TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Jodoh untuk Billy


__ADS_3

Happy Reading.


Setelah Dokter itu pergi, satu jam kemudian Bernad keluar dari ruang kamar Charles. Wajah Bernad terlihat bahagia, namun matanya sedikit bengkak akibat menangis terlalu lama. Hampir dua jam mereka di dalam sana, rasa penasaran menyelimuti Nurlaila dan yang lainnya.


"Sayang, apa benar kata Dokter, Kak Charles sudah ingat dan sembuh?" Tanya Nurlaila dengan penuh harap, mewakilkan perasaan yang lain.


"Iya Adik, Apakah Benar begitu?" Tanya Sofia lirih.


Bernad mengambil napas dalam, lalu menghembuskan kembali dengan pelan.


"Huuuummmppp...... haaaaaaah......... "


Setelah melakukan hal tersebut, Bernad berjalan menuju kursi tunggu, kemudian mendaratkan bokongnya di atas kursi tersebut.


"Maaf, kalian harus menunggu lama, sekarang Kak Charles sedang tidur di sana. Tubuhnya kelelahan karena menangis tiada hentinya, lalu dia beristirahat di kasurnya hingga tertidur. Apa yang di katakan oleh Dokter memang benar, tapi Kak Charles masih belum bisa di temui banyak orang." Jelas Bernad, seraya menatap wajah mereka sendu, namun ada sedikit harapan untuk kesembuhan Charles.


Wajah mereka yang terlihat tegang sebelumnya, kemudian berangsur ceria setelah mendengar jawaban dari Bernad tersebut.


"Allhamdullillah, kalau Kak Charles ada sedikit harapan sembuh. Lalu sekarang kita bagaimana?" Tanya Nurlaila, masih penasaran.


"Iya Adik, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Sofia juga yang penasaran.


"Kita berdoa saja untuk kesembuhan Kak Charles, sebaiknya sekarang kita pulang dahulu. Kita serahkan semua kepada Allah, hanya dengan berserah diri dan ikhlas, semoga Allah mendengarkan doa-doa kita." Ujarnya tulus.


"Aamiin..." Hanya jawaban itu yang keluar dari mulut mereka.


Akhirnya merekapun bersiap untuk meninggalkan Rumah Sakit tersebut, setelah berpamitan dengan Suster jaga di sana. Bernad berpesan kepada suster untuk Dokter, "jika ada perkembangan yang baik, tolong kabari kami secepatnya. Ini kartu nama saya, tolong berikan kepadanya, terima kasih."


"Baiklah, Tuan.. akan saya sampaikan pesan Tuan." Ucap Suster sopan, seraya mengambil kartu nama tersebut dari tangan Bernad.


Perjalanan yang hanya menghabiskan waktu 30 menit saja, akhirnya mereka sampai di rumah Sofia dengan hati sedikit lega dan bahagia, terlebih lagi perasaan Sofia, Oma dan Billy.


Mereka beristirahat di ruang keluarga dengan bersantai, sambil menunggu pesanan makanan delivery untuk mereka yang sudah di pesan sebelumnya oleh Sofia.


"Maaf, saya tinggal dulu sebentar, kalian bersantai saja dahulu, mungkin sebentar lagi pesanan makanan akan segera sampai." Ujar Sofia, seraya membawa Oma, kemudian dia meninggalkan mereka di ruang keluarga menuju kamar pribadinya.


"Iya.. Kak Sofia." Sahut Nurlaila, lalu di ikuti oleh yang lainnya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, akhirnya pesanan makanan delivery sudah sampai ke tangan mereka. Pizza Hut, Spaghety, dan steak daging sapi yang masih hangat, langsung mereka santap bersama tanpa menunggu lama lagi. Perut mereka yang sudah sangat keroncongan, dan cacing-cacing yang sudah berdemo sedari tadi, akhirnya bisa menari-nari senang setelah perut mereka kenyang.


"Huuaam.." Asyafa menguap, rasa kantuk menyerang dirinya.


Rayhan yang melihat istrinya langsung tersenyum mengembang. "Cinta, kamu sudah mengantuk yah? Ayo kita tidur saja sekarang." Ajak Rayhan dengan penuh semangat.


Asyafa langsung mengangguk kecil, memberi tanda jika dia setuju, seraya berpamitan kepada semua orang disana.


"Ibu, Ayah, dan Billy.. kami izin mau istirahat ke kamar dahulu yah, sudah sangat mengantuk." Pamit Asyafa dan suaminya bersamaan.


"Iya... sayang, kalian istirahatlah sana." Sahut Ibu Nurlaila seraya menganggukkan kepalanya kecil.


Kemudian merekapun berjalan menuju kamarnya, dengan mengaitkan jari jemari tangannya. Tak khayal, mata Billy selalu memperhatikan pasangan pengantin baru yang terlihat mesra itu.


"Duuh.. pasangan pengantin baru, tangannya engga lepas-lepas, iiih.. soo sweet banget sih kalian! Bikin iri saja sih, aku yang jomblo ini. Hi.. hi.. hi.." Ledek Billy tertawa dengan kemesraan Asyafa, dan Rayhan, hingga meratapi nasibnya yang jomblo.


Sontak saja, Rayhan dan Asyafa langsung bergeming, lalu menengok kearah sumber suara Billy. Mereka kemudian terkekeh mendengar ledekan yang di tujukan untuknya, dan mengasihani nasib saudaranya itu.


"Aiish.. kasihan sekali, Brother aku masih jomblo ternyata. Makanya cari istri dong Bill, biar Sweet kaya kami." Ledek Asyafa langsung telak, membuat Billy tidak bisa berkutik.


"He.. he.. he.." Billy hanya terkekeh meratapi nasibnya.


Sontak saja kedua insan yang berbeda jenis kelamin itu, langsung bersemu merah. Mereka menahan malu, dan saling mencuri pandang. Tak khayal mereka menjadi obyek sasaran bulian Asyafa selanjutnya.


"Cie.. cie.. yang langsung deg.. deg.. ach! Gayung bersambut nih sepertinya." Ledek Asyafa menjahili mereka, seraya berlalu pergi meninggalkan mereka yang sedang bergeming menahan malu.


"Awas nanti kamu Sya, berani-beraninya ngebuli saudaranya sendiri. Tapi, kalau di pikir-pikir emang benar juga, apa yang dikatakannya. Kenapa aku harus cari yang jauh, sedang sudah ada yang di depan mata. Kenapa aku tidak menyadarinya? Apa aku jatuh cinta kepadanya yah? Kenapa hatiku merasa senang dan jantungku berdebar lebih cepat." Bathin Billy bermonolog, tanpa sadar dia senyum-senyum sendiri.


"Waah.. sepertinya Asyafa berhasil menjodohkan kalian." Ledek Bernad menimpali, tanpa sengaja dia memergoki ekspresi wajah keduanya, yang bersemu merah dengan senyum-senyum sendiri.


Tidak jauh berbeda dengan Billy, Bellapun merasakan hal yang sama dengan Billy, namun dia tidak berani jatuh cinta kepada anak majikannya, yang sangat tampan dan perfect itu. Jangankan jatuh cinta, sekedar sayangpun dia tidak ada nyali.


"Uncle.. Tuan.." Ucap Bella dan Billy bersamaan, namun kata-katanya terpotong oleh ucapan Nurlaila.


"Sayang sudah, jangan di ledekin terus, mereka jadi malu 'kan jadinya." Ujar Nurlaila, seraya menarik suaminya untuk beranjak dari tempat duduknya meninggalkan mereka berdua.


Akhirnya, tinggallah tersisa mereka berdua di ruangan keluarga itu. Bella hendak meminta izin untuk pergi, namun sedikit tidak enak hati untuk mengatakannya.

__ADS_1


"M.. maaf Tuan, saya izin melihat Oma dulu." Pamit Bella gugup, tanpa berani menatap matanya, dan langsung bergegas pergi.


"Tunggu..." Panggil Billy cepat, yang membuat Bella menghentikan langkahnya, lalu berbalik ke arah Billy.


"A.. ada apa Tuan?" Tanya Bella gugup, tanpa menatap matanya.


"Kenapa kamu tiba-tiba gugup seperti itu? Jangan hiraukan ucapan sepupu, dan uncleku itu. Mereka senang bergurau saja, jangan kamu anggap serius." Dusta Billy menutupi kegugupannya, dan rasa sukanya.


"I.. iya Tuan, kalau begitu saya izin pergi Tuan." Ucap Bella gugup, dan langsung beranjak pergi meninggalkan Billy sendiri. Sedangkan Billy hanya mengangguk kecil, lalu memandangi Bella, hingga menghilang di balik dinding ruang keluarga tersebut.


"Kau bodoh Billy! Kenapa kau tidak berani jujur? Kenapa kau mengatakan sesuatu yang tidak perlu kau katakan? Kenapa kau terlihat pengecut Billy? Shiit.." Umpat Billy dalam hatinya.


*******


Malam ini, Bernad yang sedang tertidur di dalam kamarnya, terbangun di saat ponselnya memekik telinganya.


"Triiing.. triiing... triiing..." Nomor tidak di kenal Calling.


"Ini nomor siapa? Tidak tercantum di kontak ponselku. Apa mungkin telepon dari pihak Rumah Sakit?" Tanya Bernad dalam hatinya.


"Hallo.."


"Hallo, selamat malam Tuan, Maaf mengganggu, apakah benar ini nomor ponsel Tuan Bernad?


"Iya benar, ini nomor ponsel saya. Ada keperluan apa Nona? Kalau boleh saya tahu."


"Iya Tuan, kami dari pihak Rumah Sakit, ingin memberi tahukan jika Tuan Charles, memanggil-manggil terus nama Tuan. Kami mohon, Tuan bersedia untuk ke Rumah Sakit malam ini juga."


"Baiklah kalau begitu, saya akan segera ke Rumah Sakit sekarang juga."


"Baik Tuan, terima kasih."


"Iya, terima kasih kembali."


Bernadpun menutup sambungan ponselnya tersebut.


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........


__ADS_2