TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Kepulangan Charles


__ADS_3

Happy Reading


Keduanya langsung shok mendengar pernyataan dari Jonathan, Willyam dan Maurin sama-sama tidak tahu rencana Dadie mereka. Begitupun Stepany, hampir tidak percaya jika suaminya mempunyai rencana besar seperti itu, tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


What? Honey, mengapa kau mengejutkanku? Hal sebesar ini, aku tidak di ajak berunding? I hate you, honey!" Omel Stepany, seraya merajuk mengerucutkan bibirnya, dan melipat kedua tangannya di dada.


"He.. he.. he.. I'm sorry baby, jika perihal sebesar ini tidak mengabarimu terlebih dahulu. Semua ini tiba-tiba kami lakukan tanpa rencana sebelumnya, langsung mengalir begitu saja saat kami sedang berbincang-bincang kemarin sore, saat pertemuan klien, dan ternyata Dadie bertemu dengan Tuan Jodhy, kawan baik Dadie semasa SMA dulu. Bukan begitu Tuan Jodhy?" Jonathan terkekeh, lalu menjelaskan panjang lebar, seraya mempertegas ucapannya kepada Tuan Jodhy.


"Iya.. Nyonya, apa yang dikatakan suami anda benar adanya." Jawab Jodhy seraya mengangguk kecil.


"Heeeem..." Stepany hanya bergumam, dengan tersenyum masam.


Willyam, dan Maurin jadi bergeming, setelah mereka tahu rencana Dadienya untuk menjodohkannya. Tapi entah kenapa, keduanya seakan merasakan detak jantungnya yang berdetak lebih kencang.


"Deg.. deg.." Jantung keduanya saling berdebar.


"Sudah Baby, jangan merajuk terus. Kita jadi makan siang engga nih? Eeeemmm... atau Momie yang Dadie makan?" Bujuk Jonathan berbisik mesra di telinga istrinya, seraya tersenyum iblis.


Sontak saja Stepany geram, lalu mencubit pinggang suaminya kesal. Dengan bujukan suaminya yang masih bersikap santai, setelah dia membuat dirinya marah.


"Aawwwhh.. sakit Baby." Aduh Jonathan mendrama, seraya meringis manja.


"Aaiish.. Dadie, lebay." Stepany berdecak sebal, namun tetap menjaga etika saat ada orang lain di hadapannya, dengan tersenyum simpul.


Seketika Tuan Jodhy, dan Maurin, tersenyum melihat pasangan suami istri yang sedang bertengkar manja, hingga nampak lucu di mata mereka. Sedang Willyam sudah biasa melihat tingkah mereka, yang nampak konyol seperti anak kecil di matanya. Namun Willyam sangat bahagia, melihat keromantisan kedua orang tuanya itu.


"Waitress.. tolong sajikan menu makanan termewah, dan terlezat yang ada di restoran ini, untuk tamu kehormatan kami, terima kasih." Pinta Stepany sopan dan ramah.


"Baik Nyonya, kami akan siapkan menunya. Mohon di tunggu sebentar." Ucap Pelayan itu sopan, seraya melangkah pergi. Lalu di anggukkan oleh Stepany.


Sambil menunggu pesanan makanan mereka siap, Stepany membuka obrolan dengan membahas perjodohan anaknya.


"Maaf Tuan Jodhy, mengapa kalian bisa berpikir untuk menjodohkan Willyam dengan Maurin?" Tanya Stepany penasaran.


"Eemm... sebenarnya kemarin sore saat pertemuan kami itu, kami saling curhat satu sama lain tentang keluarga kami masing-masing. Termasuk masalah anak-anak kami yang belum pernah melihat mereka membawa pasangannya, untuk di kenalkan kepada kami para orang tua, maka dari itu kami berinisiatif untuk menjodohkan mereka. Siapa tahu saja cocok, namun jika tidak cocok, kami tidak akan memaksakan mereka." Ungkap Jodhy dengan gamblang.

__ADS_1


"Oooh.. seperti itu." Sahut Stepany seraya manggut-manggut mengerti.


"Dadie.. kenapa tadi pagi bilang sama Maurin, hanya ingin berjumpa dengan anak teman Dadie, yang ternyata teman masa kecilku dulu. Tidak ada pembahasan perjodohan seperti ini, kenapa kau tidak berkata yang sejujurnya kepadaku, Dad?" Omel Maurin kesal kepada Dadienya.


"Maaf sayang, Dadie engga bermaksud menutupi soal perjodohan ini, hanya saja kami belum begitu yakin dengan persoalan ini. Tapi sepertinya kalian terlihat sangat cocok berdua, apalagi kalian teman satu kelas waktu SD dulu, bukan?" Sesal Jodhy seraya bertanya hubungan mereka berdua saat kecil.


"Iya... terserah Dadielah, i'll just go with what Dadie said." Ucap Maurin pasrah, seraya tersenyum kikuk.


"What? Jadi kamu setuju saja, dengan perjodohan ini?" Tanya Jodhy untuk lebih yakin.


"Kalau Maurin sih terserah kalian, engga ada salahnya 'kan dicoba dulu. Tapi.. kalau Willyam engga mau, jangan salahkan Maurin, Dad." Ungkap Maurin jujur, namun tampak malu.


Willyam merasa hatinya senang, saat mendengar pernyataan Maurin di hadapannya. Tapi dia belum begitu yakin dengan perasaannya, karena Maurin yang kecil dulu, sudah sangat jauh berbeda dengan Maurin yang sekarang dilihatnya.


"Waah.. calon mantu Dadie sudah mau, bagaimana denganmu, Dude? Sepertinya gadis yang kamu cari, seperti Asyafa sudah ada di hadapanmu, Dude?" Tanya Jonathan antusias kepada Willyam.


Sontak saja Maurin terkejut dengan Jonathan, yang menyamakan dirinya dengan gadis lain.


"Maksud Uncle? Asyafa siapa? Apakah mantan kekasih Willyam dulu? Atau.." Kata-katanya terhenti ketika Willyam menyela ucapannya.


"Oooh.. Asyafa teman SD kita Will, seperti apa sekarang dia yah? Aku sudah lama sekalih tidak berjumpa dengannya, terakhir saat dia pergi meninggalkan Negara ini." Tanya Maurin penasaran.


"Nanti, aku ajak kau untuk menemuinya." Ucap Willyam yakin, seraya tersenyum ramah.


"Okay."


"Sepertinya Dadie sudah mengerti dengan jawabanmu, Dude. He.. he.. he.." Ledek Jonathan lalu terkekeh senang, pasalnya jika Willyam tidak menyukai gadis itu, pasti dia akan diam saja tanpa ingin meladeni.


"Aiish... cukup Dadie, jangan sok tahu." Hardik Willyam dengan ledekan Dadienya itu.


Pelayan Restoran datang membawakan hidangan mewah, dan lezat yang mereka pesan. Kemudian Pelayan itu menyajikannya di atas meja dengan sopan, dan rapih. Terlihat sangat menggoda, makanan yang sudah tersaji di hadapannya. Mereka langsung menyantap makan siang itu dengan lahap, dan di selingi dengan obrolan ringan, dan canda tawa menghiasi suasana santai mereka.


*******


Hari ini Charles di izinkan kembali pulang ke rumah oleh pihak Rumah Sakit, setelah Dokter Richard menyatakan hasil tes kejiwaan Charles sudah 99% sembuh. Namun masih dalam masa pemantauan pihak rumah sakit, jadi masih harus rawat jalan untuk berkonsultasi dengan Dokter Richad ke depannya.

__ADS_1


Semua berkumpul di ruang keluarga dengan perasaan bahagia, karena Charles sudah berada di tengah-tengah mereka saat ini. Oma Merry tiada hentinya menangis bahagia, sedari Rumah Sakit sampai saat ini. Charles melepaskan kerinduannya dengan keluarga besarnya, Oma Merry, Sofia, Billy, Bernad, Nurlaila dan juga Asyafa.


"Permisi Tuan dan Nyonya, maaf mengganggu, sebaiknya Oma beristirahat dahulu, kasihan Oma pasti sangat lelah." Ujar Bella perhatian, dengan kesehatan Oma, karena memang sudah tugasnya merawat, dan menjaga Oma dengan baik.


Sontak saja Charles melepaskan genggaman tangan Oma Merry, yang sedari tadi dia pegangi.


"Maaf, Apakah ini Suster penjaga Oma?" Tanya Charles ramah.


"Iya.. Tuan, nama saya Bella, saya bekerja sebagai Suster Oma Merry untuk menjaganya." Jelas Bella jujur.


"Ooh.. begitu! Tapi mengapa Nak Bella mau bekerja menjadi Suster di sini untuk menjaga Oma? Padahal kamu masih muda." Tanya Charles penasaran.


"Iya.. Tuan, karena saya hanya lulusan SMA, jadi hanya pekerjaan ini saja yang bisa saya lakukan. Saya terpaksa tidak melanjutkan study saya ke University, karena saya harus membiayai sekolah dua Adik saya. Lalu Ibu saya yang sedang sakit keras, Tuan. Jelas Bella ramah seraya berkaca-kaca seakan menahan tangis.


Sofia yang mendengar jawaban Bella, dan melihat air mata Bella yang sudah menggenang di pelupuk matanya, langsung merengkuhnya dengan sayang dan lembut.


"Sudah sayang, jangan menangis lagi. Kami akan membantu biaya pengobatan Ibu kamu, dan biaya sekolah Adik kamu. Jika berkenan, kamu boleh melanjutkan studymu di University." Janji Sofia tulus, seraya mengelus rambut Bella dengan sayang.


"N.. nyonya.. apakah ini sungguhan? Bukan mimpi." Tanya Bella gugup, seakan tidak percaya dan bagaikan mimpi di siang bolong, hingga air matanya lolos di pipi mulusnya.


"Iya.. sayang." Jawab Sofia singkat.


"T.. terima kasih, Nyonya." Ucap Bella gugup, dengan tangisan haru dimatanya.


"Mulai sekarang, panggil saya Momie, sayang." Ujar Sofia tulus.


"Dan panggil saya Dadie." Sela Charles menimpali.


Bella masih menangis di pelukkan Sofia, lalu menatap wajah sofia dan Charles bergantian. Detik kemudian Bella mengangguk pelan, dan memanggil mereka.


"Momie.. Dadie..." Panggilnya, dan tangisnya semakin pecah.


--BERSAMBUNG--


...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........

__ADS_1


__ADS_2