TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Usus Buntu


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


"Jangan-jangan kamu hamil, sayang!" Terka Mama Jovanka, dengan air muka bahagia.


"Ha.. ha.. ha.." Tawa Rayhan pecah, sedangkan Asyafa hanya tersenyum canggung.


"Kenapa kamu tertawa Son? Terus kamu juga, kenapa senyum-senyum begitu, sayang?" Tanya Mama Jovanka penasaran, dengan anak dan menantunya itu.


"Istriku baru saja selesai datang tamu bulanan kemarin Mom, aku saja belum sempat nengokin lembah maduku, bagaimana ceritanya bisa hamil?" Ungkap Rayhan gamblang, sontak membuat Mama Jovanka, hanya tersenyum masam.


"Kalau begitu Mama sudah salah mengira dong, sayang. Maafkan Mama yah, Mama engga tahu, he.. he... he..." Ujar Mama meminta maaf karena ketidak tahuannya.


"Iya sudah kalau begitu, sekarang juga lebih baik kita pergi ke Rumah Sakit, agar tahu pasti, sicantiknya Mama sakit apa?" Ajak Mama Jovanka cepat.


"Baiklah Mom." Sahut Rayhan yang dianggukkan Asyafa.


Merekapun kemudian berangkat bertiga untuk pergi ke Rumah Sakit, dengan raut wajah lesu Asyafa merasa lemas jika sehabis muntah.


"Sayang, apakah kamu masih terasa mual?" Tanya Mama Jovanka penasaran, pasalnya menantunya itu terlihat sangat pucat.


"Sedikit Mom, tapi aku sudah bawa ini, minyak aromatherapi." Sahut Asyafa, seraya menunjukkan minyak angin yang sedang dipegangnya. Dia mengoleskan minyak itu, di leher, hidung dan perutnya.


"Syukurlah sayang." Ucap Mama Jovanka mengucapkan rasa syukurnya.


Rayhan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, saat ini jalanan tidak begitu macet, tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit.


Setibanya mereka di Rumah Sakit, Rayhan langsung menuju lobby pendaftaran pasien, setelah itu baru mengisi identitas pasien rawat jalan, lalu tujuan berobat ke Dokter Umum atau Specialis.


Berhubung istrinya sedang sakit mual dan muntah-muntah, maka Rayhan akan mencari Dokter Specialis Penyakit Dalam.


Setelah semua prosedur Rumah Sakit selesai, mereka menunggu antrian Dokter specialis itu untuk diperiksa. Beruntung hari ini hanya ada tiga pasien saja, jadi mereka tidak menunggu lama.


"Pasien atas nama Asyafa Dorman, silahkan masuk!" Panggil Suster yang bertugas sebagai Asisten Dokter Specialis Penyakit Dalam.


"Iya, saya." Sahut Asyafa dan Rayhan bersamaan.


Mereka bertiga ikut masuk kedalam ruangan Dokter itu, kemudian Asyafa dan Rayhan konsultasi dengan Dokter, mengenai apa yang dirasakan oleh Asyafa.


"Pasien Atas nama Asyafa Dorman, usia 22 tahun, status menikah, apa ini benar?" Tanya Dokter, saat memeriksa berkas pasien yang diberikan oleh Suster Asistennya.


"Benar Dokter, saya Asyafa Dorman dan ini suami saya Rayhan Darma." Kata Asyafa jujur, dan Rayhan mengangguk kecil sedang Mama Jovanka menyimak dengan baik.


"Keluhan apa yang ingin anda tanyakan?"


"Saya sering merasakan sakit perutnya, dan sering mual dokter, jika makan dipagi hari pasti mual dan muntah."


"Sudah berapa lama anda sakit?" Tanya Dokter itu ramah.


"Sudah dua hari Dokter." Sahut Asyafa.


"Selain gejala itu, ada lagi tidak?"

__ADS_1


"Sedikit perih dan nyeri dibagian perut setelah muntah Dokter."


"Kalau buang air besar, apakah Nyonya terasa sakit?"


"Iya, Dokter."


"Nyonya merasakan demam, dua hari ini?"


"Sedikit demam, Dokter."


"Baiklah, mari saya periksa. Nyonya boleh tiduran disini sebentar." Ucap Dokter itu, seraya menunjuk kasur periksa untuk pasien.


Asyafapun berjalan ketempat kasur tersebut, lalu berbaring. Dokterpun memeriksa Asyafa dengan teliti, menggunakan alat medis dan USG. Dokter itu meneteskan cairan bening diperut Asyafa, untuk memudahkan alat bergerak di layar monitor. Dokter itu sedikit mengenyitkan keningnya, dan langsung menjelaskan secara rinci penyakit apa yang sedang dialami Asyafa.


"Sepertinya, pasien mengalami gejala usus buntu." Ucap Dokter jujur.


Sontak saja mereka bertiga, langsung membekap mulutnya tidak percaya.


"Apa benar Dokter, istri saya mengalami gejala usus buntu?" Tanya Rayhan, untuk lebih memastikan. Sedangkan Asyafa dan Mama Jovanka sudah menangis sedih.


"Iya, Tuan, menurut hasil pemeriksaan USG itu, pasien terkena gejala usus buntu." Kata Dokter itu, seraya memberikan hasil frint out USGnya ketangan Rayhan.


"Apakah usus istri saya harus dioperasi Dokter?"


"Sepertinya tidak perlu operasi Tuan, karena pasien baru mengalami gejala saja, belum tahap yang lebih parah. Untung saja anda langsung berobat lebih awal, jadi masih bisa ditangani dengan obat antibiotik yang akan saya berikan nanti." Ujar Dokter itu dengan gamblang.


"Alhamdullilah kalau tidak perlu operasi Dokter." Ucap Syukur Rayhan yang diikuti oleh Asyafa dan Mama Jovanka. Seketika Asyafa dan Mama Jovankapun berhenti menangis, dan saling berpelukkan.


"Terima kasih, Dokter atas informasinya." Ucap Rayhan, yang di anggukkan Asyafa dan Mama Jovanka, seraya menerima resep obat tersebut. Lalu merekapun berjabat tangan.


"Sama-sama Tuan dan Nyonya, semoga lekas sembuh." Ucap Dokter itu mendoakan kebaikan seraya menerima jabatan tangan mereka.


Rayhanpun tersenyum bahagia, lalu memeluk istrinya dengan erat, karena penyakit usus buntunya masih tahap ringan dan bisa sembuh tanpa operasi.


"Cinta sama Mama tunggu di mobil saja, Kakak akan menebus resep obat, terlebih dahulu." Pinta Rayhan, seraya pergi ke Apotek Rumah Sakit.


Asyafa dan Mama Jovanka menunggu di mobil, ponsel Asyafa berbunyi nyaring lalu diapun melihat siapa yang menelpon, ternyata Alya Mentari sahabatnya.


"Hallo Alya.."


"Hallo, Sya.. apa khabar?"


"Alhamdulliah baik, walau ada sedikit problem."


"Problem apa, Sya?"


"Sakit usus buntu Al!"


"Loe usus buntu? Kenapa bisa? Emangnya loe salah makan apa? Sampai bisa usus buntu begitu, Sya."


"Baru gejala, untungnya belum parah, jadi masih bisa ditangani dengan obat antibiotik, tanpa harus operasi."

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu."


"BTW ada apa nih, nelpon?"


"Sebenarnya gue mau kasih kabar baik sih, Sya. Berhubung loe lagi sakit, jadi loe engga perlu datang juga."


"Maksud loe, Al? Kabar baik apa? Masa gue engga dikasih tahu!"


"Malam ini gue dilamar, Sya."


"Dilamar? Sama siapa? Kenapa cepat banget?"


"Iya, gue dilamar. Sama Damar dong, Sya. Mungkin lebih cepat lebih baik."


"Wooow banget loe yah Al, perasaan baru kemarin loe bilang Damar seperti menghindar, tahu-tahu sekarang mau dilamar saja."


"Pokoknya ada deh, he.. he.. he.."


"Syukurlah kalau begitu, tapi beneran serius 'kan loe?"


"Beneran, Sya."


"Gue pengen dateng, tapi kondisi gue engga memungkinkan, Al. Ini saja, gue masih nungguin suami gue nebus obat di Apotek."


"Iya, engga apa-apa, Sya. Cepet sembuh yah my besty."


"Iya terima kasih doanya, selamat buat loe sama Damar yah Al, selamat menuju halal."


"Terima kasih, Sya. Aamiin."


"Tuut." Sambungan telepon dimatikan.


"Siapa yang akan dilamar sayang?" Tanya Mama Jovanka penasaran.


"Temen kuliah Asyafa, Mom."


"Oooh.."


"Mama mau tahu engga, temen aku dilamar sama siapa?"


"Emangnya kalau mama mau tahu, Mama kenal sama orangnya?"


"Mama kenal sama orangnya."


"Siapa emang, sayang?


"Damar, Mom!"


"Haaa...? Damar? Syukurlah kalau dia sudah move on dari menantu cantik Mama, he.. he..."


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2