
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Alya ingin mengatakan sejujurnya, alasan apa hingga dia memutuskan untuk menerima perjodohan ini. Namun dia tidak sampai hati mengatakannya, jika ini hanya pelariannya saja. Cintanya masih teramat besar kepada Andi Permana, sampai begitu sulit untuk melupakannya.
Sampai detik ini, perasaannya kepada Andi tidak berkurang sedikitpun masih bertahta direlung hatinya yang paling dalam. Namun dia tidak bisa egois, kebahagiaan kedua orang tuanya teramat penting diatas segalanya.
Saat Alya mengambil keputusan untuk menerima perjodohan ini, kenapa dari sekian banyak laki-laki di dunia ini, harus Damar Prayoga yang menjadi calon suaminya. Pikir Alya, mengapa dunia begitu kejam kepadanya, disaat cintanya terhenti sebelum dimulai, lalu mendapatkan jodoh yang begitu dia benci.
Alya memang benci kepada Damar, yang telah menyakiti sahabatnya Asyafa dan Rayhan. Apalagi dia sudah mengenal sifat pria itu, yang terkenal Arogant dan Playboy sedari dulu. Saat itu Alya sangat mengenal sifat Damar, saat dia duduk dibangku SMA. Teman sekelasnya yang bernama Rina, pernah dipacari oleh Damar, setelah puas dia pacari, dengan mudahnya dia berpaling ke gadis lain lalu memutuskannya begitu saja.
Mungkin bagi Damar, dia tidak pernah mengenal gadis yang bernama Alya Mentari saat SMA, jangankan mengenalnya, melirikpun saja tidak pernah. Damar hanya mengenal gadis-gadis cantik yang berkelas, dan selevel dengannya.
Sebenarnya Alya sangat cantik saat SMA, bahkan orang tuanyapun cukup berada, buktinya Alya tahu benar Papa Hendra merupakan teman baik Papanya Damar sampai detik ini. Namun dia selalu menutup diri dari yang namanya laki-laki, apalagi laki-laki playboy seperti Damar.
Alya selalu tampil sederhana, bahkan tidak banyak yang tahu jika dirinya anak orang berada. Bahkan semasa kuliahpun tidak banyak yang tahu, hanya Asyafa dan beberapa teman satu geng PALAGRI saja yang mengenal dekat Alya dan pernah datang kerumahnya.
Maka tidak heran selama ini, jika Asyafa sahabatnya itu, sampai tidak tahu jika Alya menyukai Andi sekian lamanya. 4 tahun bukan waktu yang sebentar memendam rasa suka dan cinta, begitu sakit dan susah bila harus melupakannya dalam sekejap.
Sebenarnya Alya gadis yang mudah akrab dengan siapa saja, tidak memandang status latar belakang seseorang. Buktinya dia mau mengikuti kegiatan Eksrakurikuler yang menantang, seperti contohnya dia mengikuti PALAGRI yang artinya Pecinta Alam Negri di Universitasnya. Sering sekali dia mengikuti kemah dan panjat tebing, apalagi naik gunung bersama teman gengnya termasuk Asyafa dan Andi saat itu.
"Alya.. hallo.. Alya.. !" Panggil Damar, disaat Alya melamun, seraya melambaikan tangan di depan wajah Alya.
"Eeeh.. iya." Hanya itu yang keluar dari mulut Alya.
"Loe kenapa Al? Gue tanya, loe malah bengong? Loe engga nyimak pertanyaan gue yah?" Tanya Damar jengkel, pasalnya sedari tadi dia menunggu jawaban apa yang keluar dari mulutnya, eeh ternyata malah bengong anaknya.
"E.. engga, i.. itu, g.. gue engga tahu." Sahut Alya gugup. Ingin rasanya waktu berjalan cepat, agar Damar dan keluarganya lekas pulang, pikirnya.
"Apa maksud loe sih Al, gue engga ngerti ucapan loe." Ujar Damar kesal.
__ADS_1
Alya mulai tersadar dari lamunannya, sesaat tadi Damar memanggilnya.
"Maaf Damar, tadi gue lagi gagal fokus." Sahut Alya datar.
"Ooh.. loe lagi banyak pikiran, bukan?" Tanya Damar ingin mencoba lebih akrab.
"Eeemmm..." Alya hanya bergumam pelan.
Damar berpikir sejenak, sepertinya Alya tidak menyukainya, karena Alya sahabat Asyafa yang kemungkinan besar kecilnya tahu siapa dirinya. Namun dia tetap berusaha menjadi orang yang lebih baik, dibandingkan kemarin-kemarin dirinya yang breng **sek dan Arogant.
Damar memang akui dirinya breng **sek waktu dulu, mudah jatuh cinta dan mudah juga patah hati. Mungkin itu balasan untuknya, saat dirinya beranjak remaja, seringkali dia menjadikan gadis-gadis sebagai mainannya saja. Jika dia suka, dia akan memacarinya, namun setelah bosan dia akan meninggalkannya, dan memutuskannya sepihak.
Lain hal dengan sekarang, Damar akan mencoba belajar mencintai untuk satu wanita, dan setia untuk satu wanita pula. Dia sudah pernah merasakan bagaimana rasanya menyakiti ataupun disakiti, sakit hati, putus cinta, cinta bertepuk sebelah tangan dan diduakan, oleh semua barisan para mantan.
Damar menatap sendu wajah Alya. "Loe engga serius, dengan perjodohan orang tua kita Al?" Selorohnya menepis keraguan.
"Eeehh... kenapa loe, bertanya seperti itu?" Alya bertanya balik.
"Iya sih akhir-akhir ini gue lagi banyak pikiran dan masalah." Sahut Alya beralasan.
"Oohh.. jadi benar tebakan gue..! Ya sudah kalau begitu untuk sekarang ini gue engga mau ganggu loe. Biarkan loe selesaikan masalah loe dulu, tapi kalau loe butuh bantuan gue, jangan segan-segan untuk memintanya." Ujar Damar tulus.
"Iya.. terima kasih." Sahut Alya singkat.
"Sebaiknya loe simpan kartu nama gue, disitu lengkap alamat dan nomor ponsel gue." Pinta Damar, seraya memberikan kartu nama ke tangan Alya.
"Eeehh.. untuk apa?" Tanya Alya heran, seraya menatap kartu nama yang ada ditangannya.
"Untuk jaga-jaga, siapa tahu saja loe kangen sama gue, atau butuh bantuan gue, he.. he.. he.." Sahut Damar terkekeh.
__ADS_1
"Iiishh.." Alya hanya berdecak sebal.
"Loe mau disitu terus, gue mau balik dulu, sudah malam juga. Cukup sampai sini dulu saja masa perkenalan kita, kalau gue main kesini lagi masih boleh 'kan?" Tanya Damar, seraya berjalan ke ruang keluarga untuk menemui orang tua dan Kakaknya. Sedang Alya mengekor di belakang Damar.
"Ooh iya Al, berapa nomor ponsel loe?" Tanya Damar seraya menjulurkan ponselnya ke tangan Alya. Sontak saja Alya langsung meraih ponsel Damar, dan memasukkan nomor ponselnya disana. Kemudian Ponsel itu diberikan kepada Damar dengan wajah masam.
"Kenapa dengan wajah loe? Sepertinya loe engga terima, gue minta nomor ponsel loe?" Tanya Damar heran dengan tampang wajah Alya yang masam, dan tidak bersahabat.
"BTW loe engga usah jawab, gue cukup paham dengan apa yang sedang loe pikirkan." Ujar Damar pengertian.
Akhirnya mereka kembali ke ruangan keluarganya Alya, cukup lama mereka berbincang-bincang, hingga tidak terasa waktu hampir tengah malam.
"Kalian sudah kembali, bagaimana masa perkenalannya?" Tanya Mama Mentari penasaran, yang dianggukkan oleh semua orang disana.
"Cukup berkesan Mama Mentari, sepertinya ini akan berlanjut. Mama Mentari jangan bosan, bila nanti Damar sering-sering datang kesini. He.. he.. he.." Sahut Damar terkekeh.
Sontak saja semua yang mendengar jawaban Damar seketika tertawa riang.
"Ha.. ha.. ha.."
Kedua keluarga itupun saling bersalaman untuk berpisah, saatnya keluarga Ardi Prayoga meninggalkan kediaman Hendra Baskara.
*******
"Alya Mentari." Ucap Damar tanpa sadar saat dia terbangun dalam tidurnya.
"Apa? Aku memimpikan gadis itu? Apa aku mulai menyukainya?" Bathin Damar bertanya, seraya tersenyum, teringat wajah cantik gadis itu.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih......