TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Bermain


__ADS_3

WARNING 21 +


HARAP BIJAK DALAM MEMBACA


Melihat perban dipelipis suaminya sedari tadi pagi seakan membuat Asyafa penasaran ingin bertanya. Namun, tadi pagi begitu sibuk sampai tidak sempat meminta penjelasan yang sebenarnya terjadi.


"K.. Kakak..!"


"Heeem... Kenapa sayang?"


"I.. itu, a.. anu!"


"Itu, anu, Kenapa sayang? Kalau bicara yang jelas! Apa kamu menginginkan sesuatu?" Tanya Rayhan mendekati istrinya yang sedang terduduk di atas kasur.


"Kenapa pelipis kakak di perban?"


"Ooh... jadi dari tadi kamu mau menanyakan luka kakak! Kirain mau minta sesuatu yang ini? He.. he.. " ledek Rayhan, seraya menunjuk bwibir istrinya dengan telunjuk.


"Aiish.. Kakak! Mulai lagi deh? Aku serius Kak?"


"Iya, sayang! Sebenarnya tadi pagi Kakak sudah melajukan mobilnya bersama Pak Supir lebih dulu. Namun mobil Kakak sepertinya ada yang tidak beres, dan ternyata benar dugaan Kakak, rem mobil yang Kakak naikin Bloong."


"Astagfirulloh, Kak! Kenapa bisa Bloong? Lalu, Kak?"


"Lalu, Kakak dan Pak supir mulai panik, karena mobil dalam keadaan melaju cepat dan tidak bisa di rem. Akhirnya Kakak minta Pak Supir untuk mencari jalan keluar jalur, untuk menabrakan diri membanting setir agar tidak mencelakai kendaraan lain. Alhamdullilah Kakak dan Pak Supir selamat, meski Pak Supir masih harus di rawat sampai besok hari baru bisa pulang."


"Alhamdullilah, Kakak masih selamat! Pantas, tadi pagi aku sangat haus Kak, namun gelas yang beisi air ditanganku terjatuh dan pecah, seketika aku langsung teringat Kakak. Mungkin itu satu pirasat barangkali yah Kak!"


" Ya sudah, yang penting Kakak selamat."


"Iya, Kak!"


"Sayang, Apa kamu tidak ingin mencopot gaunmu itu? Mari Kakak bantu."


"Kakak, apakah boleh? Aku masih malu!"


"Aiish.. kita sudah halal jadi suami istri, semua yang melekat pada diri kamu halal buat Kakak. Tidak apa, Ayo kakak bantu."


"Iya, Kak!"

__ADS_1


Rayhan mulai membukakan resleting gaun pengantin dari belakang punggung istrinya perlahan, terpampang nyata punggung putih mulus itu berada di depan mata Rayhan polos tanpa tertutup gaun pengantin. Rayhan menelan salivanya, darahnya mulai berdesir, jantungnya memompa lebih cepat dan hasratnya tidak mampu di bendung lagi. Namun kesadarannya kembali ketika istrinya memanggil.


"K.. kakak! Kenapa diam saja? Dibuka sedikit lagi, biar aku mudah untuk membuka gaun ini."


"I.. iya, sayang!"


Rayhanpun melanjutkan membuka resleting gaun tersebut, dan akhirnya gaun itu bisa di buka semua melorot sampai bawah lantai. Hanya tersisa bahan kain berbentuk kaca mata dan segi tiga istrinya terpampang nyata di depan Rayhan. Seketika Rayhan bergeming, menatap lekat punggung tubuh istrinya yang hampir polos seutuhnya.


"Terima kasih Kak! Aku mau mandi dulu." Ucap Istrinya tanpa membalikkan badan kearah suaminya, menahan malu yang wajahnya memerah seperti tomat, langsung melesat kedalam kamar mandi.


Rayhan masih bergeming, dadanya masih bergemuruh, jantungnya terasa berdebar lebih cepat, dia tidak menjawab ucapan dari istrinya itu. Dia merasakan sesuatu yang berbeda, ada yang menuntut dibawah perutnya tiba-tiba menantang kokoh.


Rayhan merapikan gaun istrinya, di tempat keranjang besar agar tidak berceceran di lantai. Lalu dia membuka semua pakaian yang melekat ditubuhnya, hanya tersisa celana boxernya saja. Dada Rayhan yang bidang, dan perut kotak six pack seperti roti sobek, terlihat atletis menambah ketampanan seorang Rayhan.


Tok.. tok.. ! Pintu kamar mandi diketuk.


"Sayang... ! Apakah Kakak boleh ikut mandi bareng, bersamamu?"


Sontak saja Asyafa terkejut, dengan ketukan pintu dan ucapan suaminya itu yang membuatnya sedikit nervouse.


"Aku sedang berendam Kak! Nanti saja kakak mandinya kalau aku sudah selesai."


"Engga, Kakak mau mandi sekarang juga!" Pinta Rayhan maksa, seraya membawa handuk yang sudah tersedia di atas nakas.


"Sayang, ayo dong bukain pintunya."


"I.. iya Kak! Sebentar, sabar."


Asyafa lantas keluar dari bathtub tanpa sehelai benangpun, karena dia lupa membawa handuk sewaktu tadi langsung melesat ke kamar mandi menahan malunya. Lalu dia menekan tombol kunci pintunya, dan langsung berbalik badan sebelum pintu itu terbuka, dan langsung masuk ke dalam bathtub kembali.


Rayhan membuka perlahan, namun dia bisa melihat jelas punggung istrinya, ketika masuk kedalam bathtub.


"Sayang, kamu melupakan handukmu!"


"Ooh.. iya, Kak! Tadi aku lupa."


"Kakak gantung disini yah." Ucap Rayhan, seraya menggantung handuknya di hanger.


"Iya, Kak!"

__ADS_1


Rayhan langsung mencopot boxer yang masih tersisa di tubuhnya. Tidak butuh waktu lama, dia langsung saja ikut masuk kedalam Bathtub, dan duduk dibelakang istrinya.


"K.. kakak, ngapain?" Tanya Asyafa menahan malu, hatinya yang sudah berdentum keraa, darahnya yang berdesir, jantungnya yang memompa lebih cepat dari biasanya.


"Kakak, hanya ingin memeluk istri tercinta." Ucap Rayhan seraya mengecup pundak dan tengkuk istrinya lembut.


"K.. kakak, geli!" Ucap Asyafa yang sudah tidak tahan dengan gerakan liar suaminya.


"Kenapa sayang? Kita harus terbiasa seperti ini, bukan?" Tanya Rayhan, yang masih enggan untuk melepaskan pelukannya dan masih mengecup pundaknya.


"K.. kakak, nanti malam kita harus persiapan Resepsi Pernikahan kita digedung yang sudah Papa Beni siapkan, bukan?


"Heeem... !" Rayhan hanya bergumam, tanpa menghentikan kegiatanya itu.


"Kak, hentikan!" Ucap Asyafa kesal, karena suaminya tidak juga berhenti dari kegiatannya itu.


"Kenapa, sayang? Kamu tidak menyukainya?" Tanya Rayhan, yang seketika menghentikan kegiatannya itu.


"Ini masih sore, masih banyak tamu dirumah. Kita harus bersiap untuk acara nanti malam."


"Iya, sayang! Kakak hanya bermain-main saja. Kakak tidak tahan melihat tubuh polosmu sayang. He.. he.. " Ucap Rayhan terkekeh.


"Aiish... Kakak, engga sabaran banget!"


"Ha.. ha.. ha... " Rayhan tertawa mendengar omelan istrinya itu.


"Ya sudah, Kakak bantu menggosok punggungmu ini yah?" Ucap Rayhan seraya mengambil sabun cair dan menggosok punggung istrinya lembut.


"Heeem.. !" Asyafa bergumam pelan seraya menikmati sentuhan suaminya itu.


Rayhan mulai sedikit nakal dengan jari-jarinya yang mulai piknik di area tubuh istrinya. Asyafa mulai memejamkan matanya, terbawa dengan gerakan suaminya yang lembut.


"Sayang! Kamu menikmatinya, bukan?" tanya Rayhan yang mulai membalikan posisi istrinya berada di pangkuannya.


Tanpa sadar Asyafa membuka matanya, sudah berhadapan langsung dengan posisi yang benar-benar memalukan menurutnya. Seketika, dia langsung menutupi wajahnya yang sudah merah seperti tomat dengan jari tangannya.


"Kenapa, Sayang? Kamu malu? Kita hanya sekedar bermesraan sayang! Aku tidak akan berani lebih sebelum resepsi nanti malam. Tolong jangan tutupi wajahmu."


"Iya, Kak!" Ucap Asyafa, seraya membuka jari tangan dari wajahnya.

__ADS_1


Tanpa basa basi, Rayhan langsung mendaratkan bibirnya di kening istrinya lembut, lalu menciumi pipinya bertubi-tubi. Tidak sampai disitu saja, lalu Rayhan menarik tengkuk istrinya pelan, dan mencium bibir ranumnya semakin dalam dan menuntut lebih. Lidahnya saling bertaut, Asyafa mulai mengimbangi permainan suaminya, hingga napasnya memburu karena rongga mulutnya yang hampir kehabisan oksigen. Sesekali mereka lepaskan pangutan itu, namun mengulanginya kembali hingga mereka puas.


--BERSAMBUNG--


__ADS_2