
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Alya terkejut dengan mereka berdua, yang sudah berada dihalaman parkir rumahnya. Dia bingung harus berangkat dengan siapa, satu sisi sahabatnya yang mendapatkan restu Papa Hendra untuk mendapatkan hatinya, satu sisi lagi calon suaminya yang sudah membuat Papa Hendra kecewa.
"Kalian kenapa bisa datang bersamaan kayak gini?" Tanya Alya kepada keduanya.
Andi yang hanya bisa memandangi wajah cantik sahabatnya, yang kini sangat dia cintai hanya bisa tersenyum kecut atas kehadiran Damar pagi ini.
"Kamu mau pergi kemana, sayang?" Tanya Damar, yang tidak tahu jika Alya mau pergi ke kampus. Pasalnya Damar semalam memimpikan Alya dalam tidurnya, dia terlihat begitu menyayangi Alya, dan mencintai Alya, hingga dia memanjakan Alya dalam buainya, dipeluknya, diciumnya, disentuhnya, bahkan Damar sampai mimpi basah karenanya.
"Mau kekampus, Bie." Sahut Alya singkat, karena dia masih sangat terkejut dengan kedatangan Damar yang tiba-tiba.
Andi terkejut dengan mereka berdua, nampak wajah Andi begitu cemburu dengan interaksi keduanya, yang saling memanggil nama kesayangan mereka yaitu hubby dan sayang.
"Ooh.. kampusnya dimana? Biar aku antar sekalian. Sebenarnya hari ini aku ingin habiskan waktu bersama denganmu, untuk mengembalikan ingatanku yang hilang." Ujar Damar jujur, dengan senyuman yang rupawan.
"Sebenarnya, aku mau berangkat ke kampus bareng sahabatku. Tapi.." Ucapan Alya terpotong oleh Kata-kata Andi.
"Engga apa-apa Al, lain kali kita bisa berangkat bareng lagi." Ucap Andi dengan sedikit kecewa, karena sebelum berangkat ke rumah Alya tadi mereka sudah berkirim pesan. Jika saja Andi tahu akan bertemu Damar dirumah Alya, mungkin Andi tidak akan datang kerumahnya hari ini.
"Benar Ndi, loe engga apa-apa? Gue minta maaf yah Ndi, gue juga engga tahu, Damar bakalan kesini sekarang." Ucap Alya yang menyesal dengan situasi seperti sekarang ini, semuanya karena tiba-tiba dan tidak disangka-sangka.
"Sayang, jadi dia sahabat kamu yang semalam kamu bilang, kalau aku pernah salah paham sama dia?" Tanya Damar dengan santainya, tanpa melihat ekspresi wajah Andi yang nampak cemburu dibuatnya.
Alya tidak bisa berkata-kata apa lagi, dia hanya bisa menganggukan kepalanya kecil. Karena Alya tahu, Andi sedang dibakar api cemburu. Tapi bagaimana lagi, yang namanya cinta tidak mudah datang dan pergi sesuka hati. Cintanya kepada Damar begitu besar, karena mereka sama-sama saling mencintai.
__ADS_1
Jujur saja Alya memang merasa senang, selama hampir dua minggu ini, dia diantar jemput oleh Andi kekampus, dan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama. Meski Asyafa sahabatnya juga sering bersama mereka dikampus, namun perhatian Andi kepada Alya sangat terlihat jelas dimata setiap orang, jika Andi mencintai Alya layaknya seorang kekasih.
"Maaf, siapa namanya?" Tanya Damar ramah, seraya mengulurkan tangannya kearah Andi untuk berjabat tangan.
"Andi Permana." Sahutnya singkat, kentara sekali jika dirinya tidak senang menerima jabatan tangannya. Namun apa daya, dia hanyalah seorang sahabat bagi Alya. Meski dengan jelas, Andi menunjukkan rasa suka dan cintanya kepada Alya, namun Alya tetap menganggapnya sahabat saja.
"Oohh.. Andi Permana? Senang bisa berkenalan dengan anda, terima kasih selama ini sudah menjaga calon istri saya. Meski saya belum mengingat Alya dan kamu, tapi saya merasa sangat mencintai Alya Mentari, dan sangat mengenal kamu." Ujar Damar jujur dengan penglihatannya saat ini.
Andi hanya tersenyum terpaksa, dan mengangguk kecil. Sedangkan Alya diposisi yang serba salah, merasa tidak enak hati dengan situasinya saat ini.
"Aku duluan yah Al, salam buat Tante Mentari dan Om Hendra." Pamit Andi seraya mengacak rambut Alya gemas, dan mengirim salam untuk kedua orang tua Alya.
Sikap Andi ke Alya, membuat Damar sedikit cemburu, pasalnya Damar merasa tidak suka dengan Andi yang terlalu akrab dengan calon istrinya.
"Mengapa aku merasa kesal dan cemburu, melihat Andi bersikap begitu manis kepada Alya? Apa mungkin Andi juga menyukai Alya, karena selama ini Andi bersahabat dengan Alya dan terlihat sangat akrab? Tapi, tidak aach.. aku tidak ingin salah paham lagi, seperti yang dikatakan Alya semalam." Pikirannya Damar terus bermonolog.
"Iya Al, terima kasih yah sudah khawatir sama aku." Ucap Andi tersenyum mengembang, saat bertemu mata dengan Alya. Sedangkan dengan Damar, Andi hanya mengangguk kecil dan tersenyum kecut. "Aku duluan, Damar." Ucap Andi seraya meninggalkan mereka berdua.
Andipun meninggalkan kediaman Alya Mentari dengan perasaan senang, setidaknya dia bisa membuat Damar nampak sedikit cemburu, dengan sikap manisnya yang ditunjukkan tadi kepada Alya didepannya.
Andi tidak bisa membohongi hatinya, meski Andi tahu Damarlah pria yang ada dihati Alya sekarang, tapi setidaknya dia bisa membalas rasa cinta Alya, kepadanya selama 4 tahun lalu. Andi rela kehilangan Alya, jika memang Alya memilih Damar kelak menjadi pendampingnya. Meskipun Tuan Hendra merestui hubungannya dengan Alya, tapi keputusan berada ditangan Alya.
Alya hanya menatap nanar kepergian Andi, dia tidak menyangka dengan situasi canggung seperti ini, Andi masih bisa bersikap manis terhadapnya.
Sedangkan Damar sudah menahan kesal dihatinya, dan entah mengapa hanya dengan hal seperti itu dia sangat cemburu, pikirnya. Apa lagi jika dia melihat perhatian Andi yang begitu manis kepada Alya selama ini, bisa-bisa dirinya langsung mengajak duel Andi saat itu juga. [Sabar guys itu hanya pikiran autor saja🤣🤣🤣bukan pikiran Damar✌✌✌]
__ADS_1
"Bie, kenapa diam saja, kamu mau masuk kedalam dulu engga? Atau langsung pergi ke kampus?" Tanya Alya.
"Mampir dulu, sayang." Ucap Damar senang, dengan senyum terbaiknya.
"Ayo kalau begitu." Ucap Alya seraya menggandeng tangan Damar dengan mesra, sontak saja Damar merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan.
Merekapun berjalan menghampiri Mama Mentari, yang sedang menyiram bunga dibalkon rumahnya.
"Mam, ada Damar ingin bertemu." Panggil Alya.
"Iya, sayang. Apa kabar Nak Damar?" Tanya Mama Mentari ramah.
"Alhamdullilah Mama Mentari, kabar Damar sudah jauh lebih baik." Ucap Damar jujur.
"Apa? Kamu panggil Tante dengan sebutan Mama Mentari? Amnesia kamu sudah sembuh, Nak?" Tanya Mama Mentari shock, mendengar Damar begitu akrab memanggil namanya.
"Belum Mama, tapi saya mohon bantuan Alya, Mama, dan Papa Hendra juga. Ooh iya Papa Hendra sudah berangkat ke kantor yah Mama?" Tanya Damar, yang tidak melihat Papa Hendra sedari tadi.
"Iya Nak, Papa Hendra sudah dari jam 7 pagi tadi berangkat ke kantor." Sahut Mama Mentari jujur.
"Mama Mentari, maafkan saya tempo hari yang sudah membuat Mama, dan Papa kecewa dengan ucapan saya. Saya menyesal sudah bersikap kurang baik terhadap Alya, karena saya tidak ingat apa-apa tentang Alya. Meski sampai sekarangpun saya belum ingat tentang Alya, tapi setidaknya dengan cerita Mama saya kemarin, saya sadar jika Alya begitu berarti untuk saya." Ujar Andi dengan gamblang.
Mama Mentari dan Alya hanya bisa tersenyum bahagia, dengan ucapan jujur Damar. Mereka mengerti jika Damar bersikap seperti itu, karena dirinya hilang ingatan.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....