TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Kesembuhan Charles


__ADS_3

Happy Reading


Bernad mencoba mendekati sang Kakak, yang sedang duduk di dasar lantai. Tanpa beralaskan sehelai kain apapun, padahal lantai itu terasa dingin jika menembus kulit. Charles terlihat dengan tatapan kosong ke arah Bernad, bergeming seperti patung tanpa ekspresi.


"K.. kak.. kak.. ka.. " Panggil Bernad lirih semakin mendekat, mungkin jarak mereka hanya sekitar dua meter saja. Namun tidak ada teriakan, dan makian dari sang Kakak. Bahkan jika ada yang berani mendekatinya, biasaya Charles akan kalap dan menyerang orang itu. Tetapi hari ini Charles seakan terhipnotis, oleh suara dan sosok Bernad yang berada tidak jauh darinya.


"Kakak.. aku sudah datang untuk menjemputmu Kak, kembali kerumah dan berkumpul dengan Mama, Sofia dan Billy. Kakak sayang sama mereka, bukan? Jadi mari cepat sembuh Kak, dan kembali kumpul bersama kami." Bujuk rayu Bernad, seraya berjongkok di dekatnya, yang sudah hampir menyentuh pundak Charles. Namun Bernad belum berani menyentuhnya, karena harus di lakukan dengan perlahan.


Charles masih bergeming, namun matanya tidak lepas dari penglihatannya. Mata yang penuh dengan seribu tanya di dalam dada, mata yang hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang dia rasakan, dan mata yang menyimpan seribu asa, dan harap yang tidak ada seorangpun yang tahu.


"Kak.. apakah kau mendengarkanku? Aku Bernad Adikmu, Kak... !" Seru Bernad lirih, mencoba membangkitkan ingatan masa lalunya. Bernad berhasil menyentuh pundak sang Kakak, dengan air muka sedih dan mata yang mulai berkaca-kaca.


Charles mulai terusik dengan sentuhan dari tangan Bernad, dia memundurkan posisi duduknya sedikit kebelakang, hingga menyentuh dinding kamar rawat tersebut. Lalu menenggelamkan wajahnya kedalam pangkuan kedua pangkal kakinya, yang sudah di lipat dengan di sanggah kedua tangannya.


"Kak... aku minta maaf, sudah meninggalkanmu dan juga Mama. Aku sayang kalian, Kakak harus sembuh dan sehat seperti sedia kala. Jawablah Kak, jangan diam saja. Bila memang kau membenciku? katakan saja. Bila kau menyayangiku? katakan juga Kak, jangan seperti ini. Hikk.. hikk.. hikk..." Bisik Bernad mendekati telinga Charles, yang seakan tidak ingin di ganggu. Akhirnya air mata Bernad lolos juga, mengalir ke pipinya yang sudah mulai menua.


Terdengar suara isak tangis, di balik wajah Charles yang tertutup oleh kedua pangkal paha kakinya. "Hikk.. hikk.. hikk.." Bernad sedikit terenyuh dengan reaksi dari sang Kakak, lalu dia terus mencoba berusaha untuk membangun komunikasi dirinya dengan sang Kakak.


"Kak.. kau mendengar ucapanku, kau mengerti keinginanku, kau merespon sentuhanku. Kak.. bukalah mata hatimu, bukalah akal sehatmu dan bukalah semua rasa yang terpendam dalam hatimu. Apakah kau tidak lelah dengan semua ini? Apakah kau tidak ingin hidup bahagia? Apakah kau tidak ingin sembuh, dan terus seperti ini?" Desak Bernad, dengan berondong pertanyaan yang di lontarkan untuk Charles.


Bernad mencoba untuk merengkuh tubuh Charles, lalu masuk kedalam pelukkannya. Bernad ingin tahu apakah Charles akan berontak, atau bergeming. Ternyata Charles bergeming, dan terus menangis dalam dekapannya. " Hikk.. hikk.. hikk..." Bernad tersenyum, lalu mengusap punggung Kakaknya dengan lembut dan sayang.


"Pintar, Kakak memang pintar. Teruslah Kakak menangis, keluarkan semua unek-unekmu Kak. Jangan engkau pendam sendirian, kau harus berbagi dengan Adikmu ini. Adik yang selalu menganggapmu sebagai Kakak, dan yang selalu menyayangimu sampai kapanpun." Ucap Bernad pilu, dengan penuh derai air mata.


"Kak.. apakah kau tahu, jika Billy sudah besar sekarang. Billy anak yang sangat tampan, dan sangat pintar sepertimu. Billy sangat merindukanmu, apalagi Mama dan Kak Sofia lebih merindukanmu." Ujar Bernad mencoba membangun komunikasi hangat, dalam menghadapi pasien yang mengalami gangguan jiwa seperti Charles.

__ADS_1


Bernad terus berbicara, mencoba membangkitkan ingatan Charles tentang anak, istri, dan mamanya juga dirinya. Kurang lebih hampir satu jam, mereka di dalam ruang kamar pasien itu. Tidak ada tanda-tanda, yang biasa Charles lakukan jika kedatangan orang lain, bahkan Dokter sekalipun sering dia teriaki dan dia serang.


*******


Diluar kamar pasien, semua menunggu dengan harap-harap cemas. Terutama Sofia, karena Sofia tahu betul, jika dia menjenguknya selalu di teriaki dan di maki-makinya. Bahkan tak khayal juga bisa menyerangnya, maka Sofia semenjak terjadi penyerangan terhadapnya, dia tidak lagi menjenguknya dari dekat, dan hanya membawakan makanan untuknya saja lalu kembali pulang.


Dokter, dan Perawat, datang menemui mereka yang sedang menunggu di luar kamar pasien. Dokter akan melakukan pemeriksaan rutin, untuk mengetahui kondisi pasien setiap harinya.


"Permisi, apakah di dalam masih ada orang yang menjenguk pasien?" Tanya Dokter itu, dengan sopan dan ramah.


"Masih ada Dokter, suami saya yang berada di dalam." Jawab Nurlaila dengan ramah.


"Apa? Mana mungkin semua ini bisa terjadi? Sulit dipercaya, sudah lama suami anda masuk, bukan? Hampir satu jam, tadi saya meninggalkan pasien bersama suami anda." Tanya Dokter itu dengan wajah heran, seraya keningnya berkerut aneh.


"Saya tidak tahu Dokter, mungkin suami saya sedang mencoba berbicara dengan pasien dari hati-kehati." Terka Nurlaila dengan apa yang ada di benaknya, lalu yang lainpun ikut mengangguk mengiyakan kata-kata Nurlaila.


"Baiklah kalau begitu, saya mohon izin untuk menemui pasien." Pamit Dokter tersebut sopan, seraya berjalan memasuki ruang kamar pasien, yang di ikuti oleh Perawat. Lalu mereka semua hanya mengangguk kecil.


"Tok.. tok.. tok.." Pintu di ketuk pelan.


"Permisi, maaf Tuan.. saya akan mengechek kondisi Tuan Charles saat ini." Ucap Dokter dengan ramah, dan sopan.


Bernad yang sedang merengkuh tubuh Charles, perlahan mulai mengurai pelukkannya. Kemudian dia mencoba berdiri dengan perlahan, namun lengannya langsung di cekal erat oleh Charles secara tiba-tiba. Bernad bergeming mendapatkan respon tersebut dari Charles, lalu membulatkan matanya tidak percaya.


"A.. a.. adik." Gumamnya lirih.

__ADS_1


Seketika, Bernad langsung menangis, dan merengkuh kembali Charles dengan penuh kasih sayang.


"Hikk.. hikk.. hikk.. Kakak, kau sudah mengingatku, kesadaranmu sudah kembali. Ya Allah, terima kasih telah engkau sembuhkan Kakakku Charles." Tangis Bernad pecah, dengan rasa syukur yang dia panjatkan.


Adik, dan Kakak itu menangis pilu, dan haru saling berpelukkan. Dokter, dan Perawat, terharu melihat mereka berdua hingga tidak bisa berucap lagi. Mata mereka sudah berkaca-kaca dengan sendirinya, melihat keajaiban cinta antara Adik dengan sang Kakak.


Dokter membiarkan mereka berdua, dengan waktu yang tidak bisa di perkirakan. Akhirnya Dokter dan Perawat meninggalkan ruangan tersebut dengan menangis bahagia.


Nurlaila, dan yang lain melihat Dokter dan Perawat keluar begitu cepat tanpa Bernad, membuat hati mereka bertanya-tanya terutama Nurlaila istrinya.


"Maaf Dokter, mengapa begitu cepat pemeriksaannya? Apa yang terjadi di dalam sana? Mengapa suami saya belum juga keluar? Sebenarnya ada apa dengan Dokter dan perawat? Maaf, kenapa wajah kalian berseri, namun mata kalian menangis?" Nurlaila membrondong berbagai pertanyaan, yang ada dipikirannya. Begitupun dengan yang lain, penasaran dengan jawaban Dokter tersebut.


"Eeeheemm.. pertanyaannya satu-satu Nyonya, saya jadi bingung menjawabnya." Ucap Dokter itu, seraya berdehem lalu tersenyum mengembang.


"He.. he.. he.. Iya, maaf Dokter, terlalu bersemangat." Kekeh Nurlaila dengan meminta maaf tulus.


"Sebenarnya yang saya lihat dari pengamatan saya, Tuan Charles ingatan dan kesadaran jiwanya sudah kembali. Mungkin akan berangsur-angsur baik, jika kondisi kejiwaan Charles terus seperti sekarang ini. Tingkat kesembuhannya, akan semakin cepat." Jelas Dokter, dengan penuh harapan kebaikan jiwa Charles saat ini.


"Alhamdullillah, segala puji bagi Allah yang membolak balikkan hati dan pikiran kita." Ucap Nurlaila seraya mengadahkan kedua tangannya ke atas, yang di ikuti oleh Asyafa dan Rayhan.


"Puji Tuhan, atas kebaikanmu." Ucap Sofia, dengan menyatukan kedua tangan di dadanya, yang di ikuti oleh Oma Merry dan Billy.


--BERSAMBUNG--


...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........

__ADS_1


__ADS_2