua orang tua Naura.
"Selamat Malam juga Nak Damar, Nyonya Ningsih." Ucap Tuan Mario, dan Tante Nirmala ramah, sedang Naura mengangguk pelan dan tersenyum canggung.
"Ada keperluan apa kiranya, Nak Damar beserta Nyonya Ningsih berkenan datang kerumah kami?" Tanya Tuan Mario ramah.
"Saya ingin membahas hubungan saya, dengan Naura, anak Om Mario." Ucap Damar mantap, seraya memandangi dalam wajah Naura.
"What..? Damar ingin membahas hubunganku dengannya?" Bathin Naura bermonolog kaget.
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....
__ADS_1