TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Calon Suami


__ADS_3

"What.. apa maksudnya Pak Dosen?" Tanya Asyafa tidak mengerti.


"Iya... nanti orang tua saya mau kerumah kamu, untuk melanjutkan perjodohan kita." Ucapnya santai, mulai melajukan mobilnya tetap fokus ke arah jalan.


"Pak! Eem... kenapa Bapak bisa tahu, nama saya dan nama Ayah saya sebelumnya?" Tanya Asyafa heran.


"Ya, sebelumnya Ayah saya yang memberi tahu." Ujar Rayhan, seraya melirik sekilas dan tetap fokus ke arah jalan.


"Kenapa bisa, Bapak mengenali wajah saya?" Tanya Asyafa penasaran.


"Kamu ini benar-benar ya, jaman sekarang kan sudah canggih. Lewat foto Nona, kamu itu bodoh sekali." Ledek Dosen Rayhan terkekeh.


"Biasa saja kali Pak! Engga usah pake ngatain gitu ngomongnya." Ujar Asyafa, menekuk wajahnya kesal.


Sepanjang perjalanan gadis itu terdiam, tidak ada pembicaraan hanya sesekali menunjukan arah, bila ada pertigaan jalan atau perempatan jalan.


"Cukup pak, stop sampai sini saja!." Pinta Asyafa.


"Kenapa turun disini? Emang ini rumahnya? Tanya Dosen Rayhan penuh selidik.


"Ya, Pak!! Emang kenapa Pak? Sepertinya Bapak tidak percaya?" Tanya Asyafa, seraya mengerutkan dahinya.


"Ini memang rumah saya, Bapak mau mampir tidak?" Tanya Asyafa, seraya bersiap turun dari mobil Rayhan.


"Tidak sekarang, nanti saja bersama orang tua saya." Jawab Rayhan santai, seraya meminggirkan mobilnya kepinggir bahu jalan.


"Oooh... ya sudah, terima kasih ya Pak tebengannya. By..." Ucap Asyafa, seraya membuka pintu mobil, lalu dia menutupnya kembali.


"Ya.." Jawabnya singkat. Dosen itu pun segera melajukan mobilnya.


Gadis itu berjalan santai meninggalkan tempat dia turun, memang tempat itu bukanlah rumahnya, butuh waktu 5 menit akhirnya dia sampai juga ke rumah aslinya.


Ting.. tong.. ting... tong... ! Bell pager dipencet, kemudian Asyafa memanggil Pak Satpam untuk membukakan pintu. Pak Kodir pun langsung memencet pagar otomatis terbuka.


"Ya, sebentar Non! Eeeh.. Non, kenapa pulangnya sendiri? Mana Pak Supir Dadang dan mobilnya Non?" Tanya Pak Kodir Satpam rumahnya yang selalu berjaga di poss.


"Ga tahu Pak! Dari sore tadi saya telepon, engga diangkat-angkat." Jawab Asyafa, seraya berjalan meninggalkan Pak Satpam.


"Kemana atuh, Pak Supir teh? Kasihan si Nona Asyafa sampai pulang sendirian." Pak Kodir bermonolog.


"Assalamu'alaikum..."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam... Non." Sahut Mbo Ijah, pembantu keluarga Tuan Bernad, sedari Asyafa kecil.


"Eeh.. Mbo Ijah! Ibu sama Ayah dimana Mbo? Gadis itu bertanya, seraya memberikan tas selempangnya ketangan Mbo Ijah.


"Sepertinya, diruang makan Non! Sedari tadi nungguin nona engga pulang-pulang. Padahal Pak Dadang sudah jemput dari tadi sore Non." Jawab Mbo Ijah.


"Haah.. ! Pak Supir engga jemput, saya tadi pulang sama teman Mbo." Ujar Asyafa menjelaskan.


"Lah, kemana Pak Supir perginya kalau begitu non?" Tanya Mbo Ijah bingung.


"Coba hubungin lagi Mbo, Pak Supirnya. Saya ke Ibu sama Ayah dulu." Pinta Asyafa, seraya berjalan cepat keruang makan.


"Ayah, Ibu.. aku pulang." Salim mencium takzim punggung tangan keduanya, seraya cium pipi kiri dan kanan, kemudian menarik bangku duduk di sebelah Ibunya.


"Sayang, kenapa jam segini baru pulang?" tanya Ibunya, seraya menyentuh tangan anaknya.


"Iya Bu! Aku pulang telat.. ! Tadi kata Mbo Ijah, Pak Supir jemput aku, tapi aku pulang bareng teman. Habisnya aku telepon dua kali, Pak Supir engga angkat-angkat teleponnya. Aku menunggu hampir satu jam di kampus." Ujar Asyafa menjelaskan.


"Kemana itu Pak Supir Dadang? Ayah coba cari tahu." Terlihat muka panik Ibunya.


"Iya, sayang.. !" Baru mau menghubungi, Mbo Ijah datang tergesah-gesah.


"Ada apa Mbo? Kenapa mukanya panik banget?" Asyafa menghampiri Mbo Ijah.


" Haa.. " semuanya terkejut, mendapati Pak Supir kecelakaan.


"Lalu sekarang Pak Supir, dirawat dirumah sakit mana Mbo? Kondisinya bagaimana?" Tanya Asyafa meminta penjelasan.


"Dirumah sakit 'Assalam Ibu dan Anak' kata suster Non, dan pak supir hanya pingsan saja. Sekarang sudah siuman, masih dirawat diruang UGD, gitu Non katanya." Mbo Ijah menerangkan.


"Ya sudah, kita bergegas kerumah sakit sekarang !" Perintah Ayah Bernad.


"Ayah sama Ibu saja yang kesana, aku sudah lelah. Sedari tadi belum mandi, maaf yah Bu, Ayah!" Tolak Asyafa.


"Ya sudah, kamu istirahat saja Nak'! jangan lupa, sehabis mandi kamu makan, jangan langsung tidur!" Perintah Ibunya.


"Siap Ibuku, yang cantik!." Ucap Asyafa seraya memeluk dan mencium ibunya.


"Hati-hati di jalan Ibu dan Ayah." Doa Asyafa.


"Baiklah, kami berangkat dulu ya Nak." Ucap Ibu seraya berjalan keluar rumah.

__ADS_1


Setelah orang tuanya pergi, Asyafa bergegas mandi, ingin cepat-cepat dia merilekskan tubuhnya di battup, dengan air hangat dan diberi sedikit sabun cair, agar tubuhnya kembali fress, dia merendam tubuhnya 30 menit selesai, dan tak lupa menggosok giginya.


"Sekarang, aku sudah segar dan wangi. Heum..." Bathinya berucap seraya mencium wangi tubuhnya sendiri, memakai baju tidur dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.


"Aku lapar sekali, sudah jam berapa ini? coba aku lihat." gumamnya, seraya meraih HP nya, memekik bunyi dering telpon, tertera tulisan calon suami dilayar ponselnya. Seketika dahinya mengerut.


"Siapa ini, yang menyimpan nomor kontak, dengan tulisan seperti itu?" Seketika, ingatannya kembali pada saat tadi siang, sewaktu Dosen Rayhan, meminta no HP nya.


"Waaah.. nomor pak Dosen Rayhan!." Mau apa dia hah.. ?" Tanya Asyafa bergumam malas mengangkat, meski akhirnya diangkat juga.


"Hallo.. !"


"Hei... !" Memekik telinga.


"Kenapa lama banget kamu angkat telponnya, ngapain saja?" Omel Rayhan ngegas.


"Biasa saja kali Pak!" Aku engga budeg, engga usah teriak-teriak di telpon, sakit kuping orang!" Ucap gadis itu, tidak kalah ngegas.


"Ya.. kamu lagi ngapain Nona? Sudah mandi belum? Sudah makan belum? Apa mau tidur?" Tanya Dosen itu perduli.


"Apa urusannya sama Bapak? Mau mandi ke', mau makan ke', mau tidur ke', penting banget saya lapor sama Bapak gitu!. Aiish.... " Jawab Asyafa ketus.


"Pentinglah.. ! Kamu bakal jadi calon istri saya" Ujar Rayhan menggoda.


Asyafa terdiam, tidak ada jawaban.


"Hallo.. kenapa diam saja Nona? Kamu masih tidak percaya, apa yang barusan saya katakan?" Tanya Rayhan Jahil.


"Bapak serius, mau menerima perjodohan orang tua kita?" Tanya Asyafa belum yakin.


"Heei.. Nona, kenapa kamu? Pelan sekali suaramu, nyaris saya tidak mendengar apa yang kamu katakan." Ujar Rayhan dusta.


"Heeem... " Asyafa bergumam pelan.


"Tuuuuuuut... !" Asyafa mematikan sambungan telponnya.


"Whaaat.. ! gadis bodoh itu, seenaknya saja mematikan telponnya." Umpat Rayhan kesal.


"Awas kamu yah Asyafa Dorman! Akan saya hukum kamu besok, tunggu saja!" Seru Rayhan tersenyum iblis.


Happy Reading

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


__ADS_2