TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Menenangkan Hati


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Mama Mentari jadi bingung, dengan ingatan Damar yang ternyata mengenalnya. Begitu juga dengan yang lainnya, bagaimana ceritanya Damar bisa mengenal calon mertuanya itu.


Mama Ningsih langsung menjawab pertanyaan Damar, yang dilontarkan kepada calon besannya itu.


"Sayang, mungkin Tante Mentari lupa kalau sudah kenal sama kamu, Nak." Sahut Mama Ningsih menimpali pertanyaan anaknya.


Damar hanya mengangguk kecil, mendengar jawaban dari Mamanya, lalu Damar menatap Alya tanpa berkedip, dengan tatapan elangnya. Alyapun jadi salting dengan tatapan matanya Damar, seakan ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.


"Sayang, memangnya kamu kenal dimana sama Tante Mentari dan Om Hendra?" Tanya Mama Ningsih, untuk menggali ingatannya.


"Kenal di kantor Papa dong Mam, 'kan Papa pernah kenalkan Om Hendra sama Tante Mentari, awal Damar ikut bergabung dikantor Papa." Jawab Damar jujur dengan apa yang dia ingat.


Seketika Mama Mentari, dan suaminya, juga Papa Ardi, langsung teringat kejadian awal pertemuan mereka 4 tahun yang lalu.


"Oh iya Jeng Ningsih, Nak Damar benar kalau sudah kenal dengan kami, saat itu baru bergabung di kantor Tuan Ardi, 4 tahun yang lalu." Ujar Mama Mentari, mengingat-ingat saat pertemuan itu.


"Iya Tante, tapi 2 tahun yang lalu, bukan 4 tahun yang lalu." Ucap Damar protes, seraya mengernyitkan keningnya heran.


Mama Mentari langsung melirik ke arah Mama Ningsih, meminta tanda jawaban Damar. Dengan cepat, Mama Ningsih memberikan tanda anggukan kepala kepada Mama Mentari.


"Oh iya, Nak Damar, Tante salah sebut 2 tahun yah, bukan 4 tahun. He.. he.. he.." Sahut Mama Mentari, membenarkan ucapan Damar, seraya terkekeh.


Sontak saja semua yang tahu masalah sebenarnya, mendadak tertawa canggung.


"Mama, bukankah dia wanita yang kemarin memanggilku dengan sebutah hubby? Kenapa dia datang bersama Om Ardi, dan Tante Mentari?" Tanya Damar penasaran, yang sedari tadi menatap Alya tanpa henti, karena Alya hanya diam saja, tanpa banyak bicara seperti kemarin.


"Iya sayang, apa kamu ingat dengan Nak Alya?" Tanya Mama Ningsih perhatian.


"Iya aku engga tahu namanya, tapi aku tahu gadis ini adalah gadis yang kemarin." Sahut Damar jujur.


"Ooh, begitu ternyata. Nak Alya ini anaknya Om Hendra, dan Tante Mentari. Dia adalah gadis yang akan dijodohkan denganmu, sayang." Ujar Mama Ningsih, kembali kerencana awal, untuk mengenalkan Alya sebagai orang baru untuk Damar.


Sontak saja Alya, dan yang lainnya langsung melirik kearah Mama Ningsih. Lalu Mama Ningsih hanya tersenyum kikuk, saat mereka semua menatap kearahnya.


"Apa? Apa Mama bilang? Dijodohkan dengan gadis ini? Aku tidak mau Mam, memangnya ini zaman Siti Nurbaya? Lagian aku sudah punya pacar Mam, namanya Naura Ayunita." Tolak Damar dengan gamblang, tanpa sengaja sudah menyakitkan hati mereka semuanya.


"Deg.." Jantung Alya terasa nyeri, mendengar pernyataan Damar yang teramat menyakitkan. Alyapun seketika meneteskan air mata dalam diam, lalu menghapusnya dengan kasar, menggunakan kedua tangannya.


Alya pergi meninggalkan mereka semua tanpa berpamitan. Kemudian Mama Mentari, dan Papa Hendra berpamitan, mohon maaf harus meninggalkan mereka seperti ini.

__ADS_1


Papa Ardi, dan Indra, yang sudah tahu permasalahan Damar, yang sedang terkena Amnesia, hanya bisa pasrah.


"Damar sayang, kamu kenapa seperti itu? Seharusnya kamu harus lebih sopan kepada mereka tadi, kamu sudah menyakiti mereka dengan perkataanmu." Ujar Mama Ningsih memberi nasehat.


Damar hanya membisu, mendengar ucapan Mamanya, hati Damar terasa ada yang menyentil, sakit namun tidak berdarah.


*******


Alya terus berjalan dengan derai air mata yang tidak kunjung berhenti, tiba diparkiran Mobilnya, Alya langsung menancapkan gas mobilnya membelah jalanan ibu kota Bogor.


Ponsel Alya memekik kencang, memecah keheningan dalam mobil. Diliriknya siapa yang menelpon, ternyata sang Mama. Alyapun langsung mengangkatnya, menggunakan load speaker.


"Iya hallo Mama."


"Hallo sayang, kamu tidak apa-apa, bukan?"


"Iya kenapa Mam? Insya Allah aku baik-baik saja Mam, tapi aku ingin menepi dulu untuk sementara, nanti Alya akan pulang."


"Kamu mau menepi kemana sayang?"


"Mencari ketenangan hati Mam, aku kepuncak Gunung Mas dulu. Mama jangan khawatir, mungkin nanti malam aku baru pulang."


"Iya Mama, aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh, mama percaya sama Alya, bukan?"


"Iya sayang, Mama percaya sama kamu."


"Tuuut.." Panggilan Telepon ditutup.


Alya terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, jalanan puncak cukup padat, mengingat ini hari minggu, jadi wajar saja kalau jalanan sedikit macet.


Butuh waktu dua jam, Alyapun sampai di depan Puncak Gunung Mas Cisarua.



Setelah Alya memarkirkan mobil dihalaman Parkir yang sudah disediakan disana, Alya langsung turun berjalan santai menikmati hawa sejuk Puncak Gunung Mas.



"Ya Allah, nikmatmu begitu indah, meski hatiku begitu sakit saat ini, menerima kenyataan pahit jika calon suamiku sedang sakit Amnesia. Tapi aku percaya kepada-Mu ya Allah, engkau tidak akan menguji umat-Mu melebihi batas kemampuannya." Bathin Alya bergumam, sembari menikmati indahnya pemandangan Puncak Gunung Mas.


__ADS_1


Semakin dalam Alya berjalan, semakin Alya merasakan dirinya sangat terpukau, dengan keindahan pohon-pohon teh yang berjejer rapih, sedap dipandang mata.


Alya sudah merasa kelelahan, karena berjalan keliling kebun teh cukup lama. Hampir 2 jam dia berjalan kaki, akhirnya dia berhenti tepat disebuah bangku yang berada tidak jauh dari sebuah warung kecil yang menyediakan minuman, makanan, jagung bakar dan beraneka gorengan.


Alyapun mendaratkan bokongnya dibangku itu, untuk beristirahat sejenak sebelum dia kembali keparkiran mobilnya.


"Minum Al." Tawar seseorang dari arah belakang, dengan suara yang sudah akrab ditelinga Alya.


"A.. andi? Loe ngapain Ndi disini?" Tanya Alya terkejut saat melihat Andi yang sedang berada disini juga.


"Gue disini dari kemarin Al, gue lagi tenangin pikiran gue." Kata Andi jujur, seraya duduk disamping Alya, dan memberikan sebotol minuman ringan ditangannya.


"Terima kasih Ndi." Ucap Alya, saat menerima botol minuman ringan dari tangan Andi.


"Iya Al." Ucap Andi singkat.


"Loe berarti sewa penginapan dong disini, kalau loe dari kemarin?" Tanya Alya, mengingat Andi mengatakan dirinya berada disini dari kemarin.


"Heemm..." Gumam Andi pelan.


"Loe sendirian, atau sama pacar loe, atau sama keluarga loe?" Tanya Alya sedikit kepo.


"Loe liat gue, sekarang sama siapa?" Tanya Andi balik, seraya menyunggingkan senyumnya.


"Loe sendirian sih." Jawab Alya, yang melihat Andi memang sedang sendirian.


"Betul banget Al, gue memang sendirian." Jawab Andi seraya menenggak botol minuman ringannya.


"Kenapa loe bilang tadi, kalau loe lagi tenangin pikiran, memangnya loe ada masalah apa?" Tanya Alya perhatian, seraya menenggak botol minuman ringannya juga.


"Gue sudah putus Al, sama pacar gue, Naura." Sahut Andi jujur.


"Kenapa? Ko bisa putus?" Tanya Alya penasaran.


"Dia masih mencintai mantan pacarnya." Sahut Andi jujur, tanpa ada yang ditutup-tutupin.


"Haaah...?"


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2