
"Aku... engga.. kenal.. Pria.. itu, Kak. " Ucapan Asyafa terjeda seraya menggelengkan kepalanya, bathinya berbohong.
"Tapi, kalau kamu tidak mengenalnya, mengapa bisa terlibat masalah seperti tadi? " Tanya Rayhan penasaran.
"I.. itu gara-gara aku salah masuk, dan duduk di tempat yang sudah di booking oleh orang itu, Kak! " Jawab Asyafa jujur.
"Memangnya kamu tidak tahu, kalau tempat yang sudah di booking biasanya ada tandanya seperti tulisan VIP, atau tulisan sudah di booking, atau sudah Reservasi gitu!" Ucapnya Rayhan menjelaskan detil.
"Aku tau sih Kak! Tapi belaga cuek!" Ucapnya tersungging dari bibirnya Asyafa,
"Habis sudah engga ada bangku yang kosong Kak, Aku dan Alya sudah keroncongan ingin makan. Masa sih harus makan sambil berdiri, ya sudah ada tempat kosong, sayang 'kan jadi aku duduk di situ saja deh Kak."
Ucapnya santai, seraya tersenyum tanpa dosa.
"Ooh begitu? Jadi orang itu marah gara-gara tempat itu sudah dia booking. Lantas kamu tempatin gitu?" Tanyanya sambil tersenyum
"Iya kak. !" Ucap Asyafa singkat.
"Sepertinya orang itu bukan dari kalangan biasa, mungkin dari kalangan anak pengusaha atau anak pejabat, karena orang itu membawa Asisten pribadi dan juga bodiguar!" Terka Rayhan.
Asyafa bergeming, pikirannya melayang entah kemana memikirkan sesuatu yang nantinya berujung panjang.
"Kamu kenapa sayang, malah bengong gitu?" Tanya Rayhan.
"E.. engga Kak, aku baik-baik saja!" Ucap Asyafa gugup.
"Kak, aku mau tanya soal Pria yang mabuk malam itu, bagaimana nasibnya?" Tanya Asyafa penasaran.
"Sepertinya Pria itu di bebaskan keesokan harinya, karena Pria itu anak dari seorang Pejabat, yang di segani di kota ini." Jelas Rayhan.
"Pantas saja" Gumamnya pelan
"Kakak tahu dari mana infonya?" Tanyanya, penuh selidik.
"Dari media sosial, status seseorang yang menyatakan, Pria mabuk semalam, di acara pembukaan Perusahaan Tuan Beni Darma sudah dibebaskan, karena penjaminnya adalah Ayahnya yang seorang pejabat kota ini. Jadi pungkasnya seperti itu info dari media sosial." Jelas Rayhan.
"Ooh jadi seperti itu. !" Ucap Asyafa.
"Iya.... kamu jangan lagi-lagi berurusan sama orang itu!" Pesan Rayhan.
"Tapi kenapa kamu tumben, tanya soal Pria itu? Ada apa, memang kamu bertemu lagi dengan pria itu? Kamu engga takut sama dia?" Tanya Rayhan.
"T.. tidak, aku tidak bertemu pria itu lagi." Ucapnya bohong.
"Kak, apakah ini terasa sakit," Tanya Asyafa seraya menyentuh bibir Rayhan yang memar dan sedikit bengkak. Sontak saja, tubuh Rayhan seperti terkena sengatan listrik berpuluh ribu voltase, terkena sentuhan tangan calon istrinya itu, tepat di bibirnya.
"S... sudah tidak sakit, sayang!" Ucapnya Rayhan kikuk, seraya menyentuh tangan Asyafa.
"Yakin Kak, sudah tidak sakit lagi?" Tanya Asyafa menggoda Rayhan dengan mengedip-ngedipkan bulu matanya.
"Yakin.. sayang." Jawab Rayhan, seraya menarik hidung gadisnya, menyembunyikan debaran jantungnya yang berdegup kencang.
"Syukurlah.. tapi ada yang sakit engga ditempat yang lain, disini atau di sini?" Tanya Asyafa yang mencari-cari letak sakit, sedang Rayhan tertawa kegelian.
"Tidak sayang, sudah terasa lebih baik, kakak malah terasa geli di sentuh kamu. Ha.. ha.." Ucapnya Rayhan tergelak.
'Aiish... Kakak ini, ditanya serius juga." Ucapnya sebal, mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Kak, kita kabarin orang tua kita tidak?" Tanya Asyafa.
"Sepertinya tidak perlu, nanti sore kita pulang saja." Jawab Rayhan yakin.
"Tapi Kak, kata Dokter, Kakak baru boleh pulang besok, dan harus di rawat satu malam." Jelas Asyafa.
"Biar nanti Kakak yang bicara sama Dokter, setelah Dokter mengechek kondisi Kakak, jangan khawatir." Ucap Rayhan.
"Baiklah Kak!" Jawabnya pasrah.
*******
"Asisten Romi.......!"
"Iya boss Damar, ada apa?" Tanya Asistennya.
"Apakah kamu mengenal wanita tadi, di Restoran hah...?" Tanya Bossnya.
"Tidak Boss!! " Jawab Asistennya.
"Coba kamu cari informasi, mengenai gadis yang tadi membuatku sedikit geram." menyeringaikan senyumnya.
"Yang mana Boss? Tadi 'kan ada dua gadis Boss!" Tanya Asistennya.
"Dasar bodoh kau!" Bentak Damar.
"Gadis yang cantik, berambut panjang agak pirang, dan bermata coklat, tapi sedikit galak." Pungkasnya Damar menjelaskan.
"Oooh yang itu Boss...! Okay saya akan cari informasi gadis itu Boss." Janji Asistennya,
"Aiis.. apa yang kau katakan hah..? Awas jangan sampai salah, aku tunggu informasinya." Ucap Damar dengan nada mengancam.
"Iya Bosss, aku tidak mengatakan apa-apa." Ucapnya berbohong.
Akhirnya, Asisten Romipun mulai mencari informasi tentang gadis itu, dari Sekurity, di Restoran tadi yang membawanya ke rumah sakit terdekat, dan mulai mengikutinya.
*******
Alya masuk keruang rawat Rayhan dan menanyakan kondisi Dosennya itu. Dia menemani Asyafa dan Rayhan di kamar pasien. Setelah menunggu beberapa jam kemudian, pukul 3 sore Dokter memeriksa keadaan pasien Rayhan." Semuanya sehat tinggal masa penyembuhan saja, tidak ada luka dalam dan tidak ada luka yang serius. anda boleh pulang besok." Ucap Dokter itu.
"Iya Dok, tapi boleh 'kah, saya tidak usah dirawat Dok, kondisi saya juga sudah lebih baik." Pinta Rayhan memohon.
"Kalau anda sudah merasa demikian, saya izinkan anda untuk pulang." Ucap Dokter menerima.
"Terima kasih Dok!" Ucap Rayhan seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Sama-sama." Ucapnya ikhlas, seraya menerima uluran tangan Rayhan.
Akhirnya, Rayhanpun bergegas pulang kerumahnya, setelah Asyafa mengurusi biaya administrasi pengobatan Rayhan, mereka bertiga pulang menuju rumah Rayhan, memesan Taxi Online. Sedangkan mobil Asyafa dan Rayhan masih tertinggal di parkiran Mall Bogor.
"Nanti mobil kita, biar supir Kakak yang ambil yah!" Ucap Rayhan memberi usul.
"Iya Kak." Sahut Asyafa menerima.
Sesampainya di kediaman rumah Rayhan, Asyafa langsung memapah Rayhan pelan menuju pintu rumah, yang diikuti oleh Alya. Pelayan membukakan pintu untuk mereka bertiga, dan langsung membantunya. Betapa terkejutnya Mama Jovanka dan Papa Beni, mendapati anaknya yang kondisinya tidak seperti biasanya.
"Ada apa denganmu Dude?"
__ADS_1
"Mengapa kamu seperti ini Son?" Tanya Mama dan Papa kompak.
"Aiish.. Mom.. Pap.. aku tidak apa-apa, aku sedikit berolah raga tadi." Ucapnya Rayhan bohong seraya mengerlingkan matanya.
"Ya sudah kamu istirahat di kamar saja Nak!" Pinta Mama seraya meminta pelayannya membantu.
Merekapun mengekori Rayhan menuju kamarnya. Rayhan langsung merebahkan tubuhnya di kasur, dan Asyafa berdiri di samping Rayhan.
"Calon menantu Mama tidak apa-apa, bukan? " Tanya Mama Jovanka seraya memeluk calon mantunya itu.
"Allhamdulillah, tidak Mom." Ucap Asyafa seraya mencium punggung tangan Mama Jovanka dan Papa Beni.
"Oh iya Mom, Pah, ini teman Asyafa namanya Alya" Ucap Asyafa mengenalkan temannya.
"Perkenalkan nama saya Alya tante!, om." Ucap Alya seraya mencium punggung tangan tante Jovanka dan om Beni.
"Iya Nak, salam kenal, saya Mamanya Rayhan dan ini Papa Rayhan." Ucap Mama Jovanka.
"Sayang, Mama ke dapur dulu, mau membuatkan teh manis dan camilan." Pamit Mama Jovanka.
"Iya Mom, bolehkah saya membantu?" Tanya Asyafa.
"Tidak usah Nak, nanti biar Pelayan yang buatkan, kamu temani saja Rayhan calon suamimu Nak." Pinta Mama Jovanka.
"Baik Mom!!" Ucapnya patuh.
"Sya, gue balik dulu yah! Nanti Bonyok gue nyariin gue, sudah dari semalem belum pulang." Pamit Alya.
"Iya sudah kalau begitu, terima kasih yah. Berani engga pulangnya?" Ledek Asyafa.
"Berani lah! Dasar loe, nanti lain kali saja shopingnya yah." Janji Alya.
"Okay!" Jawab Asyafa seraya mengangguk pelan.
"Tante, Om, Pak Dosen Rayhan, saya izin pulang dulu yah!" Pamit Alya.
"Iya Nak, nanti di anter pulang sama Pak Supir saja yah." Usul Mama Jovanka
"Iya tante, terima kasih!" Ucap Alya seraya mencium punggung tangan tante Jovanka dan om Beni.
Alyapun meninggalkan kediaman keluarga Rayhan, yang diantar oleh supir keluarga Rayhan.
"Sayang, Mama dan Papa tinggal dulu yah," pamit mama yang diekori suaminya
"Iya Mom!" Ucap Asyafa dan Rayhan kompak.
"Kak.. !" Panggil Asyafa.
"Iya sayang, kenapa? Sini donk duduk dekat Kakak, jangan jauh-jauh gitu." Menepuk-nepuk kasur, untuk duduk di sampingnya, yang kemudian Asyafa menurutinya duduk di dekat Rayhan.
"Sayang, ada apa? Tadi manggil, sudah deket malah diam saja gitu. Iich... gemesin banget calon istri aku ini." Menangkup wajah Asyafa lekat, merasakan desiran aneh dan terdiam sejenak, mata mereka saling bertautan, tersirat dorongan yang entah mengapa begitu kuat di luar akal pikiran, otak sudah berkelana, napas terasa tersenggal, hawa panas mendominasi, keduanya hanyut dalam suasana, ketika tangan Rayhan mulai menarik tengkuk gadisnya itu, hendak meraup bibir ranumnya.....
Took... took... ! Pintu di ketuk.
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
__ADS_1