
Asyafa terharu, mendapatkan surperise dari Rayhan dan orang tuanya. Bola matanya membulat sempurna, serta berkaca - kaca melihat mereka berkumpul di tempat Balkon rumahnya. Mereka menyambutnya dengan Party popper, (alat yang berisi potongan kertas kecil) yang berterbangan diatas kepala dan wajah Asyafa.
"Selamat sayang! Atas kelulusan kamu." Ucap Ibu dan Ayah, seraya memeluk anaknya bergantian.
"Terima kasih, Ibu dan Ayah." Ucap Asyafa, seraya mengurai pelukan mereka.
Mereka sudah menyiapkan dinner romantis untuk Asyafa, dengan di penuhi lilin - lilin berbentuk hati. Rayhan mengucapkan selamat lagi untuk kedua kalinya, lalu dia setengah berlutut mengecup jemari tangan kanan Asyafa lembut, seraya berucap.
"Will you marry me?"
Asyafa tertegun sejenak, lalu dia tersenyum bahagia terpancar dari air mukanya. Meski hatinya galau akut, seakan belum percaya pernikahan dirinya sudah di depan mata. Namun dia tepis kegalauannya, seraya berucap.
"Yes.. I want too."
Melihat begitu romantisnya Rayhan memperlakukan Asyafa, sontak saja hati Ibu Nurlaila tersentuh. Dia tertegun sejenak, matanya mulai berkaca - kaca menahan tangis bahagia. Terukir senyuman melengkung di bibirnya, Ayahpun sepertinya merasakan perihal yang sama.
Rayhan berdiri kembali seraya membetulkan celana panjangnya, lalu dia menggenggam tangan Asyafa erat.
"Terima kasih sayang." Ucap Rayhan seraya mengecup kedua tangan Asyafa bergantian, lalu memeluknya erat dan mencium keningnya lembut.
Kemudian dia menggiring Asyafa ke meja makan, tangan Rayhan seakan enggan untuk melepaskan jemari tangan Asyafa. Merekapun makan malam bersama Ayah dan Ibu dalam satu meja romantis. Suasana malam terasa hangat dan bahagia menyelimuti mereka saat ini.
Rayhan ingin mengutarakan isi hatinya, yang dia rasakan sekarang ini. Lalu dia menatap syahdu kedua orang tua Asyafa, berharap untuk bisa memenuhi keinginan seonggok daging yang bersarang di dalam dadanya. Rayhan sudah tidak bisa menahan lagi gejolak asmara yang sedang menggebu - gebu, ketika hatinya sedang merasakan membuncah tingkat langit ketujuh. Istilah zaman sekarang disebut dengan bucin, seraya dia berkata.
"Ayah dan Ibu... bolehkah bulan depan saya sudah bisa menikahi Asyafa?" Tanya Rayhan dengan tatapan memohon.
Ayah dan Ibu saling menoleh, dan kemudian mereka saling mengangguk seraya berucap.
"Terserah kalian saja, Ayah dan Ibu selalu mendukung yang terbaik. Dan menerima keputusan kalian berdua dengan senang hati."
__ADS_1
Rayhan tersenyum bahagia, lalu dia mengucapkan terima kasih banyak atas jawaban yang di berikan kedua orang tua Asyafa. Kemudian Rayhan menghadap calon istrinya yang berada duduk disampingnya, mengeratkan genggaman tangannya kembali. Hati Rayhan berdegup kencang, rasa hangat menyelimuti tubuhnya seraya berucap.
"Bulan depan kita menikah, Apakah kamu sudah siap menjalani bahtera rumah tangga dan menjadi ibu dari anak - anakku sayang?" Tanya Rayhan dengan penuh pengharapan.
Asyafa tidak bisa membohongi perasaannya, hatinya tersentuh dengan sikapnya yang begitu manis. Terlebih hari ini adalah momen bahagia merayakan kelulusannya, lalu diapun mengangguk kecil seraya berucap.
"Iya sayang, aku sudah siap." Tersenyum lebar terukir dari lengkungan bibirnya.
Rayhan langsung memeluknya kembali dan mengucapkan Alhamdulillah rasa syukur dia panjatkan. "Terima kasih sayang, I Love you." berbisik merdu ditelinga Asyafa.
Melihat kedua sepasang kekasih yang sedang berbahagia, ayah dan ibupun turut merasakan kebahagian mereka. Dengan mengucap syukur dan berdoa untuk kebahagiaan anak dan calon menantunya.
Akhirnya merekapun menikmati makan malam romantis, menyantap makanan yang di hidangkan khusus untuk anak kesayangannya. Seakan tidak ingin melupakan momen ini, Asyafapun mengambil foto bersama di atas balkon rumahnya menggunakan ponselnya.
Malam semakin larut, rasa dingin sudah menyambangi. Merekapun sudah menyelesaikan acara dinner romantisnya. Rayhan berpamitan terlebih dahulu, dengan calon mertuanya kemudian dengan calon istrinya. Lalu dia meninggalkan kediaman keluarga Asyafa dengan senang dan bahagia.
*******
"Sia*... bangs"" kau Rayhan." Maki Damar mengumpat rivalnya.
Selama satu bulan ini, semenjak terjadi insiden malam itu. Yang menyebabkan Damar harus di operasi dan dirawat di rumah sakit, dia mulai mengerahkan anak buahnya untuk mengikuti kegiatan Asyafa.
Semua yang dilakukan diluar rumah bahkan di depan rumah gadis itu, tidak luput dari pantauan anak buahnya. Damar selalu menerima kabar dari anak buahnya lewat pesan bahkan telepon selulernya. Jadi setiap kegiatannya selalu di laporkan, bahkan malam ini dia sangat kesal setelah tahu Rayhan rivalnya habis merayakan kelulusan gadisnya itu.
Otak liciknya Damar, mulai berpikir untuk memisahkan mereka yang sepertinya semakin sulit di pisahkan. Dua minggu yang lalu...!
Flash back.
Hampir dua minggu Damar bekerja dari rumah dan kuliah secara online, selepas pulang dari rawat inap di Rumah Sakit. Dia menghabiskan waktu untuk kesembuhan lukanya agar cepat kering dan bisa beraktifitas seperti semula. Hanya pelayan rumahnya yang mengurusi semua kebutuhannya, sesekali Siska datang menemuinya dan menginap jika dia mau.
__ADS_1
Papa Ardi dan Mama Ningsih sudah pulang dari Turki. Mereka hanya menanyakan keadaannya seakan bersikap khawatir, namun Damar tidak begitu menanggapi pertanyaan orang tuanya yang sok perhatian menurutnya. Dia hanya tersenyum masam, dan bersikap masa bodoh. Seperti hari - hari sebelumnya.
Damar teringat telah mengundang keluarga Tuan Bernad Dorman, lalu dia meminta Mama dan Papanya untuk mengadakan pertemuan dengan mereka di Mensionnya. Mereka menanyakan alasan apa untuk mengundang Koleganya itu, Lantas Damar menjawab untuk membalas kebaikan mereka yang telah menjaganya selama di rawat di Rumah Sakit. Meski ada maksud di balik dia mengundang keluarga Tuan Bernad, yaitu untuk mengambil hati orang tuanya dan ingin berjumpa dengan gadis itu lagi.
Akhirnya Damarpun bisa meyakinkan kedua orang tuanya, Papa Ardipun langsung menghubungi Kolega bisnisnya tersebut. Tuan Bernad dan Nyonya Jovanka sangat senang, untuk menerima undangan makan malam bersama Koleganya tersebut.
Malam itu, Tuan Bernad beserta Istrinya Nyonya Jovanka memenuhi undangan Koleganya, yaitu Tuan Ardi dan Nyonya Ningsih ke Mensionnya. Mereka berangkat bersama Asisten Martin dan supir pribadinya, namun Asyafa tidak bisa datang karena sedang sibuk Ujian Akhir dan tugas Skripsinya.
Saat tiba di Mension, mobil keluarga Tuan Bernad langsung di sambut hangat oleh orang - orang yang bekerja di Mension Tuan Ardi Prayoga. Mereka di persilahkan untuk memasuki ruang Mension yang begitu megah dan mewah juga berkelas.
Setelah memasuki ruangan, Ibu Nurlaila nampak sedikit takjub dengan segala isi perlengkapan dalam Mension tersebut, "Sungguh - sungguh berkelas dan elegan." Bathinnya. Para pelayan memberikan hormat kepada mereka, lalu menggiring mereka ke ruang tamu untuk mempersilahkan duduk.
Pelayan itu kemudian meninggalkan mereka di ruang tamu, seraya berucap. "Tunggu sebentar Tuan Dan Nyonya disini, saya segera panggilkan Tuan Ardi dan Nyonya Ningsih! trimakasih." Mereka hanya mengangguk kecil dengan tersenyum.
Tuan Ardi dan Nyonya Ningsih nampak elegant dengan stelan mereka, sungguh pasangan ideal dan harmonis. Pakaian yang berkelas berbahan sutra, sangat halus dan cantik dibalut dengan jahitan yang tertata apik.
Mereka saling memberi salam, dan berbincang - bincang santai. Damarpun menghampiri mereka seraya berkata, "Apa kabar om, tante? Mengapa Asyafa tidak datang?" Tanya Damar sedikit kecewa.
"Alhamdullilah, kami sehat Nak Damar! Asyafa sedang sibuk ujian akhir dan skripsi yang cukup menyita waktunya." Jawab Tante Jovanka menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Melihat anaknya Damar begitu antusias membicarakan seorang gadis, lalu Tuan Ardipun penasaran siapa yang sedang dibicarakannya itu.
"Damar! Kalau boleh Papa tahu, siapa itu Asyafa?" Tanya Papa Ardi seraya menyeringai.
Damar tersenyum kecut seraya berkata, "Asyafa anak Om Bernad dan Tante Jovanka pah."
"Ooh.. sepertinya kamu menyukainya Nak?"
Happy Reading
__ADS_1
--BERSAMBUNG--