TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Mantan Pacar


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Damar mengerutkan keningnya, saat mantan pacarnya itu terkejut, mendengar dirinyalah yang menjadi klien bisnis Papanya. Hampir-hampir Naura salah tingkah dibuatnya.


"Haah..? Hanya itu yang kamu bisa katakan? Mana berkas kerja samanya? Saya mau lihat." Tanya Damar, dengan nada tidak bersahabat, seraya berjalan kearah kursi depan Naura duduk, kemudian Damarpun duduk bersebrangan, lalu menyilangkan kedua tangannya didada.


Naura langsung bergeming, saat Damar berbicara dengan nada angkuh dan dinginnya.


"Hei..? Kamu tuli yah? Mana berkasnya?" Tanya Damar dengan lebih keras, dan ketus.


"Eeehh.. i.. iya ini berkasnya." Sahut Naura gugup, saking kerasnya Damar berteriak didepannya. Naurapun langsung menaruh berkas itu, diatas mejanya Damar.


Damar langsung meraih berkas itu, lalu membuka dan membacanya lembar demi lembaran, membolak-balikan berkas tersebut berulang-ulang tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Naura masih shock saja dengan dirinya, yang sekarang masih berada di depan Damar. Jika Naura tahu, kalau Perusahaan yang bekerjasama dengan Papanya itu adalah orang tua Damar mantan pacarnya, sudah dipastikan dia akan menolak keras untuk menggantikan tugas Papanya itu.


Salah Naura juga yang tidak memeriksa terlebih dahulu dengan siapa dia akan bertemu, dia langsung menerima saja tugas dari Papanya itu. Pasalnya Naura baru saja bergabung bekerja di kantor Papanya, dan memulai karirnya disana, karena dia baru saja lulus kuliahnya.


Papa Naura meminta anaknya itu untuk bekerja dikantornya, sambil meneruskan S2nya. Jadi Naura bisa bekerja paruh waktu saja setelah pulang kuliahnya nanti.


Setelah selesai meneliti berkas tersebut, dan menaruh dimejanya, Damar hanya tersenyum kecut kepada Naura, lalu berdiri menghadap jendela ruangannya. "Tolong jelaskan, kenapa harga tanah yang ditawarkan sangat mahal sekali? Memangnya tidak bisa lebih murah dari harga itu?" Tanya Damar, tanpa memandang Naura sedikitpun. karena Damar masih tetap memunggunginya menghadap jendela, memandangi pemandangan didepannya.


"Eeemmm.. i.. itu saya tidak tahu Tuan, s.. saya hanya menggantikan tugas Papa saya dan memberikannya kepada Tuan, jika masalah harga nanti bisa dibicarakan lagi kedepannya dengan Papa saya." Jawab Naura sedikit gugup dengan bibir bergetar.


"Kenapa? Kenapa kamu gugup seperti itu? Seperti bukan pacar yang saya kenal dulu? Eh.. maksud saya, mantan pacar." Tanya Damar heran dengan sikap mantan pacarnya itu, padahal selama dia menjadi pacarnya dulu, sangat berani dan supel.


Sontak saja Naura semakin nervouse, ketika Damar menanyakan perihal dirinya yang dulu dan yang saat ini.


"Y.. ya bedalah Tuan, dulu 'kan saya dekat dengan Tuan, t.. tapi kalau sekarang saya hanya kolega bisnis saja." Bantah Naura masih gugup seraya menundukkan kepalanya.


"Bagaimana kabar pacarmu sekarang? Ooh.. salah, tepatnya selingkuhanmu itu." Tanya Damar mengulik ingatannya masa itu, saat dia diduakan dan dicampakkan oleh Naura.


"B.. bukan urusan kamu.. maaf kalau sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas, saya permisi dulu. Jika ada complain mengenai isi dari berkas tersebut, nanti kamu bisa hubungi saya." Ujar Naura, lalu dia berdiri dan akan meninggalkan ruangan Damar.


"Stop!" Ucap Damar berteriak, sontak saja Naura menghentikan langkahnya.


Damar membalikkan badannya, lalu mengambil berkas dimejanya, dan berjalan kearah Naura lalu berucap. "Bawa saja berkasmu itu, saya tidak sudi untuk melanjutkan kerja sama dengan Perusahaan anda, jika harganya belum direvisi." Ucap Damar penuh dengan penekanan, lalu menyerahkan berkas itu ketangan Naura dengan tersenyum menyeringai.


"Aaiishh.. kamu engga boleh bertindak semau kamu dong, saya bisa kena marah sama Papa, kalau sampai berkas ini dibawa kembali." Omel Naura, dengan penuh kekesalan terhadap Damar. Lalu dia mengembalikan berkas itu ketangan Damar.

__ADS_1


"Yah itu sih urusan kamu, saya engga perduli." Ucap Damar, dengan sikap ketusnya.


"Dasar cowok batu!" Maki Naura seraya menarik kasar berkas yang ada ditangan Damar, lalu dia meninggalkan ruangan itu dengan wajah masam.


"Ha.. ha.. ha.. Ini baru Naura Ayunita, yang aku kenal." Gumam Damar tersenyum iblis.


Naura terus saja mengomel, sepanjang perjalanan menuju parkiran. Naura menjalankan mobilnya dengan perasaan gusar, dan kesal kepada Damar yang sudah menganggap remeh dirinya.


"Dasar pria batu.. batu... batu... ! Bisa-bisanya dia memutuskan kerjasama secara sepihak, apa dia ingin balas dendam dengan masa laluku? Saat itu juga aku terpaksa menghianatimu, dan mencampakkanmu, Damar Prayoga." Gumam Naura seraya memukul kesal kemudi stirnya.


*******


Sudah satu minggu ini, Alya pergi ke kampus selalu diantar supirnya. Mama Mentari sering sekali menanyakan calon menantunya, yang tidak pernah berkunjung sekalipun kerumahnya selama satu minggu ini. Alya hanya menjawab sesukanya, jika Damar sedang sibuk dengan pekerjaannya. Hanya alasan itu yang bisa Alya katakan, karena sejujurnya diapun tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi.


"Sayang, hari ini kamu libur, bukan? Damar pasti datang kesini, nanti Mama masakin makanan yang enak buat dia yah, sayang? Kamu bilang Damar, untuk makan malam dirumah kita." Tanya Mama Mentari antusias, untuk mengundang calon menantunya makan malam.


Mau tidak mau, Alya menuruti kemauan Mama Mentari, pasalnya dia tidak ingin membuat Mamanya itu mengetahui hubungannya dengan Damar sedang kurang baik, dan Alyapun tidak mengetahui sebab akibatnya Damar seperti itu kepadanya.


"Iya Mam, nanti Alya kabarin Damar. Tapi kalau dia engga bisa datang, jangan marah yah Mam." Sahut Alya dengan hati2 seraya tersenyum terpaksa.


"Okey.. tapi pasti bisa dong! Bukankah ini malam minggu? Damar pasti libur kerjanya, sayang." Ujar Mama Mentari yakin seraya meninggalkan Alya dikamarnya.


"Tuut.. tuut.." Sambungan telpon terhubung.


"Hallo Alya, ada apa? Baru sehari engga ketemu gue, sudah kangen saja."


"Gue sebenarnya mau minta solusi sama loe, Sya."


"Solusi? Maksud loe?"


"Iya gue lagi ada masalah sama Damar, sudah satu minggu ini gue putus komunikasi dengan dia. Gue juga engga tahu apa masalahnya? Tiba-tiba Damar hilang kabar, Sya."


"Haaah..? Satu minggu?"


"Iya.."


"Loe sudah hubungin dia?"


"Sudah, satu minggu yang lalu, tapi terakhir gue WA, engga di balas."

__ADS_1


"Coba loe telpon duluan dan tanya baik-baik sama dia."


"Aiish.. gue malu!"


"Kalau loe malu, mau sampai kapan hubungan loe sama dia kayak gini?"


"Iya sih.. tapi gimana caranya?"


"Aduh.. Alya.. Alya... loe tuh kayak baru pacaran saja!"


"Emang iya, gue 'kan engga pernah pacaran, Sya."


"He... he.. he.. iya gue lupa. Sorry Al..! Ya sudah coba dulu saran gue, kalau loe masih engga berhasil, nanti gue yang ngomong sama dia."


"Okey.. gue coba, makasih yah."


"Sama-sama Al."


"Tuuut...." Keduanya menutup telpon bersamaan.


Setelah beberapa menit kemudian, Alya mencoba mengirim pesan ke Damar lewat WAnya, kalau engga dibalas baru dia akan menelponnya.


["Hai Damar, Assalamu'alaikum.."]


["Hai juga Alya, Wa'alaikumsalam.."]


"Waah dibalas WA gue." Gumam Alya senang.


["Loe kenapa engga ada kabar satu minggu ini? Loe sibuk banget yah sama kerjaan?"]


["Engga sibuk juga sih, kerjaan aku biasa saja."]


["Tapi loe, kenapa seperti ngehindar dari gue?"]


["A.. ku engga mau menjadi orang ketiga, diantara hubungan kamu sama dia."]


["Apa maksud loe? Kenapa dengan orang ketiga? Gue engga ngerti?"]


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2