
Di kediaman papa Beni Darma, baru saja tiga hari mereka tidak bertemu dengan anak dan menantunya, perasaan rindu sudah melanda terutama Mama Jovanka. Apa lagi di saat makan malam dan kumpul keluarga di depan TV, suasana sepi kian terasa.
"Pap sayang, Mama rindu Rayhan dan Asyafa. Baru beberapa hari saja tidak bertemu mereka, kenapa aku sangat merindukannya yah?" Ungkap perasaan rindu, seorang Ibu kepada anaknya.
"Mom.. Mom... kamu ini ada-ada saja, bukankah kita baru saja Vidio Call sama mereka?" Tanya Beni meledek istrinya gemas, seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalau di pikir-pikir, iya juga Pap, padahal kita baru saja Vidio Call dengan mereka yah? He.. he.. he.." Selorohnya baru sadar lalu terkekeh, namun yang namanya rindu bertemu langsung, dengan virtual yah lain ceritanya.
"Pap.. sayang, bagaimana perkembangan bisnis yang di Bandung? Bukankah Papa ingin bekerja sama, dengan para pembisnis kolega Papa yang baru di sana?" Tanya Jovanka, yang melihat suaminya tidak lepas dari laptopnya sedari tadi, meski berada di rumah.
"Iya Mom sayang, Papa memang sudah hampir dua bulan ini, menjalin kerja sama dengan para kolega yang di Bandung, lewat Asisten Martin dan pegawai-pegawai Papa yang terpercaya. Semenjak kita pulang dari Yogyakarta itu, Papa sudah sedikit-sedikit menyelidiki Perusahaan Bari adik Papa, namun untuk mencari kelemahan Perusahaan mereka tidak mudah sayang, butuh proses dan kerja sama dengan orang dalam." Ungkap Beni, tentang rencananya untuk merebut kembali hak Papa Jaya Darma.
"Papa keren, Mom bangga punya suami seperti Papa, gercep dan pintar." Puji Jovanka seraya memberi dua jempol tangannya di udara.
"He.. he.. he.. Mama bisa saja. Doa'in yah sayang, semoga semua berjalan lancar, dengan rencana Papa untuk memberi pelajaran terhadap Bari." Pinta Beni seraya terkekeh mendengar pujian istrinya.
"Pastinya dong Pap..." Selorohnya mengerling nakal, seraya mengecup bibir suaminya singkat.
"Aiish.. Mom.. sepertinya minta di gempur malam ini!" Seru Beni, lalu menutup laptopnya dan menaruh di atas nakas, kemudian menggendong istrinya dengan ala bridge style menuju kamarnya.
"Pap.. mau ngapain coba?" Tanya Jovanka, setelah dia di turunkan di kasurnya yang bigsize itu.
"Mau minta jatah dong. Habis Mama mancing-mancing sih tadi, bikin adikku ini terbangun. Mama harus jinakkin dulu malam ini, he.. he.. he.." Selorohnya tanpa basa-basi, langsung hajar tanpa mendengar jawaban istrinya. Beni langsung melucuti baju yang menempel di tubuh mereka, dan melahap istrinya dengan rakus, dan terjadilah pergulatan sengit pasutri itu yang sudah tidak muda lagi. Namun soal ranjang, mereka masih tetap sama, dari muda tidak berkurang romantisnya.
Setelah satu jam mereka di banjiri oleh peluh, akhirnya mereka merebahkan tubuhnya dengan saling berpelukkan, di balik selimut tebalnya. Menyambangi mimpi indahnya, dan terlelap hingga pagi menjelang.
__ADS_1
*******
Hari ini Asyafa dan Rayhan akan menginap di rumah Aunty Sofia, mereka bercerita tentang hubungan mereka dari awal pertemuan, perjodohan, perkenalan dan pendekatan hingga akhirnya mereka menikah.
Aunty Sofia dan Oma Merry mendengarkan dengan senang, dan kagum akan cerita kisah mereka berdua dan tersenyum indah di bibir Aunty Sofia. Sedangkan Oma mendengar semua apa yang mereka ceritakan, namun hanya matanya yang berkedip tanda dia mengerti. Buliran bening, menetes dari bola mata Oma yang indah berwarna hazel itu.
"Sepertinya, cinta kalian teramat unik. Untuk Rayhan, tetaplah mencintai keponakan Aunty ini sampai ajal menjemput yah. Untuk Asyafa, Aunty salut, kamu bisa menyampingkan egomu, dan ambisimu untuk kuliah S2 kamu. Semoga hubungan kalian akan tetap langgeng seperti ini sampai Kakek dan Nenek nanti dan selamanya." Nasehat bijak dari Sofia untuk Asyafa dan Rayhan.
"Aamiin.. terima kasih Aunty Sofia." Ucap Asyafa dan Rayhan bersamaan.
"Aunty, Billy belum pulang?" Tanya Asyafa, tentang sepupunya itu.
"Belum sayang, semenjak dia menjalankan Perusahaan Papanya yang hampir jatuh bangkrut, karena tidak adanya Unclemu. Billy selalu pulang malam setiap hari, karena dia sambil menempuh pendidikan S2nya." Jelas Sofia tentang Billy anaknya, yang tidak terlihat semenjak kedatangan mereka.
"Ooh.. Billy sungguh anak yang sangat baik yah Aunty." Ucap Asyafa salut dengan Billy sepupunya itu.
"Apakah Billy masih pendiam seperti dulu, Aunty?" Tanya Asyafa penasaran, sebab waktu kecil dulu dia jarang sekali bertemu, dan berbicara dengan Billy, meski usianya hanya selisi satu tahun dengannya.
"Yah seperti begitulah Sya, anaknya pendiam, dingin, tertutup namun penyayang, dan pengetian terhadap Aunty, dan juga Oma Merry." Jelas Sofia, seraya tersenyum membayangkan peringai anaknya yang sedikit mirip dengannya.
"Berarti tidak jauh berbeda dengan yang dulu yah Aunty, memang sepupuku yang satu ini. Padahal dulu SD, teman aku ada yang suka sama Billy, Aunty, tapi langsung di diamkan oleh Billy, dan akhirnya temanku menyerah. He.. he.. he.." Selorohnya terkekeh mengingat masa kecilnya dulu.
"Yah Aunty saja bingung Sya, selama usianya sekarang sudah 23 Tahun, belum pernah Aunty melihat Billy membawa wanita ke rumah, untuk bertemu Aunty." Ujar Sofia menggelengkan kepalanya pelan menanggapi sikap anaknya itu.
"Memangnya Aunty selama ini belum pernah bertanya, soal kekasih kepada Billy?" Tanya Asyafa, mengulik pribadi sepupunya.
__ADS_1
"Sudah Sya, malah sering. Namun dia hanya mengatakan, jika sudah waktunya pasti akan aku kenalkan. Hanya seperti itu, jawabnya yang di lontarkan." Jelas Sofia seraya tersenyum simpul.
"Mungkin itu benar Aunty, tunggu saja jika sudah waktunya, mungkin Billy langsung menikah. Barangkali saat ini, Billy sibuk dengan pekerjaan dan studynya, Aunty." Pendapat Asyafa, tentang sosok wanita dalam kehidupan Billy.
"Oke.. Sya, benar juga apa kata kamu." Ucap Aunty Sofia sependapat dengan pemikiran Asyafa.
Terdengar suara Mobil terparkir dari luar, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Billy baru saja sampai, langsung di sambut hangat oleh Mamienya.
"My Son, sepertinya kau sangat lelah, honey?" Tanya Sofia, seraya menyambut hangat anaknya dengan senyuman.
"Heeem.. seperti biasa lah Mom, namanya juga kerja." Ucapnya santai, tanpa menyadari ada pasutri yang sedang memperhatikannya.
"Son, ingat engga kamu dengan saudara sepupu kamu?" Tanya Sofia, seraya mengambil tas, dan jas kerja dari tangan anaknya.
"Saudara sepupu? Maksud Momie, anak uncle Bernad, bukan?" Tanya Billy memperjelas maksud dari Momienya.
"Iya, Son." Jawab Sofia singkat.
"Ingatlah, Asyafa Dorman. Anak yang manja, cengeng, bawel, Sok tahu, tapi baik dan pintar sih. He.. he.. he.." Selorohnya terkekeh, mengingat masa kecinya dulu.
"Biiiillyyyy..." Panggil Asyafa berteriak kesal.
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........