
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Keluarga Tuan Ardi Prayoga menunggu di ruang tamu dengan perasaan senang, terlihat dari air muka mereka yang terpancar aura kebahagiaan. Tidak berselang lama menunggu, akhirnya sang Tuan rumahpun datang menyapa. Lalu mereka langsung berdiri untuk menerima sambutan mereka.
"Assalamua'alaikum, selamat datang, Tuan Ardi, dan Nyonya Ningsih, Nak Siska, dan Nak Damar." Ucapan ramah Ibu Nurlaila menyambut kedatangan mereka sekeluarga, yang di ikuti oleh Rayhan, dan Asyafa juga. Lalu mereka saling berjabat tangan.
"Wa'alikumsalam, terima kasih Nyonya Nurlaila, beserta Nak Rayhan, dan Nak Asyafa." Sahut Nyonya Ningsih, yang diikuti oleh Tuan Ardi, Siska dan Damar. Lalu merekapun menerima jabatan tangannya.
Sang Tuan Rumah kemudian mempersilahkan mereka untuk duduk kembali, dengan senyuman ramah yang mereka tunjukkan.
"Eeem.. sebelumnya kami akan menjelaskan maksud, dan tujuan kami datang kesini adalah untuk mengucapkan mohon maaf yang sedalam-dalamnya, atas kejadian saat itu yang sungguh memalukan bagi kami. Sekaligus kami ingin mengucapkan terima kasih banyak, atas kebaikan hati Nak Rayhan sekeluarga yang telah mencabut tuntutan, atas kejahatan yang dilakukan anak kami Damar." Ujar Tuan Ardi Prayoga panjang lebar.
"Iya.. Tuan Ardi, saya dan istri sudah memafkan semuanya. Asalkan Damar sudah taubat, dan berjanji tidak akan mengganggu kami lagi." Sahut Rayhan bijak seraya tersenyum mengembang.
"Terima kasih Rayhan, atas kebesaran hatimu. Saya berjanji, tidak akan melakukan tindakan bodoh seperti kemarin lagi. Maafkan saya sekali lagi." Ujar Damar tulus dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Setelah mereka saling berbicara dan meminta maaf, Mbo Ijah datang membawakan camilan dan minuman untuk mereka.
"Maaf, Tuan dan Nyonya, ini silahkan di nikmati minumannya dan cemilannya." Ucap Mbo Ijah ramah, dan sopan.
"Terima kasih, Mbo Ijah." Ucap Ibu Nurlaila, lalu di ikuti oleh yang lainnya.
"Sama-sama, Nyonya dan Tuan." Ucap Mbo Ijah tersenyum ramah.
"Ayo Tuan Ardi, Nyonya Ningsih, Nak siska dan Nak Damar, dicicipi cemilannya. Jangan sungkan, maaf ala kadarnya." Tawar Ibu Nurlaila ramah.
"Baik Nyonya Nurlaila." Sahat Nyonya Ningsih senang, lalu di ikuti yang lainnya.
Semua menikmati kebersamaan mereka dengan obrolan-obrolan ringan, dan santai. Tidak ada permusuhan, kebencian dan dendam diantara dua keluarga itu.
Satu jam sudah, keluarga Tuan Ardi bertandang kerumah Tuan Bernad. Akhirnya mereka memutuskan untuk berpamitan, meninggalkan kediaman Tuan Bernad. Nampak rona bahagia terpancar dari kedua keluarga tersebut, menyambung silahturahmi kekeluargaan.
Damar sudah merasa lega hatinya, setelah meminta maaf secara langsung, dan mengucapkan terima kasih kepad Rayhan, dan Asyafa. Dia berjanji kepada dirinya sendiri, untuk melupakan perasaan cintanya kepada Asyafa Dorman.
*******
Di kediaman Tuan Bari Darma.
Bari Darma menatap ponselnya dengan wajah masam, marah, dan kesal saat ini. Betapa tidak emosinya dia, disaat Perusahaan yang dia jalani selama ini, nasibnya sedang di ujung tanduk. Semua barang di hadapannya habis bertebaran di lantai, bahkan ponsel di tangannyapun langsung di hempaskan olehnya ke lantai.
Bibirnya tidak henti-hentinya mengumpat kata-kata makian, dan cacian. Asisten Pribadinya yang selama ini dia percaya bisa menghandel pekerjaannya, malah berakhir menghancurkannya dalam sekejap saja. Hanya karena perbuatan seseorang yang tidak dia sangka, bisa secepat dan semudah itu memutarbalikkan keadaan Perusahaannya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa sih kamu dari kemarin aku perhatikan, marah-marah terus, ada apa sebenarnya? Apa ada masalah yang sangat berat?" Tanya Nyonya Hilda istrinya Bari.
Bari tidak menjawab sepatah katapun, hanya menggeleng pelan dan mengacak rambutnya frustasi. Hildapun pasrah menghadapi suaminya yang suka tiba-tiba marah engga jelas, dan sering membanting barang-barang yang ada di dekatnya.
Hilda lantas meninggalkan suaminya itu mengamuk sendiri di kamar, pemandangan itu sering kali Hilda lihat jika suaminya sedang ada masalah. Lalu Hilda mencari anak gadisnya di kamar tidurnya.
"Wina.. wina.. kamu tidak sekolah, sayang?" Tanya Hilda dari luar kamar.
"Maaf Nyonya, Non wina sudah pergi sekolah, tapi tidak sarapan dulu." Ucap Mbo Ratmi yang mendengar Nyonyanya itu memanggil anaknya.
"Ooh.. begitu yah Mbo. Dasar anak itu, kebiasaan sekalih engga sarapan dahulu? Itukan tidak baik untuk kesehatannya." Omel Hilda, yang sering mendapati anaknya jarang sekali sarapan di rumah.
"Iya Nyonya, sudah disuruh sarapan sama saya tapi menolak terus." Sahut Mbo Ratmi.
"Iya Mbo, bukan salah Mbo, Wina saja yang kebiasaan jeleknya engga hilang-hilang. Kalau sudah sakit siapa coba yang repot, pasti orang tuanya sendiri. Haduh anak itu, harus diapain biar ngerti." Ujarnya menggerutu kebiasaan anak gadisnya.
"Drrtt.. drttt.. drtt.." Ponsel Hilda bergetar.
"Hallo.. Asisten Yoga"
"Hallo Nyonya Hilda, saya ingin bicara dengan Tuan Bari, ponselnya sedang tidak aktif."
Beberapa menit kemudian, Hilda menemui suaminya di kamar.
"Sayang, ngapai sih kamu selalu marah-marah? Jika ada masalah 'kan bisa di selesaikan dengan baik-baik, bukan selalu dengan cara marah-marah." Ujar Hilda memberi solusi.
"Heeemm..." Bari hanya bergumam, tanpa menjawab ucapan istrinya.
"Ini ada telpon dari Asisten Yoga, kamu mau terima atau engga?" Tanya Hilda pelan.
Bari langsung melirik ponsel di tangan istrinya, lalu mengambilnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hildapun hanya tersenyum kecut, melihat suaminya yang selalu seperti itu.
"Hallo.. ada apa Yoga?"
"Maaf Tuan, sepertinya saya sudah mengetahui tempat peesembunyian Hans sekarang."
"Bagus.. dimana dia bersembunyi?"
"Menurut informasi anak buah kita, Hans berada di Jakarta."
"Haaah.. tahu dari mana mereka?"
__ADS_1
"Dari informasi terpercaya."
"Siapa?"
"Tuan Martin, mereka mendatangi Tuan Martin ke Perusahaannya, dan mencari Hans. Dengan cepatnya dia mengatakan jika Hans ada di Jakarta, dan dia memberikan alamatnya pula."
"Ya sudah temui Hans ke Jakarta, bawa dia kesini. Kalau perlu laporkan saja kepada Polisi, bagaimana dia telah mengacak-acak sistem Perusahaan kita. Karena kelicikannya, saham kita turun, dan terancam bangkrut."
"Baik Tuan Bari, saya dan anak buah saya akan mendatanginya ke Jakarta."
"Okay.. saya tunggu kabar baiknya."
"Tuuut."
Keduanya menutup ponsel bersamaan.
Hilda yang mendengar percakapan suaminya dengan Asisten Yoga, sedikitnya dia mengerti jika suaminya sedang ada masalah.
"Sayang, apa ponselnya, sudah?" Tanya Hilda baik-baik.
"Sudah, terima kasih." Jawab Bari lebih tenang.
"Eemm.. sayang, kalau boleh saya tahu, Apa yang sedang terjadi?"
"Kita akan jatuh bangkrut, Perusahaan kita sedang di ujung tanduk, jika sampai harga saham kita terus turun sampai akhir bulan ini." Jelas Bari emosi.
"Kenapa bisa? Apa penyebabnya?" Tanya Hilda penasaran.
"Penyusup, Hacker, Penguntit, dan maling." Jawabnya Bari mengumpat.
"Siapa maksudnya sayang, penyusup, Hacker, Penguntit dan maling itu?" Tanya Hilda, masih belum bisa mengerti ucapan suaminya itu.
"Sudahlah, kau tidak perlu tahu urusan Perusahaan. Jangan buat aku makin pusing, dengan segala pertanyaanmu." Ujarnya ketus, seraya meninggalkan istrinya yang masih shok dengan ucapan suaminya.
--BERSAMBUNG--
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........
Jangan lupa mampir ke karyaku yang baru yah teman-teman. Terima kasih.
__ADS_1