
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Alya terkejut dengan penuturan Andi, yang menyatakan dirinya sudah putus dengan pacarnya saat ini.
"Aiishh... jangan melongo gitu, nanti lalat masuk bagaimana? He.. he.. he.." Ledek Andi seraya terkekeh.
"He.. he.. he.." Alya terlekeh, kepergok Andi sedang melamun.
"Mikirin apa Al? Tenang saja, gue mah engga akan sedih berlama-lama, paling lama seminggu juga sudah move on." Ujar Andi berdusta.
"Kenapa bisa dia bilang masih cinta sama mantan pacarnya, terus mutusin loe Ndi?"
"Bukankah 3 bulan yang lalu gue sudah cerita sama loe? Kalau gue sama dia pacaran atas pelarian saja." Ungkap Andi jujur, dengan wajah terlihat murung.
"Tapi kalau dilihat dari wajah loe sih, kayaknya loe bukan sekedar pelarian, tapi memang sudah cinta beneran, bukan?" Terka Alya, dengan menyipitkan matanya kearah Andi.
"Aish.. sok tahu loe Al, itu mata engga usah disipit-sipitin, emang sudah sipit tambah merem jadinya, he.. he.. he.." Decak Andi meledek seraya terkekeh.
"Aah.. bilang saja loe emang cinta beneran sama Naura, cuma loe gengsi ngakuinnya. Lagian kalau engga cinta, kenapa bisa loe ciuman sama dia?" Tanya Alya engga percaya, seraya tersenyum miring.
"He.. he.. he.. iya gue akuin, emang gue sudah cinta sama dia, tapi semenjak gue tahu loe cinta sama gue, gue jadi ngerasa hambar sama dia Al." Ungkap Andi jujur, meski tidak bisa dipungkiri permainan asmara Naura sangat menguji adrenalin.
"Kenapa bisa begitu? Loe 'kan sudah tahu, cinta gue sekarang buat Damar seutuhnya." Ungkap Alya jujur, meski sekarang sedang dilema, cintanya lagi diuji.
"Iya gue tahu Al, gue sudah terima loe sekarang sudah memiliki hati Damar, tapi gue juga sedih Al, saat tahu kenyataan kalau kecelakaan itu bisa membuat Damar Amnesia hingga melupakan loe, Al." Ungkap Andi menerima kenyataan, bahwa dirinya harus merelakan sahabatnya menjadi milik orang lain.
"Heemm.." Alya hanya bergumam.
"Kenapa Al? Loe kayaknya engga suka gue bahas masalah calon suami loe, memangnya loe sudah menyerah?" Tanya Andi, nampak ragu dengan cinta Alya kepada Damar.
__ADS_1
"E.. engga begitu Ndi, ceritanya gue kemarin cerita sama nyokap gue Ndi, masalah Amnesia Damar. Nyokap gue akhirnya kasih saran sama gue, untuk berakting jadi orang baru kenal buat Damar. Jadi tadi pagi gue, sama bokap, dan nyokap gue, datang ke Rumah Sakit untuk jenguk Damar. Tapi ekspektasi tidak sesuai dengan kenyataan, semua rencana yang sudah disiapkan akhirnya berubah total." Jelas Alya panjang lebar.
"Maksud loe hasilnya nihil, makanya loe datang kesini, untuk mencari ketenangan, bukan?" Terka Andi, seraya tersenyum jahil.
"Heemm." Alya hanya bergumam, lalu menggidikkan bahunya pelan.
"Jadi benar tebakan gue Al? Ha.. ha.. ha.." Ucap Andi tertawa puas.
"Aiish.. bisa banget ketawain orang, padahal sendirinya juga lagi galau." Decak Alya meledek Andi kembali.
"Ha.. ha.. ha.." Alya dan Andi tertawa bebas, tanpa kata, tangan Andi langsung merangkul pundak Alya, terus mengacak rambut Alya gemas. Sedang Alya tanpa sadar, Andi sudah bersikap, seperti layaknya seorang kekasih.
Setelah mereka puas tertawa dan saling melemparkan candaan dan obrolan-obrolan ringan, perut Alya tahu-tahu berbunyi. "Kruuyukk.."
"Waah.. kayaknya ada yang protes nih perut loe? Dari kapan loe belum isi perut? Kasihan banget tuh cacing, sudah pada berdemo!" Ledek Andi, yang sukses membuat Alya tertawa lagi.
"Ha.. ha.. ha.. loe perhatian banget, Ndi." Tawa Alya lepas, tanpa beban yang sedang dia rasakan saat ini. Seketika, rasa sakit yang tadi pagi dia rasakan dari ucapan Damar, sedikit bisa terobati dengan kehadiran Andi sahabatnya.
"Ieu Neng jeung Ujang, sok mangga ditampi kadaharanna. [Ini Mba dan Mas, silahkan diterima makanannya.]" Ucap si tukang dagang itu menggunakan logat sunda, seraya menyimpan makanan itu di bangku samping Andi.
"Iya Mang, hatur nuhun. [Iya Pak, terima kasih.]" Ucap Andi juga, pakai bahasa sunda. Sedangkan Alya hanya mengangguk kecil, seraya tersenyum canggung. Karena Alya berasal dari Depok, makanya tidak mengerti dengan bahasa sunda.
"Sami-sami Jang, punten. [Sama-sama Mas, permisi.]" Sahut tukang dagang tersebut.
"Kenapa, Al? Bingung yah, engga ngerti bahasanya? Kalau loe mau kursus bahasa sunda, bisa nanti gue ajarin." Ujar Andi menawarkan jasa.
"Ha.. ha.. ha.. boleh tuh nanti diajarin. Pasti gue senang banget dong, bisa kursus gratis sama loe." Tawa Alya pecah, seraya senang hati menerima tawaran Andi meski bercanda.
"Iya gampang itumah, bisa diatur." Ucap Andi serius.
__ADS_1
"BTW siapa yang sudah memesan makanan ini, kenapa cepat banget? Padahal belum juga kewarung, sudah ada yang bawain saja, mana baru mateng semua." Ujar Alya heran, mendadak dapat pesanan itu disaat cacing-cacingnya sudah kelaparan.
"Menurut loe siapa, Al? Masa iya Abang yang tadi pengertian banget sama loe." Ujar Andi memberi tebakkan.
"Loe Ndi? Berarti loe tadi yang sudah pesan? Kenapa bisa pas banget buat berdua semuanya?" Tanya Alya merasa aneh.
"Iya tadinya sih gue pesan buat gue sendiri, pas gue lihat ada loe duduk sendiri di bangku dengan keterkejutan gue, ya sudah gue pesan sekalian dua porsi." Ujar Andi, menjelaskan apa yang terjadi.
"Ooh.. jadi loe sebenarnya sudah lihat gue dari tadi yah?" Tebak Alya, seraya menunjukkan jari telunjuk tangan kanannya kedada Andi.
"Iya." Sahut Andi cepat, seraya menarik jari telunjuk tangan Alya dengan lembut, lalu menggenggamnya erat.
Sontak saja Alya terkejut, dengan sikap Andi yang tidak biasa. Secepat mungkin, Alya langsung menarik jari tangannya dari genggaman Andi. "Eehh.." Ucap Alya, hanya itu yang keluar dari bibir mungilnya.
"M.. maaf Al, gue engga sengaja bermaksud kurang ajar sama loe." Ucap Andi gugup seraya meminta maaf atas ketidak sopanan dirinya kepada sahabatnya sendiri.
"I.. iya Ndi, gue paham maksud loe." Ucap Alya jadi sedikit gugup, karena rasa 4 tahun mencintainya dahulu, belum lenyap sepenuhnya dari hati Alya untuk Andi. Namun, dia tidak ingin membangun rasa cinta itu kembali.
"Terima kasih loe mau maafin gue, sejujurnya gue senang banget bisa ketemu loe disini. Semua ini seperti kebetulan, atau memang sudah takdir. Kita sama-sama sedang menepi dari rasa sakit hati terhadap pasangan kita, dan kita sama-sama datang, ketempat alam terbuka seperti ini." Ujar Andi mendalami perasaannya.
"Heeemm..." Hanya gumaman Alya yang terdengar, karena dirinya tiba-tiba melamun.
"Ayo dimakan jagungnya, nanti keburu dingin." Tawar Andi, yang membuyarkan lamunan Alya, seraya menyodorkan jagung bakar ketangan Alya.
"Ooh.. iya Ndi, terima kasih." Ucapnya, seraya mengambil jagung bakar itu dari tangan Andi.
"Iya, Al." Ucap Andi singkat.
Merekapun menikmati makanan, dan minuman tersebut dengan senda gurau, dan bahagia.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....