
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Merekapun menikmati pesanan breakfast yang baru saja di antar oleh Pelayan Hotel tersebut dengan lahap, wajar saja keduanya sangat lapar, mengingat sepulang mengantar Ibu dan Ayahnya ke Bandara, perutnya belum terisi apapun.
"Sayang, mengapa makanan ini terasa sangat enak? Padahal hanya nasi goreng saja?" Tanya Asyafa, di sela-sela suapan nasi kemulutnya.
"Eeemmm... mungkin makannya bareng Kakak, cinta! Jadi makanan apapun terasa enak." Seru Rayhan memuji dirinya dengan percaya diri.
"Aiishh.. nanya sama Kakak mah sama saja minus, engga dapat jawaban yang benar." Gerutu Asyafa pasrah, seraya mengerucutkan bibirnya.
"Sudah cinta.. itu bibir gerutu saja, nanti Kakak emmppp, baru diam. He.. he.. he..." Protes Rayhan, ingin membungkam bibir istrinya yang menggemaskan menurutnya, seraya terkekeh.
Sontak saja, Asyafa menutup bibirnya dengan tangan kirinya yang bebas dari sendok makan, dan bergumam sendiri, entah apa yang digumamkan otor juga engga faham.... hi.. hi... hii... kembali ke topik.
"He.. he... he.. engga usah ditutupin gitu mulutnya, nanti Kakak eeemmmpp beneran gimana?" Kekeh Rayhan menggoda istrinya.
"Kak... lagi makan juga iich." Omel Asyafa, setelah bibirnya terbebas.
"Eemmp.. sayang, habis breakfast kita jalan-jalan yah, kalau engga ke mension Willyam, kita 'kan belum kesana. Hanya tinggal 3 hari waktu kita di sini, jadi harus di manfaatkan dengan baik, bagaimana?" Tanya Asyafa dengan banyak usulan keinginannya.
"Bagimana yah?" Rayhan membeo ucapan istrinya.
Asyafa menunggu jawaban dari suaminya dengan harap-harap cemas, memasang tampang lugu dan memelas, namun bagi Rayhan sangat menggemaskan.
"Iya... sayang, bagaimana?" Tanya Asyafa sekali lagi.
"Baiklah! Tapi ada syaratnya." Salorohnya, seraya mengerlingkan matanya genit.
"Aiishh.. kenapa segala ada syaratnya?" Tanya Asyafa sebal.
"He.. he.. he.. terusin kegiatan tadi yah? Kakak sangat merindumu, sayang!" Seru Rayhan, dengan rayuan gombalnya.
"Heeemm... tapi sebentar saja yah! Aku takut nanti engga bisa jalan kalau terlalu lama." Pinta Asyafa dengan wajah lugunya.
"He.. he.. he.. iya, cintaku." Kekeh Rayhan setuju, namun tersenyum iblis.
"Kenapa? Jangan bengong, engga usah khawatir! Ayo habiskan nasi gorengnya, katanya enak!" Seru Rayhan, yang jahil melihat istrinya termangu.
"E.. eengga sih, siapa yang bengong?" Bantah Asyafa gugup, lalu menghabiskan nasi gorengnya yang hampir tinggal sedikit lagi.
"He.. he.. he.. Iya deh cintaku, pelan-pelan makannya, sampai berantakan begini." Kekeh Rayhan, seraya mengambil nasi yang menempel di bibir istrinya dengan lembut.
"Makasih sayang, hi.. hi.. " Ucap Asyafa seraya tertawa kecil menahan malu, sedang Rayhan hanya menggelengkan kepalanya heran, dengan istrinya yang selalu terlihat menggemaskan, dan lucu baginya.
Akhirnya mereka menyelesaikan sesi breakfast mereka yang hampir kesiangan, karena waktu sudah hampir pukul 10 pagi. Rayhan menghubungi Pelayan Hotel, untuk mengambil kembali troli makanannya. Tidak berselang lama, Pelayan itupun langsung membawa trolinya kembali.
__ADS_1
"Terima kasih, maaf merepotkan anda." Ucap Rayhan sopan, sedang Asyafa hanya tersenyum ramah.
"Sama-sama Tuan, sudah tugas saya, jadi Tuan jangan sungkan." Ucap Pelayan itu sopan, seraya meninggalkan kamar mereka.
"Ciin.. " Panggil Rayhan, yang melihat istrinya melesat ke dalam kamar mandi, dan mengunci pintunya.
"Cinta.. kenapa di kunci pintunya? Bukain dong pintunya, kamu ngapain di situ?" Tanya Rayhan kesal, seraya mengetuk pintunya kencang.
"Iya.. sayang, sabar.. nanti juga keluar, cuma sebentar ko." Sahut Asyafa gemas dengan suaminya, yang seperti anak kecil merengek sama momienya.
"Eengga.. cepetan buka, cinta..." Tolak Rayhan, minta di bukakan pintu. Sedang Asyafa cuek saja, dia hanya menggosok gigi dan berganti baju. Hanya butuh waktu 5 menit saja dia di kamar mandi, namun Rayhan seperti kucing kehilangan ikan, saking paniknya.
"Kliik." Pintu kamar mandi terbuka.
Nampak Asyafa keluar dari kamar mandi, dengan tersenyum malu-malu, dan wajah yang sudah merona merah.
"Haaah... kamu sexy banget cinta!" Puji Rayhan terperangah, melihat penampilan istrinya dengan gaun transparant pemberian Ibunya.
Asyafa hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, namun langsung di peluk oleh suaminya.
"K.. kakak iiich aku malu, aku seperti engga pakai baju." Bisik Asyafa di telinga suaminya, dengan gugup, masih menutup wajahnya.
"He.. he... he... kenapa harus malu, cinta? Baju ini, hanya suamimu yang boleh lihat yah. Oooh iya, bukankah ini baju yang sudah Ibu berikan?" Kekeh Rayhan bertanya seraya menggoda istrinya.
"Iya.. cinta, sudah jangan ditutupin terus mukanya, Kakak engga bisa lihat istri Kakak yang cantik, he.. he.. he.." Bujuk Rayhan terkekeh.
"Engga mau!" Seru Asyafa menolak.
"Terus harus bagaimana?" Tanya Rayhan bingung, namun Asyafa tetap tidak mau membuka tangannya. Rayhanpun tidak hilang akal, di gendongnya Asyafa ala bridal style.
"Aaaaaa..." Teriak Asyafa, di saat tubuhnya melayang diatas kedua tangan suaminya, Asyafa seketika membuka tangan yang menutupi wajahnya.
"Jangan berteriak, nanti ada yang dengar." Bisik Rayhan mengingatkan, seraya tersenyum menyeringai, dan menaik turunkan sebelah alisnya mengggoda.
Sontak saja, Asyafa langsung membekap mulutnya sendiri. Melihat hal itu, Rayhan langsung tertawa kencang.
"Ha.. ha.. ha..."
"Aiish.. itu sih akal-akalan Kakak saja, dinding kamar ini 'kan ada peredam suaranya." Omel Asyafa, seraya mencubit pipi suaminya gemas.
"Aaawwwh.. sakit cinta," Aduh Rayhan, berakting sakit.
"Rasakan... ! he.. he.. he.. habis sih, Kakak bohongin aku." Kekeh Asyafa puas.
"Uuuh.. pintar sekali istriku ini, makin gemes Kakak jadinya." Puji Rayhan, seraya menurunkan tubuh istrinya di atas kasur yang berukuran bigsize itu.
__ADS_1
"Heep.. berat juga istriku ini." Ledek Rayhan, seraya mencubit hidung mancungnya Asyafa.
"What? Apa iya tubuhku berat, sayang? Orang tubuh aku ramping gini, di bilang berat! Iih... Kak Rayhan nyebelin." Tanya Asyafa kesal.
"He.. he.. he... engga cinta, Kakak cuma bergurau saja." Kekeh Rayhan gemas, melihat istrinya yang ngambek.
"Eeemmmppptttthhh..." Tanpa aba-aba Rayhan langsung menindih istrinya, dan membungkam mulutnya dengan ciuman panasnya, melu **mat dan menarik lidah istrinya dengam lembut, ciumannya semakin dalam dan saling mengulum, bertukar saliva mereka dengan mengabsen semua rongga milik istrinya dengan rinci, lembut, pelan dan menuntut. Jangan lupakan, tangan Rayhan yang sudah nakal men **jamah kearea gunung kembar milik istrinya. Mere **mas dan memilin choko chip istrinya, dengan penuh kelembutan.
"Aaaaawwwhh.." Asyafa mende **sah.
"Heeeemmmppptt...." Rayhan kembali memperdalam ciumannya lagi, setelah dia melepas pangutannya, untuk mengambil oksigen yang hampir habis.
Sejurus kemudian, tubuh mereka sudah polos tanpa sehelai benangpun, entah siapa yang melucuti baju mereka, otorpun tidak tahu. He.. he... he.. kembali ke topik.
Rayhan melepas pangutannya, dia langsung menciumi leher istrinya dengan gigitan kecil, dan meninggalkan banyak lukisan indah di sana. Lalu turun ke dada istrinya, menciumi setiap jengkal tubuh istrinya. Melu **mat, dan meng **hisap choko chip gunung kembar istrinya, dengan lembut dan penuh kenik **matan.
"Ooowwwhh.. aaawwwhhh..." Terdengar suara lengu **han istrinya menge **rang nikmat.
Mendengar suara merdu istrinya, Rayhan semakin bersemangat untuk bermain-main di bawah perut istrinya. Dia tersenyum, ketika melihat lembah madu istrinya yang sudah terang **sang, sedikit basah di sana. Tanpa ragu, dia mendaratkan bibirnya di lembah madu itu, dengan memainkan lidahnya di sana dan menji **lati dengan lembut, agar tidak melukai lembah madu istrinya.
"Aaachh.. oooowwwhhh..." Suara lengu **han Asyafa semakin merdu terdengar menurut Rayhan. Namun Rayhan tidak ingin berhenti di situ saja, dia semakin dalam menji **lat dan meng **hisap lembah madu istrinya di sana.
"Aaacchh... sayang, aku pingin keluar." Pinta Asyafa menahan pelepasannya.
"Keluarkan cinta, jangan di tahan." Ucap Rayhan seraya memandang istrinya dengan mata berkabut penuh gairah. Lalu dia memainkan satu jari tangannya, di lembah madu istrinya yang sudah basah dengan lembut.
"Aaaaaacccchhhh....." Era **ng Asyafa nikmat mengeluarkan cairan lendir hangat di lembah madunya.
"Sudah keluar cinta, sekarang siap yah, jleep.. Rayhan memasukkan si boy ke dalam lembah madu istrinya dengan kuat. Dia mulai menggoyangkan miliknya dengan lembut dan pelan.
"Uuuuhhhh... aaaahhhhh.... ooooohhhh... iiiiccchh..." Suara desa **han istrinya semakin kencang.
"Cinta, sakit tidak?" Tanya Rayhan, disela aktivitasnya. Namun Asyafa hanya menggeleng pelan, dengan tangan yang sedang berpegangan di pinggang suaminya.
Rayhan tersenyum, setelah istrinya merasa nyaman dengan gerakkannya, akhirnya dia menghentakkan si boy dengan lebih kuat, semakin cepat, maka keluarlah pelepasan si boy di lembah madu istrinya dengan mencapai kepuasan yang tidak ternilai harganya.
"Terima kasih cintaku, sayangku, I love you." Bisik Rayhan di telinga Asyafa, yang sedang terpejam di dalam pelukkan suaminya.
"Heeemmm... sama-sama sayang, I love you too." Gumam Asyafa membalas ucapan suaminya, masih memejamkan matanya saking kelelahannya bertempur.
Merekapun keduanya tertidur siang, masih keadaan polos di bawah selimutnya.
--BERSAMBUNG--
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........
__ADS_1