TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Seusai merampungkan kegiatan mandinya, pasangan suami istri itu langsung bersiap, untuk berangkat ke acara Resepsi mereka di gedung hotel bintang lima yang sudah disiapkan oleh Papa Beni Darma.


Keduanya sedang didandani cantik, dan tampan oleh Penata rias Make Up propesional Ibu Dina dan Asistennya Mimin dan Icha. Mereka memakai baju Pengantin couple dengan berwarna gold, yang menambah pasangan ini sangat serasi dan elegant.


Tok.. tok.. ! Pintu di ketok.


Ibu Nurlaila menyembul dari balik pintu. Lalu dia menghampiri anak dan menantunya.


"Sayang, kalian sudah siap, bukan?" Tanya Ibu Nurlaila yang sudah berdandan cantik terlebih dahulu sebelumnya. Ibu Nurlaila memakai baju kebaya moder'n, berwarna gold juga jadi tampak satu warna dengan Pengantinya. Memang Resepsi Pernikahan mereka memakai tema dress code berwarna gold.


"Sudah, Ibu! Hanya My wife sepertinya sedikit lagi selesai. Nanti, kami bergabung kalau sudah siap."


"Oke, kalau begitu! Ibu dan semuanya menunggu di ruang keluarga yah Nak."


"Iya, Ibu!"


Ibu Nurlailapun meninggalkan mereka berdua yang masih belum siap, sedangkan waktu sudah hampir pukul 6.30 petang, sedangkan acara pukul 08.00 malam harus sudah dimulai.


Ibu Nurlaila takut jika sampai terlambat, namun dia menepis rasa itu karena perjalanan menuju gedung Resepsi tidak terlalu jauh hanya menempuh jarak 45 menit jika lancar.


Diruang keluarga semua sudah bersiap untuk berangkat, Ayah Bernad tampak gagah dan tampan meski usianya sudah menginjak 50 tahun. Dia memakai baju batik berwarna gold, yang senada dengan istrinya yang memakai kebaya.


Keluarga Ibu Nurlaila yang dari Bogor juga sudah berkumpul, dan siap dengan dress code warna gold juga.


"Sayang, apakah mereka belum siap juga?" Tanya Ayah bernad yang merasa gelisah jika sampai telat.


"Katanya, sebentar lagi sayang!" Jawab Ibu Nurlaila meyakinkan.


"Semua mobil sudah disiapkan, bukan?" Tanya Ibu Nurlaila.


"Sudah semua." Jawab Ayah Bernad cepat.


"Bagaimana jika kita berjalan terlebih dahulu? Biar mereka menyusul nanti." Usul Ibu Nurlaila.


"Kalau Ayah terserah kamu, sayang! Ayah ikut saja."


"Baiklah kalau begitu, mari kita berangkat terlebih dahulu. Ibu tidak enak sama besan, jika mereka menunggu kita terlalu lama."


"Iya, sudah kita berangkat terlebih dahulu, kamu pamit dulu sama anak-anak, sayang!"


"Iya, sayang!" Ucap Ibu Nurlaila, seraya berjalan menuju Rayhan dan Asyafa.


Ibu Nurlailapun pamit terlebih dahulu kepada anak dan menantunya itu.


"Sayang, Ibu dan Ayah serta yang lain izin lebih dulu berangkat yah! Mobil kalian sudah disiapkan di depan. Terserah kalian mau pakai supir atau nyetir sendiri."


"Baik Ibu, hati-hati di jalan." Ucap Rayhan dan Asyafa kompak.


"Aiish... kalian kompak sekali! Iya Ibu akan hati-hati. Kalian juga harus hati-hati yah!" Ujar Ibu Nurlaila, seraya pergi meninggalkan mereka dengan senyuman hangat.


"Iya, Ibu!"


Akhirnya merekapun bergegas meninggalkan kediaman Ayah Bernad dengan menggunakan mobil yang sudah dipersiapkan sebelumnya.


"Selesai." Ucap Ibu Dina mengacungkan jempol tangannya ke udara.


"Waah.. Masya Allah cantik sekali istriku." Kagum Rayhan melihat istrinya yang cantik.


"K..Kakak, biasa saja kali! Engga usah lebay."


"Engga, sayang! Kamu memang semakin cantik, apalagi gaun yang kamu kenakan senada dengan Kakak."


"Iya, iya!"

__ADS_1


Sontak mendengar perdebatan mereka, Ibu Dina dan Asistennya tertawa kecil. He.. he.. he.. !


"Terima kasih yah Ibu Dina, mba Mimin, dan mba Icha, sudah membantu saya sedari tadi pagi." Ujar Asyafa kepada Penata Rias Make Up.


"Iya, Nona Asyafa! Saya sangat terhormat bisa mendandani Pengantin secantik anda." Jawab Ibu Dina.


"Iya, Nona! Saya juga sama ucapkan terima kasih." Ucap Mimin dan Icha bergantian.


"Ayo, Nona saya bantu untuk berdiri." Ajak Mimin dan juga Icha setelah mereka memakaikan sepatu heels Asyafa.


"Oke, Mba! Terima kasih." Ucap Asyafa seraya berdiri dan kemudian menggandeng tangan suaminya mesra.


"Nona dan Aden belum berangkat?" Tanya Mbo Ijah yang berpapasan bertemu ketika mereka hendak berjalan ke luar rumah.


"Belum Mbo, ini baru saja selesai dan segera berangkat. Apakah Mbo tidak ikut bersama kami kesana?" Tanya Asyafa tersenyum hangat.


"Engga, Non! Mbo jaga rumah saja. Hati-hati di jalan Non dan Aden." Ucap Mbo Ijah, seraya mendoakan mereka.


"Iya, Mbo!"


Akhirnya merekapun berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Pak Supir pribadi Tuan Bernad. Mobil sudah dihias ala-ala mobil Pengantin yang sangat cantik, yang diberi pita dan bunga dengan bertuliskan Just Married dibelakang kaca mobil.


"Pak Dadang, tolong cek kondisi mobil dahulu." Pinta Rayhan kepada Bapak Supir, karena dia takut perihal tadi pagi terulang kembali.


"Baik Aden, saya laksanakan!" Ucap Bapak Supir yang kemudian langsung mengechek kondisi mobil tersebut.


"Bagaimana Bapak Dadang?"


"Kondisi mobil bagus semua Aden."


"Baik, Ayo sekarang kita berangkat."


"Mari, Aden dan Nona silahkan masuk." Ucap Bapak Supir Dadang, seraya membukakan pintu mobil untuk mereka.


"Iya, Nona dan Aden." Jawab Bapak Supir Dadang.


Setelah mereka memasuki mobil, Bapak Dadang langsung menjalankan mobilnya dengan hati-hati.


*******


Di Gedung Resepsi Pernikahan, sudah hampir pukul 08.00 malam. Para tamu undangan sudah memenuhi seisi gedung tersebut.


Mama Jovanka dan Papa Beni juga sibuk menyambut para kolega bisnisnya dan para Pejabat setempat.


Sedangkan, Ibu Nurlaila mulai merasa panik. "Mengapa Rayhan dan Asyafa belum juga sampai disini." Bathin Ibu Nurlaila bertanya.


"Sayang, Mengapa kamu melamun?"


"Ibu khawatir terjadi sesuatu dengan anak dan menantu kita, sayang!"


"Jangan berpikir jelek, sayang. Ayah yakin mereka baik-baik saja!"


"Tapi sayang, lihat semua tamu sudah memenuhi tempat duduk mereka, malah sampai ada yang berdiri, namun Pengantin belum juga datang."


"Iya, sudah Ayah akan hubungi mereka dahulu. Kamu temani dulu para tamu, sayang."


"Iya."


Alya sudah datang bersama teman-teman satu genknya, serta orang tua mereka juga turut hadir. Para dosen juga tidak ketinggalan, untuk memberikan selamat atas pernikahan anak didiknya.


Alya menghampiri Ibu Nurlaila, dengan mengucap salam dan mencium punggung tangannya takzim. Namun Alya melihat raut Ibu dari sahabatnya ini seperti panik, ada sesuatu yang di pikirkan. Maka Alya inisiatif bertanya.


"Mengapa Tante seperti orang bingung? Ada apa Tante?"

__ADS_1


"Tante, panik Nak Alya! Anak dan menantu Tante belum juga sampai di sini."


"Mungkin di jalan macet, Tante." Ucap Alya menenangkan.


"Semoga saja begitu yah, Nak Alya."


*******


"A.. aden mobil itu mepet mobil kita terus, belum lagi pengendara motor itu. B.. bagaiman Aden?" Tanya Pak Dadang takut.


"Sudah, jalan terus saja Pak Dadang engga usah panik."


"K.. kakak, mereka itu siapa? Mengapa mengejar kita terus?" Tanya istrinya juga yang mulai takut.


"Kakak juga engga tahu sayang, seingat Kakak engga punya musuh selama di Indonesia."


"A.. aden, mereka makin dekat. Apa yang harus saya lakukan? Berbahaya jika begini terus."


"Ya sudah, pinggirkan mobilnya Pak Dadang."


"Baik, Aden."


Kedua pengendara motor langsung mengetuk kaca jendela mobil, mereka memaksa agar Rayhan dan istrinya keluar.


Took... took... took...


"Keluar kalian! Jika tidak keluar, saya akan pecahkan kaca mobil ini!" Ucap salah satu pengendara motor tersebut.


"Mau apa kalian?" Tanya Rayhan menantang.


"Saya mau bicara dengan anda, Rayhan Darma!"


"Sayang, dia mengetahui nama Kakak."


"Iya, t.. tapi Kakak engga usah keluar. Aku takut terjadi apa-apa dengan Kakak."


"Tidak, sayang! Jika Kakak tidak keluar, mereka akan nekad memecahkan kaca ini."


"Ayo.. buka pintu mobil ini sebelum kesabaran saya habis!"


"Iya sudah, Sayang! Kakak keluar dulu, kamu dan Pak Dadang tetap di dalam jangan ada yang keluar. Doakan Kakak baik-baik saja, sayang." Ucap Rayhan, seraya mengecup kening dan bibir istrinya lembut.


Akhirnya, Rayhanpun keluar dari mobil. Namun tanpa basa-basi, kedua orang itu langsung menghajar Rayhan yang tanpa persiapan sebelumnya.


BUUG... BUUG...


"Aawwh.." terkena pukulan di dahi dan wajah Rayhan.


BUUG... BUUG...


Rayhanpun membalas mereka sebisa mungkin mengenai wajah dan perut mereka. Namun bertambah dua orang lagi turun dari mobil, dan langsung mengkroyok Rayhan.


"Berani kau melawan kami hah.. !" Ucap salah satu orang yang turun dari mobil dan langsung menghajar Rayhan.


BUUG... BUUG... BUUG... memukul tanpa henti.


Karena perkelahian yang tidak seimbang, Rayhanpun akhirnya tumbang dan langsung di seret ke dalam mobil mereka.


"K.. kakak... " Panggil Asyafa lirih dan menangis, seraya keluar mobil setelah mereka pergi.


Happy Reading


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


__ADS_2