
Ketika pagi menyambangi, fajar telah menyingsing. Asyafa menggeliatkan tubuhnya, diterpa sorotan sinar mentari yang menyeruak melalui tirai gorden. Kaca jendela yang memantulkan cahayanya, membuat Asyafa mengerjapkan matanya.
"Aah.. sepertinya hari sudah pagi! Jam berapa ini?" Asyafa melirik jam dinding, menunjukan pukul 07.30 WIB.
"Kenapa Ibu tidak membangunkanku? Mungkin Ibu tahu hari ini aku libur, lebih baik aku mandi sekarang deh." Gumamnya dalam hati.
Asyafa merampungkan mandinya sekitar 20 menit, dia tersenyum sendiri mengingat semalam. Dia tertidur lelap dan bermimpi seorang pangeran, yang ternyata Dosen Rayhan menjadi Pangeran Berkuda, yang menolong seorang gadis yaitu dirinya.
"Mimpi yang manis dan indah." bathinnya.
Asyafa memakai baju rumahan, kemudian berdandan tipis-tipis dan mengeringkan rambutnya memakai hair dryer sebentar. Lalu keluar kamar menuruni anak tangga mencari keberadaan Ibu dan Ayahnya.
"Ternyata Ibu dan Ayah ada di sini." Ucapnya sambil menghimpit duduk di tengah antara Ibu dan Ayahnya.
"Iiich... anak Ibu ini, udah gede masih saja sukanya bangun kesiangan." Ucapnya mencubit pipi anaknya gemes, sambil menggeser bokongnya yang terjepit oleh anaknya itu.
"Ha... ha.. ha..." Ayahnya hanya tertawa melihat kelakuan anak gadisnya.
"Haii... Ayah, semalam pulang jam berapa? Aku tidak melihatmu pulang." Tanya Asyafa.
"Ayah, semalam pulang pukul 11 malam. Ayah lihat lampu kamarmu sudah padam, berarti kamu sudah tertidur, bukan?"
"Semalam, aku tidak tahu pasti tidur jam berapa sih Ayah. yang jelas mataku semalam susah di pejamkan. Tapi lama-ama bisa sih, akhirnya aku tertidur pulas sampai bangun kesiangan begini. Hi... hi... hi..." tertawa malu.
"Anak Ayah ini, pasti abis bermimpi indah. Makanya engga mau bangun. Ha.. ha.. ha.." Ayahnya tertawa menggoda.
"Aiish.. Ayah sok tahu!" Umpat Asyafa.
"Ayah denger kata Ibu, kemarin kamu pulang dianter cowok ganteng, bukan? Jodoh kamu Rayhan Darma. Ayah senang kalau kamu sudah kenal sebelum pertemuan keluarga. Menurut kamu bagimana Pria itu, Nak? Tanya Ayah Bernad.
"Dia itu nyebelin dan sok deket, kepedean dan sok ganteng." Pendapat Asyafa.
"Ha.. haa..." Ayah dan Ibu tergelak tawa.
"Tapi suka, bukan cowok kayak Nak Rayhan?" Ibu dan Ayah kompak meledek.
"Aiish.. Ibu dan Ayah sama saja." Mengerucutkan bibirnya sebal.
"Sudah... sudah ayo kita sarapan!" Titah Ibunya.
"Ayo... aku sudah lapar yah! Hi.. hi.. Pasti Ibu masak enak nih? Iya, bukan bu?" Tanya anaknya.
"Ibu masak opor ayam sama kentang balado kesukaanmu." Jelas Ibu
"Dan kesukaan Ayah mana?" Tanya Ayahnya iri lalu cemberut.
"Kalau Ayah sarapannya roti pakai selai stroberi ini seperti biasanya." Ucap Ibunya tanpa dosa.
"Ha... ha..." Asyafa tertawa puas mendapati Ayahnya cemberut.
"Puas kamu Nak? Menertawakan Ayah!" Omel Ayahnya.
"Ya sudah 'lah makan saja, Ayah. Yang ini opor ayamnya enak banget! Eeemmm... enak." Ledek Asyafa.
"Apa benar begitu? Enak 'kah? Tanya Ayahnya.
"Coba sayang, sedikit saja." Pinta Ayah kepada istrinya.
Ayah "pun memakan opor ayam itu.
"Oooh .... ternyata rasanya enak sekali, daging ayamnya lembut dan kuahnya yang gurih, cita rasa yang lezat." Pujinya terhadap masakan istrinya.
Mereka bergelak tawa bersama, sampai merampungkan makannya. Kemudian Asyafa membantu Ibunya untuk membersihkan meja makan, dan piring kotor bekas makan mereka.
__ADS_1
"Biar saya saja Non, yang mencuci piringnya." Pinta Mbo Ijah.
"Engga apa-apa Mbo. Karena saya lagi libur, jadi saya tidak ada kegiatan kampus, engga ada salahnya sedikit membantu." Ucap Asyafa.
"Baiklah Non, saya mau mengerjakan yang lain." Pamit Mbo Ijah.
"Iya, Mbo."
"Nak, ayo kita bersepedah?" Ajak Ayahnya.
"Ayo, 'Yah! Kita berolah raga ke Alun-alun kota Bogor." Jawabnya.
"Ibu.. mau ikut berolah raga sepedah, engga?" Tanya anaknya.
"Tidak Nak, Ibu mau menyirami tanaman saja. Lain hari saja berolah raganya." Jawab Ibunya.
"Ya sudah, kalau begitu! Kita langsung cuss saja Ayah." Ajaknya Asyafa.
"Okey!"
Mereka berdua, akhirnya pergi ke Alun-alun kota Bogor mengendarai mobil, yang di bawa oleh supir pribadi Ayahnya Pak Didin. Tidak lupa menyimpan sepedah lipatnya di bagasi mobilnya.
Sesampainya di Alun-alun kota Bogor, suasana sudah mulai padat, banyak orang yang berolah raga berjalan kaki, bersepedah dan juga orang berjualan disana.
Pak Supir mulai memarkirkan mobilnya, dan menurunkan sepedah lipatnya untuk dikenakan Tuan dan Nona mudanya.
Sudah lama kita tidak kesini Ayah, semakin ramai saja sekarang." Ucap Asyafa mengedarkan pandangannya.
"Iya, Nak! Ayo naiki sepedah kamu." Ajak Ayahnya.
Setelah berputar-putar mengelilingi sekitaran Alun-alun kota Bogor, akhirnya mereka beristirahat sejenak.
"Lumayan yah, Nak! Berkeringat juga Ayah." Gumamnya, seraya mengelap keringat dengan handuk kecil.
"Ha... ha... ha..." Ayahnya tergelak.
"Habis dari sini, kita lanjut atau pulang Ayah?" Tanya Asyafa.
"Kita berjalan-jalan sebentar, sambil mencari jajanan atau buah tangan, Nak." Jawab Ayah Bernad.
"Baiklah!"
Akhirnya mereka bejalan sambil menuntun sepedahnya, mencari jajanan yang di inginkan dan buah tangan untuk Ibunya dirumah.
Karena Asyafa kereporan dengan bawaanya, tanpa sengaja dia menyenggol seseorang.
Bruuk.... !
"M.. maaf." Asyafa mendongak, lalu terkejut menutup mulutnya.
"K.. kakak Rayhan? Kenapa ada disini juga?" Tanyanya heran.
"Sayang, kamu engga kenapa-napa?" Tanya Rayhan yang melihat gadisnya terjatuh membawa bungkusan dan sepedah.
"Sini, Kakak bantu bangun." Ajaknya sambil mendirikan sepedahnya dan menenteng bawaannya.
"Terima kasih, Kak Rayhan." Ucapnya.
"Kenapa Kakak ada disini juga?" Tanyanya penuh selidik.
"Tadi Kakak ke rumah kamu sayang, jemput kamu untuk ambil mobil kamu di bengkel. Terus kata Ibu, kamu sama Ayah ke Alun-alun kota Bogor bersepedah, ya sudah aku susul ke sini." Jelas Rayhan.
"Ooh gitu!" Asyafa tersenyum simpul.
__ADS_1
Akhirnya mereka berjalan berdua tertawa senang, sepertinya gadis itu mulai ada ketertarikan yang entah kapan dimulai, yang pasti dia merasa nyaman berada didekat Rayhan itu.
Sesampainya di parkiran, Ayah Bernad melihat anaknya bersama pria yang tidak dikenal. Dan bertanya-tanya dalam hatinya.
"Siapa gerangan pria itu?"
"Itu Ayah aku, Kak." Ucap gadis itu.
"Benarkah, itu calon Ayah mertua ku sayang?" Tanya Rayhan dengan senang.
"Aiish.. sudah ngaku saja calon Ayah mertua." Gumam gadis itu pelanm
"Asalamu'alaikum, Ayah mertua." Salam Rayhan, seraya mengulurkan tangannya mencium punggung tangan Ayah Bernad takzim.
"Wa"alaikumsalam, ini Nak Rayhan, bukan?" Tanya Ayah Bernad.
"Iya, Ayah. Saya Rayhan Darma, calon menantu Ayah." Jawab Rayhan dengan senang.
"Sini Nak, peluk Ayah." Titahnya, seraya merentangkan tangannya dan disambut pelukan hangat oleh Rayhan.
Tak disangka kita bisa bertemu disini Nak! Sudah lama sekali Ayah baru melihatmu tumbuh dewasa, yang sangat tampan, gagah dan juga baik. Terakhir kali Ayah melihatmu dulu di Belanda, sewaktu kamu masih duduk di bangku SD yah Nak. Kamu pasti sudah lupa." Celoteh Ayah Bernad mengenang masa itu, buliran air mata menggenang di mata Ayah bernad.
Ayah menangis terharu, dan melepaskan pelukannya dari calon menantunya itu. Seraya berkata Ayah titip anak semata wayang Ayah sama kamu Nak Rayhan." Pinta Ayah Bernad sambil berbisik ditelinga Rayhan.
"Iya, Ayah." Janji Rayhan.
"Lama sekali kalian berpelukan, sepertinya aku di lupakan." Pungkas Asyafa sambil membawa tentengannya ke dalam mobil.
Sepertinya ada yang cemburu, Nak." Ledek Ayahnya yang kemudian mereka tertawa.
"Yeeh.. siapa juga yang cemburu." Elak Asyafa mengerucutkan bibirnya.
"Bahkan, aku saja belum pernah di peluknya." Gumamnya yang sedikit didengar Rayhan.
"Oooh.. jadi gadis kecilku ini minta di peluk juga hah.. !" Ledek Rayhan, yang tertawa senang dan diikuti gelak tawa Ayah Bernad.
Sedang gadis itu merengut, sebal karena ketahuan gumamannya.
"Ayo kita pulang Ayah." Ajak anaknya.
"Iya, Nak." Jawabnya.
"Ayo.. Nak Rayhan kita pulang."Ajak Ayah Bernad.
"Saya mau ke bengkel Ayah, ambil mobil Asyafa" Izin Rayhan.
"Iya.. kalau begitu, kamu ikut Nak Rayhan sayang." Titah Ayah Bernad.
"Iya, Ayah!" Asyafa menurut.
"Baiklah... by Nak. Ayah duluan yah, calon mantu Ayah." Pamit Ayah Bernad.
"Hati-hati Ayah" Ucap keduanya.
Sekarang kita ke bengkel, sayang. Ajak Rayhan, seraya menyambar tangan gadis itu, dan mengaitkan pautan jemari mereka. Rayhan tersenyum simpul.
Deeg.. !
Jantung mereka saling bertabuh genderang.
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
__ADS_1