
Rayhan terharu dengan cerita kisah Ayah mertuanya itu, tidak sadar sampai ikut terbawa dalam ceritanya hingga meneteskan air mata. Begitu juga Asyafa, Ayah dan Ibu juga menangis dengan cerita masa lalu mereka.
"Ayah, Ibu, sayang, sungguh aku merasakan kepedihan kalian saat itu." Ungkap isi hati Rayhan pilu dengan cerita mereka.
"Sudah jangan bersedih, itu masa lalu Nak. Sekarang kami bahagia, apa lagi mempunyai menantu seperti Nak Rayhan." Ujar Ibu Nurlaila memuji menantunya itu.
"Iya.. Ibu." Ucap Rayhan seraya tersenyum malu.
"Itu adalah sepenggal cerita masa lalu Ayah dan keluarga kecil Ayah, waktu itu Asyafa masih kecil hingga belum begitu faham dengan kehidupan masalah orang dewasa." Ujar Bernad mengutarakan isi hatinya.
"Iya... Ayah, aku tidak mengerti waktu itu mengapa tiba-tiba kita pergi dan menetap di Indonesia? Dan aku selalu mengikuti ucapan Ibu dan Ayah, bahkan teman-temanku di sana bersedih dengan kepindahanku yang mendadak." Jelas Asyafa menggambarkan dirinya dahulu yang belum faham, akan masalah orang tuanya.
"Terima kasih sayang, sudah menjadi anak yang baik, penurut, cantik dan pintar." Ucap Ayah Bernad bahagia, seraya memeluk Asyafa erat.
"Hi.. hi.." Asyafa tertawa bahagia, dan di ikuti oleh Rayhan dan Ibu Nurlaila.
"Sudah malam.. ayo kalian cepat tidur, besok pagi bukannya harus berangkat ke Bandara, bukan?" Tanya Ibu Nurlaila mengingatkan.
"Ooh.. iya hampir lupa, kami permisi ke kamar dulu yah Ibu, Ayah." Ucap Asyafa seraya menarik tangan suaminya mesra.
"Iya.. kalian jangan lupa packing baju-baju kalian yah sayang, bawa secukupnya saja. Ibu tadi siapkan satu tas di dalam kamar kamu, jangan di buka sekarang, nanti saja kalau sudah sampai di Belanda, sayang." Pesan Ibu Nurlaila, seraya mengerling nakal kepada anak dan menantunya.
"Aaiis.. Ibu, sepertinya aku mencium bau-bau mencurigakan!" Seru Asyafa merasa aneh dengan pesan Ibunya, sedangkan Rayhan hanya tersenyum manis. (Kalah deh gula, saking manisnya)
"Hi.. hi.. Sok tahu ini anak Ibu, pokoknya ingat pesan Ibu, Oke!" Ancam Ibu Nurlaila seraya mengangkat jempol tangan kanannya ke udara.
"Okay." Jawab Rayhan yang menyela ucapan istrinya.
"Aiish, sayang... kenapa main oke saja, pasti Kakak sudah tahu yah, apa isi tas itu? Ayo ngaku..." Omel Asyafa tidak terima dengan jawaban suaminya yang main setuju saja, seraya mengelitiki pinggang suaminya. Rayhan dan Asyafa akhirnya main kejar-kejaran layaknya anak kecil yang bahagia. Sontak saja Ibu, dan Ayah tertawa melihat kelakuan mereka.
"Ampun.. ampun.. cinta." Ucap Rayhan yang sudah tidak sanggup, menahan geli akibat kelitikan istrinya.
"Makanya.. ayo jujur, Kakak tahu bukan, isi tas itu?" Tanya Asyafa sedikit memaksa, seraya bersiap untuk melakukan aksinya lagi.
"Engga sayang, suami kamu tidak tahu isi tas itu. Hanya Ibu yang tahu, pokoknya jangan di buka sampai di sana." Bantah Ibu Nurlaila, seraya mendelikan matanya ke arah anak kesayangannya.
"Ooh.. begitu, baiklah Ibu." Ucapnya pasrah seraya berlalu bersama suaminya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Heeeem.. cinta, kamar kamu harum sekali.. Kakak suka wangi lemon ini." Ucap Rayhan, menghirup wangi lemon di kamar istrinya saat baru pertama kali dia akan menginap.
"Mungkin Ibu yang sudah membersihkan kamarku, dan mengisi pengharum ruangan, sayang. Sudah seminggu ini, aku belum tidur lagi di kamar ini. Terakhir kita beristirahat bersama di kamar pengantin, bukan?" Ujar Asyafa teringat terakhir dia memasuki kamarnya sendiri.
"Iya.. cinta, itu juga hanya numpang mandi. Belum sempat tidur, kita sudah harus bersiap acara Resepsi waktu itu. Hingga terjadi hal yang sangat mengerikan saat itu, dasar pria saiko. " Ucap Rayhan mengingat acara Resepsi Pernikahannya yang berantakan, seraya mengumpat kesal pria itu.
"Sudah sayang, ikhlas dong." Ucap Asyafa menenangkan seraya mengecup bibir suaminya kilat.
"Aiish.. mancing-mancing minta di lahap nih sepertinya." Ledek Rayhan, tersenyum nakal.
"Engga, malam ini libur." Ucap Asyafa cepat.
"Cinta.. bukankah dua hari yang lalu kita sempat mandi di kamar ini? Sepulang Kakak di rawat di Rumah Sakit." Ujar Rayhan, teringat saat pertama masuk kamar ini setelah menikah.
"Ooh.. iya sayang. Tapi, itu juga hanya numpang mandi saja." Ucap Asyafa, ingat saat itu mandi bersama suaminya seraya mengganti baju tidur di depan suaminya.
"Cinta, kamu ganti baju tidur?" Tanya Rayhan seraya menghampiri istrinya, tangannya melingkar indah di pinggang rampingnya.
"Iya sayang, Kakak mau ganti baju tidur juga?" Tanya Asyafa, seraya membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.
"Iya."Jawab Rayhan singkat, menatap lekat istrinya seraya tersenyum nakal. Rayhan tidak melepaskan tangannya yang masih melingkar di pinggang istrinya, meski posisi tubuhnya sudah berhadapan.
"He.. he.. he.. " Rayhan terkekeh, seraya melepaskan kungkungannya di tubuh istrinya itu.
Asyafapun mengambil baju tidur untuk suaminya, dari dalam lemari.
"Pakai yang ini? Atau yang ini saja?" Tanya Asyafa, seraya memegang baju tidur di tangan kiri dan kanannya dengan menimbang bergantian.
"Yang ini saja." Jawab Rayhan, seraya mengambil salah satu baju tidur yang di pegang Asyafa.
"Okay." Ucap Asyafa, seraya mengembalikan baju yang satunya ke dalam lemari.
"Cinta... mau bantu pakaikan engga?" Tanya Rayhan manja.
"Aiish.. baby big aku, manja sekali." Ledek Asyafa, namun langsung meraih baju tidur itu dari tangan suaminya.
Asyafapun, memakaikan baju tidur itu di tubuh suaminya dengan penuh kelembutan. Tangan jahil suaminya yang bergerak bebas, seakan sudah terbiasa Asyafa rasakan setelah menikah.
__ADS_1
"Yang, bisa diam engga ini tangan? Geli iich... !" Omel Asyafa seraya mencubit lengan suaminya gemas.
"Aaww.... sakit," pekik Rayhan lebay.
"Habis tangan Kakak, engga bisa di kondisikan." Sahut Asyafa protes.
"Iya.. harus di biasain cinta, habis Kakak gemas, semua yang melekat pada istriku bikin candu. Apa lagi saat-saat berdua begini." Ucap Rayhan merayu, seraya mencapit hidung dan mengecup kening istrinya lembut.
Asyafa tersenyum manja, mendapati rayuan romantis suaminya.
"Bantu aku packing baju, sayang. Nanti aku kasih bonus..." Bisik Asyafa di telinga suaminya, sontak saja Rayhan langsung mengiyakan dan tersenyum senang.
"Oke.. mana saja yang harus di bawa, cinta?" Tanya Rayhan, seraya mengambil koper di samping nakas.
"Ini.. ini.. dan itu.. saja Kakak, jangan lupakan ini tas dari Ibu." Ucap Asyafa, seraya menunjuk letak baju mereka di lemari. Rayhan langsung paham dan mengambil apa-apa yang di minta istrinya.
Setelah selesai acara packing baju, dan segala keperluan untuk bulan madu, mereka bersih-bersih wajah dan gosok gigi sebelum tidur. Akhirnya mereka merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya, dengan saling berpelukan.
"Cinta.."
"Heeem."
"Boleh, engga?"
"Bobo, sayang.. nyeri yang kemarin di lembah maduku saja masih terasa. Apa lagi besok, harus bangun pagi sayang."
"Tadi bilangnya mau di kasih bonus." Rengek Rayhan menagih janji istrinya.
"Cup.. cup.. cup.. " Kecupan diseluruh wajah dan bibir suaminya singkat, tanpa permisi.
"Sudah bonusnya, sayang." Ucap Asyafa tersenyum, lalu memejamkan matanya.
Akhirnya Rayhanpun tersenyum dan memejamkan matanya, sesudah balas menghujani istrinya dengan ciuman hangat.
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........