
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Willyam, dan Maurin sudah memasang seatbeltnya, diapun melirik ke belakang memastikan Rayhan, dan Asyafa untuk memasangkan seatbeltnya. Setelah semua siap, Willyam menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mobil itu membelah jalanan lancar tanpa hambatan.
Satu jam kemudian sampailah mereka di pantai Boulepard Van Plissingen. Pantai yang sangat indah, terhampar luas deburan ombak yang menari-nari. Seakan tak puas mata memandang, ragapun ingin rasanya menyentuh keindahan yang tersaji, lukisan sang maha Pencipta.
"Woow.. keren yah Kak pantainya, apalagi sore-sore begini. Sepertinya kita akan mencari penginapan di sekitar sini." Selorohnya senang, merentangkan kedua tangannya untuk merasakan sapuan angin pantai yang bergelora.
"Iya, cinta." Ucap Rayhan, seraya memeluk pinggang istrinya dari belakang dengan mesra.
Willyam, dan Maurin tersenyum menatap mereka yang sungguh bucin.
"Iyuh.. pengantin baru, mesra banget. Dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak saja. He.. he.. he.." Ledek Willyam terkekeh.
"Ha.. ha.. ha..." Tawa Asyafa dan Rayhan.
"Idiih.. hubby kamu mah sirik saja sama orang, kalau mau seperti mereka, cepetan nikah, hi.. hi.. hi...." Sindir Maurin tertawa kecil.
"Aiishh.. calon istriku nantangin...! Beneran yah, besok kita ke Altar Pernikahan, Apakah kamu sudah siap?" Tantang Willyam tidak main-main, seraya tersenyum miring dan menaik turunkan alisnya genit.
"Eemmm... aku pi.. " Ucap Maurin terhenti, saat Rayhan dan Asyafa langsung berseru.
"Siap.. siap.. siap.. !" Seru Asyafa, dan Rayhan kompak, memotong ucapan Maurin yang belum sempat di ucap.
"Ooh.. thanks Ray, Sya." Ucap Willyam senang.
"Ayo dong Maurin, jawab kalau loe siap." Desak Asyafa, seraya tersenyum mengembang ke arah Maurin.
"E.. emang kalau aku sudah s.. siap, Kamu beneran ajak aku menikah besok? Bukankah Pernikahan itu sangat banyak yang harus di...." Ucapnya terpotong, oleh Willyam yang langsung memeluknya dan berucap.
"Kita menikah dulu, resepsinya bisa menyusul, yang terpenting Sah dulu kita menjadi suami istri."
Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, dan wajah yang sudah bersemu merah, Maurin akhirnya berucap.
"Iya... hubby."
Seketika Willyam tersenyum bahagia, lalu menarik tengkuk Maurin perlahan, dan menyambar bibir Maurin lembut, saling mencecap, dan bertukar saliva, mereka meneguk manisnya rasa yang berbeda.
"Eeeheemmm..." Deheman Asyafa dan Rayhan menghentikan ciuman mereka. Sontak saja semuanya langsung tertawa bersama.
"Ha.. ha.. ha.."
"Yeah... selamat yah, akhirnya temanku menikah." Ucap Asyafa riang seraya mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Selamat yah Bro, sepupuku akhirnya menikah." Ucap Rayhan senang.
"Terima kasih, Sya, Ray." Ucap Willyam dan Maurin bersamaan, kemudian dianggukkan oleh Rayhan dan Asyafa.
__ADS_1
"Berarti, kita engga jadi mencari penginapan di sini, sayang. Nanti kita balik ke Hotel saja yah." Ujar Asyafa.
"Iya sudah, kalau begitu." Sahut Rayhan pasrah.
Akhirnya setelah itu, mereka berjalan-jalan di pantai, dan menikmati dinginnya angin pantai yang seakan menampar wajah mereka. Menikmati makan malam bersama dipantai itu hingga pukul 10 malam, mereka memutuskan untuk kembali pulang.
*******
Di Bandung, pagi ini Bari Darma sedang tergesah-gesah berjalan disaat memasuki lobby Perusahaan miliknya. Dia mendapat informasi dari Asisten Pribadinya yang bernama Yoga, jika saham miliknya sedang mengalami penurunan yang signifikan.
Bagaimana tidak panik, jika selama ini saham miliknya baik-baik saja, namun tiba-tiba tidak ada angin, tidak ada badai, sahamnya langsung anjlok begitu saja.
"Coba kamu cari tahu, apa penyebab saham kita bisa jatuh seperti ini?" Perintah Bari Darma kepada Asisten Pribadinya itu, seraya mengusap wajahnya kasar, dengan pikiran yang hampir buntu.
"M.. maaf Tuan, s... sebenarnya saya sudah tahu penyebab saham Perusahaan kita turun." Ucap Asisten Pribadinya itu dengan gugup.
"Kenapa kau diam saja, tidak mengatakannya dari tadi." Kesal Bari Darma menatap Asistennya itu tajam.
"M.. maaf Tuan, saya takut Tuan Marah." Selorohnya gugup.
"Ya sudah, katakan." Pinta Bari tegas.
"Sejak beberapa bulan yang lalu, sekitar bulan January, ada seorang investor yang ikut bekerja sama dengan Perusahaan kita. Tapi Tuan tidak bisa bertemu dengannya, akhirnya saya yang menemuinya." Jelas Asisten itu jujur.
"January? Sebentar saya ingat-ingat dulu. Kamu tahu siapa namanya?" Tanya Bari penasaran.
"Iya, Tuan. namanya Martin. Perusahaannya sangat besar, dan maju. Dia dan rekannya menunjukkan saham yang mereka miliki sangat bernilai tinggi, hingga kami memutuskan untuk menjalin kerjasama." Ucapnya jelas.
"Terus, Tuan Martin meminta salah satu pegawainya, untuk berada di sini dalam mengawasi semua kegiatan, dan eksistensi Perusahaan."
"Tuan Bari pasti kenal dengan Tuan Hans, bukan?" Tanya Asistennya.
"Iya... kenapa dengan Hans?" Bari bertanya kembali.
"Dialah penyebab semua ini Tuan." Sahut Asistennya yakin.
"Maksudmu? Hans yang membuat saham kita seperti ini hah..?" Tanya Bari kesal.
"Iya.. Tuan." Ucap Asistennya pasti.
"Kau jangan asal menuduh, apa buktinya?" Tanya Bari kembali.
"Dia sudah memata-matai kegiatan keuangan Perusahaan, meminjam uang dalam jumlah besar ke Bank, atas nama Perusahaan. Membuat para klien kita berpindah kerja sama dengan Perusahaan lain. Lalu para Investor kita menarik saham mereka kembali, dan bekerjasama dengan Perusahaan lain. Perusahaan kita jadi terlilit hutang di Bank, belum lagi biaya operasional kita yang semakin membengkak, dan masih banyak penyebabnya yang lain, Tuan." Jelas Asistennya panjang lebar.
"Jangan-jangan Hans ahli IT dan Hacker." Tebak Bari curiga.
"Bisa jadi, Tuan." Ucapnya sependapat.
"Sekarang kamu tahu tidak, dimana keberadaan Tuan Hans?" Tanya Bari dengan tatapan elangnya.
__ADS_1
"Sejak dua hari yang lalu dia menghilang Tuan, mungkin dia mulai menyadari saat kami mencurigainya. Ternyata memang terbukti dia penyebab semua ini." Ujarnya yakin.
"Bruaaak..." Suara meja di pukul oleh Bari.
"Deg." Jantung Asisten Yoga terkejut.
"Sial kau Hans..." Maki Bari mengumpat kesal.
"Kamu kerahkan semua anak buah kita, cari orang itu sampai ketemu. Kalau sampai kau, dan mereka tidak dapat menemukannya, jangan harap kalian akan mendapat gaji dariku lagi." Ancam Bari tidak main-main, dengan emosi yang meletup-letup.
"Baik Tuan, saya akan kerahkan kemampuan saya dengan maximal." Janji Asisten Yoga.
"Ya sudah, saya tunggu kabar baik darimu." Ucap Bari, seraya meninggalkan ruangan Asistennya dengan wajah masam.
*******
Di kantor Perusahaan Beni Darma yaitu PT. DARMA PERKASA, Tuan Beni sedang berbicara lewat ponselnya dengan Asisten Martin.
"Hallo.. iya kenapa Asisten Martin? Apakah ada masalah di sana?"
"Iya, Tuan ada masalah sedikit, tapi untungnya Hans langsung menyadari kecurigaan Tuan Yoga dan Tuan Bari."
"Bagaimana Hans, bisa ketahuan."
"Saham mereka turun drastis Tuan di level bawah, jadi mereka mulai mencari penyebabnya, dan Hans yang paling di curigai."
"Sekarang Hans dimana?"
"Sedang bersembunyi di Hotel, Tuan."
"Bawa Hans kesini, jika ada yang mencarinya, katakan Hans ada di Jakarta bersamaku."
"Baik, Tuan."
"Terima kasih atas kerja kerasmu Asisten paling setiaku. Aku akan memberikan bonus besar untukmu, dan anak buahmu, juga Hans tentunya."
"Sama-sama Tuan sayapun sangat berterima kasih, karena Tuan selalu percaya kepada saya."
"Heeem.. baiklah sampai disini dulu pembicaraan kita."
"Iya, Tuan."
Mereka menutup ponselnya bersamaan.
"Bari Darma... kau harus bersiap-siap menerima kehancuran atas keserakahanmu. Ini untuk Papa Jaya dan Adik Dewi." Ucap Bathin Beni.
--BERSAMBUNG--
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karyaku yang baru yah teman-teman. Terima kasih