
Hari ini Asyafa, dan Rayhan, berencana mengunjungi Oma Merry di kediamannya. Ketika Asyafa bersiap-siap untuk berangkat, tanpa sengaja dia melihat tas yang masih belum di lihat semenjak mereka sampai di Belanda.
"Bukankah ini tas dari Ibu yah? Kira-kira apa isi tas ini yah?" Tanya Asyafa dalam hati.
Karena dia penasaran dengan isi tas tersebut, akhirnya Asyafa inisiatif langsung membukanya. Baru saja hendak membuka, Rayhan langsung memeluk pinggangnya dari belakang.
"Cinta, kamu sudah siap? Ayo kita berangkat sekarang? Kamu sudah tahu alamatnya Oma, bukan?" Tanya Rayhan masih dengan mode manja gelayutan di pundak istrinya.
"Iya.. sayang, tapi sebentar dulu, aku penasaran sama isi tas ini." Ucap Asyafa seraya membuka tas tersebut.
"Tas dari Ibu, bukan?" Tanya Rayhan lagi seraya melepaskan tangannya dari pinggang istrinya.
"Iya.. sayang, ini tas dari ibu. Isi tas ini ada dua surat, sayang." Ucap Asyafa seraya mengambil surat itu, yang ternyata di tujukan untuk Oma Merry dan dirinya.
"Heeem." Gumam Rayhan.
"Suratnya untuk Oma Merry dan aku, sayang. Lalu ini apa? Masya Allah, Ibu ada-ada saja." Jelas Asyafa, seraya terkejut dengan baju tidur transfaran yang ada di dalam tas tersebut. Lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, dan memasukkan kembali baju tidur transfaran itu ke dalam tas.
Rayhan tertawa, melihat reaksi istrinya ketika melihat baju transfaran dari Ibu mertuanya.
"Ha.. ha.. ha.. Ibu mertuaku sepertinya pengertian sekali cinta, memberikan kado spesial buat aku." Ledek Rayhan pada istrinya, seraya tertawa puas.
"Huuh.. keluar deh mesumnya." Gerutu Asyafa mencibir, seraya mencubit pinggang suaminya gemas.
"He.. he.. he.." Rayhan terkekeh.
"Suratnya cepat di baca cinta, Kakak jadi penasaran apa isi suratnya?" Pinta Rayhan tidak sabar.
"Aiish.. Kakak ini engga sabaran banget." Omel Asyafa sebal, seraya membuka surat itu dengan hati-hati.
Asyafa, dan Rayhan, membaca surat itu di dalam hati.
__ADS_1
"Untuk anak, dan menantu, kesayangan Ibu, dan Ayah. Selamat berbulan madu dan bahagia selalu, semoga hubungan kalian selalu langgeng dan harmonis. Doa Ibu, dan Ayah, tulus yang terbaik untuk kalian. Jangan pernah meninggalkan Sholat, selalu berbuat baik dalam hidup. Jangan lupa pakai baju ini, hadiah dari Ibu dan Ayah, semoga kami cepat mendapatkan cucu. Salam sayang dan cinta dari Ibu dan Ayah."
Tanpa sadar dari sudut mata mereka meneteskan air mata kebahagiaan, terharu dengan kata-kata yang di tulis oleh Ibu dan Ayahnya. Keduanya saling memandang, lalu tertawa dalam tangis haru.
"Hi.. hi.. hi.." Tawa mereka bersama seraya meneteskan air mata.
"Kenapa hanya dengan membaca saja, kita sampai menangis haru yah, cinta?" Tanya Rayhan seraya memeluk istrinya.
"Karena kita membaca surat ini dengan penuh perasaan, sayang. Sama juga seperti halnya kita baca sebuah novel, dengan penuh penghayatan dan perasaan, pasti feellnya dapat, meleleh deh hati kita, bahkan sampai bisa tertawa dan menangis. Apa lagi ceritanya bagus, dan engga ngebosenin, he.. he.. he.. makin cinta deh." Ujar Asyafa tersenyum hangat dalam pelukkan suaminya.
"Sayang, ayo ke rumah Oma sekarang." Ajak Asyafa seraya merapihkan tasnya kembali, dan mengambil surat untuk Oma Merry.
"Oke." Jawab Rayhan cepat, seraya kakinya melangkah ke luar kamar.''
Akhirnya mereka pergi mengunjungi kediaman Oma Merry, dengan menaiki mobil yang di sediakan oleh Fasilitas Hotel. Mobil itu memang di khususkan, untuk pasangan suami istri yang sedang berbulan madu dan menginap di Hotel mereka.
"Sayang, ini alamat Oma, bawa mobilnya santai saja, tidak usah terburu-buru yah." Selorohnya mengingatkan Rayhan.
Rayhan menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, meski baru 5 bulan dia berada di Indonesia, namun dia begitu rindu dengan kampung halamannya itu. Negara tempat kelahirannya, dan semua kenangan indah di sini. Tetapi, bukan berarti dia tidak menyukai tempat tinggalnya yang sekarang. Dia sangat cinta, apa lagi saat ini sudah menikahi Asyafa Dorman, dan menjadi warga Negara Indonesia.
"Cinta, apakah kamu masih ingat tempat-tempat yang kita lewati tadi?" Tanya Rayhan, namun tetap fokus menyetir.
"Ada yang masih ingat, tetapi sebagian sudah lupa dan banyak yang sudah berubah." Jawab Asyafa, seraya mengagumi keindahan kota Amsterdam sepanjang mata memandang.
"Wajar sih cinta, secara kamu sudah lama sekalih, baru menginjakkan kaki lagi di sini." Ucap Rayhan mengerti.
Sepanjang perjalanan, mereka terus berbincang dan sesekali Rayhan mengecup punggung tangan istrinya lembut, namun tetap fokus menyetir meski dengan satu tangan kirinya, karena posisi pengemudi kendaraan di Belanda ada di sebelah kiri.
Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di depan gerbang pagar rumah Oma Merry. Rumah Oma tidak banyak yang berubah, hampir persis sama seperti saat Asyafa meninggalkan rumah ini. Hanya saja, rumah ini nampak tidak terawat, karena banyak rumput liar yang tumbuh, dan cat tembok yang sudah kusam juga mengelupas.
"Apa benar ini rumah Oma, cinta?" Tanya Rayhan sedikit aneh dan angker, dengan keadaan rumah yang dia lihat.
__ADS_1
"Sepertinya begitu, sayang. Tapi, mengapa tempat ini seperti tidak berpenghuni yah, Kak?" Tanya Asyafa bingung, dengan keadaan rumah yang dia lihat saat ini. Sedang Rayhan hanya menggidikkan bahu, tanda tidak tahu menahu keadaan yang sebenarnya.
"Kalau begitu, coba kita masuk dulu ke dalam rumah ini." Ajak Rayhan, mencoba mencari tahu keadaan yang sebenarnya.
"Tingtong... tingtong... ting tong..." Bunyi bell pagar rumah, namun tidak ada jawaban.
"Bagaimana ini, sayang? Biasanya ada Security yang menjaga rumah Oma, tapi ini sepertinya tidak ada." Tanya Asyafa, meminta pendapat suaminya.
"Coba tanya, tetangga rumah Oma?" Usul Rayhan mencari tahu.
"Oke.. tunggu di sini sebentar yah, sayang? Aku cari tahu dulu, siapa tahu saja mereka mengetahuinya." Ujar Asyafa masih berharap ada informasi.
"Kakak ikut, cinta. Tunggu sebentar jangan tinggalin Kakak." Ucap Rayhan seraya mematikan mesin mobil, dan keluar menyusul istrinya.
Asyafa, dan Rayhan, mendatangi rumah yang berada tidak jauh dari rumah Oma. Lalu mereka menanyakan keadaan rumah Oma yang sebenarnya, dan mengapa tidak ada penghuninya.
"Rumah itu sudah sejak lama tidak berpenghuni, Nak. Mungkin sekitar 5 tahun yang lalu." Jawab seorang Pria paruh baya yang tinggal di rumah tersebut.
"Sudah sangat lama yah, apakah Tuan tahu kemana Oma saya pergi?" Tanya Asyafa yang mulai panik, mendengar jawaban Pria tersebut. Namun Rayhan sedikit menenangkannya, dengan mengusap bahu istrinya pelan.
"Sepertinya ke rumah menantunya, istri dari Tuan Charles kalau tidak salah." Jawab Pria itu seraya mengingat-ingat.
"Iya, saya kenal Aunty Sofia dan Uncle Charles. Apakah Tuan tahu, mengapa Oma tinggal di sana?" Tanya Asyafa semakin penasaran.
"Setahu saya, ada satu hal yang menimpah Tuan Charles. Kalau tidak salah, saat itu beliau terkena gangguan jiwa." Ucap Pria itu jujur.
"Haaaah...." Asyafa dan Rayhan terperangah, mendengar ucapan Pria tersebut.
"Happy Reading"
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........