TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Memberi Kesempatan


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Bukan hanya Andi yang terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Papa Hendra, Alya dan Mama Mentaripun sangat terkejut dibuatnya.


"Apa maksud Papa, Memberikan pertanyaan seperti itu kepada Nak Andi?" Tanya Mama Mentari heran.


Papa Hendra tidak menjawab pertanyaan istrinya, dia hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Nak Andi, kamu masih bisa mendengar, bukan? Tolong jawab pertanyaan saya." Pinta Papa Hendra dengan sopan.


"Sebenarnya, saya memang menyukai Alya, Om. Tapi saya sadar, cinta Alya hanya untuk Damar seorang." Sahut Andi jujur, seraya menunduk tanpa berani menatap ke arah Papa Hendra.


"Haaah..?" Alya terkejut tidak percaya, jika Andi sungguh-sungguh berani mengatakan hal itu kepada Papanya.


Papa Hendra hanya mengangguk pelan, lalu tersenyum mengembang. "Jika ingatan Damar, calon menantu Om masih belum kembali sampai waktu 3 bulan. Apakah kamu mau menikahi Alya?" Tanya Papa Hendra, tanpa ragu.


"Pap, apa maksud Papa? Memangnya Alya barang, yang bisa diberikan hatinya kesetiap Pria?" Protes Alya marah, seraya mendengus kesal.


"Kamu juga menyukainya, bukan? Bahkan sepertinya kamu mencintainya, melebihi cinta kamu kepada Damar." Terka Papa Hendra tepat, tanpa ada rasa canggung sama sekalih.


"Kalian tidak usah menjawab pertanyaan Papa, kalian pikirkan saja ucapan Papa. Bagaimanapun, Papa pernah muda, dan Papa tahu gelagat orang yang saling menyukai, dan saling mencintai." Sarkas Papa Hendra, seraya tersenyum simpul.


Mama Mentari hanya menyimak saja, karena apa yang dikatakan suaminya ada benarnya juga.


Alya dan Andi hanya saling menatap dalam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Om.. maaf, apa dengan saya menunggu dalam 3 bulan, jika ingatan Damar kembali, saya tidak jadi menikahi Alya?" Tanya Andi memikirkan nasib kedepannya, jika sampai ingatan Damar kembali.

__ADS_1


"Soal itu, saya serahkan kepada Alya bagaimana dia akan menjatuhkan pilihan hatinya kepada siapa?" Jawab Papa Hendra pada akhirnya, memberikan jatuhan pilihan kepada anak gadisnya.


"Menikah itu, kalau bisa satu kali seumur hidup, jika saja Papa tahu kamu menyukai sahabat kamu sendiri, pasti Papa tidak akan pernah menjodohkan kamu sayang dengan anak teman Papa. Maka dari itu, Papa memberi kesempatan untuk kalian memikirkannya." Ujar Papa Hendra dengan gamblang.


"Tapi Pap..." Ucap Alya namun terhenti saat Papanya memotong ucapannya.


"Pikirkan dahulu oleh kalian, sekarang sudah hampir pagi, waktunya kamu untuk Pulang, Nak Andi." Sela Papa Hendra yang ucapannya tidak ingin dibantah.


"Baik Om, maaf sudah mengganggu waktu istirahat Om dan Tante." Ucap Andi sopan, seraya mencium punggung tangan Papa Hendra dan Mama Mentari.


"Iya Nak Hendra, maafkan suami Tante sudah membuat kamu terkejut dengan masalah ini." Ucap Mama Mentari menyesal, sedangkan Papa Hendra hanya tersenyum penuh arti.


"Iya Tante, tidak apa-apa, dengan begini berarti ada kesempatan saya untuk membuktikan jika sqya juga mencintai Alya, meski nantinya Alya juga yang menentukan pilihannya. Hitung-hitung untuk menebus kebodohan saya selama ini yang tidak menyadari betapa besar cinta Alya terhadap saya dulu." Ujar Andi dengan gamblang.


"Aiish.. Papa nyebelin banget, bagaimana ceritanya aku harus memilih diantara dua pria yang sama-sama special dihati aku. Memangnya mudah harus menjadi orang diposisi seperti aku? Satu sisi sahabat aku yang sekarang ternyata menyukaiku, sedangkan kekasihku sendiri sekarang lupa dengan cintaku. Aaccch.. pusing!" Bathin Alya bermonolog, hanya tangan Alya yang terlihat oleh mereka sedang mengacak rambutnya sendiri frustasi.


"Kamu kenapa, sayang? Pusing yah? Mama saja pusing, apalagi jadi kamu? Memang Papamu kalau sudah berbicara, apa yang diucapkan harus dituruti." Tanya Mama Mentari pengertian, yang membuat suaminya tertawa puas.


Alya hanya tersenyum kecut dengan pertanyaan Mama Mentari, dan menatap sebal kepada sang Papa yang sudah tertawa puas didepannya.


"Al.. aku pamit dulu yah, jangan lupa istitahat yang cukup, besok aku jemput kuliah kamu. Mimpi indah yah sayang." Bisik Andi saat berpamitan dengan Alya. Sontak saja Alya merasa risih, saat Andi memanggil namanya dengan sebutan sayang.


"Heeemmm..." Alya hanya bergumam saja.


Papa Hendra dan Mama Mentari yang melihat tingkah keduanya yang malu-malu, seketika tersenyum mengembang.


Akhirnya Andipun meninggalkan kediaman Tuan Hendra, dengan perasaan bahagia. Bagaimana tidak bahagia, hatinya sedang hancur dan rapuh saat ditinggal pacarnya Naura, tapi malam ini mendapatkan angin segar, diberi kesempatan untuk memiliki hati sahabatnya sendiri. Terlebih lagi, Papanya Alya yang memberi jalannya.

__ADS_1


Setelah Kepergian Andi, Alyapun langsung pamit untuk istirahat di kamarnya. "Mam, Pap, aku mau istirahat dulu, badan Alya sudah cape sekalih rasanya." Ucap Alya apa adanya.


"Iya sayang, jangan terlalu dipikirkan ucapan Papamu, biarkan berjalan seperti biasanya." Pesan Mama bijak.


"Iya Mam." Jawab Alya singkat seraya berjalan menuju kamarnya di lantai dua.


Satu jam kemudian, Alya sudah membersihkan badannya dan akan segera menyambangi mimpinya, namun ponselnya mendapat notifikasi pesan dari Andi. Lalu Alyapun langsung membuka pesan dilayar ponselnya tersebut.


["Assalamu'alaikum, sayang...! Kalau belum tidur nanti mimpiin aku yah, semoga mimpi indah. Kalau bisa jangan hanya mimpi, tapi cinta yang nyata. Maafin aku sayang, harus jadi seperti ini. Mungkin ini, cara kita bisa dekat, untuk membuktikan mana yang layak diperjuangkan, dan mana yang harus ditinggalkan."]


Alya tersenyum saat membaca pesan dari Andi sahabatnya. Bagaimana tidak tersenyum, jika orang yang selama 4 tahun dia cintai dalam diam, kini dengan nyata membalas cintanya.


Cinta sungguh misteri, disaat merasakan sakit hati yang teramat dalam tadi pagi dengan penolakan Damar kekasihnya, tapi malam ini ada cinta bersemi dihati pria yang selama ini dia cintai. Namun Alya yah tetap Alya, meski bagaimanapun sakit hatinya dia dengan ucapan Damar, dia sadar itu bukan Damar kekasihnya yang bicara tetapi sisi Damar yang lain.


Alyapun membalas pesan singkat dari Andi.


["Wa'alaikumsalam, maaf Ndi, harus menjadi seperti ini, gue engga paham dengan pemikiran bokap gue, jadi jangan loe anggap serius ucapan bokap gue yah. Bagiamanapun Damar calon suami gue, dan gue engga mau meninggalkan dia, hanya karena dia hilang ingatan. Tetaplah jadi Andi sahabat gue, yang selama ini gue kenal."]


Andipun akhirnya tidak membalas pesan Alya kembali.


"Sepertinya Andi tidak suka dengan balasan pesanku, biarkanlah lebih baik aku tidur saja, besok jam 10 pagi 'kan ada mata kuliah." Gumam Alya pelan.


*******


Keesokqn paginya, Alyapun dikejutkan dengan kedatangan Andi yang sudah ada dirumahnya pada pukul 8 pagi, sedangkan dirinya masih bergelud dalam selimut tebalnya.


"Iishh... Andi benar-benar nekad yah, telepon pagi-pagi membangunkanku, teryata orangnya sudah ada dirumahku." Decak Alya sebal, sehabis mengangkat telepon dari Andi.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2