TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Firasat Alya


__ADS_3

🥰Happy Reading🥰🥰


Persiapan acara lamaran dadakan yang dilakukan Damar, membuat Papa Ardi dan Mama Ningsih shock dibuatnya, terlebih lagi Siska Kakak kandungnya Damar, yang hampir tidak percaya jika Adik tampannya itu sudah ngebet nikah.


"Ini kenapa Dadakan begini sih Dik, kamu benar-benar sudah kebelet nikah?" Tanya Siska tidak percaya dengan Adiknya, yang semudah itu memutuskan untuk melamar gadis yang baru seminggu dikenalkan.


"He... he.. he... benar dong Kak, lebih baik menikah cepat biar langsung halal. Engga bikin dosa banyak." Slorohnya terkekeh.


"Aiish.. kenapa baru sekarang sadarnya, kemarin-kemarin kemana saja? Barisan para mantan, apa khabar Dik?" Sindir Siska, langsung tembak kena sasaran.


"Ha.. ha.. ha.. mantan? Sudah, lupakan saja." Sahut Damar terkekeh, pasalnya pesona Alya mengalahkan semua barisan para mantannya.


"Aiishh.. sekarang saja bisa bilang begitu, Dari dulu pergi kemana, Dik?"


"Waktu dulu, masih belum dapat yang pas, Kak."


"Bisa begitu? Memangnya yang ini sudah pas, Dik?"


"Sudah dong Kak!"


"Yakin, Dik?"


"Yakin banget, malah Kak!"


"Bagus deh kalau begitu, kamu jadi ada yang ngurusin, Dik."


"Siap Kak! Terima kasih Kak, Memang Kakak Siska, terbaik deh."


"Aiish.. bisa banget Adikku ini, kalau memuji ada maunya."


"Iya dong, Kak. Sekarang Kakak bantu Adik, siap-siap untuk lamaran nanti malam yah?"


"Iya, Adikku sayang."


"Terima kasih, Kakak cantikku."


"Heemmm.." Siska hanya bergumam.


"Kak, aku mau beli cincin, coba pinjam cincin Kakak, biar nanti pas di jari calon istriku."


"Nanti kalau tidak muat, bagaimana?"


"Muat pasti, jari Kakak sepertinya tidak berbeda jauh dengan calon istriku."


"Aiish.. engga deh, jari tanganku lebih besar dari pada Alya."


"Sedikit palingan, Kak. Biarkan saja nanti kalau kebesaran tinggal pasang di jempol, Puas?"


"He.. he... he... iya.. iya.. ini cincinya, awas jangan sampai hilang." Ucap Siska terkekeh, seraya memberikan cincin ketangan Damar.


"Ok, Kak! Terima kasih."

__ADS_1


"Aku pergi dulu yah Kak, jangan lupa bilangin Mama sama Papa yah, Kak. Assalamu'alaikum.. "


"Siap Dik, Wa'alaikumsalam... hati-hati dijalan Dik."


Damarpun kemudian pergi meninggalkan kediamannya, menuju Mall terdekat disana.


Sesampainya di Mall Bogor, Damarpun langsung mencari toko mas yang menjual semua jenis perhiasan.


"Permisi Mba, saya mau cari cincin perhiasan dong! Tolong tunjukkan jenis cicin seperti ini, tapi modelnya sedikit berbeda." Ujar Damar sopan, seraya menunjukkan cincin yang dipegangnya, lalu diberikan kepada penjaga counter Mas tersebut.



"Sebentar Yah Mas, sepertinya model seperti ini harus dipesan dulu, tidak bisa dadakan. Karena model ini unlimited edition." Jelas Mba counter itu ramah. Cincin berlapis emas 24 karat, dan diberi tambahan mata berlian yang unik.


"Ooh begitu yah Mba, jadi harus pesen dulu?" Tanya Damar untuk lebih meyakinkan lagi.


"Iya Mas, minimal 5 hari, baru cincin itu bisa jadi, hampir mirip seperti ini." Jelas Mba counter itu ramah.


"Baiklah, saya pesan cincin yang seperti ini, untuk calon istri saya nanti. Tapi, agak dibedain sedikit modelnya yah Mba." Ujar Damar ramah.


"Baik Mas." Ucap Mba counter tersebut.


"Sebentar saya mau vidio call, calon istri saya dulu yah Mba." Ucap Damar, seraya menjauh dari keramaian.


Damar kemudian menekan mode VC, lewat aplikasi pintarnya. Ponselpun langsung terhubung kenomor ponsel Alya.


"Hai.. sayang.."


"Hai.. juga.. hubby, malu iich aku lagi pakai baju santai begini lagi, kamu kenapa VC mendingan telepon biasa saja."


"Iiissh.. gombal terus yah, calon imamku ini."


"Ha.. ha.. ha.. emangnya engga boleh yah? Gombalin calon makmumku."


"Ha.. ha.. ha.. boleh hubby."


"Kamu lagi ngapain, sayang?"


"Lagi beres-beres untuk persiapan lamaran nanti malam, hubby. Coba kamu lihat tuh.. semuanya lagi pada bantuin masak, para tetangga juga mau bantuin."


"Woow.. banyak yang bantuin yah, kamu jangan cape-cape yah, sayang. Aku tidak ingin, kamu sakit nantinya. Sayang.. aku kangen, peluk dari sini."


"Iiich, baru juga semalam dipeluk sudah kangen lagi! Kamu lagi ngapain di Mall, sayang?"


"Lagi beli cincin untuk nanti malam, tapi yang seperti ini harus pesan dulu baru dibuatkan, katanya unlimited edition. Kamu suka dengan cincin seperti ini, sayang?"


"Suka, Bie. Unik bentuknya dan keren."


"Ini untuk cincin nikah saja yah, sayang. Kalau untuk lamaran, nanti pakai cincin yang sudah jadi saja yah."


"Iya hubby."

__ADS_1


"Sayang, gemes iih, pingin cium kamu tapi dari jauh saja yah, eeemmmuach... kalau dari deket, nanti saja sudah halal. He.. he.. he.."


"Tuuh 'kan mulai lagi mesumnya."


"Mana ada mesum, sayang? Orang kangen kenapa dibilang mesum? Kamu sih aneh, sayang."


"Tahu ach, males sama kamu, Bie."


"He.. he.. he.. bercanda, sayang."


"Iya Bie, aku juga bercanda."


"Sudah dulu yah sayang, nanti ngobrolnya dirumah kamu, dilanjut."


"Iya sayang, hati-hati calon imamku."


Vidio Callpun diakhiri oleh keduanya.


Setelah melakukan pembayaran cincin, untuk sementara lamaran saja. Damar langsung bergegas pulang kerumahnya, setelah mendapatkan apa yang diinginkan.


Saat Damar diparkiran, tanpa sengaja dirinya melihat seorang Ibu paruh baya, sedang berteriak copet. Sontak saja, Damar langsung membantu mengejar copet tersebut dengan berlari, saat Ibu paruh baya itu menunjuk kearah sipencopet.


Dengan sekuat tenaga, Damarpun akhirnya bisa mengejar pencopet itu dengan bantuan orang-orang dijalan, saat Damar berteriak copet. Damar langsung meringkus sipencopet tersebut, tapi siapa sangka jika sipencopet itu tidak sendirian, dia bersama temannya yang menaiki kendaraan bermotor.


Teman sipencopet itu langsung menabrak Damar dari arah belakang, hingga Damar terpental jauh, sekitar 5 meter kurang lebih. Sipencopet itupun langsung melarikan diri, bersama teman yang berkendara motor tersebut.


Damarpun langsung di tolong oleh orang-orang, yang melihatnya sedang terkapar tidak berdaya dijalan raya. Ada juga beberapa orang yang mengejar motor pencopet itu, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


*******


Dikediaman Papa Hendra Baskara, Alya sedang ikut membantu Mama Mentari dan juga ARTnya dan beberapa tetangga yang ikut membantu juga untuk persiapan lamaran nanti malam.


Disaat Alya sedang asik memotong kentang, tiba-tiba jari tangannya teriris pisau. "Aawwhh.." Pekik Alya saat pisau itu mengenai kulit jari tangannya, hingga mengeluarkan darah sedikit.


"Kenapa Sayang? Sudah dibilangin, tidak usah membantu, malah ngeyel dibilangin, makanya jadi begini 'kan?" Omel Mama Mentari, seraya menghisap jari tangan Alya ke dalam mulut Mama Mentari.


"Iya Maaf, Mam." Sesal Alya.


"Kenapa aku tiba-tiba kepikiran sama Damar? Kenapa hatiku tidak merasa tenang? Apa ini sebuah firasat tidak baik?" Tanya Alya dalam hatinya.


"Sayang, ponsel kamu bunyi dari tadi tuh, coba kamu lihat, siapa yang telepon? Mungkin penting." Ujar Papa Hendra.


"Iya Pap."


Alyapun meraih ponselnya, lalu melihat siapa peneleponnya, ternyata Damar yang menelepon. Kemudian tanpa ragu, Alyapun langsung mengangkatnya.


"Hallo.. hubby, ada apa lagi? Baru juga tadi habis Vidio Call, sekarang sudah menelepon lagi."


"- - -"


"Haaaah..? Apa?" Pekik Alya.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2