
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Siska dan Asyafa segera memanggil Dokter, untuk menangani sakit kepala Damar. Pasalnya Damar, terus menerus mengaduh sakit di kepalanya yang dia pegangi.
Mama Ningsih dan Alya sudah menangis melihat Damar yang tiba-tiba saja menjerit kesakitan seperti itu. Andipun tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa melihat dengan iba calon suami sahabatnya itu.
Dokterpun akhirnya datang, dan langsung menenangkan Damar dengan suntikan yang berisi obat penenang. Seketika saja Damar langsung terkulai lemas, dan pingsan akibat suntikan obat penenang tersebut.
Dokter dan Susterpun langsung membaringkan tubuh Damar di kasurnya. Dokter langsung mengechek suhu tubuh, dan kondisi Pasien. Setelah itu Dokterpun berbicara ramah, dengan keluarga Pasien.
"Maaf Nyonya, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan Pasien yang tiba-tiba seperti ini? Selama satu minggu ini bukankah Pasien baik-baik saja?" Tanya Dokter dengan sopan.
"Iya Dokter, saya juga kurang tahu pasti apa penyebabnya. Namun, anak saya tiba-tiba tidak mengenal calon istrinya sendiri, padahal mereka sudah akan melakukan lamaran sebelum kecelakaan itu." Sahut Mama Ningsih, yang dianggukkan oleh yang lainnya.
"Sudah berapa lama calon istri anak Nyonya mengenalnya?" Tanya Dokter itu dengan wajah serius.
"Sudah hampir 4 bulan Dokter." Sahut Alya, yang memang berada tidak jauh dari calon Ibu mertuanya itu.
"Berarti belum begitu lama yah? Tapi kalau dengan Nyonya dan yang lainnya bagaimana? Apakah Pasien juga tidak mengenalnya?" Tanya Dokter lagi dengan serius.
"Kalau sama saya dan anak saya Siska, Damar mengenalnya. Tapi saya tidak tahu kalau dengan temannya Nak Alya. Nak Asyafa dan Nak Andi, belum sempat menyapa Damar saat itu Dokter." Ujar Mama Ningsih gamblang, yang dianggukkan oleh yang lainnya.
"Menurut informasi yang saya dapat dari Nyonya dan Nona-nona, sepertinya Pasien Damar mengalami Amnesia Anterograde. Amnesia jenis ini adalah Pasien sulit untuk mengingat hal-hal baru yang mereka temui sebelum terjadinya kecelakaan yang menimpa Pasien Damar saat itu. Biasanya ini bisa bersifat permanen, ataupun sementara." Jelas Dokter itu panjang lebar.
Sontak saja mereka terkejut dengan penjelasan Dokter, dengan apa yang dialami Damar saat ini. Terlebih lagi Alya yan langsung pingsan, saat mendengar kabar itu. Beruntung ada Andi yang sigap menahan Alya, agar tidak terjatuh ke lantai.
Alyapun akhirnya dibaringkan disofa panjang, lalu ditemani Asyafa. Sedangkan Mama Ningsihpun sudah merasakan pusing kepalanya, saat Dokter menjelaskan apa yang terjadi dengan Damar anaknya. Beruntung Mama Ningsih, tidak jatuh pingsan juga.
Siska menenangkan Mama Ningsih, seraya mengusap punggung Mamanya pelan. Sedangkan Asyafa, mencoba membangunkan Alya yang masih pingsan. Suster memberikan minyak angin kepada Asyafa, untuk ditempelkan dihidung Alya.
Beberapa menit kemudian, Alyapun terbangun dari pingsannya. Diapun langsung menangis, dipelukkan Asyafa sahabatnya.
__ADS_1
"Ini hanya mimpi 'kan, Sya? Ini tidak nyata? Apa yang dikatakan Dokter itu salah 'kan, Sya? Hikkzz.. hikkzz.. hikkzz.." Tanya Alya penuh derai air mata.
Asyafa tidak bisa menjawab pertanyaan Alya sahabatnya itu, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Asyafapun ikut bersedih, karena sahabatnya itu sedang menangis.
Andi yang melihat sahabatnya Alya yang begitu rapuh, saat menghadapi kenyataan pahit, yang harus dialami calon suaminya itu. Seketika hatinya ikut merasakan hancur, dan sakit saat ini. Andi tidak ingin melihat Alya terjatuh lagi, untuk yang kedua kalinya. Cukup dirinyalah dulu yang sudah membuat cintanya pupus, tapi tidak untuk cintanya kepada Damar saat ini.
Dokter itu kemudian memberikan saran dengan jelas. "Maaf Nyonya dan Nona, saya sarankan untuk sementara, lebih baik Pasien tidak usah bertemu dengan calon istri pasien dahulu. Kita menunggu perkembangan selanjutnya, kondisi pasien agar pulih total, dan bisa menjalankan aktifitas normal kembali."
"Baik Dokter, terima kasih atas informasi dan sarannya." Ucap Siska ramah seraya tersenyum hangat.
"Sama-sama Nyonya, sekarang saya akan tinggal dahulu. Mungkin efek obat penenangnya, akan hilang sekitar Satu jam kedepan. Pasienpun akan terbangun kembali, seperti sedia kala. Tolong diingat saran saya, Nyonya." Ujar Dokter itu mengingatkan.
"Iya Dokter." Sahut Siska dan yang lainnya mengangguk pelan.
Akhirnya Alya dan sahabatnya itu, dengan terpaksa harus meninggalkan Damar sekarang juga. Sebelumnya mereka berpamitan Pulang, Alya menyempatkan diri untuk menyapa Damar terlebih dahulu.
"H.. hubby, maafkan aku tidak bisa menemani dirimu saat seperti ini, semua demi kebaikanmu, Bie. Semoga kamu lekas sembuh, dan bisa sehat seperti sedia kala. Aku akan selalu mendoakan kebaikanmu, Bie, semoga ingatan kamu bisa kembali, Bie. Salam sayang dari calon istrimu ini, Bie. Hikkzz.. hikkzz... hikkzzz..." Ucap Alya lirih, dengan tangis yang sudah membanjiri pipinya.
"Iya Mam, maaf Alya tidak bisa menemani Mama di Rumah Sakit." Sesal Alya atas ketidakmampuannya saat ini.
"Tidak apa sayang, jika ini yang terbaik untuk kita semua." Kata Mama mengerti, ini semua bukan kemauan Alya tapi saran dari Dokter.
"Mama, Kak Siska, Alya pamit dulu sekarang, sebelum Damar terbangun." Pamit Alya, seraya memeluk keduanya bergantian.
"Tante, Kak Siska, Asyafa pamit juga yah, semoga Damar lekas sembuh seperti sedia kala." Pamit Asyafa, seraya memeluk kuduanya bergantian.
"Tante, Kak Siska, saya juga pamit pulang, salam untuk Damar, semoga cepat sehat." Pamit Andi seraya berjabat tangan.
"Terima kasih, atas kedatangannya sayang, dan doa dari kalian semua." Kata Mama Ningsih, dan Siskapun mengangguk pelan, seraya tersenyum melepas kepergian mereka.
"Asalamu'alaikum.. " Ucap Salam mereka, saat meninggalkan ruang rawat Damar.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam.. " Sahut Mama Ningsih dan Siska bersamaan.
Setelah kepergian mereka, suasanapun nampak hening kembali, tidak ada isak tangis dan obrolan ringan mereka.
Damar sudah mulai terbangun, mungkin efek obat penenangnya sudah habis. Mama Ningsih dan Siskapun, akan berpura-pura tidak terjadi apa-apa soal tadi.
"Mama.." Pekik Damar, saat mulai menyadari suasana mendadak sepi, tidak ada tamu yang tadi menurutnya.
"Iya sayang, ada apa?" Tanya Mama seraya menyentuh pundak Damar lembut.
"Mereka pergi kemana?" Tanya Damar, saat mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.
"Mereka siapa sayang?" Tanya Mama Ningsih berpura-pura lupa.
"Saya tidak ingat, Mam." Ucap Damar menyerah pada akhirnya. Mama Ningsihpun tidak ingin mencoba memaksakannya.
"Sayang, kamu masih sakit kepalanya?" Tanya Mama Ningsih hati-hati.
"Iya Mam, sedikit." Ucap Damar jujur.
"Sekarang kamu makan dulu, terus minum obatnya, sayang." Ujar Mama mengingatkan.
"Iya, Mam." Ucap Damar menurut.
Akhirnya Damarpun makan dengan tenang sampai habis, lalu setelah itu minum obat yang sudah disiapkan oleh Siska.
"Mama, Kak Siska, kenapa Naura tidak pernah datang kesini untuk menjenguk Damar?" Tanya Damar heran, pasalnya selama dia sadar dari komanya, dia tidak pernah sekalipun melihat pacarnya itu.
"Apa...? Naura...?" Jawab Mama Ningsih dan Siska terkejut.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....