TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Kepulangan Damar


__ADS_3

*بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم*


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Dengan segala kerendahan dan keikhlasan hati izinkan Saya pribadi menyampaikan 🙏🏻


*"Selamat Hari Raya Idul Fitri*


*1 Syawal 1443 H"*


🕌☘️


*_TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM BARAKALLAHU FIIKUM_*


تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمنِْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ,


كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. اَللّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ العَاءِدِيْنَ وَالفَاءِزِيْنَ وَالمَقْبُوْلِيْنَ.


*Mohon maaf lahir bathin atas segala kekhilafan dan kesalahan saya...*


🕌☘️


Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, umur yang barokah dan dapat bertemu lagi di bulan Ramadhan yang akan datang.


Insya Allah...


Aamiin Yaa Rabbal 'Alaamiin....


🤲🏻🤲🏻🤲🏻


Tina Rifky dan keluarga🙏🏻


وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Satu minggu sudah berlalu, setiap hari Andi selalu antar jemput Alya, pergi ke kampus. Tidak pernah ada bosannya, Andi selalu mencoba memberi perhatian lebih kepada Alya.


Asyafa yang melihat kedekatan Andi, dan Alyapun menjadi heran dibuatnya. Pasalnya perhatian Andi kepada Alya, sudah bukan perhatian kepada sahabat, melainkan layaknya kepada kekasih.


Asyafa menarik Andi untuk berbicara empat mata, karena Asyafa mencium gelagat aneh dengan kedua sahabatnya itu.


"Ndi, gue lihat loe makin dekat sama Alya, kalian berdua pacaran ya? Kenapa perasaan gue mengatakan, kalian itu seperti orang yang sedang pacaran?" Tanya Asyafa penasaran.

__ADS_1


"Iya, Sya.. kami sedang mencoba membangun rasa layaknya seorang kekasih." Sahut Andi jujur, seraya tersenyum mengembang.


"Apa? Bukankah Alya sudah akan menikah sama Damar? Kenapa kalian berhianat dibelakang Damar?" Tanya Asyafa, tidak percaya dengan apa yang dilkukan mereka.


"Loe salah paham Sya, kami engga pernah berkhianat kepada Damar." Sahut Andi jujur dengan apa yang dilakukannya.


"Maksud loe Ndi, coba jelasin apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Asyafa minta penjelasan mengenai hubungan mereka.


Akhirnya Andi menceritakan apa yang sedang terjadi sebenarnya, dan mengapa mereka sekarang menjadi seperti sekarang ini.


"Tapi, Ndi.. kalau nanti Damar kembali ingatannya kepada Alya, terus Alya kembali kepada Damar, bagaimana dengan hati loe?" Tanya Asyafa dengan kemungkinan terburuknya.


"Cinta sejati akan menerima, semua yang sudah menjadi keputusan kekasihnya. Jika memang semua harus terjadi seperti itu, maka gue akan terima dan berlapang dada, Sya. Layaknya cinta gue sama loe, saat gue menunggu loe sekian lama untuk jadi kekasih gue, apa yang loe lakuin sama gue? Ternyata loe sudah dijodohin, dan akhirnya loe menikah sama Rayhan, bukan?" Ujar Andi dengan gamblang.


"Iya juga sih apa kata loe Ndi, cinta sejati selalu menerima dan ikhlas merelakan kekasihnya bahagia dengan orang yang lebih mencintainya." Ucap Asyafa pada akhirnya.


"Sya, sudah yah, gue kangen sama Alya, rasanya berpisah sebentar saja, sungguh begitu berat, he.. he.. he.." Ucap Andi terkekeh.


"Aiish.. bucin loe, Ndi." Ledek Asyafa seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"He.. he.. he.. biarin saja, gue kalau sudah cinta, yah kayak gini Sya, bucin akut." Andi terkekeh dengan rasa cinta yang teramat sangat.


"Tapi, kemarin loe bukannya sudah punya pacar yah? Siapa namanya? Gue engga pernah loe kenalin sama pacar loe itu?" Tanya Asyafa, penasaran.


"Mantan, Sya. Gue sama dia sudah mantan, gue diputusin sama dia, dia masih mencintai mantan pacarnya, dan gue ikhlas menerimanya sekarang. Namanya Naura Ayunita, dia.............. " Jelas Andi, mengenai statusnya dengan pacarnya yang dulu, lalu Andi menceritakan awal pertemuan dirinya, dengan gadis itu sampai berakhirnya kisah asmaranya.


"Kenapa bisa begitu? Kalau memang dia masih cinta sama mantannya, kenapa dulu dia putus, terus berpacaran dengan loe, Ndi. Jahat banget mantan cewek loe, Ndi. Gue kasihan banget sama loe, jadi pengen peluk loe Ndi, hikkzz.. hikkzzz.. hikkzzz..." Ujar Asyafa menangis haru dengan cerita Andi dan mantannya.


"He.. he.. he.. sudah Sya, loe jadi jelek kalau nangis gitu, kasihan bayi loe nanti, kalau momienya nangis kayak gini." Kekeh Andi meledek sahabatnya itu.


"Ha.. ha.. ha... iya juga Ndi, nanti kasihan sama baby gue, kalau gue cengeng kayak gini. Loe sih ceritanya nyesek banget, makanya punya hati baik banget sih loe. Kalau gue jadi loe, mungkin gue sudah trauma untuk jatuh cinta." Tawa Asyafa pecah, saat teringat dengan cabang bayinya.


"Ha.. ha.. ha.. sudah yah, gue mau cari kekasih gue." Pamit Andi seraya terkekeh.


"Iya, sahabat gue, semoga semuanya berakhir dengan baik." Ucap Asyafa tulus, saat Andi menghilang dari pandangannya.


*******


Hari ini, Keluarga Tuan Ardi Prayoga, akan membawa pulang Damar. Dokter sudah menyatakan, jika Pasien sudah boleh dibawa pulang, karena kondisinya yang sudah cukup baik.


"Mama, Papa, Kak Siska, kalau aku sudah boleh pulang, aku boleh menemui kekasih aku tidak?" Tanya Damar, yang merengek ingin bertemu dengan pacarnya yang bernama Naura itu, selama beberapa hari ini.


"Iya sayang, apapun yang kamu minta akan kami berikan, jika itu bisa membuatmu bahagia." Ujar Mama Ningsih, menuruti kemauan anak kesayangannya itu.

__ADS_1


"Terima kasih, Mama." Ucap Damar bahagia, seraya memeluk Mama Ningsih dengan erat. Lalu Mama mengangguk dan tersenyum haru dengan keadaan anaknya yang masih Amnesia.


Semejak kejadian satu minggu yang lalu, keluarga Tuan Hendra tidak pernah menjenguk lagi ke Rumah Sakit. Namun keluarga Tuan Ardi Prayoga, mengerti benar posisi mereka. Calon menantunya pasti sedih, dengan perkataan Damar saat itu.


Saat mereka bersiap akan meninggalkan Rumah Sakit, Suster jaga memberikan barang-barang Pasien saat terjadinya kecelakaan.


"Permisi, Tuan dan Nyonya, saya hanya ingin memberikan ini, barang-barang yang dibawa Pasien pertama datang kesini." Ujar Suster jaga itu seraya memberikan satu bungkus pelastik yang berisi dua buah cincin, satu buah ponsel genggam, dan satu buah dompet saku, juga satu jam tangan.


"Terima kasih, Suster." Ucap Mama Ningsih seraya menerima bungkusan itu.


Damar mengernyitkan dahinya heran, Pasalnya dia tidak ingat dengan barang-barang asing tersebut.


"Sayang, ini barang-barangmu!" Seru Mama Ningsih seraya memberikan barang itu ketangan Damar.


Damar hanya mengangguk pelan, padahal dia benar-benar tidak mengenal barang-barang itu.


"Itu cincin Kak Siska, Dik!" Seru Siska seraya menunjuk cincin yang sedang di pegang oleh Damar.


"Ini cincin Kakak Siska? Tapi kenapa ada sama aku?" Tanya Damar heran.


"Saat itu kamu meminjamnya untuk membeli cincin Pernikahanmu, Dik." Sahut Siska keceplosan.


"Apa? Aku akan menikah? Menikah dengan siapa? Dengan Naura? Aku masih kuliah, masa iya aku akan menikah? Aku harus menunggu lulus kuliah dulu Kak, baru aku menikah." Tanya Damar merasa aneh dengan keadaan dirinya saat ini.


"Iya, maaf Dik, salah ngomong Kakak." Ucap Siska menyesal sudah keceplosan bicara.


"Heemm.." Damar hanya bergumam, lalu memberikan cincin tersebut ke tangan Siska.


"Kalau yang ini cincin siapa, Kak?" Tanya Damar, seraya menunjukkan cincin tersebut.


"Engga tahu." Ucap Siska, seraya mengangkat bahunya ke atas.


"Kalau bukan punya Kak Siska, berarti punya siapa? Aku benar-benar tidak ingat sama sekalih." Tanya Damar merasa aneh.


Mama Ningsih tidak ingin membuat anaknya memaksakan ingatannya, akhirnya Mama Ningsih menghentikan ucapan Damar yang selalu bertanya.


"Ayo, kita pulang saja, biarkan barang-barang kamu nanti dirumah saja dibukanya." Ajak Mama Ningsih, seraya membawa Damar meninggalkan Rumah Sakit.


Satu jam kemudian mereka sampai dirumah, Damar langsung beristirahat di kamarnya. Dia masih penasaran dengan barang-barang yang tadi diberikan oleh Suster sebelum dia mengalami kecelakaan.


Damar membuka ponsel miliknya, saat dia membuka layar ponselnya ternyata baterainya lowbatt, kemudian Damar mencari carger ponselnya di kamar, setelah itu dia langsung mengisi daya ponselnya.


Setelah beberapa menit, Damar ingin menghubungi pacarnya Naura, akhirnya diapun menyalakan ponsel itu yang sedang mengisi daya. Damar seketika mengernyitkan keningnya heran. "Mengapa ada photo propil gadis itu bersamaku? Anaknya Tuan Hendra dan Nyonya Mentari, diponselku?"

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2