
Rayhan terperanjat, mendengar teriakan Asyafa. Hingga akhirnya mereka terjerembab diatas kasur, dengan posisi Asyafa yang berada diatas Rayhan. Tanpa disengaja bibir mereka bersilahturahmi, terdiam sejenak. Asyafa mulai menarik bibirnya perlahan, dan bangkit dari posisi yang tidak menguntungkan baginya.
"Maaf.. Kak Rayhan." Sesal Asyafa atas tindakannya, diluar perkiraan.
Rayhan masih bergeming, dengan apa yang telah terjadi barusan, sungguh diluar perkiraan. Bibirnya masih merasakan, rasa manis yang barusan dia terima. Sungguh menggoda iman, namun dia tersadar kalau itu adalah sebuah kesalahan.
" Engga sayang, kakak yang salah... ! Kakak minta maaf yah." Ujarnya tulus meminta maaf atas kecerobohannya, dengan suara parau.
Asyafa malu menatap Rayhan, yang memandanginya terus - menerus. Dia jadi salting sendiri, bingung harus berkata apa. Asyafa hanya merutuki dirinya, atas apa yang telah terjadi barusan. Keduanya terdiam sesaat sibuk dengan pemikiran masing - masing.
Setelah beberapa saat hening, akhirnya Rayhan mulai membuka suaranya.
Rayhan mulai menjelaskan, maksud dia mengangkat tubuhnya itu, untuk memindahkan posisi tidurnya yang kurang baik. Disamping itu, niatnya tidak ingin membangunkan Asyafa, melainkan hanya ingin menaruhnya di atas kasurnya. Tetapi Ekspektasi, tidak sesuai kenyataan yang terjadi.
"Maaf untuk yang kedua kali sayang, kakak sudah membuat kamu terkejut." Ujar Rayhan tulus, seraya menggenggam tangan Asyafa erat.
Asyafa memerah pipinya, menahan malu. Sudah mencuri first kiss nya, secara tidak sengaja. Bahkan dia merasa, jika bibirnya seperti masih menempel, dengan bibir Rayhan. Seketika dia mengurai genggaman Rayhan, menutupi wajahnya, menggunakan kedua tangannya. Membayangkan kejadian tadi, seraya menggelengkan kepalanya.
Melihat Asyafa tidak menjawab, malah melepaskan genggaman tangannya. Rayhan jadi bingung sendiri, lalu dia bertanya. "Mengapa kamu menutupi wajahmu sayang? Apakah kamu tidak memaafkan kakak?"
Akhirnya, Asyafapun menjawab pertanyaa Rayhan, meski suaranya terdengar parau. Lalu membuka perlahan, kedua tangan dari wajahnya. "Bukan seperti itu kak.. ! Aku malu..., itu first kiss buat aku."
Rayhanpun seketika bergeming terpaku, dengan apa yang didengarnya. Gadis ini sungguh begitu polos, benar - benar membuat Rayhan gemas ingin tertawa. Seakan tidak percaya, tapi kenyataannya memang seperti itu.
"Kakak kenapa?" Asyafa menatap heran, dengan Rayhan yang diam, ketika dirinya berbicara jujur soal ciuman itu. "Engga percaya bukan?" Pungkasnya kesal.
Rayhanpun, mulai menggenggam tangan Asyafa kembali, lalu berucap. "Kakak hanya terkejut sayang, dengan penuturan kamu. Kakak makin double sayangnya, mendapatkan first kiss dari kamu."
"Aaiish... gombal." Asyafa meledek, dengar jawaban Rayhan.
"Engga... kakak engga gombal sayang." Rayhan meyakinkan, seraya mengecup lembut kedua tangan Asyafa. Seketika Asyafa tertegun, dengan tindakan Rayhan yang terlihat manis menurutnya.
"Sudah kak', lepaskan tanganku. Aku jadi tambah malu, kalau kakak bersikap manis begini." Ujarnya malu, mendapati dirinya nervouse didepan Rayhan.
"Baiklah, kakak lepasin deh." Rayhan menggoda, seraya menarik ulur tangan Asyafa.
Asyafa mulai kesal dengan tingkah Rayhan, lalu mencebik sebal seraya berucap."Kakak nyebelin banget."
__ADS_1
Sedangkan Rayhan hanya tertawa kecil. "Hi.. hi... hi..." Lalu Rayhanpun, melepaskan tangan Asyafa sepenuhnya.
"Kak', ayo kita makan!, perutku terasa lapar." Ajak Asyafa, seraya beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah keluar kamar.
"Okay." Rayhanpun bangkit dari tempat duduknya, lalu mengikuti langkah Asyafa, keluar kamarnya.
Mereka berjalan menuju ruang makan, Asyafa mencari keberadaan ibunya. "Mbo.., ibu dimana?" Tanyanya, seakan tidak melihat sosok ibunya.
"Sepertinya, Nyonya sedang di kamarnya non'." Jawab Mbo Ijah, seraya undur diri.
"Ooh... begitu yah mbo!, terima kasih mbo." Ucap Asyafa, seraya menarik kursi duduknya, di meja makan.
"Kak', aku masak kesukaan kakak loh." Pamernya dengan bangga.
"Kakak sudah tahu." Ucapnya telak, dengan muka datar. Rayhan kemudian menarik kursi disamping Asyafa.
"Pasti ini, ulah ibu." Tuduh Asyafa beralasan.
"Iya.. ibu yang mengatakannya, tapi kakak senang. Terima kasih, sudah mau masak buat kakak." Ujar Rayhan tersenyum manis, lalu Asyafa mengangguk kecil.
Asyafa mengambilkan piring kosong, yang sudah tertata di meja makan. Soto Betawi sudah tersaji di atas meja, beserta teman pelengkapnya. Harum semerbak dari kuah soto menusuk hidungnya, ketika tutup makanan itu di buka bebas. Membuat cacing di perut mereka, meronta - ronta minta di isi.
"Cukup sayang, jangan terlalu banyak." Ucapnya, melihat nasi dipiringnya yang penuh.
"Okay, jadi segini cukup yah." Ucap Asyafa, lalu menaruh piring tersebut di depan Rayhan.
Asyafa mengambil mangkuk soto, lalu meraciknya dengan telaten. Daging sapi, kentang, bihun putih, kol iris, dan irisan daun bawang, lalu dia siram dengan kuah soto panas. Asyafa menambahkan perasan jeruk nipis, dan sambal, juga kecap di atasnya.
"Apakah, sambalnya cukup segini?" Tanya Asyafa kepada Rayhan, seraya menunjukan sambal di mangkuk sotonya.
"Cukup sayang, saya tidak terlalu suka pedas." Ungkap Rayhan, seraya mengambil mangkuk yang berisi soto tersebut.
Rayhan dan Asyafa, mulai menikmati Soto Betawi dengan santai. Merasakan sensasi, dari rasa kuah soto tersebut. Gurih, manis, asam dan pedas menyatu dengan sempurna. Tidak lupa menambahkan bawang goreng, dan kerupuk emping sebagai pelengkapnya.
Seakan tidak sabar, untuk mendengar komentar Rayhan, dari rasa Soto Betawi yang dia masak. Maka Asyafapun, menanyakan langsung apa pendapat Rayhan, mengenai rasa masakannya.
"Apakah..., rasanya sama enaknya, dengan masakan ibu?" Tanya Asyafa penasaran dengan jawaban Rayhan, seraya memandangi ekspresi wajah Rayhan, ketika sedang makan.
__ADS_1
"Enak.., bahkan lebih enak dari buatan ibu." Jawab Rayhan jujur seraya tersenyum, masih menikmati makanannya yang tinggal sedikit.
Melihat piring nasi dan mangkuk soto Rayhan sudah hampir habis, Asyafapun menawarkan kembali untuk menambah makanannya. Rayhanpun menganggukan kepalanya, sebagai tanda menginginkannya.
"Ini kak' sotonya, nanti harus habis yah." Perintah Asyafa seraya menaruh mangkuk Soto di depan Rayhan.
"Terima kasih sayang." Ucap Rayhan, lalu tanpa ragu langsung memakannya.
"Iya kak', aku suka melihat kakak makan banyak. he... he.. he... " Ucap Asyafa seraya terkekeh senang.
Keduanyapun, akhirnya tertawa bersama. Menikmati makan berdua, seperti layaknya pengantin baru.
Ibu Nurlaila baru keluar dari kamarnya, sudah terlihat segar, karena habis membersihkan tubuhnya. Selepas memasak tadi, dia baru sempat mandi. Melihat pemandangan yang bahagia, Ibu Nurlailapun menghampiri mereka.
"Waah.. romantisnya kalian, ibu jadi teringat masa muda dulu sama ayah." Ujar Ibu Nurlaila, lalu menarik kursi duduk di depan Mereka.
"Ibu.. sudah makan belum?" Tanya Asyafa. "Ayo makan bersama." Ajaknya senang.
"Sudah sayang, ibu masih kenyang. Nanti ibu menunggu ayahmu pulang, baru makan." Jelas Ibu Nurlaila seraya tersenyum
"Kamu tadi bukannya tidur nak'? Tapi malah sudah bangun?" Tanya ibunya yang baru menyadari anaknya sedang makan.
Mendengar ibunya menayakan hal itu, sontak keduanya tersedak berbarengan. "Uhuk... uhuk..." Lalu mereka saling melempar pandang, seakan tidak ingin ibunya tahu, apa yang terjadi tadi.
Melihat mereka nampak aneh, ibupun langsung mengalihkan pertanyaan yang lain.
"Gimana rasa masakannya Nak' Rayhan?" Tanya Ibu Nurlaila penasaran.
"Sangat enak ibu, memang buah jatuh, tidak jauh dari pohonnya. He... he.... he... " Jawab Rayhan terkekeh seraya memujinya.
"Aiish... kakak ini bisa saja." Ucap Asyafa.
Dan akhirnya, merekapun tergelak bersama...
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
MOHON DUKUNGANNYA YACH... LIKE , KOMENTAR DAN VOTE UNTUK CERITA INI. TERIMA KASIH!!!