
"Hallo, dude? Bagaimana kondisi kamu?" Tanya Papa Beni menangis haru, seraya berjalan mendekatinya lalu merentangkan tangan untuk memeluknya.
"Sudah lebih baik, Pah! Terima kasih Pah, sudah menyelamatkan Rayhan." Jawab Rayhan seraya menerima pelukan Papanya.
"Sejak kapan Papaku ini menjadi cengeng hah... ?" Tanya Rayhan seraya mengurai pelukannya.
"Dude, kamu ini anak Papa satu-satunya, bagaimana bisa Papa tidak menangis melihat kondisi kamu seperti ini?" Ujar Papa Beni haru.
"Iya, Pah." Ucap Rayhan haru.
Asyafa dan Ayah Bernad ikut terharu melihat interaksi mereka.
"Sudahlah besan, jangan bersedih terlalu lama. Sekarang lebih baik kita kabari istri kita, agar mereka tidak khawatir." Ujar Tuan Bernad menenangkan.
"Iya, Tuan Bernad kamu benar." Ucap Tuan Beni.
"Rayhan, lekas sembuh yah. Istirahat yang cukup, agar kondisi kamu lekas pulih." Ucap Ayah Bernad menasehati menantunya.
"Sebenarnya, kamu ada masalah apa dengan anak dari teman bisnis Papa, dude?" Tanya Papa Beni.
"Rayhan tidak tahu Pah, aku tidak mengenalnya. Tapi dia bilang, kalau dia mencintai istriku dan ingin menghabisiku malam ini juga. Agar dia bisa memiliki istriku kata Pria itu." Jelas Rayhan seraya melirik ke arah istrinya.
Deg.. !
Jantung Asyafa berdebar lebih cepat, dan berdentum lebih kencang. Dia terkejut dengan apa yang di katakan suaminya kalau Damar mencintainya.
"Papa tidak mengerti, sebenarnya ada hubungan apa anak itu dengan menantu Papa?" Tanya Papa Beni meminta penjelasan, seraya menoleh ke arah Asyafa.
Deg... !
Asyafa bergeming, entah apa yang harus dia katakan karena dia tidak tahu menahu dan masih shok dengan kejadian ini.
"Heeem.. sebenarnya anak itu bernama Damar, dia telah menyelamatkan kami sekeluarga sekitar dua bulan yang lalu. Dia terluka, akibat melawan para Preman yang akan merampok kami ketika itu. Dia di Operasi dan di rawat di Rumah Sakit, dan kami menjaganya di sana selama tiga hari. Hanya sebatas itu kami mengenalnya." Ujar Ayah Bernad panjang lebar.
Rayhan dan Tuan Beni termangu mendengar penjelasan Ayah Bernad.
"Seingat saya waktu itu sedang di Yogyakarta, Rayhan telepon Ayah karena ponsel istri Rayhan tidak aktip seharian. Benar engga Ayah?" Tanya Rayhan ragu.
"Iya, Nak Rayhan. Kejadiannya ketika kamu sedang di Yogyakarta.
"Sayang, setelah kejadian itu memang kamu masih bertemu dengan Pria itu?" Tanya Rayhan curiga.
"Tidak Kak." Jawab Asyafa singkat seraya menggelengkan kepalanya sedikit.
"Kami pernah di undang acara makan malam dua minggu setelah Damar dirawat di Mensionnya, namun Asyafa tidak ikut karena sedang sibuk mengerjakan skripsi dan ujian akhir. Hanya Ayah dan Ibu yang datang ke Mension Damar saat itu." Jelas Ayah Bernad.
__ADS_1
"Ooh.. begitu Ayah ceritanya." Ucap Rayhan.
"Tapi kenapa dia begitu menginginkan istriku ini, hingga nekad menculik dan hendak membunuhku. Jangan-jangan rem mobilku bloong juga perbuatan dia. Besok saya minta Supir Papa untuk mengechek mobilnya di bengkel apa penyebabnya." Rasa penasaran Rayhan.
"Bisa jadi ada hubungannya, dude." Papa Beni menimpali.
Asyafa semakin shok dengan apa yang didengarnya.
"Sungguh tidak habis pikir, anak itu terlihat baik, terpelajar, berkharisma, tegas dan tampan namun hati dan otaknya jahat." Ujar Ayah Bernad, seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kadang cinta bisa membutakan segalanya. Hingga bisa berbuat nekad seperti anak itu." Ucap Tuan Beni.
Asyafa merinding mendengar ucapan Papa mertuanya itu. Seketika dia bergidig ngeri.
"Sekarang Papa mau pulang dulu untuk mengabari Mama, Dude." Pamit Papa Beni.
"Ayah juga yah, pulang dulu. Kalian istirahatlah berdua. Semoga selalu bahagia." Pamit Ayah Bernad.
"Terima kasih Ayah dan Papa." Ucap Asyafa dan juga di ikuti oleh Rayhan.
Sepeninggalnya orang tua mereka, Asyafa dan Rayhan nampak canggung dengan kenyataan yang baru di dengarnya. Asyafa masih gamang dengan Damar yang katanya cinta kepadanya. Sedangkan Rayhan limbung dengan Asyafa yang entah bisa di mengerti olehnya.
"Heeem... Kakak, apa belum mengantuk?" Tanya Asyafa membuka suara.
"Sudah hampir pagi Kak, ayo tidur." Ajak Asyafa seraya berjalan ke arah sofa untuk tidur. Namun tangannya langsung di cekal suaminya.
"Kamu hendak kemana?" Tanya Rayhan yang masih mencekal tangan istrinya.
"Hendak tidur, Kak." Jawab Asyafa.
"Tidur di sini saja, samping Kakak." Pinta Rayhan.
"Sempit Kakak." Jawab Asyafa.
"Tidak apa-apa. Kamu 'kan istri Kakak." Ujar Rayhan.
"Eeem.. malu, Kakak." Ucap Asyafa.
"Kenapa harus malu? Kita 'kan sudah menikah, sayang." Ucap Rayhan lagi.
"Kakak, ini Rumah Sakit, lagian badan Kakak masih pada sakit dan memar gitu." Jelas Asyafa meyakinkan.
"Ya sudah, tapi sebentar dulu." Ucap Rayhan akhirnya menyerah, namun tangannya langsung menarik tengkuk istrinya lembut.
Seketika Asyafa membulatkan matanya menerima serangan dadakan dari suaminya. Pipinya mendadak panas dan jantungnya berdebar kencang. Lum*tan yang diberikan Rayhan begitu lembut dan mendominasi, mereka saling bertukar salifa dan mengabsen isi rongga mulut satu persatu dengan lembut dan memberikan gigitan kecil yang menambah sensasi cium*n panas mereka.
__ADS_1
"K.. kakak, sudah cukup." Pinta Asyafa yang langsung melepas pangutannya.
"Sayang, maaf yah." Sesal Rayhan, seraya melepas pangutannya.
"Tidak apa, Kak." Ucap Asyafa, seraya berjalan menuju sofa lalu membaringkan tubuhnya dan menyambangi mimpinya. Karena Asyafa terlampau lelah dan ngantuk hingga tubuhnya butuh istirahat, diapun tertidur pulas.
Rayhan mengulum senyum melihat istrinya yang langsung tertidur pulas. Dia terus memandangi istrinya lekat dan terkagum dengan kecantikan yang begitu special di hatinya. Istrinya itu seperti candu baginya.
"Bagaimana aku bisa rela untuk membagi cinta istriku untuk Pria jahat itu? Siapa yang tidak terpesona dan jatuh cinta pada istriku ini, jika melihat dia yang sedang tidur seperti ini. Sungguh sangat cantik dan menggemaskan." Bathin Rayhan bermonolog.
"Sayang, aku selalu percaya kepadamu, jika cintamu hanya untuk aku. I love you so much." Gumam Rayhan lirih.
Rayhan mulai memejamkan matanya dan menyambangi mimpinya.
*******
Papa Beni sudah sampai di kediaman ternyamannya. Mama Jovanka sudah terlelap tidur, sewaktu tadi setelah mendapat kabar dari suaminya kalau Rayhan anaknya sudah selamat dan baik-baik saja.
Setelah Papa Beni membersihkan diri, akhirnya dia menghampiri istrinya tidur disampingnya dengan memeluk pinggangnya posesif.
"Sayang, selamat tidur. I love You Jovanka.
*******
Di kediaman Ayah Bernad, Ibu Nurlaila belum bisa tidur meski sudah mendapat kabar dari suaminya tentang keberadaan anak dan menantunya.
Ayah Bernad akhirnya tiba di rumah, dia langsung di berondong pertanyaan oleh istrinya itu. Namun Ayah Bernad hanya tersenyum dengan semua pertanyaan istrinya itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Mengapa bisa Rayhan di culik?"
"Siapa yang tega melakukan kejahatan itu?"
"Bagaimana keadaan anak kita dan menantu kita sekarang?"
"Ayah sayang, kenapa diam saja? Jawab pertanyaan Ibu." Ucap Ibu penasaran.
"Sayang, sudahlah besok Ayah cerita semuanya. Sekarang lebih baik kita tidur, Ayah sudah lelah dan ngantuk." Ujar Ayah Bernad meyakinkan istrinya itu.
Akhirnya setelah membersihkan tubuhnya, Ayah Bernad dan istrinya tertidur lelap dan terbuai di alam mimpi.
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
__ADS_1