
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Aku belum kasih Visual Andi Permana yah guys, ini Visualnya yah! Semoga kalian suka.
Alya dan Andi meninggalkan lapangan parkir Gunung Mas tersebut, hampir petang. Jalanan daerah puncak jika weekend pasti sangat macet, hingga akhirnya mereka hampir 3 jam terjebak disana.
Sesampainya di depan gerbang rumah Alya, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. Andi minta dibukakan pintu pagar rumahnya, kemudian sekuritypun membukakannya.
Kemudian Andi membawa masuk mobilnya, kedalam halaman parkir depan rumah Alya. Saking kelelahannya disituasi macet, Alya sampai ketiduran dikursi penumpang. Sesaat Andi memandangi wajah Alya saat tertidur, tidak sampai hati untuk membangunkannya.
"Alya Mentari, bahkan kamu sedang tertidurpun terlihat cantik, sungguh Damar beruntung banget bisa mendapatkan hatimu, Al. Aku yang bodoh selama ini, aku yang tidak pernah memandangmu selama ini, Aku yang terlalu naif Al, maafkan aku. Andai ingatan Damar tidak akan pernah kembali, apakah kamu akan membuka hatimu untukku lagi, Al?" Gumam Andi pelan.
"Eeeemmmmhhh..." Alya menggeliat didalam tidurnya, tampak Andi melihat gerakkan tubuh Alya, yang seakan menggoda meski tertidur. lalu Alya, membuka matanya perlahan. Andi menatap wajah Alya lekat, hampir tidak ada jarak diantara mereka. Wajah Alya pucat pasi, saat Andi seperti akan mencium dirinya. Namun itu hanya ekspektasi Alya, karena nyatanya Andi hanya membukakan seatbeltnya saja.
"Kenapa Al? Matanya biasa saja lihatinnya, itu wajah kamu pucat banget Al, memangnya kamu habis lihat hantu hah..?" Tanya Andi, meledek Alya yang terdiam sehabis bangun tidur.
"Iiisshh.. tumben banget loe ngomongnya aku dan kamu? Biasanya juga loe dan gue, ada apa ini?" Tanya Alya penasaran. seraya menghindari jawaban untuk pertanyaan yang Andi lontarkan.
"Ditanya malah balik tanya, kebiasaan buruk kamu Alya, engga hilang-hilang." Omel Andi, seraya mengalihkan pertanyaan Alya juga.
"Iiishh... samanya juga!" Ucap Alya tidak mau kalah pada Andi, seraya berdecak sebal.
"Iya.. iya, satu sama kita, he.. he.. he..." Ucap Andi menyerah pada akhirnya, seraya terkekeh.
Alyapun ikut terkekeh, namun langsung menyilangkan kedua tangannya, didepan dadanya sendiri. "Kenapa engga bangunin gue? Ini sudah hampir jam 12 kurang, Ndi." Tanya Alya kesal, karena hampir tengah malam dia masih diluar, bisa-bisa Papanya marah besar.
__ADS_1
"Kamu mau disini terus, atau mau masuk kerumah sekarang?" Bukannya menjawab pertanyaan Alya, Andi malah memberikan pertanyaan kembali kepada Alya, seraya berjalan keluar mobilnya.
"Aiiish.. engga sopan banget, orang ditanya malah balik tanya terus. Pantesan saja diputusin sama si Naura, orangnya nyebelin sih." Alya terus berdecak sebal, seraya turun dari mobilnya berjalan mengekori Andi di belakang punggungnya.
Andi menekan bell rumah Alya, kemudian keluarlah Mba Diah yang membukakan pintu rumahnya. "Selamat malam Den Andi dan Non Alya." Sapa Mba Diah ramah dengan senyumam manisnya.
"Selamat malam juga Mba Diah, Tuan dan Nyonya apakah sudah tidur, atau belum?" Balas sapa Andi ramah, seraya bertanya.
"Masih belum tidur Den Andi, mau saya panggilkan Den?" Sahut Mba Diah ramah, namun sebelum Mba Diah kedalam, Papa Hendra dan Mama Mentari sudah terlebih dahulu keluar.
"Siapa yang datang, Mba Diah?" Tanya Papa Hendra, lalu menatap lurus Andi dan Alya .
"Assalamu'alaikum, Om dan Tante." Salam Andi, seraya mencium punggung tangan Mereka dengan hormat, begitupun yang diikuti oleh Alya anaknya.
"Wa'alaikumsalam, kalian kenapa bisa pulang bersamaan?" Papa Hendra dan Mama Mentari menjawab salam mereka, dan menerima uluran tangan mereka. Namun Papa Hendra mempertanyakan kepulangan mereka.
"Kami tidak sengaja bertemu dipuncak Gunung Mas Om, Tante." Ucap Andi jujur, yang dianggukkan Alya.
"Engga apa-apa Mam, sudah Andinya jangan ditanya-tanya lagi, kita engga diizinin masuk atau gimana ini?" Ujar Alya malah balik bertanya.
"Iya, apa Nak Andi mau mampir dulu?" Tanya Mama Mentari ramah.
"Kalau saya mau mampir sebentar Tante, Om, untuk menjelaskan keterlambatan kami sampai disini." Sahut Andi berani bertanggung jawab.
"Ooh.. iya Nak Andi silahkan duduk." Mama Mentari menyambut Andi dengan ramah.
"Terima kasih Tante, Om." Ucap Andi, seraya menurunkan bokongnya di kursi tamu, yang dianggukkan oleh Mama mentari dan Papa Hendra.
Mama Mentari, dan Papa Hendra, memang sudah mengenal Andi sebagai sahabat Alya selama ini. Namun mereka tidak pernah melihat mereka jalan berdua selama ini, pasti selalu beramai-ramai.
__ADS_1
"Om, Tante, saya minta maaf kalau sampai disini sangat larut malam. Dijalan puncak tadi terjebak macet, hampir 3 jam kami disana tidak bergerak, jalurnya buka tutup karena hari weekend." Jelas Andi jujur seraya tersenyum hangat.
"Bagaimana ceritanya kalian bisa kebetulan bertemu disana, padahal tidak direncanakan, bukan?" Tanya Papa Hendra dengan tatapan mautnya, dirinya curiga dengan sikap Andi yang sepertinya menyukai putrinya. Papa Hendra sebagai pria, pasti tahu sikap orang yang menyukai dan hanya sekedar teman.
Andi merasa terintimidasi oleh tatapan dan pertanyaan Papa Hendra, hingga dia agak sedikit gugup menjawab pertanyaan Papa Hendra. "S.. saya juga tidak tahu Om, kebetulan saja saya sedang menepi, menenangkan diri disana, Om."
"Iya Pap, Mam, apa yang dikatakan Andi benar adanya, kami tidak ada janji sama sekalih, memang kebetulan kami bertemu disana." Jelas Alya ikut membantu membenarkan jawaban Andi.
"Jadi, semua hanya pertemuan yang tidak disengaja. Tapi kenapa baju kamu bisa ganti menjadi kaos pria, sayang?" Tanya Papa Hendra, yang memperhatikan penampilan anak gadisnya yang sedikit berbeda.
"I.. ini karena tadi disana hujan Pap, baju aku basah terus aku pinjam bajunya Andi, begitu Pap ceritanya." Jawab Alya sedikit gugup, merasa tidak enak sudah memakai baju pria.
"Memangnya Nak Andi tidak kehujanan? Kenapa hanya baju Kamu yang basah, sayang?" Tanya Mama menimpali, karena Mama Mentari tidak suka, jika anak gadisnya terlalu dekat dengan Pria, meski dia tahu Andi sahabatnya dari dulu.
"Basah juga Mam, tapi Andi memang sedang menyewa penginapan disana, jadi Andi bawa beberapa baju, Mam." Jawab Alya jujur apa adanya.
"Penginapan? Kamu menyewa penginapan, Nak Andi? Kalau boleh Tante tahu, dalam rangka acara apa?" Tanya Tante Mentari sedikit kepo.
"Mam, itu 'kan masalah pribadi Andi, kenapa Mama harus menanyakan hal itu?" Protes Alya tidak suka, jika Mamanya mencecar pertanyaan, yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.
"Tidak apa Al." Sela Andi. "Dalam rangka menenangkan diri Tante, seperti halnya Alya sama tujuannya untuk menepi sementara." Ujar Andi dengan gamblang.
"Oohh.. jadi begitu." Ucap Mama Mentari percaya, seraya mengangguk kecil.
"Apakah Kamu menyukai anak Om, Nak Andi?" Tanya Papa Hendra, tanpa basa basi.
"Deg.." Andi terkejut dengan pertanyaan dari Om Hendra.
-BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....