TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Demam


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Dikediaman keluarga Bari Darma, Wina baru saja pulang kuliah dan beristirahat dikamarnya.


Saat dia ingin memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya memekik nyaring ditelinganya.


"Kriiingg... kriiiingg..."


Diliriknya ponsel itu dengan malas.


"Siapa sih, ganggu istirahatku saja?" Omel Wina, dengan bibir tipisnya seraya mengerucut.


"Hah...? Malas banget gue, berurusan dengan cowok rese kayak gitu." Ucap Wina, kemudian dia menaruh ponselnya lagi diatas nakas, tanpa menjawab atau mematikan tombol salurannya. Hingga akhirnya bunyi telponpun berhenti dengan sendirinya.


Setelah beberapa menit kemudian, bunyi ponselnya kembali memekik kencang. Dengan kasar, Wina langsung meraih ponsel itu dan menjawabnya.


"Heeii.. ngapain sih loe, dari tadi nelponin gue? Ganggu tahu..!" Omel Wina seraya berteriak.


"Kenapa kamu Wina, ko marah-marah, ini Om Yoga yang sedang telpon.?"


"Eeeh.. Om Yoga? Kirain, temen aku yang nyebelin Om. Maaf yah Om, Wina engga tahu."


"Makanya, kalau angkat telpon itu dilihat dulu, siapa yang nelpon. Jangan langsung marah-marah, he.. he.. he.."


"Iya Om Yoga, tadi karena Wina kesal dengan suara telpon yang menurut Wina sangat mengganggu, akhirnya Winapun mengangkat juga telpon tersebut, tanpa melihat lagi siapa yang menelepon, karena Wina pikir orangnya sama dengan yang menelpon tadi."


"Memangnya siapa, yang suka nelponin Wina?"


"Kakak kelas Wina Om, semasa Wina masih perkenalan Mahasiswa baru, dia yang melatih Wina dan Mahasiswa yang lain. Dia itu orangnya sok akrab, sok kenal, sok tahu dan sok pintar. Pokoknya nyebelin banget deh Om, engga seperti Om Yoga."


"Kakak kelas Wina itu laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki Om, emangnya kenapa, Om?"


"Mungkin dia suka sama kamu, Wina?"


"Aiish.. males banget, amit-amit engga mau aku sih kalau sama dia."


"Kenapa?"


"Karena aku sudah suka sama seseorang, Om!"


"Berarti sudah engga ada harapan dong, buat Kakak kelas kamu."


"Iya dong, Om."


"Kasihan banget, Kakak kelas kamu."


"Heemm.."

__ADS_1


["Andai saja Asisten Yoga tahu, jika seseorang itu adalah Om Yoga, bagaimana reaksi Om Yoga, jika tahu perasaan Wina yang sebenarnya." Ucap Wina dalam hatinya.]


"Wina.. tolong bilangin sama Tuan Bari dan Nyonya Hilda, 2 hari ini saya tidak bisa masuk kerja. Ini saja saya baru bisa telpon, dari tadi telpon Papa dan Mama kamu tidak ada jawaban, dan pesan sayapun tidak ada balasan. Makanya Om telpon kamu sekarang, untuk memberi kabar."


"Iya Om, nanti aku bilangin sama Papa dan Mama. Kalau boleh Wina tahu, memangnya kenapa Om Yoga, engga bisa masuk kerja?"


"Om Yoga sakit demam, dan kepala Om pusing sekalih."


"Sekarang Om sedang dimana? Di Apartement, atau di Rumah Sakit?"


"Di Apartement, memangnya kenapa Wina?"


"Iya sudah, tunggu yah Om."


"Tuut.." Wina langsung menutup, saluran telponnya sepihak.


Di Apartement, Asisten Yoga menatap ponselnya, yang semakin meredup. Dia merasa aneh dengan anak Boss besarnya, yang tiba-tiba saja mematikan saluran telponnya, setelah menanyakan dirinya dimana berada dan meminta menunggunya.


"Apa maksudnya, dengan ucapan anak kecil itu? Kenapa dia meminta saya untuk menunggunya? Kepalaku semakin pusing memikirkannya." Hati Yoga terus bermonolog.


Setelah satu jam kemudian, Wina sudah sampai di depan Apartement Asisten Yoga. Dia terus menekan bell pintu Apartementnya, namun tidak kunjung dibukakan pintunya.


Lalu Wina langsung menghubunginya lewat ponselnya, dan saluran telponnyapun langsung diangkat oleh Asisten Yoga.


"Hallo Wina, kenapa tadi teponnya di.." Ucapan Yoga langsung dipotong oleh Wina.


"Maaf, tadi Om ketiduran. Kamu tekan kode pintunya saja."


"Ooh.. ya sudah, sebutkan berapa nomornya, Om."


"3234***"


"3234***" Wina ikut menyebutkan nomornya, seraya menekan tombol pintu Apartementnya.


"Cliiick.."


"Ok.. terbuka, aku tutup yah Om telponnya."


"Tuuut.." Winapun langsung mematikan saluran telponnya.


Wina langsung masuk kedalam Apartement Asiten Yoga, dia sudah pernah berkunjung sebelumnya dulu saat masih di bangku SMP kelas 1, bersama Papa Bari dan Mama Hilda. Namun itu sudah sangat lama, saat itu Asisten Yoga baru mulai bekerja menjadi Asisten Pribadi Tuan Bari.


Pertama memasuki Apartement Asisten Yoga, Wina nampak terhipnotis dengan photo berukuran besar yang dibingkai dengan indah, wajah Asisten Yoga yang tampan dan tubuh yang atletis, sedang berdiri sendiri, tersenyum kearah menyamping, memandangi sebuah gunung Merapi yang indah.


"Kamu tampan sekalih, Om." Gumam Wina pelan.


Setelah mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan, ternyata Wina tidak menemukan Asisten Yoga. Lalu, diapun langsung mengarah kepintu kamar Asisten Yoga dilantai dua.


"Tok.. tok.." Pintu kamar diketuk.

__ADS_1


"Masuk saja Wina, tidak dikunci."


"Cliik.." Pintu kamar terbuka.


"Om Yoga.. Om pucat sekalih." Ucap Wina shock saat melihat Yoga yang terlihat sangat pucat, dan lemah. Sedangkan Asisten Yoga, hanya mengulum senyum.


"Kening Om juga, panas sekalih." Ucap Wina panik, saat tangannya menyentuh kening Yoga dengan hati-hati.


"Heeemm." Asisten Yoga hanya bergumam pelan, namun Wina masih mendengar gumamannya.


"Om, sudah minum obat paracetamol belum?" Tanya Wina perhatian, seraya menurunkan tas gendongnya diatas nakas.


"Belum." Sahut Asisten Yoga singkat, lalu memperhatikan Wina yang sedang membuka tasnya, yang berisi banyak makanan dan obat-obatan.


"Om Yoga, minum obat paracetamol yah, dan sebentar Wina ambilkan air minumnya dulu." Ucap Wina perhatian, seraya mengambil air minum dari galon dispenser. Kemudian memberikan obat, dan satu gelas air minum tersebut ketangan Asisten Yoga.


"Iya Wina, terima kasih." Ucap Asisten Yoga tersenyum hangat.


"Senyummu, membuatku jatuh cinta Om Yoga." Bathin Wina berucap.


"Om Yoga, sudah makan atau belum?" Tanya Wina perhatian.


"Belum." Ucap Asisten Yoga singkat.


"Ya sudah, makan sekarang yah Om Yoga, nanti Wina suapin."


"Tapi, barusan habis minum obat."


"Itu obat penurun demam saja, engga apa-apa minum sebelum makan. Nanti minum obat lagi 4 jam kemudian, kalau Om Yoga masih demam." Jelas Wina dengan lembut, seraya menyiapkan makanan yang Wina bawa dari rumahnya.


Wina membuka satu persatu tutup wadah yang berisi makanan, yaitu satu wadah nasi putih, satu wadah sayur sop, dan satu wadah ayam semur kecap.


Asisten Yoga memperhatikan jari jemari Wina, yang sedang menyiapkan makanan untuknya. Tanpa dia sadari, senyumnya terukir indah dari sudut bibirnya untuk Wina.


"Om yoga, kenapa senyum-senyum?" Tanya Wina, seraya menjentikkan jari tangannya didepan wajah Asisten Yoga.


Sontak saja Asisten Yoga terkejut, saat Wina mengagetkan dirinya yang sedang melamun.


"I.. iya." Sahut Asisten Yoga gugup.


"Om Yoga, melamun yah?" Tanya Wina perhatian, seraya menatap intens wajahnya.


"Ee.. engga, Wina." Ucap Asisten Yoga semakin gugup.


"Deg.. kenapa dengan jantungku? Masa iya ditatap oleh bocah kecil ini saja, jantungku berdebar tidak karuan." Bathin Yoga bermonolog.


-BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2