
Di Rumah Sakit, Detektif Albert menunggu keluar hasil Lab dengan santai. Tidak butuh waktu lama, hasil itu akhirnya keluar.
Dokter yang memeriksa hasil Lab tersebut menyatakan, dari 2 sample air yang berbeda terdapat satu sample mengandung zat Polonium beracun. Polonium adalah satu zat unsur kimia radioaktif yang sangat berbahaya, zat itu tidak mudah terdeteksi karena tidak berbau dan tidak berwarna. Jika zat itu di campur dengan secangkir air, orang yang meminumnya tidak akan menyadarinya sama sekali.
Detektif Albert tercengang, dengan pernyataan Dokter tersebut.
"Jadi hasilnya seperti itu, Dok?" Tanya Albert untuk memastikan lagi.
"Iya Tuan, dari hasil yang saya chek seperti itu." Jawab Dokter dengan ramah.
"Baiklah, terima kasih banyak Dokter." Jawab Albert, seraya membawa surat hasil tes Lab tersebut.
Albert akhirnya melapor kepada atasannya tersebut, bahwa hasil tes Lab menyatakan bahwa air didalam gelas itu memang sengaja di racun. Kesimpulannya bahwa Tuan Andre Luis bukan mati bunuh diri, melainkan di racun oleh seseorang.
Setelah pihak kepolisian mendapat laporan dari Detektif Albert, maka penyelidikan kembali di kerahkan kepada jejak bukti baru, seperti sidik jari yang terdapat di gelas cangkir air minum, CCTV yang ada di area Apartement dan masih banyak bukti yang bisa di gali oleh Detektif dan pihak kepolisian.
Selama penyelidikan, lokasi Apartement Andre Luis dijaga ketat dan di beri garis polisi. Banyak warga dan reporter media, yang berdatangan dan berkumpul hanya untuk menonton dan mencari berita.
Dari rekaman CCTV yang berada di sekitar Apartement, ternyata ada satu Pria yang mencurigakan memakai masker, topi dan kaca mata, yang sulit untuk di kenali. Dia memasuki area Apartement pada pukul 2 pagi. Tidak berselang lama, hanya sekitar kurang lebih satu jam kemudian, Pria itu keluar dari area Apartemen masih sama seperti waktu masuk tadi.
Detektif Albert mencari informasi kepada tetangga yang berdekatan dengan Apartement Andre Luis, mengenai Pria misterius tersebut. Dia langsung mendatangi satu-persatu orang yang berada di sana, dengan sopan dan ramah.
"Maaf, apakah Nyonya dan Tuan pernah melihat wajah Pria ini?" Tanya Albert dengan serius, kepada kedua orang tua paruh baya yang tinggal berdekatan dengan Andre.
"Tidak, Tuan Detektif." Jawab mereka bergantian.
__ADS_1
Lalu Albert menanyakan lagi ke orang-orang sekitar Apartement tersebut.
"Maaf, Nona, Apakah Nona pernah melihat wajah Pria ini?" Tanya lagi kepada gadis muda, yang tinggal bersebelahan dengan Apartement Andre Luis.
"Pernah Tuan Detektif, namun saya tidak mengenalinya." Jawab Nona itu jujur.
"Bagus Nona, kapan dan dimana Nona bertemu?" Tanya Albert antusias.
"Kalau saya tidak salah lihat, saya melihat Pria ini sekitar satu minggu yang lalu, mereka memasuki Apartement bersama-sama sekitar pukul 10 malam. Setelah itu saya tidak melihatnya lagi." Jawab Nona itu jujur.
"Baiklah, terima kasih atas informasi anda. Ini sangat membantu penyelidikan kami para Polisi." Ucap Albert seraya berjabat tangan dengan Nona itu.
"Sama-sama Tuan." Ucap Nona itu saraya menerima jabatan tangan Albert.
Akhirnya, Albert memeriksa rekaman CCTV kembali saat satu minggu yang lalu sekitar pukul 10 malam. Ternyata benar saja, rekaman vidio itu menunjukkan dua orang Pria yang sedang berjalan masuk ke arah pintu Apartement. Satu Pria Andre Luis dan satunya lagi Pria misterius tersebut. Pria misterius tersebut benar-benar terpampang jelas wajahnya, tanpa tertutup masker dan kaca mata serta topi.
Hasil yang sudah di temukan oleh Detektif Albert, akhirnya dia laporkan kepada atasannya dan pihak kepolisian. Penyataan Andre Luis bunuh diri ternyata tidak benar, yang sebenarnya Andre Luis di bunuh oleh seorang Pria yang merupakan sahabatnya. Pria itu membunuh dengan cara memberi racun Polonium ke dalam cangkir minuman korban dengan dosis tinggi, sehingga hanya dengan waktu 5 menit saja disaat orang itu meminumnya langsung kehilangan nyawa.
Team Kepolisian langsung bergegas membuka Propil identitas Pria itu, tepat sasaran Pria itupun langsung di ringkus dua hari kemudian, setelah pencarian yang di lakukan team Kepolisian. Di kediamannya saat itu pada pukul 5 sore hari.
Media Sosial, TV, Radio, Majalah, dan Media Cetak lainnya langsung ramai, mengeluarkan berita mengenai Pembunuhan Andre Luis yang sebelumnya dikira bunuh diri. Foto seorang pembunuh itupun tak luput dari pemberitaan, wajahnya terpampang dimana-mana dan menjadi tersangka pembunuhan.
Berita tersebut sampai ke telinga dan mata Charles, lalu dia melihat berita itu dengan kesal dan mata memerah. Tangan Charles meremas koran yang sedang dia baca, otot rahangnya mengeras seakan amarahnya sudah tidak terkendali.
"Bodooooh... siaaaal... !" Umpat Charles memaki Pria kepercayaanya itu yang sekarang sudah di tahan di kantor Polisi.
__ADS_1
Charles mondar-mandir di balkon rumahnya, dengan memegang koran yang sudah dia remas sedari tadi. Dia terus mengumpat kesal orang kepercayaanya itu.
Sofia melihat suaminya yang begitu aneh, dan marah-marah dengan makian serta umpatan. Seketika saja dia langsung menghampiri suaminya dengan wajah heran.
"Kenapa kau mondar-mandir engga jelas dan marah-marah begitu? Apa yang sedang kau pikirkan? Dan mengapa koran itu sampai hancur di tanganmu?" Tanya Sofia minta penjelasan.
"Diaaam... ! Jangan suka campuri urusanku." Jawab Charles dengan teriakan yang menahan marah, lalu dia keluar meninggalkan Sofia yang masih dengan penuh tanda tanya.
Mama Merry hampir saja bertabrakan dengan Charles, ketika dia sedang berdiri di depan pintu kamar Charles. Mama Merry sebenarnya ingin menemui Charles, untuk menanyakan kasus berita pembunuhan mengenai karyawan Perusahaan, yang sedang ramai di beritakan. Namun dia urungkan karena melihat anaknya yang sedang emosi itu.
*******
Bernad dan Nurlaila yang melihat berita di TV, langsung terkejut dengan pemberitaan yang menyatakan Andre Luis bukan bunuh diri namun di bunuh oleh temannya sendiri. Motif pembunuhan belum di ketahui, namun pihak Kepolisian sedang menyelidiki kasus selanjutnya.
"Ayah, bukannya Pria itu pernah bekerja di Perusahan Papa Thomas dulu?" Tanya Nurlaila yang samar-samar mengingatnya.
"Iya.. sepertinya Pria itu mantan anak buah Papa Thomas, tapi itu sudah lama sekali saat itu kita baru saja menikah. Papa memecat dia karena ketahuan korupsi, kalau tidak salah Pria itu bernama Stepan bukan?" Pernyataan Bernad yang mengingat-ingat Pria itu.
"Kalau nama Pria itu Ibu lupa sayang, namun wajahnya sangat pamiliar. Coba Ayah buka File foto sewaktu dia masih bekerja dulu, pasti ada disana." Usul Nurlaila yang langsung di anggukan oleh suaminya.
Keesokan hari, di saat Bernad sampai di kantor Perusahaan Papa Thomas, betapa terkejutnya dia, ketika di depan Perusahaan sudah di penuhi Awak Media dan Reporter.
"Mengapa banyak Reporter disini? Apa mungkin, mereka menanyakan soal pembunuhan Andre?" Tanya Bernad bermonolog dalam hatinya.
Happy Reading
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........