
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Pagi ini Alya terbangun lebih awal pukul 5 pagi, padahal hari ini agak siang dia ke kampus, dia sudah berjanji dengan Asyafa akan ketemuan di kampus. Kemudiam Alya menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, sholat shubuh 2 raka'at.
Selesai sholat Alya berdoa untuk kelulusannya agar segera Wisuda dan berdoa untuk kelanjutan S2 nya, dan doa untuk perjodohan dan cintanya.
Alya galau sendiri dengan pikirannya, dijodohkan tapi tidak mencintai. Mencintai namun tidak berjodoh? Begitulah hati Alya yang sekarang dia rasakan.
Alya membuka ponselnya dan membuka WA disana, sesekali mengintip status Damar. Namun tidak ada status WAnya. Hatinya sekarang merasa aneh, kenapa perhatian kecil yang biasa Damar berikan beberapa hari yang lalu, dia sangat rindukan.
"WAnya aktif, berarti Damar sudah terbangun dan sekarang dia sedang online, tapi dia tidak menghubungi gue dari semalam? Bahkan pagi inipun dia tidak menyapaku lewat chatnya? Kenapa dengan sikapnya? Apa gue berbuat salah sama dia?" Bathin Alya terus bermonolog.
Setelah Alya bergelud dengan pikirannya, dia memutuskan untuk mengirim pesan WA terlebih dahulu, karena pikirnya Damar sedang online saat ini.
["Assalamu'alaikum.. pagi Damar!"]
["- - - - "] Belum ada balasan, padahal WA sedang online.
Setelah menunggu hampir 30 menit.
["Wa'alaikumsalam.. pagi juga Alya!"]
"Waah.. dibalas juga WA gue." Bathin Alya.
["Loe apa khabar Damar? Kenapa lama banget bales chat dari gue?"]
["Alhamdullillah baik, aku lagi banyak kerjaan Al."]
["Ooh.. gitu yah? Pantesan dari semalam engga ada kabar dan engga WA gue seperti biasanya, dan seperti pagi ini juga, loe engga bangunin gue lewat WA loe."]
["Ha.. ha.. ha.. kamu merindukan aku Al?"]
["Engga.. ge'er banget jadi orang.]
["- - - -"] Tidak ada balasan.
__ADS_1
"Haah.. dia engga balas chat gue? Kenapa dengan dia? Masa dia marah hanya gue bilang ge'er? Kayak bukan Damar yang gue kenal beberapa hari ini?" Gumamnya pelan.
Akhirnya Alya mematikan ponselnya, dan berhenti mengirim chat kepada Damar.
"Apa mungkin dia bosen sama gue? Padahal belum genap seminggu gue dekat dengan dia, tapi sikap dia sudah kayak gitu. Sungguh pria yang susah ditebak." Bathin Alya kesal dengan sikap Damar yang mendadak berubah, padahal tidak ada angin, tidak ada hujan. Sungguh malang nasib percintaan Alya, dan diapun meratapinya.
*******
Di Yogyakarta, dikediaman Tuan Jaya Darma, Bari dan Asisten Yoga baru saja sampai tadi siang. Sekarang mereka sedang berkumpul menikmati moment kebersamaan, yang selama ini terlewati.
Semenjak kedatangan Bari Darma ke Yogyakarta tadi siang, saat berjumpa dengan Papa Jaya Darma, dan Dewi Darma, suasana begitu haru biru dan penuh isak tangis air mata. Disaat itu, Bari meminta maaf kepada Papa Jaya, dan bersimpuh di kakinya memohon belas kasihnya. Tidak lupa Baripun meminta maaf, kepada Adiknya Dewi Darma.
Papa Jaya dan Adik Dewi akhirnya memaafkan Bari dengan ikhlas, dan kembali kepelukkan keluarga. Bari yang bersimpuh dan menangis memohon ampunan, telah menyesali segala perbuatannya, dan ingin kembali kejalan yang lebih baik.
Karena keegoisan dan keserakahanlah yang membutakan mata hatinya selama ini, hingga akhirnya masuk kedalam jurang kehancuran. Bari menyesali perbuatannya yang sangat merugikan keluarga, dan saudaranya selama ini. Lalu diapun merasa bersalah karena dirinyalah hingga membuat Papa Jaya lumpuh seperti sekarang ini.
Dengan berbesar hati Papa Jaya dan Adik Dewi, mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Merekapun menata kembali keutuhan keluarga besar mereka, yang selama ini telah hilang.
"Bagaimana kabar istri dan anak Kak Bari?" Tanya Adik Dewi, dengan segala ramah tamahnya, menanyakan kabar Kakak iparnya dan keponakkannya itu.
"Bersyukurlah Kak, kalau istri dan anak Kakak sehat, baik-baik saja dan menjadi penguat Kakak." Ucap Adik Dewi lega, dengan mengucap syukur.
"Iya Dik Dewi, 5 hari yang lalu, hampir saja Kakak melakukan tindakan bodoh Dik, selama 3 hari Kakak tidak ingin makan dan minum. Hingga akhirnya Kakak terkulai lemas dilantai, dan dibawa kerumah sakit oleh Istri dan anak Kakak, dan para pekerja dirumah." Jelas Bari, dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
"Kenapa Kakak, bisa sampai melakukan tindakan seperti itu?" Tanya Dewi perihatin.
"Kakak putus asa Dik, sampai akhir bulan ini Perusahaan akan disegel oleh pihak Bank, karena hutang yang sudah jatuh tempo, dan saham yang turun, serta banyak pengeluaran yang tidak terduga." Ujar Bari dengan gamblang.
"Akhir bulan ini? Berarti hanya tersisa satu minggu lagi Kak?" Tanya Dewi khawatir, dengan nasib Perusahaan Kakaknya itu.
"Iya Dik, tapi Kakak tidak bisa berbuat banyak, Kakak hanya bisa berharap ada keajaiban Dik." Sahut Bari, dengan penuh harap.
"Eeemmm... kalau Adik boleh usul, nanti Kakak coba meminta bantuan Kak Beni dan suami Dewi, Mas Dimas untuk menutupi hutang Perusahaan Kakak, dan mengembalikan saham Perusahaan yang turun menjadi stabil." Usul Dewi untuk meminta bantuan.
"T... tapi Dik, Kak Bari malu, jika harus meminta bantuan kalian." Tolak Bari beralasan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Kak, kalau Kak Bari malu, biarkan Dik Dewi yang nanti bicarakan hal ini. Asalkan Kakak berjanji, tidak akan melakukan kejahatan dan hal bodoh seperti yang dulu lagi." Ujar Dewi, dengan memberi peringatan.
"Iya Dik.. Kakak berjanji akan menjadi orang yang lebih baik lagi. Dan tidak akan kembali ke lubang yang sama." Janji Bari, yang akan dipegangnya.
"Alhamdulillah, kalau Kak Bari bisa menjadi orang yang lebih baik sekarang." Ucap Dewi bersyukur.
"Aamiin Alhamdullilah Dik Dewi." Ucap Bari juga bersyukur.
"Kak Bari dan Asisten Yoga, sebaiknya sekarang beristirahat dulu saja di kamar yang sudah Dik Dewi siapkan." Pinta Dewi dengan ramah.
"Iya Dik Dewi, terima kasih." Sahut Bari, mengangguk pelan.
"Terima kasih Nyonya Dewi." Sahut Asisten Yoga tersenyum mengembang.
Akhirnya merekapun beristirah dikamar tamu, yang sudah disiapkan oleh Adik Dewi dan ARTnya.
*******
Dikantor Tuan Ardi Prayoga, Damar sedang menemui klien bisnis, yang akan memulai kerja sama dengan Perusahaan Papa Ardi. Tanpa dia ketahui sebelumnya, Papa Ardi yang meminta Damar untuk mewakilkan dirinya saat ini.
"Kamu...?" Kejut Damar dan Naura bersamaan, saling menatap dengan tatapan terkejut, seraya saling mengangkat jari telunjuk tangannya kearah depan.
Betapa kesalnya Damar, saat ini gadis yang ada dihadapannya adalah mantan pacarnya dahulu. Gadis itu bernama Naura Ayunita, gadis cantik yang selalu berpenampilan seksy dan anggun. Gadis yang sudah mencampakkannya, dan menduakannya.
Begitupun Naura Ayunita sangat shock dengan apa yang sekarang ini dia temui, rasa bersalahnya dulu, seakan membuka luka lama yang pernah dia goreskan untuk mantan kekasihnya itu.
"Ngapain kamu ke kantor Papa saya?" Tanya Damar dengan nada sinis dan angkuh, lalu menatap tajam setajam elang.
"S.. saya diminta Papa saya untuk ketemu Tuan Ardi Prayoga, untuk membahas kerja sama mengenai lahan tanah yang akan di bangun saat ini." Sahut Naura gugup, namun tanpa beralasan.
"Saya yang akan menanganinya, Papa saya yang sudah melimpahkan tugas itu ke saya." Ujar Damar dengan jelas.
"Haaah...?"
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....