TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Identitas Stepan Hilton


__ADS_3

Bernad memasuki lobi Perusahaan, melewati Para Reporter tersebut dengan pengawalan Security untuk menjaganya dari kerumunan mereka. Bernad berhasil masuk ke dalam kantor, namun yang namanya Reporter, pasti saja selalu ada yang nekat menerobos masuk.


"Tunggu Tuan..." Panggil seorang Reporter wanita setengah berlari menghampiri Bernad, yang sedang di halangi oleh Security.


Bernad berbalik ke arah suara yang telah memanggilnya.


"Lepaskan saja, Pak." Pinta Bernad, yang langsung diangguki oleh Security tersebut.


"Terima kasih, Tuan." Ucap Reporter itu dengan napas yang masih terengah-engah, akibat tadi setengah berlari mengejar Bernad.


"Iya, Nona ada keperluan apa?" Tanya Bernad ramah.


"Maaf Tuan, tolong minta waktunya sebentar." Pinta Reporter itu sopan, seraya mengeluarkan Tape Recorder dan camera digital miliknya.


"Heem.. Ya Nona, silahkan." Ucap Bernad seraya tersenyum hangat.


"Terima kasih Tuan, eeeem... Maaf Tuan, apakah Saudara Andre Luis adalah seorang karyawan di Perusahaan anda?" Tanya Reporter itu dengan hati-hati.


"Iya Nona." Jawab Bernad singkat.


"Maaf Tuan, bagaimana menurut anda mengenai pembunuhan yang menimpa karyawan yang bernama Ande Luis tersebut?" Tanya Reporter itu dengan penuh antusias.


"Soal itu, saya benar-benar turut berduka cita sedalam-dalamnya untuk keluarga yang di tinggalkan. Saya akan memberi konfensasi, dan dana santunan duka cita untuk mereka. Saya harap orang yang telah melenyapkan nyawa karyawan saya yang bernama Andre Luis, akan mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai dengan perbuatannya." Jawab Bernad dengan jelas.


"Okay Tuan, jawaban anda sangat memuaskan." Ucap Reporter itu kagum, sedang Bernad hanya menganggukan kepalanya kecil, seraya tersenyum hangat.


"Maaf Tuan, saya sudah mengganggu waktu anda, terima kasih saya ucapkan atas kesempatan yang di berikan untuk saya mewawancarai Tuan." Ucap Reporter itu, seraya meninggalkan ruangan kantor Bernad.


"Sama-sama Nona." Ucap Bernad ramah.


Bernad langsung memasuki ruang kerjanya, lalu meletakkan tas kerjanya di atas meja biasa dia simpan. Tanpa duduk terlebih dahulu, Bernad langsung menuju ruangan Monitor CCTV menemui Sonny dan Joan.


"Sonny dan Joan tolong chek CCTV satu hari penuh, dari hari kematian Papa Thomas sampai saya datang ke ruangan monitor ini. Apakah ada orang yang mencurigakan, atau tidak masuk ke ruangan CCTV ini? Terima kasih." Pinta Bernad dengan sopan dan bersemangat.


"Baik Tuan, saya akan putar Rekaman Vidio di hari yang Tuan pinta." Ucap Sonny patuh dan sopan, yang di ikuti oleh Joan.


"Okay.. saya tunggu hasilnya, nanti kalian kabari saya jika ada hal yang mencurigakan." Ucap Bernad seraya meninggalkan ruang monitor tersebut.

__ADS_1


Bernad menyelesaikan pekerjaan Papa Thomas yang terbengkalai semenjak kepergiannya, banyak Klien bisnis yang memutus kerja sama dengan Perusahaan karena nilai saham mereka anjlok. Bernad benar-benar harus memutar otak untuk mengembalikan kepercayaan para Klien Papa Thomas, dan menaikan nilai saham yang anjlok tersebut.


Sonny menghubungi Tuan Bernad, bahwa ada Rekaman Vidio yang mencurigakan, lalu Bernadpun bersemangat menemui mereka untuk melihat hasil pencariannya. Betapa terkejutnya Bernad, ketika seseorang itu masuk ke dalam ruang monitor dengan cara mengendap-endap. Saat itu Joan sedang tertidur, saat menggantikan Sonny yang akan keluar sebentar.


"Andre Luis? Apa motif dia melakukan ini? Apa ini ada hubungannya, dengan kematiannya yang di bunuh?" Tanya Bernad penasaran pada dirinya sendiri.


"Maksud Tuan, ini ada hubungannya dengan kematian Tuan Thomas, Apa betul begitu, Tuan?" Tanya Sonny penasaran.


"Bisa jadi, banyak kemungkinan." Jawab Bernad menyimpulkan pikirannya.


"Maaf Tuan, sebenarnya saya tertidur saat itu, sungguh sangat mengantuk setelah saya minum teh dari pantri." Ucap Joan tidak enak hati dan malu, di ketahui tertidur di ruang kerja saat bekerja di Vidio tersebut.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Lain kali jangan di lakukan lagi yah." Ucap Bernad seraya tersenyum ramah, yang di anggukkan Joan.


"Terima kasih yah, atas bantuan kalian." Ucap Bernad ramah, seraya meninggalkan mereka berdua.


"Sama-sama, Tuan Bernad." Jawab mereka kompak, lalu mereka kembali dengan tugasnya masing-masing.


Setelah itu, Bernad langsung ke ruang arsip karyawan yang sudah pensiun dan Resign. Ketika dia mencari apa yang dia butuhkan, akhirnya dia tersenyum dan berucap.


Wajah Bernad langsung berseri memandangi buku arsip karyawan yang dia pegang, dengan melihat identitas karyawan yang dia cari.


Past Photo : Photo 3x4


Nama : Stepan Hilton


Usia : 30 Tahun


Alamat : Jl. Javastraat no. 03 Hollan Amsterdam.


Alasan Berhenti : Di berhentikan secara tidak terhormat karena kasus korupsi.


Begitulah Biodata yang tertulis di buku Arsip Karyawan.


Setelah Bernad menemukan Arsip tersebut, dia langsung ke kantor Polisi bersama Asisten Ramon untuk menemui Stepan Hilton di penjara. Sesampainya di sana, Bernad dan Asisten Ramon diperbolehkan menemui tahanan Stepan Hilton di balik jeruji besi. Waktu yang di berikan hanya 15 menit, jadi Bernad menggunakan waktu sebaik mungkin.


"Terima kasih, Pak." Ucap Bernad kepada Sipir Penjara.

__ADS_1


"Ya.. Tuan." Jawab Sipir Penjara itu dengan ramah.


Bernad duduk bersama Asisten Ramon menunggu Stepan datang, tidak lama kemudian, datanglah Stepan dengan wajah menunduk malu. Mungkin Stepan sudah melihat dan menyadari yang datang adalah Bernad, anak dari atasannya dahulu.


"Selamat siang Tuan Stepan Hilton, bagaimana kabar anda." Sapa Bernad ramah menanyakan keadaan Stepan.


"Siang Tuan, Apa yang anda ingin bicarakan dengan menemui saya?" Tanya Stepan, tanpa melihat kearah Bernad.


"Saya hanya ingin tahu, apa motif Tuan menghabisi nyawa karyawan saya? Bukankah beliau sahabat Tuan, semasa Tuan masih bekerja di Perusahaan Papa saya, Thomas Dorman?" Tanya Bernad langsung tepat sasaran, tanpa basa-basi.


"Tidak ada motif apa-apa, saya hanya marah terhadapnya." Jawab Stepan santai, seperti tidak ada beban, Bernad mengerutkan dahi tanda tidak puas dengan jawaban yang di berikan Stepan.


"Hanya marah, atau ada dendam?" Tanya Bernad lagi.


"Saya tidak ada dendam, Tuan." Jawab Stepan singkat.


"Jika tidak ada dendam, mengapa Tuan tega menghabisi nyawa teman Tuan sendiri? Bukankah Tuan teman beliau, sedari Tuan masih bekerja di PT DORMAN GLOBAL milik Papa saya?" Tanya Bernad, yang membuat Stepan langsung menaikan wajahnya melihat langsung ke arah Bernad.


"Mengapa Tuan Stepan? Apakah anda terkejut, jika saya tahu identitas anda di masa lalu?" Tanya Bernad lagi, yang semakin membuat Stepan terhimpit.


"T.. tidak Tuan, s.. saya hanya marah, lalu melakukan tindakan itu di luar kendali saya. S.. saya khilaf melakukan itu." Jawab Stepan gugup.


"Mengapa anda gugup Tuan, menjawab pertanyaan saya?" Tanya Bernad sedikit curiga.


Stepan hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Bernad.


"Apakah Tuan dendam dengan Papa saya, yang sudah memecat Tuan dengan tidak terhormat?" Tanya Bernad langsung tembak pada inti pembicaraan.


"M.. maksud T.. tuan apa? Saya tidak mengerti." Tanya Stepan gugup.


"Dendam.. dendam Tuan, terhadap Papa saya." Ucap Bernad sedikit teriak dan emosi.


Happy Reading


--BERSAMBUNG--


...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........

__ADS_1


__ADS_2