
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Bukan hanya Asyafa dan Alya yang shock, sebenarnya Rayhan dan keluarga Damarpun juga, sangat shock saat berjumpa di depan pertama kali. Akhirnya mereka hanya terdiam tidak berkata apapun, pasalnya bagaimana Alya tahu benar jelek buruknya Damar. Sedangkan Damar merasa malu ternyata gadis yang akan di jodohkan oleh orang tuanya itu, adalah sahabat gadis yang pernah dia cintai.
"Alya, Asyafa, ini perkenalkan keluarga calon besan, dan ini calon suamimu Alya, namanya Nak Damar Prayoga." Ujar Nyonya Mentari, memperkenalkan anak dan temannya kepada keluarga calon besan, dan calon menantunya.
Alya kemudian mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri kepada mereka.
"Hallo Tante, Om, Kak, perkenalkan nama saya Alya Mentari." Ucap Alya ramah.
"Calon mantu Mama, sini sayang Mama peluk." Sahut Mama Ningsih seraya menarik Alya kedalam dekapannya. Alya hanya menurut, lalu tersenyum canggung, kemudian mengurai pelukkannya.
Papa Ardi dan Kak Indra hanya berjabat tangan saja, namun Kak Siska persis sama dengan yang dilakukan oleh Mama Ningsih, yaitu memeluk calon Adik iparnya.
Alya nampak canggung saat bersalaman dengan Damar. Dia begitu membenci Damar, saat tahu penculikkan Rayhan dulu.
Sedangkan Asyafa menyapa semua keluarga Damar, seraya berjabat tangan dengan mereka. Asyafa sekarang sudah tidak membenci Damar dan keluarganya, semenjak mereka meminta maaf tulus kepada Rayhan, dan keluarga Asyafa.
Asyafa duduk disamping Rayhan, sedangkan Alya memilih duduk disamping Mama dan Papanya.
--Hening--
"Heeemm.. ini engga ada yang mau memulai pembahasan perjodohan, atau bagaimana?" Tanya Papa Hendra membuka suara, setelah beberapa saat suasana terasa hening dan tegang.
"Ooh iya, Tuan Hendra pastinya pembahasan perjodohan anak-anak kita akan tetap berlanjut, bukan begitu Mam?" Ujar Tuan Ardi Prayoga.
"Iya, Pap." Sahut Mama Ningsih yang masih shock, saat mengetahui Asyafa dan Rayhan ada di tempat calon besannya.
"Sebentar dulu besan, mohon maaf saya izin kebelakang." Pamit Mama Mentari sopan, seraya meninggalkan para tamu.
Tidak lama kemudian, Mama Mentari bersama ART nya membawakan minuman jus dan camilan untuk tamu besannya, mereka meletakkan minuman dan camilan diatas nakas depan mereka.
"Ayo besan, silahkan diminum dan dicicipi camilannya, jangan sungkan, maaf hanya seadanya." Tawar Mama Mentari, yang merendah.
"Baik besan, terima kasih." Sahut Mama Ningsih ramah.
Merekapun menikmati sajian dan minuman yang dihidangkan, dengan obrolan-obrolan ringan yang mereka lontarkan. Gelak tawa menghiasi suasana kekeluargaan. Hingga akhirnya mereka memberi keputusan kepada anak-anak mereka, untuk saling mengenal lebih dekat sampai menuju Pernikahan.
"Nak Damar sayang, bagaimana menurut kamu, apakah Alya masuk kriteria kamu?" Tanya Mama Mentari penasaran.
__ADS_1
"Insya Allah Tante, semoga saja kami berjodoh." Sahut Damar jujur.
"Deg.." Jantung Alya mendadak berdegup kencang. Padahal hatinya tidak menyukainya, tapi entah kenapa saat Damar mengatakan hal itu, jantungnya mendadak bermasalah.
"Aamiin.." Diaamiinkan oleh semuanya, terkecuali Alya yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Nak Damar mulai hari ini panggil Tante Mentarinya Mama saja yah, dan Om Hendra juga panggilnya Papa." Pinta Mama Mentari dengan senang.
"Iya Mama Mentari, dan Papa Hendra." Sahut Damar cepat, sementara Alya merasa heran dengan sikap Damar, yang semudah itu mengiyakan permintaan orang tuanya.
Kemudian Tante Ningsihpun tidak mau kalah dengan besannya, diapun melakukan hal yang sama kepada calon menantunya.
"Kalau Nak Alya yang cantik, calon menantu Mama, bagaimana pendapat Nak Alya tentang Damar anak Mama?" Tanya Mama Ningsih dengan ramah, dan tatapan sayang. Pasalnya saat Mama Ningsih bertanya, tatapan matanya sangat dalam penuh harapan kebaikan.
"Insya Allah, Alya akan mencoba menjalin hubungan baik, dengan pertemanan dahulu Tante." Sahut Alya jujur, sontak membuat Damar mengalihkan tatapannya kearahnya. Alya yang tidak biasa ditatap intens oleh Pria manapun, mendadak bergeming tidak bisa berkutik sama sekalih. Wajahnya seketika pucat pasi dan membuat dirinya termangu.
"Deg.." Jantung keduanya saling berdebar-debar.
"Ke.. kenapa loe, liatin gue kayak gitu?" Tanya Alya gugup dan ketus.
"Kenapa Al? Emang gue engga boleh, liatin gadis cantik yang ada di hadapan gue? Sayang dong kalau menyia-nyiakan rezeky yang Allah berikan buat hambanya, he.. he.. he..." Ledek Damar terkekeh.
"Ciieh.. gombal... !" Ucap Alya ketus.
"Jangan menatapku lama-lama, awas nanti jatuh cinta." Ledek Damar tersenyum menyeringai.
Sontak saja membuat semuanya menertawakan mereka berdua.
"Ha.. ha.. ha.."
Seketika wajah Alya bersemu merah, sedang Damar tersenyum puas. Lalu Mama Ningsih menggelengkan kepalanya heran dengan anak dan calon menantunya.
"Kalian kalau adu mulut seperti ini, jadi teringat saat Mama baru mengenal Papa, he.. he.. he.." Ujar Mama Ningsih terkekeh, lalu Papa Ardipun ikut terkekeh mendengarnya.
Alya langsung berdecak kesal dengan ucapan Damar yang terdengar sombong, meski dia akui, banyak kaum hawa yang mengagumi ketampanannya, dan statusnya yang merupakan anak seorang pejabat.
"Iiisshh.. menyebalkan." Gumamnya pelan, seraya tersenyum masam, lalu termenung.
"Apakah benar begitu, Mam?" Tanya Damar penasaran.
__ADS_1
"Benar lah.. ha.. ha.. ha.." Sahut Mama Ningsih jujur, seraya tertawa. Sedang Damar tersenyum miring, seraya melirik Alya.
"Nak Alya yang cantik, calon menantu Mama, mulai hari ini panggil kami, Mama Ningsih dan Papa Ardi yah sayang. Kami sudah sangat berharap, kalian bisa berjodoh dan menikah pada akhirnya." Ujar Mama Ningsih berharap. Sontak saja panggilan Mama Ningsih membuyarkan lamunan Alya.
"Aamiin.." Semuanya mengaamiinkan kembali, sedang Alya masih dilanda gugup.
"I.. iya Tante." Sahutnya gugup.
"Aiish.. calon menantu Mama sepertinya masih malu. Baru saja Mama bilang, kamu panggilnya jangan Tante, tapi panggilnya Mama saja, sayang." Ujar Mama Ningsih mengingatkan.
"I.. iya Mama." Sahutnya Alya cepat seraya tersenyum kikuk.
"Ha.. ha.. ha... nah gitu dong, baru anak Mama yang cantik." Tawa Mama Ningsih seraya memuji calon menantunya itu. lantas Alyapun tersenyum malu-malu.
Asyafa ikut tersenyum bahagia, disaat melihat sahabatnya itu di kelilingi oleh orang-orang yang mencintainya.
Tidak berselang lama, Mama Mentari dan Papa Hendra meminta tamu calon besannya dan Asyafa juga suaminya, untuk makan malam bersama diruang makan, merekapun menikmati makan malam dengan hidangan spesial masakan Mama Mentari yang di bantu oleh ARTnya.
"Jeng, masakannya enak banget. Kamu pintar memasak yah Jeng Mentari?" Puji Mama Ningsih jujur.
"Aachh.. bisa Saja Jeng Ningsih ini, saya hanya sekedar bisa memasak saja. Saya juga masaknya di bantu sama ART Jeng, kalau engga dibantu mereka mana mungkin masakan saya seenak ini." Sahut Mama Mentari merendah.
"Ha.. ha... ha.. ini yang saya suka dari jeng Mentari, selalu merendah dari dulu sampai sekarang." Tawa Mama Ningsih seraya memuji.
Setelah menyelesaikan sesi makan malamnya, Mama Mentari dan Mama Ningsih memberikan waktu, untuk anak-anaknya mengobrol berdua saja. Akhirnya mereka mengangguk setuju.
Keduanyapun bebincang-bincang dari hati kehati di teras balkon rumah Alya. Sedangkan Asyafa dan suaminya berpamitan untuk mereka pulang, kepada Alya dan Damar juga semua keluarganya.
"Al.. ?" Panggil Damar pelan.
"Iya." Sahut Alya singkat.
"Gue mau tanya sama loe, kenapa loe mau menerima perjodohan ini?" Tanya Damar penasaran, seraya menatap sayu bola matanya.
"Deg.." Jantung Alya berdentum hebat.
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips, juga komentar yah. Terima kasih......
__ADS_1
...Jangan lupa mampir kekarya baruku juga yah MENDADAK SHOLEH Terima kasih.......